Showing posts with label Muhammad. Show all posts
Showing posts with label Muhammad. Show all posts

Thursday, March 7, 2013

Leadership From Within


Leadership is the art of getting people to do what they don’t want to do and have them enjoy the experience (Lewis MacKenzie).

Pemimpin itu menggerakkan, mengarahkan, dan menginspirasi orang lain untuk melakukan sesuatu menurut yang dia bayangkan dan kehendaki. Karena memimpin adalah menggerakkan, akan semakin efektif jika seorang pemimpin memahami psikologi anak buah atau masyarakat, insentif apa yang membuat mereka semangat untuk bergerak mengikuti ajakan atau perintah pimpinannya.

Biasanya orang segera berpikir, insentif uanglah yang paling efektif untuk menggerakkan orang. Pendapat ini tidak salah, namun tidak akan berlaku bagi masyarakat yang bekerja dengan idealisme serta menghayati nilai-nilai spiritual secara intens. Para pejuang maupun pendukung kemerdekaan dan kelahiran negara RI bukan tergerak karena insentif uang. Mereka bahkan mempertaruhkan kekayaannya yang termahal: harta, jiwa, dan nyawa.

Di situ terjalin hubungan emosional, spiritual, dan ideologis antara pemimpin dan rakyat. Para pemimpin menggerakkan rakyat dengan idealisme dan hati. Di sini berlaku ungkapan: the leadership starts from within. And we all possess the seeds of greatness. Siapa pun yang jadi pemimpin harus mulai dari diri sendiri dengan menumbuhkan dan mengaktualkan potensi serta benih-benih kebajikan dan keunggulan yang ada pada setiap orang, sehingga seorang pemimpin adalah juga sosok teladan.


Ratusan judul buku tentang leadership telah ditulis para ahli. Antara lain dikatakan, ideas, facts, and figures may inform the world. But emotion moves it. Napoleon Bonaparte pernah berucap: It is not the size of the army but the power within the army. Dua ungkapan diatas mempertegas bahwa kekuatan untuk mengubah keadaan bermula dari kekuatan pikiran, mental, dan hati pemimpinnya. Contoh pemimpin dalam sejarah yang paling spektakuler dan getaran pengaruhnya masih dirasakan sampai hari ini adalah Muhammad, yang oleh umat Islam diyakini sebagai sosok utusan Allah.

Ada lagi sosok lain seperti Yesus, Budha Gautama, atau Mahatma Gandhi. Gagasan, semangat dan cinta kasih mereka untuk memperbaiki masyarakat dan membangun peradaban unggul masih menggelorakan para pengikutnya tanpa janji insentif uang dan jabatan, mengingat semuanya telah meninggal. Tokoh-tokoh diatas memimpin dengan hati. Mereka memiliki kepribadian tangguh, rela mengorbankan segalanya untuk kebaikan orang lain.

Kalaupun mereka itu dianggap terlalu jauh, berada di langit sehingga sulit ditiru, sesungguhnya kita bisa melihat dan merasakan orang-orang di sekeliling kita. Sosok paling dekat adalah ibu. Yang hebat dan menonjol dari ibu bukan kepintarannya, melainkan cinta kasih dan doanya yang tulus, yang tak pernah padam agar anak-anaknya tumbuh menjadi orang baik. Apa pun yang dilakukan seorang ibu demi kebaikan dan kemajuan anak-anaknya.


Di lingkungan sekolah pun mudah kita baca dan rasakan. Para siswa akan merasakan siapa-siapa guru yang mengajar dengan hati, dan siapa yang sekadar berbagi ilmu minus cinta kasih dan rasa empati pada para siswa. Demikian juga di kantor. Jabatan setinggi apa pun, ilmu pengetahuan seluas apa pun, tanpa didasari cinta kasih, semangat menolong dan memajukan orang lain pasti tidak cukup efektif untuk menggerakkan orang.

