Showing posts with label Infotainment. Show all posts
Showing posts with label Infotainment. Show all posts

Wednesday, August 8, 2012

Fenomena Ustadz-ustadz Infotainment


Banyak jalan untuk jadi masyhur. Salah satunya lewat jalur pemberitaan infotainment dan tampil di televisi. Coba saja tanya ustadz Soleh Mahmoed yang  punya nama seleb: Ustadz Solmed.

Ustadz yang dalam bahasa Indonesia bermakna guru, selalu berkonotasi pada pemberi pelajaran di bidang agama Islam. Tapi kini ada jalan pintas menjadi ustadz kondang. Bukan sekadar mengajar ngaji dari satu surau ke surau lain, tapi dengan cara tampil di televisi. Apalagi sepanjang bulan Ramadhan, di saat acara keagamaan demikian marak, semakin banyak pula ustadz yang makin “eksis”.

Mereka panen rezeki dari membawakan acara siraman rohani. Bahkan, sebagian nekad memperbanyak canda dalam tayangan, termasuk di infotainment, hingga akhirnya didapuk jadi ustadz seleb.

Ustadz Solmed adalah satu di antara penceramah yang jadi seleb lewat jalur televisi. Dia dikenal lewat acara religi di berbagai stasiun seperti “Assalamu'alaikum Ustadz” di RCTI, “Cahaya Hati” di ANTV, “Titian Qolbu” di TV One, dan “Teropong Iman” di Trans TV.


Dapat stempel sebagai ustadz seleb, ia pun hanya tersenyum. “Nggak apa-apa, cara orang berdakwah itu kan berbeda-beda. Ada yang lewat nyanyi, ada melalui film, sampai yang jadi dalang wayang,” ujarnya.

Perihal keartisannya pun, dengan santai alumni pondok pesantren Assidiqiyah ini menilai bahwa seseorang yang telah muncul di depan publik secara otomatis sudah menjadi seorang selebritas. Sosok selebritas, katanya, memang tak melulu harus berangkat dari artis, melainkan lebih kepada tokoh yang telah dikenal banyak orang.

“Mungkin publik telah menganggap saya seleb, jadi mungkin juga mereka ingin lebih dekat dengan saya. Makanya mungkin infotainment meresponnya,” kata pria kelahiran 19 Juli 1983 itu.

Setelah muncul di banyak layar gosip, sontak popularitas Solmed meroket. “Insya Allah itu karena banyak orang yang mencintai saya, jadinya ingin nonton,” tutur suami April Jasmine itu.


Perjalanannya mungkin berbeda dengan Ustadz Cilik Guntur Bumi al-Qurthubi atawa Muhammad Susilo Wibowo.  Pria kelahiran 17 Februari 1982 itu pernah muncul dalam acara reality show televisi berjudul “Pemburu Hantu”. Dia juga sering mengadakan pengobatan massal di berbagai daerah. Kala itu, namanya belum setenar sekarang.

Berbeda dengan nama Solmed yang berasal dari singkatan nama panjangnya, Ustadz Cilik mendapatkan “nama bekennya” dari kyai besar yang juga mantan Presiden RI, almarhum KH Abdurahman Wahid (Gus Dur).  Namun namanya justru meroket setelah ia menikahi Puput Melati, mantan penyanyi cilik.

Tapi kata Guntur, “Justru saya lebih dikenal sebagai ustadz yang berdakwah di jalur kesehatan. Jika memang saya menjadi nyeleb setelah menikah dengan seleb, ya itu lumrah.”

Baginya, dengan menjadi langganan infotainment, jalur dakwah pun diakuinya semakin terbentang. “Dibandingkan para ustadz di belahan negara lain yang masih sulit berdakwah, saya tentunya beruntung,” akunya.

Sumber: VISTA
http://id.omg.yahoo.com/news/fenomena-ustaz-ustaz-infotainment.html



Taushiyah “Surat Pembaca” Tulus
dari Seorang Ibu untuk Ustadz Solmed

Sebuah surat pembaca datang dari seorang ibu bernama Wulan Darmanto yang mengaku prihatin dengan da'i muda yang kerap tampil di televisi. Dari hatinya yang tulus, ia memberi nasihat secara tertulis, khususnya kepada Ustadz Soleh Mahmud atau yang ngetop disapa Solmed.