Persyaratan intelektual seorang pemimpin yang biasa dimajukan oleh para ahli antara lain adalah memiliki visi ke depan, keterampilan manajerial, komunikatif, berani ambil risiko dan menjadi pendengar yang baik. Namun, itu semua pada akhirnya akan sangat ditentukan inner quality dari seseorang, yaitu kadar keikhlasan, kesediaan berkorban, dan rasa cinta terhadap tugas dan masyarakat yang hendak dilayani.

Keikhlasan dan cinta merupakan sumber kekuatan yang amat dahsyat bagi seorang pemimpin. Orang yang ikhlas tidak akan haus tepuk tangan dan pujian sehingga hidup dijalaninya dengan wajar, tenang, dan tidak menciptakan jarak dengan semua anak buahnya. Cinta membuat seseorang menjadi pribadi yang melimpah. Selalu ingin memberi, bukannya mendapatkan, apalagi mengambil.

Bayangkan jika cinta dan ikhlas ini menyertai persyaratan seorang pemimpin seperti disebut di muka, pasti akan produktif, bermakna dan dicintai lingkungannya. Pemimpin yang didasari cinta dan ikhlas tak akan khawatir mengalami post-power syndrome karena kekuatan pribadinya tidak disandarkan pada status dan jabatan formalnya, melainkan pada kepercayaan dan ketulusan yang berakar pada dirinya. Dia tidak khawatir jatuh karena tidak merasa di puncak ketinggian, dia juga tidak takut terinjak karena tidak merasa di bawah. Dia berusaha melebur ke dalam hati masyarakat. Hati rakyat adalah singgasananya.

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
SINDO, 1 Maret 2013

Wednesday, January 18, 2012

Melacak Bahasa al-Quran


Barangkali karena lazimnya, jarang sekali kita memperhatikan bahasa yang kita pergunakan. Bahasa sudah kita anggap sebagai hal yang biasa, seperti makan, minum, dan bernapas. Tetapi sebenarnya, bahasa memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan kita. Bahkan hal paling penting yang membedakan antara manusia dengan binatang adalah kemampuan berbahasa. Seperti dikatakan oleh Quintilian: “Tuhan, sang Pencipta Alam yang Maha Kuasa serta Arsitek Dunia, telah memberikan kepada manusia suatu sifat yang sangat tepat untuk membedakannya dari pada hewan, yakni daya bicara”. [Mario Pei, 1971].

Mayoritas umat Islam di seluruh dunia sepakat bahwa bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab, dan Nabi Muhammad juga bangsa [orang] Arab. Karena al-Qur’an adalah Kitab Sucinya orang Islam, dan Kitab Suci tersebut berbahasa Arab, maka banyak orang yang menyamaratakan -termasuk para orientalis- bahwa semua yang berbau Arab [Timur Tengah] adalah Islam. Tetapi bila kita cermati lebih dalam lagi, kesimpulan tersebut sebenarnya masih terlalu umum dan terlalu tergesa-gesa. Oleh karenanya amat wajar bila timbul pertanyaan: “Kalau memang benar bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab, dan Nabi Muhammad adalah bangsa Arab, maka Arab yang manakah yang dimaksudkan? Apakah Arab Badui, Arab Palestina, Arab Yaman, Arab Mesir, Arab Himyar, Arab Quraisy, atau Arab Hadramaut?”


Ditinjau dari sejarahnya, paling tidak bisa kita ketahui adanya dua jenis klan besar Arab yang mendiami daerah Hijaz [jazirah Arab]. Yang pertama adalah Arab asli [true Arabs] atau Arab al-‘Ariba dan yang kedua adalah Arab pendatang [arabized Arabs] atau Arab al-Musta’raba. Arab asli adalah keturunan dari Qahtan, sedangkan Arab pendatang merupakan keturunan dari Ismail, yang datang dari Babylonia [Mesopotamia].