Tentu saja, bukan didasari rasa benci atau pun bermaksud untuk ghibah, Ibu Wulan mengharapkan para da'i muda agar memberi teladan pada umat. Dan seharusnya pula, Ustadz Solmed menerima nasihat itu dengan lapang dada, dan tidak menjadikan kritikan itu sebagai ancaman. Adakalanya, ustadz muda yang bergaya bak selebritis tidak menyadari, bahwa popularitas itu sesungguhnya adalah ujian. Boleh jadi, Ustadz Solmed merasa 'ditodong' oleh media entertainment untuk diwawancarai. Boleh saja, diwawancarai, namun satu hal, gunakan bahasa dakwah, bukan bahasa seleb.

Berikut surat terbuka seorang Ibu dua anak ini yang tinggal di Pamulang kepada Ustadz Solmed:


Assalamu’alaikum, Pak Ustadz ....

Sebelumnya saya mohon maaf jika Bapak kurang berkenan dengan surat terbuka ini. Saya bukan Solmeder’s yang konon menggandrungi Pak Ustadz setengah mati. Saya juga bukan orang yang setia menyimak kajian Pak Ustadz di televisi. Saya hanya ibu rumah tangga yang sedang terheran-heran, mengapa Pak Ustadz yang mestinya jauh dari dunia gemerlap kok malah sering muncul di infotainment.

Beberapa hari lalu, saya membaca artikel di sebuah portal berita. Katanya Ustadz sedang
dekat dengan penyanyi anu yang sedang naik daun itu. Dalam hati saya membatin, sekaligus berharap, janganlah berita itu menjadi kenyataan.

Bukannya saya mengutuk sang biduan, Pak Ustadz. Tapi bapak harusnya lebih paham seperti apa ciri wanita shalihah dan bagaimana cara “mendekati” wanita tipikal seperti ini. Ada bantahan yang melegakan hati saya, bahwa Pak Ustadz dan penyanyi itu hanya berteman, tak lebih. Karena sebenarnya hati Pak Ustadz sudah diisi oleh wanita lain.


Tapi bantahan ini pun memberikan tanda tanya baru di hati saya; Pak Ustadz, sang guru ngaji yang masih bujangan, mengakui terang-terangan bahwa hatinya sudah terpikat oleh pesona seorang wanita? Esoknya, saya kembali melihat Pak Ustadz. Sayangnya bukan di tayangan pengajian, melainkan di infotainment; gudang beritanya para artis. Miris hati ini melihat bapak
yang dikenal masyarakat sebagai sosok da’i mau diwawancara berdua dengan wanita yang bukan mahromnya. Bahkan di tayangan tersebut bapak nyaris akan disuapi oleh si wanita. Oh, dialah rupanya si penunggu hati yang kemarin sempat Bapak singgung.

Tak butuh waktu lama untuk kembali melihat wajah Pak Ustadz di acara gosip selebritis. Kali ini Pak Ustadz dengan wajah sumringah bercerita bahwa Bapak baru saja memberikan mobil sebagai hadiah bagi sang wanita.

Wanita itu pun ada di situ, berdua dengan Pak Ustadz, ikut tertawa riang di depan kamera. Ah, Pak Ustadz, tahukah Bapak ada banyak ibu-ibu seperti saya geleng kepala melihat tingkah Bapak. Apalagi bolak balik Bapak menegaskan bahwa hubungan kalian adalah ta’aruf. Saya belum habis pikir, kok bisa makna ta'aruf tidak ada bedanya dengan pacaran.


Ustadz Solmed,

Sebagai ustadz tentu Bapak jauh lebih paham bagaimana cara berta’aruf yang benar dalam Islam. Bagaimana menjaga adab dalam bergaul agar tidak terjadi fitnah dan bagaimana pula menghijabi hati bagi lawan jenis yang bukan mahrom. Perih hati saya melihat tayangan infotainment menyebut Pak Ustadz dan wanita itu sebagai pasangan kekasih. Kalau sudah begini, apa bedanya Pak Ustadz dengan artis lain yang diwawancara berdua dengan pacar mereka? Pak Ustadz ta’aruf, mereka pacaran. Tapi sama-sama tampil berdua, menyiratkan kemesraan, dan sama-sama mau diekspos media infotainment.