Pada masa menjelang lahirnya Muhammad, Mekah sebagai pusat kota yang terpenting pada saat itu -karena terdapat Ka’bah- praktis telah dikuasai oleh orang Arab pendatang yang populer dengan sebutan suku-bangsa Quraisy. Dan seperti kita ketahui, Muhammad adalah salah satu dari keturunan Quraisy yang sejak mudanya mendapat julukan al-Amin. Didukung oleh persekutuan antar kabilah yang kuat dalam perjanjian hilf ul-fudhul, maka bahasa Arab Quraisy secara de facto telah menjadi lingua franca [bahasa utama] di seluruh jazirah Arab pada masa itu.


Berdasarkan data sejarah di atas dan bukti dari berbagai ayat al-Qur’an dapat disimpulkan bahwa bahasa al-Qur’an adalah bahasa kaumnya [bi lisani qaumihi], dalam hal ini kaumnya Nabi Muhammad adalah kaum Quraisy. Sehingga secara spesifik bisa dikatakan bahwa bahasa al-Qur’an adalah bahasa Arab Quraisy, dan untuk singkatnya disebut dengan bahasa Araby.

Kenapa kita memakai istilah Araby? Apakah kata Araby berbeda dengan Arab? Istilah Araby berasal dari kata Arab yang ditambah dengan huruf “ya nisbah”, yaitu huruf “ya” yang terletak di akhir sebuah kata. Dalam konteks bahasa, “ya nisbah” berfungsi untuk merumpunkan suatu bahasa dengan kelompoknya. Seperti halnya bahasa Indonesia adalah serumpun dengan bahasa Malaysia, yakni termasuk dalam rumpun bahasa Melayu.

Jadi yang kita maksud bahasa al-Qur’an sebagai bahasa Araby adalah karena bahasa Arab Quraisy yang dipakai al-Qur’an tersebut serumpun dengan bahasa Arab seumumnya. Yang penting digarisbawahi di sini adalah, dari dua bahasa yang serumpun sering kali tidak sama persis antara yang satu dengan lainnya. Ada beberapa hal yang sama tetapi banyak pula hal lain yang berbeda.

 
 
Bahasa Arab sebagai bahasa asli

Apabila kita perhatikan kata ardl dalam al-Qur’an, kemudian kita bandingkan dengan earth [Inggris], terra [Italia], terre [Perancis], tierra [Spanyol], erde [Jerman], aarde [Belanda], rat [Jawa], yang dalam bahasa Indonesia artinya bumi, maka dari ketujuh bahasa tersebut ada kemiripan dalam bunyi ucapan [lafazh] dan kesinoniman dalam makna yang dikandungnya. Dan bila ada pertanyaan, bahasa manakah yang paling tua umurnya? Untuk menjawab pertanyaan ini memang tidak mudah.

Tetapi ada seorang dosen linguistik di sebuah universitas terkemuka di Inggris, Prof. Dr. Tahiyya Abdul Aziz yang menulis buku berjudul Arabic Language The Origin of Languages. Dalam buku tersebut, Prof. Tahiyya berani menyimpulkan dengan pasti, bahwa bahasa Arab merupakan sumber dan asal-usul dari semua bahasa yang ada di muka bumi ini.

Sungguh pun bahasa Arab itu dipandang dari sudut literatur adalah bahasa yang termuda di antara kumpulan bahasa-bahasa Samyah [Semite], tetapi bahasa ini lebih banyak mewarisi sifat-sifat asli bahasa induknya, bahasa Samyah, daripada bahasa Ibrani dan lain-lain bahasa yang bersaudara dengan itu [Philip K. Hitti, Dunia Arab, Sejarah Ringkas, hal. 11]. Dan tanah Arablah negeri asal dari cikal-bakal suku-suku bangsa bani Samyah, yaitu bangsa Babylonia, Assyria, Chaldea, Amoryah, Aram, Phunisia, Ibrani, Arab dan Abessinia [hal. 12].