Oh, mengapa ustadz yang seharusnya menjadi milik jamaah kini menjadi
komoditi seperti ini?! Ustadz adalah ustadz, jangan nyambi menjadi seleb. Itu adalah dua dunia yang berbeda, jauh berbeda. Tapi kalau boleh jujur, Pak Ustadz memang pantas menjadi selebritis.Wajah ganteng, hidup mapan. Seharusnya Bapak meneladani Briptu Norman, dia berani memilih untuk menjadi polisi atau selebriti.


Ustadz Solmed,

Waktu kecil, saya punya ustadz idola yang saya suka karena kerendahan suaranya dan entah mengapa hati ini selalu tersentuh kala melihat beliau berceramah. Ustadz kesukaan saya ini jarang tampil di televisi, belum tentu sepekan sekali. Ustadz Ihsan Tanjung namanya.

Rasa-rasanya bapak juga tahu suara hati sejumlah jamaah yang kini mulai gusar dengan mudahnya seseorang disebut ustadz. Bermodal wajah yang kameragenik, gaya yang terus up to date dan model berceramah yang atraktif, seorang penceramah kini bisa dengan mudah menjadi ustadz.

Lalu setelah terkenal, acara ceramahnya punya rating tinggi, naiklah derajatnya menjadi bintang iklan, bahkan MC acara hiburan.


Pak Ustadz,

Melalui surat terbuka ini, saya bukannya ingin menasehati Bapak. Toh saya juga jauh dari kefahaman terhadap ilmu agama. Saya hanya ingin menyampaikan kegundahan hati seorang umat, bahwa sebagai da’i apa yang Bapak lakukan menjadi contoh dan teladan bagi umat. Jika memang sedang dekat dengan seorang wanita, janganlah mengklaim itu sebagai ta’aruf.

Kasihan muda-mudi kita Pak, bila kini mereka lebih merasa aman berdua-duaan dengan lawan jenis lantaran menganggap itulah proses ta’aruf seperti yang Pak Ustadz contohkan.

Konon Bapak baru akan menikahi si gadis empat bulan lagi. Empat bulan adalah waktu yang tidak sebentar bagi insan yang tengah mencandu asmara.

Saya pernah melewati fase seperti Pak Ustadz saat hendak menikah. Menunggu sebulan saja badan ini rasanya meriang tak karuan. Waktu menjadi terasa sangat lama. Dan bayangan di benak sudah terisi oleh hal yang tidak-tidak saja.


Semoga Ustadz Solmed membaca surat terbuka saya ini.

Sebaiknya segeralah nikahi gadis tersebut, karena masyarakat kini mulai enteng menyebut “Oh, itu to, pacarnya Ustadz Solmed ....” yang membuat miris  siapa pun yang mendengar. Jika memang Pak ustadz masih harus menunggu empat bulan lagi, janganlah memamerkan kedekatan kalian di televisi. Lakukanlah ta’aruf sebagaimana seharusnya dilakukan. Jangan menghaluskan bahasa dari pacaran menjadi ta’aruf. Sekali lagi, kasihan jamaah yang banyak mengidolakan Bapak dan berkiblat pada Bapak.

Cukup sekian surat dari saya, semoga besok dan seterusnya, saya tak lagi menjumpai Pak Ustadz di tayangan gosip. Karena ustadz adalah da’i, bukan selebriti.

Wassalammu’alaikum


Sumber:
www.voa-islam.com

Monday, August 6, 2012

Inflasi Ceramah Ramadhan


Ramadhan adalah bulan ibadah di mana muslim menunaikan ibadah puasa, tarawih, tadarus, iktikaf, dan sedekah. Selain itu, Ramadhan adalah bulan ceramah di mana muslim menyelenggarakan ceramah-ceramah keagamaan di masjid, mushala, perkantoran, radio, dan televisi.