Dalam Kitab Perjanjian Lama [The Old Testament] dikatakan: “Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.” [Kejadian 11: 1]. Kemudian dalam The Story of Language [Kisah daripada Bahasa], Mario Pei mengutip pernyataan Cowper: “Para sarjana filologi, yang memburu sebuah suku-kata terengah lewat ruang dan waktu, mulai di rumah dan mengejarnya dalam gelap-gulita, ke Gallia, ke Yunani, ke Bahtera Nabi Nuh juga”.

Dari pernyataan tersebut di atas, yang kemudian dihubungkan dengan Surat ash-Shaaffaat ayat 83 yang menyatakan bahwa sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar pendukung dan pelanjut dari Nuh. Lalu disambung dengan Surat al-A’laa ayat 18 dan 19, yang secara tegas menyebutkan bahwa al-Qur’an ini adalah kelanjutan dari shuhuf-shuhuf sebelumnya, yakni shuhuf Ibrahim dan Musa, maka nampaklah jalinan yang tak terputus yang menghubungkan antara al-Qur’an hingga sampai kepada Nabi Nuh. Dan bila sudah sampai Nabi Nuh, maka untuk menghubungkannya hingga Nabi Adam ibaratnya tinggal selangkah lagi, yakni terhubung melalui Nabi Idris.


Yang dimaksud dengan shuhuf para Nabi adalah ajaran beserta bahasanya. Sehingga yang disebut sebagai Arabic language oleh Prof. Tahiyya sebagai asal-usul semua bahasa di dunia ini, lebih tepat kiranya bila dikatakan sebagai bahasa wahyu yaitu bahasa para Nabi, sejak Adam sampai Muhammad. Jadi dalam kaitan hubungannya dengan bangsa Arab, bukanlah wahyu al-Qur’an yang mengikuti Arab, tetapi bahasa dan budaya Arablah yang mengikuti bahasa dan budaya para Nabi [al-Qur’an, Injil, Taurat, Zabur, Shuhuf Ula, al-Asma dll.].

Bila sejarah timbulnya bahasa dirunut sejak Nabi Adam a.s., sebenarnya kemampuan manusia dalam berbahasa tidak bisa lepas dari pengajaran yang diberikan oleh Allah. Dan karena Adam itu satu, Allah juga satu, maka bahasa pun pada awal mula kelahirannya semestinya hanya satu juga.

Jadi bila dikatakan bahwa bahasa itu adalah ciptaan manusia, kemungkinan besar yang diciptakan oleh manusia hanyalah berupa bentuk tulisannya saja. Sedangkan bahasa dalam bentuk aslinya yang pertama adalah berupa suara atau rangkaian bunyi [ujaran] yang mengandung makna tertentu. Dan bentuk bahasa ucap atau percakapan ini pastilah bukan ciptaan manusia, tetapi pemberian dari Allah, Tuhan Pencipta alam semesta.



 

Bentuk bahasa al-Qur’an

Bahasa ucap atau bahasa lisan merupakan landasan bagi semua bahasa. Dan bahasa wahyu yang didokumentasikan dalam al-Qur’an disebut sebagai qaulan atau lisaanan yang artinya ucapan atau perkataan lisan. Hal ini perlu kita tandaskan karena perbedaan bentuk bahasa akan berpengaruh pada makna yang dikandungnya.

Sebagai perbandingan antara bentuk bahasa ucap dan bahasa tulis, bisa kita kemukakan disini, antara lain:
1.    Bahasa tulis sangat terikat oleh tata bahasa, sedangkan bahasa ucap lebih longgar dalam hal gramatikanya.
2.    Dalam bahasa ucap, intonasi atau tinggi rendah tekanan [nada] suara sangat mempengaruhi makna yang dikandungnya, sementara dalam bahasa tulis tidak ada persoalan ini.
3.    Pihak-pihak yang berbicara biasanya saling bertemu secara langsung dengan tatap muka dialogis dan interaktif, sedangkan dalam bahasa tulis tidak demikian.
4.    Yang paling tahu maksud dari suatu ucapan adalah si pengucap itu sendiri. Bila tidak mengerti bisa langsung bertanya. Sedang dalam bahasa tulis, biasanya banyak sekali pemahaman, tafsiran dan interpretasi yang bahkan kadang-kadang bertolak belakang dengan maksud si penulis.