Ceramah Ramadhan adalah tradisi keagamaan yang dikembangkan para pendakwah Islam di Indonesia. Al-Quran memerintahkan agar kaum beriman berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran (QS Al-Asr: 3) dan kasih sayang (QS Al- Balad: 17). Muslim wajib saling mengingatkan agar selamat dan sukses dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam hadis disebutkan: agama adalah nasihat (al-dinu al-nasihat). Ceramah dianjurkan sepanjang masa, bukan khusus di bulan Ramadhan. Intensifikasi dan ekstensifikasi ceramah Ramadhan adalah kreativitas pendakwah Islam untuk menjadikan Ramadhan sebagai momentum peningkatan iman dan takwa.


Miskin Makna
Sangat disayangkan, ceramah Ramadhan justru terasa berlebihan dan miskin makna. Pertama, pengertian tausiah sebatas ceramah. Menurut al-Qurtubi di dalam tafsirnya, kata “tawashau” dalam surah al-‘Asr: 3 berarti “tahabbu”: saling mencintai, menyayangi, berbagi kasih dengan saling mengingatkan, menasihati, dan memberi. Frasa “tawashau bi al-marhamah” di dalam surah al- Balad: 17 berarti kasih sayang (rahmat) kepada makhluk.

Merujuk al-Qurtubi, tawashau harus diimplementasikan dalam bentuk konseling, aksi, dan tindakan yang menyelamatkan sesama manusia. Peringatan dapat berupa sanksi hukum bagi yang bersalah atau advokasi bagi yang lemah. Berwasiat kepada makhluk berarti melestarikan alam semesta, flora dan fauna. Kedua, ceramah dilaksanakan semata-mata sebagai formalitas mengisi waktu kosong, atau syarat-rukun suatu pertemuan.


Di media massa, khususnya televisi, ceramah telah menjadi bagian dari hiburan dan komersialisasi Ramadhan. Ceramah Ramadhan takluk pada budaya pop dan subordinat program komedi yang merajai tayangan media televisi. Para ustadz dan ustadzah dituntut tampil ngepop dan melucu sebagaimana layaknya komedian.Televisi adalah “lahan basah” dan media strategis bagi para ustadz dan ustadzah untuk memopulerkan diri.Tentu saja tidak seluruh ustadz dan ustadzah di televisi larut dalam arus budaya pop dan takluk pada kehendak rating pemirsa.

Tetapi tanpa ketulusan dan komitmen dakwah yang tegas, ceramah agama terasa sangat kering nilai dan miskin makna spiritual. Ketiga, materi ceramah sangat monoton, monolitik, dan repetitif.

Sebabnya antara lain adalah; Pertama, pengurus atau takmir masjid tidak cukup berkualitas dan kreatif mengembangkan topik aktual dan kontekstual. Mereka terlalu sibuk menyusun jadwal ceramah dan penceramah.

Kedua, kualitas penceramah yang “asal comot”: masih taraf belajar atau “langganan tetap”: jam terbang tinggi, mendalami agama dan raja podium tetapi karena keterbatasan waktu, ceramahnya tidak ubahnya seperti album rekaman yang diulang-ulang.


Peningkatan Mutu dan Manajemen
Walaupun terdapat banyak kelemahan, tradisi ceramah Ramadhan tetap penting dikembangkan. Ceramah Ramadhan adalah pendidikan publik yang strategis. Pengembangan ceramah Ramadhan dapat dilakukan melalui beberapa cara. Pertama, pengkajian yang berbasis teks (text-based) berdasarkan buku atau kitab tertentu. Model ini sesungguhnya telah menjadi bagian dari tradisi pendidikan agama di masjid, pesantren, atau madrasah.

Pengkajian Tafsir al-Misbah oleh Prof Quraisy Shihab di televisi adalah bentuk modern dari model tradisional ini. Alternatif lainnya adalah pengkajian berbasis tema (theme-based). Pengkajian disusun untuk tema tertentu dengan pengkajian yang berkelanjutan. Dengan model ini, umat akan memiliki landasan dan wawasan keberagamaan yang mendalam dan kuat. Kedua, peningkatan kapasitas dan profesionalisme pengurus atau takmir masjid.