Dengan memahami bahwa bahasa al-Qur’an sebenarnya adalah bahasa ucap atau bahasa lisan yang ditulis [diabadikan] dalam mushkhaf, maka kita bisa lebih berhati-hati terutama dalam upaya untuk melagukan atau menyanyikan al-Qur’an. Jangan sampai sebuah kisah yang ‘heroik’ di dalam al-Qur’an [misalnya Surat al-Kafirun] menjadi terdengar ‘lucu’ karena melagukannya keliru dengan nyanyian meratap. Atau sebaliknya, yang seharusnya meratap menadahkan harapan dalam suasana syahdu, tapi malah dinyanyikan dengan semangat berapi-api.

Disamping hal itu, walaupun mempelajari tata bahasa itu penting, tetapi al-Qur’an sebagai bentuk bahasa ucap atau lisan mempunyai teori gramatika [tata bahasa] tersendiri. Tidak cukup hanya dengan sekedar belajar Nahu Sharaf dari Tata Bahasa Arab biasa. Singkatnya, untuk belajar bahasa al-Qur’an memang harus mempelajari Tata Bahasa al-Qur’an.

Dalam al-Qur’an Surat al-Haaqqah: 38 – 43 diterangkan bahwa bahasa al-Qur’an adalah bahasa percakapan dari Tuhan Pencipta alam semesta kepada Utusan-Nya yang dari segi bentuk maupun kandungannya mempunyai nilai yang sangat mulia [qaulu rasuulin kariimin].




Dibandingkan dengan bentuk bahasa sastrawan atau penyair [syaa’irin] yang terlalu berorientasi pada keindahan lahiriahnya saja, baik keindahan bentuk bait-bait sajaknya atau merdunya nada dan irama lagunya, al-Qur’an ternyata bukan termasuk bahasa semodel itu.

Bentuk bahasa al-Qur’an juga bukan bahasa manterawan [kaahinin] atau peramal, dukun, dan lain-lain sebutan bagi orang ‘pintar’ yang ngerti sakdurunge winarah [tahu segala peristiwa sebelum terjadi]. Karena bentuk bahasa model ini sering kali sulit dinalar dan tidak komunikatif, maka biasanya memerlukan juru tafsir khusus. Misalnya, karya-karya ramalan Jangka Jayabaya, Ronggowarsito atau Nostradamus. Juga kalimat-kalimat mantera dan tulisan-tulisan rajah yang sering dipakai untuk jimat.

Dari semua bentuk bahasa tersebut di atas, baik yang syaa’irin maupun kaahinin yang tahu hanya para tokohnya dan juru tafsirnya saja. Semakin sulit dipahami akan semakin hebat, dan tentu saja semakin mahal harganya.


Paradoks bahasa


Dalam al-Itqan, as-Suyuthi mengatakan: “Barang siapa menyatakan telah memahami rahasia-rahasia yang tersimpan dalam al-Qur’an, tetapi tidak menguasai makna lahiriahnya [tekstual], maka ibaratnya sama dengan orang yang mengatakan bahwa dia telah sampai [masuk] di tengah sebuah rumah, tetapi tidak melewati pintunya”. Dari pendapat as-Suyuthi ini, terlihat dengan jelas bahwa seseorang tidak mungkin bisa memahami makna suatu bahasa tanpa mempelajari bahasa yang bersangkutan.

Akan tetapi pengalaman kita dalam belajar bahasa membuktikan bahwa, bahasa sebagai alat untuk menyampaikan makna sama sekali tidak menentukan makna yang dikandungnya. Misalnya kata “bisa” mempunyai makna “dapat” atau “racun”. Dalam kasus ini sebuah lambang bahasa mempunyai kandungan makna lebih dari satu. Kadang-kadang dalam kasus yang lain, satu makna yang sama tetapi diungkapkan dengan lambang bahasa yang berbeda-beda, contohnya kata “ibarat”, “umpama”, “misal”, “bagaikan”, “seperti”, “penaka”, dan lain sebagainya, walau diungkapkan dengan istilah yang berbeda-beda tetapi maksudnya tetap sama.


Demikian inilah paradoks bahasa, di satu segi kita harus melalui bahasa untuk mempelajari makna yang dikandungnya, di segi yang lain kita tidak boleh terjebak pada bahasa sebagai alat penyampai makna yang sama sekali tidak menentukan makna itu sendiri. Bahasa sebagai alat ibaratnya seperti sebuah keranjang [wadah], apakah isi keranjang itu batu, buah-buahan atau pakaian, tidak ditentukan oleh keranjang itu sendiri. Paling-paling orang hanya bisa menduga berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan kebiasaannya, kalau keranjangnya model seperti itu maka biasanya untuk tempat buah, dan kalau yang bentuknya begini biasanya untuk tempat pakaian dan seterusnya.

Bila bahasa hanya sekedar alat atau sarana untuk menyampaikan makna, yang jadi pertanyaan adalah apakah atau siapakah sebenarnya yang paling menentukan makna dari suatu bahasa?

Friday, July 16, 2010

Islam dan Sosialisme HOS Tjokroaminoto


Sebenarnyalah, langkah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw untuk memperbaiki peri-keadaan dan nasib kaum buruh di dalam zamannya, tiadalah yang mengalahkan besarnya langkah itu di dalam riwayat dunia tentang urusan ekonomi.

Sebenarnyalah pengertian Sosialisme sejati yang ada pada Nabi Muhammad saw adalah lebih tinggi dan lebih mulia sekali. Baik cara yang dilakukannya untuk menanam pengertian itu di dalam pikiran rakyat maupun lakunya dalam menjalankan Sosialisme dalam penghidupan sehari-hari, adalah lebih sederhana dan lebih mudah daripada cara yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin Sosialis Barat atau cangkokan dari Barat pada zaman sekarang ini.

Adapun yang menjadi dasarnya pengertian Sosialisme Nabi Muhammad saw adalah kemajuan peri-keutamaan dan kemajuan budi-pekerjaan rakyat. Sepanjang keyakinan saya yang tetap, tiap-tiap Sosialisme yang sejati tiadalah akan tercapai selama-lamanya kalau tidak dengan kemajuan-kemajuan rakyat yang demikian itu.

Perkara-perkara besar yang kejadian di dalam dunia Islam, adalah membuktikan dengan seterang-terangnya, bahwa rasa persaudaraan dan persatuan di dunia Islam, yaitu dasar yang sesungguh-sungguhnya bagi Sosialisme, tiadalah mati, bahkan bertambah-tambah kuatlah di dalam hatinya umat Islam.

Tentang peri-keutamaan dan kebajikan dalam pergaulan hidup bersama, maka Islam sama sekali tidak ada khawatir akan boleh dikalahkan oleh lain agama yang manapun juga. Hanyalah kita harus khawatir akan bahaya materialisme, yaitu nafsu yang hanya menghendaki kemajuan kasar, kemajuan peri-kebendaan semata-mata.