Selama ini masjid dikelola dengan manajemen “seikhlasnya”. Praktiknya, para takmir bekerja serabutan, mengerjakan semuanya, sebisanya, seluangnya, dengan imbalan seadanya. Masjid dan komunitasnya perlu mengembangkan pengelolaan dengan lebih profesional sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen modern. Konsep ikhlas dan profesional perlu ditafsirkan kembali dalam konteks ketakmiran dan tata kelola masjid yang modern.


Dengan kualitas dan profesionalitas, takmir diharapkan mampu mengelola kegiatan keagamaan dengan lebih baik, kreatif dan inovatif. Ketiga, diperlukan pelaksanaan regulasi yang lebih tegas oleh pihak-pihak berwenang untuk mengawasi siaran-siaran di media massa, khususnya siaran agama di televisi. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) perlu lebih tajam menilai dan memastikan agar isi dan penyajian acara agama tidak menyimpang, bertentangan, kontraproduktif, dan justeru merusak umat.

Jika langkah-langkah pembaharuan tidak dilakukan, ceramah Ramadhan tak akan berdampak apa pun dalam kehidupan sosial dan keadaban publik. Ceramah terus menggema, tapi korupsi tetap menggurita, kriminalitas merajalela, dan moral porak-poranda. Saatnya kita berbenah agar ceramah tidak hanya formalitas, rutinitas, seremonial, dan pengisi waktu luang belaka.

Abdul Mu’ti
Sekretaris PP Muhammadiyah; Dosen IAIN Walisongo, Semarang
Koran SINDO, 4 Agustus 2012

Friday, May 15, 2009

Antara Boediono dan Budi Anduk


Dr. Boediono (lahir di Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943; umur 66 tahun) adalah Gubernur Bank Indonesia sekarang ini. Sebelumnya Boediono menjabat Menteri Koordinator Perekonomian Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu. Boediono juga pernah menjabat Menteri Keuangan Indonesia dalam Kabinet Gotong Royong (2001–2004). Sebelumnya pada Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999), Boediono adalah Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto. Saat ini ia juga mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Boediono beristrikan Herawati dan memiliki dua anak, Ratriana Ekarini dan Dios Kurniawan.

Pendidikan
Ia memperoleh gelar Bachelor of Economics (Hons.) dari Universitas Western Australia pada tahun 1967. Lima tahun kemudian, gelar Master of Economics diperoleh dari Universitas Monash. Kemudian pada tahun 1979, ia mendapatkan gelar S3 (Ph.D.) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania.

Karir di pemerintahan
Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, ia membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional. Oleh BusinessWeek, ia dipandang sebagai salah seorang menteri yang paling berprestasi dalam kabinet tersebut.Ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden, banyak orang yang mengira bahwa Boediono akan dipertahankan dalam jabatannya, namun posisinya ternyata ditempati Jusuf Anwar. Menurut laporan, Boediono sebenarnya telah diminta oleh Presiden Yudhoyono untuk bertahan, namun ia memilih untuk beristirahat dan kembali mengajar.

Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan perombakan (reshuffle) kabinet pada 5 Desember 2005, Boediono diangkat menggantikan Aburizal Bakrie menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian. Indikasi Boediono akan menggantikan Aburizal Bakrie direspon positif oleh pasar sejak hari sebelumnya dengan menguatnya IHSG serta mata uang rupiah.

Pada tanggal 9 April 2008, DPR mengesahkan Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia, menggantikan Burhanuddin Abdullah.

Boediono diisukan menjadi calon wakil presiden 2009-2014 mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Setelah namanya muncul sebagai calon wakil presiden, berbagai suara pro dan kontra muncul. Para pengkritiknya terutama mengaitkannya dengan berbagai kebijakannya yang dinilai pro-neoliberalisme.

Kwik Kian Gie pernah menilai bahwa Boediono bertanggung jawab terhadap berjalannya program Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) usulan IMF, yang pengembaliannya bermasalah. Isu penentangan lain yang dimunculkan adalah bahwa ia tidak mewakili tokoh partai, ia bukan representasi tokoh Islam, dan ia adalah orang Jawa, sama dengan SBY.

Karya
Mubyarto, Boediono, Ace Partadiredja. 1981. Ekonomi Pancasila. BPFE. Yogyakarta.
Boediono. 2001. Indonesia Menghadapi Ekonomi Global. BPFE. Yogyakarta.
Boediono. 1986. Strategi Industrialisasi: Adakah Titik Temu ? Prisma Tahun XV, No.1.

http://id.wikipedia.org/wiki/Boediono


Budi Anduk, Berkah dari Menderita

Awalnya Budi Anduk tertarik terjun ke dunia hiburan lantaran ingin menjadi pencipta lagu. Pada 1996, Budi, yang mahir bermain gitar, diajak bergabung dengan acara komedi situasi Ngelaba, yang dimotori grup lawak Patrio. "Kenapa saya mau ikut, karena saya ingin ketemu penyanyi-penyanyi terkenal," katanya.

Tapi, setelah bergabung, cita-citanya ingin mengembangkan talenta bermain musik buyar. Budi malah asyik dengan dunia barunya: komedi. "Saya ini jadi komedian karena 'dijorokin'," ujar Budi, yang kini terkenal lewat serial Tawa Sutra XL, yang ditayangkan stasiun ANTV.

Selepas Ngelaba, Budi makin mantap dengan dunia komedi yang digelutinya. Ia sempat ikut terlibat dalam beberapa serial komedi situasi, mulai jadi pemain hingga penulis naskah.

Lama-kelamaan, Budi pun menemukan ciri khasnya di dunia humor: seni mencela diri sendiri. Ia menyebutnya sebagai gaya mengebom diri sendiri. Seperti ketika Tempo hendak mewawancarainya, seorang rekannya berseloroh, "Bud, bedakan dulu sono." Dengan santai ia menjawab, "Halah, bedak nggak dibedakin nggak jauh bedanya."

Menurut Budi, tiap orang punya jalan yang bisa dikembangkan sendiri. "Wajar saja dalam dunia komedi ada pihak yang menyerang, ada yang defensif," katanya. "Nah, saya tipe orang yang gemar mengebom diri sendiri," katanya. Misalnya saat ada yang mengatakan dirinya bertampang seperti setan, "Saya bilang, saya bukan setan, tapi genderuwo, he-he-he...."

Soal nama belakangnya, Anduk, tutur Budi, dia punya kisahnya sendiri. Nama Anduk adalah julukan yang diberikan teman-temannya karena kegemarannya berkalung handuk ke mana pun ia pergi. "Habis saya gampang keringatan," dia menerangkan.


Meski seorang komedian, dalam keseharian Budi bukan tipe yang gemar melempar guyonan di setiap kesempatan. Malah ia mengaku cenderung tak suka orang yang gemar bercanda secara berlebihan. "Tapi kalau dibayar gila, ya, gila dah. Ini pekerjaan saya," katanya serius.

Dalam melempar humor, pria berdarah Jawa ini merasa lebih akrab dengan ungkapan-ungkapan Betawi sebagaimana ia dibesarkan. "Mungkin karena Betawi lebih dekat ke Melayu hingga lebih mudah diterima orang, ya."

Yang jelas, Budi berharap suatu saat namanya bisa dikenang orang karena ciri khas yang membedakannya dengan komedian lain, seperti halnya Djodjon atau Bolot. "Mereka dikenang bukan hanya karena antik secara fisik, kan?" katanya.

Budi tak menampik kenyataan dalam dunia komedi Indonesia yang masih sering main fisik. Ini tak terhindarkan, tapi justru jadi ciri khas komedi Indonesia. "Seperti Warkop DKI atau Mr. Bean yang sampai sekarang masih digemari. Nggak lucu kalau tidak ada slapstiknya," Budi menjelaskan.

Meski bagi sebagian orang slapstik bikin menderita, Budi menggangapnya sebagai harga yang harus dibayar untuk sebuah kelucuan. Sebagai sosok yang selalu jadi obyek penderita dari adegan-adegan slapstik, Budi punya resep sendiri: "Jalani penderitaan dengan ikhlas."