Materialisme dapatlah dibinasakan, tetapi spiritualisme tidak! Badan manusia yang terjadi dari darah daging itu boleh disakiti, tetapi budi dan gerak hatinya suatu rakyat tidak dapat dibinasakannya. Suatu cita-cita tidak dapat dibunuh dengan bayonet dan peluru atau bom. Kemajuan barang benda yang bersandar kepada kemajuan teknologi bolehlah dibinasakan, tetapi perserikatan, persatuan dan susunan-susunan budi yang bersandar kepada keutamaan dan kebajikan manusia, tiadalah dapat dibinasakannya.

Islam tiadalah dapat dikalahkan oleh apapun juga, begitulah juga orang Islam yang mempunyai zat Islam sejati. Islam itu adalah pesawat kemajuan yang terbesar dan terkenal oleh peri-kemanusiaan. Apabila orang Islam sampai dapat dikalahkan oleh materialisme, itulah bukan salahnya Islam, tetapi salah mereka itu sendiri yang lalai akan ke-Islamannya. Hanya Islam itu saja agama yang mencampurkan perkara lahir dengan perkara batin. Islam memberi aturan untuk pedoman bagi peri-kehidupan batin dan juga pedoman bagi pergaulan hidup bersama, bagi perkara-perkara politik, pemerintahan negeri, militer, kehakiman dan perdagangan dunia.

Bagi kita, orang Islam, tak ada Sosialisme atau rupa-rupa “isme” lain-lainnya, yang lebih baik, lebih elok dan lebih mulia, melainkan Sosialisme yang berdasar Islam itulah saja.

--- HOS Tjokroaminoto, Islam dan Sosialisme (Kutipan lepas, dari hal 14 – 23)
Cetakan ke IV diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang Jakarta, kemudian Penerbit TriDE, Yogyakarta menerbitkan Cetakan I, Oktober 2003.

Friday, August 7, 2009

Kisah Syekh Bakir dan Tombak Kiai Panjang


Menurut kepercayaan sebagian masyarakat, Gunung Tidar pada mulanya hanya ditinggali oleh para jin dan setan yang konon dipimpin oleh salah satu jin bernama Kiai Semar. Kiai Semar tidak sama dengan tokoh Semar dalam dunia pewayangan. Kiai Semar yang menguasai Gunung Tidar ini konon jin sakti yang terkenal seram. Setiap ada manusia yang mencoba untuk tinggal di sekitar Gunung Tidar, maka tak segan Kiai Semar mengutus anak buahnya yang berupa raksasa-raksasa dan genderuwo untuk memangsanya.

Alkisah, datanglah seorang manusia yang terkenal berani untuk mencoba membuka wilayah Tidar untuk ditinggali. Ksatria berani ini berasal dari tanah jauh. Konon ia berasal dari negeri Turki, bernama Syekh Bakir, dan ditemani oleh Syekh Jangkung. Kedua syekh ini disertai juga oleh tujuh pasang manusia, dengan harapan dapat mengembangkan masyarakat yang kelak mendiami wilayah itu.

Mendengar kabar itu, Kiai Semar murka. Diseranglah mereka oleh anak buah Kiai Semar, dan tiada seorang pun yang selamat kecuali Syekh Bakir yang sakti, saleh dan sabar. Setelah bertapa selama 40 hari 40 malam, ia bertemu dengan Kiai Semar.

"Hei, Ki Sanak, berani benar kau berada di wilayah kekuasaanku tanpa permisi. Siapakah engkau dan apa maumu berada di wilayah ini," kata Kiai Semar.

"Duh penguasa wilayah Tidar, ketahuilah olehmu bahwa namaku Syekh Bakir, asalku dari negeri Turki nun jauh di sana. Adapun kedatanganku kemari untuk membuka tempat dan aku akan tinggal di sini bersama saudara dan sahabatku," jawab Syekh Bakir dengan tenang.

"Adakah kau tahu bahwa daerah ini adalah daerah kekuasaanku? Siapa pun tak boleh tinggal di sini. Jika tiada peduli, maka aku akan mengutus anak buahku untuk menumpas kalian tanpa sisa."

"Hai engkau yang mengaku sebagai penguasa Tidar. Tidakkah kau tahu bahwa tiada yang dapat melebihi kekuasaan Allah? Allah menciptakan manusia untuk menjaga dan memelihara alam semesta ini, bukan untuk menguasainya secara semena-mena," kata Syekh Bakir.

"Hai manusia, sebelum kemarahanku memuncak, tinggalkan tempat ini. Ketahuilah bahwa tempat ini sudah menjadi milikku, dan jangan mencoba merampasnya!"

Syekh Bakir terdiam. Mendengar ancaman Kiai Semar, ia lalu mengalah. Syeh Bakir pun meninggalkan tempat itu. Bukan berarti ia menyerah kalah. Tetapi sebaliknya Syekh Bakir hendak menyiapkan diri dengan lebih baik untuk mengalahkan Kiai Semar dan bala tentaranya.

Sesampai di negeri Turki, ia mengambil sebuah tombak sakti yang bernama Kiai Panjang. Selain itu, ia pun menyiapkan lebih banyak lagi manusia yang akan diajak serta untuk membuka tempat tinggal baru di Tidar.

Sesampai kembali di Tidar, berpasang-pasang manusia yang diajak oleh Syekh Bakir tinggal lebih dulu di daerah sebelah timur Gunung Tidar yang sekarang dikenal dengan nama desa Trunan. Konon desa itu berasal dari kata "turunan". Ada yang mengatakan arti dari turunan itu adalah keturunan, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai daerah pertama kali sahabat-sahabat Syeh Bakir diturunkan dan tinggal di tempat itu untuk sementara waktu.

Setelah itu Syekh Bakir berangkat sendiri ke puncak Gunung Tidar untuk bersemadi. Tombak pusaka sakti Syekh Bakir ditancapkan tepat di puncak Tidar sebagai penolak bala. Dan benar, tombak sakti itu menciptakan hawa panas yang bukan main bagi Kiai Semar dan wadyabalanya.

Mereka pun lalu lari tunggang-langgang meninggalkan Gunung Tidar. Kiai Semar dan sebagian besar tentaranya melarikan diri ke arah timur dan konon hingga sekarang menempati daerah di sekitar Gunung Merapi yang masih dipercaya sebagian masyarakat sebagai wilayah yang angker. Dan sebagian lagi ada yang melarikan diri ke Alas Roban dan bahkan ada juga yang tinggal di Gunung Srandil. Tombak itu sekarang masih dijaga oleh masyarakat dan dimakamkan di Gunung Tidar dengan nama Makam Tombak Kiai Panjang.

Dengan adanya tombak sakti itu, maka amanlah Gunung Tidar dari kekuasaan para jin dan makhluk halus. Syehh Bakir pun akhirnya memboyong sahabat-sahabatnya untuk membuka tempat tinggal baru di kawasan Gunung Tidar dan sekitamya.

Sumber: Dorothea Rosa Herliany, Cerita Rakyat dari Kedu, Penerbit Grasindo

Konon menurut cerita Almarhum Ayah saya (KM Bakir), dua orang tokoh dalam kisah inilah yang menginspirasi Kakek (KH Siraj Mursyid) ketika memberi nama kepada anak laki-lakinya yang keempat.
Wallahu a'lamu bish-shawaab.


Muhammad Baqir dalam Sejarah Islam

Muhammad Baqir adalah Imam kelima dalam tradisi Syiah yang bergelar al-Baqir. Beliau adalah putra dari Ali Zainul Abidin yang bergelar as-Sajjad. Sedangkan Ali Zainul Abidin adalah putra Husein bin Ali al-Murtadla. Husein yang bergelar asy-Syahid adalah putra Ali bin Abi Thalib dengan Fathimah az-Zahra binti Muhammad Rasulullah saw. Jadi Muhammad Baqir adalah buyut dari Nabi Muhammad saw.

Sumber: aljawad.tripod.com