Data Pribadi
Nama: Budi Prihatin; Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 8 Februari; Tinggi/berat: 161 cm/62 kg.

Filmografi
Sinetron Azab Ilahi, Ngelaba, Lesehan, OK OK Boss, Klinik 24 Jam, Capeee' Deeeh, Tawa Sutra, Dangdut.com, Tawa Sutra XL, Tiren, Tulalit.

Utami Widowati, TEMPO Interaktif, 26 Januari 2009


Fenomena Bernama Budi Anduk!

Dunia komedi Indonesia kembali diramaikan oleh pendatang baru. Setelah sekian episode komedi situasi Tawa Sutra di AnTV terlewati, wajahnya kini sudah tak asing lagi di kalangan pemirsa televisi.

Budi Anduk memang memikat, setidaknya bagi para fansnya yang tersebar di berbagai jejaring sosial dunia maya. Terutama Facebook dan Friendster. Mengawali karier sebagai figuran pada sitkom ‘Ngelaba’ tahun 1996, pria kelahiran jakarta 8 Februari 1968 ini meraih sukses besar ketika perannya di Tawa Sutra disambut baik oleh pemirsa.

Perawakan tubuhnya yang gemuk, agak menonjolkan postur pendek, kulit hitam (maaf bukan rasisme) rambut keriting serta banyolannya yang ceplas-ceplos terbukti berhasil menjadi jurus ampuhnya yang laris-manis hingga kini. Tawaran yang datang kini tak hanya berupa peran komedi namun juga merambah ke dunia iklan dan presenter.

BuDuk, Budi Anduk, atau juga sering dipanggil Andre memang fenomenal. Terbukti dari sekian banyak berita tentangnya di internet, selalu ada komentar positif diselingi foto-foto lucunya. Foto-foto hasil edit tersebut mengidentikkan Budi Anduk dengan tokoh-tokoh kondang. Mulai dari Obama, Che Guevara, dan lain-lain.

Saya sendiri mulai memperhatikan BuDuk saat seorang teman yang ‘ngiri’ pada foto BuDuk versi Che Guevara, sampai ingin dieditkan serupa dengannya. Dan ternyata hingga Sekarang saya masih senang menyaksikannya di layar kaca. Meskipun saya tidak terlalu suka penampilannya terkesan ‘terlalu dipaksa produser’ dalam acara terbarunya Untung Ada Budi.

Apapun itu, semoga tetap low profile ya, Om BuDuk!

http://ummaymochil.wordpress.com/


Budi Anduk coooy ....

Wakaka…. sumpah gw ngakak pas pertama kali liat ni foto. Lo pasti tau kan ni siapa? Yups, Budi Anduk (Budi Prihatin), seleb (yaelah seleb coy) yang sekarang mulai terkenal sejak penampilannya di acara komedi Tawa Sutra. Tadinya si Budi masi dapet predikat skuter (selebriti kurang terkenal), tp sekarang jangan salah, ni orang banyak penggemarnya, malahan banyak yg mo bikin Budi Anduk Fans Club, wakaka… kalo dah ada ikutan ah gw.


Menurut gw si Budi Anduk tampangnya lebih orisinil ketimbang tukul, becandanya kocak, kalo ngomong sekenanya tp bikin kita ketawa, walaupun perannya di tipi sering di hina dina. Pokoknya ni orang kocak abis coy, top lah, sampe2 sepupu gw yg masi tk aja nge fans ma Budi Anduk. Ga kebayang kalo ni orang jadi presiden, wakakaka…. rakyatnya bakalan ngakak terus. Btw dulunya susah banget nyari foto ni org, makanya mo posting ga jd2, ni foto paling top yg bs gw cari.


Buat Budi Anduk sukses coy, moga tetep lucu n kocak, n moga cepet dibikin fans club nya, wakaka…. (perasaan gw ngakak mulu, abis lucu ni orang). Cletukan Budi Anduk : halo coy, oke coy, bukan begitu coy, songong lu, mana bisa begetooooo!, gledek lu. Masi ada lg ga yang tau cletukan Budi Anduk? kalo tau bs komen disini, oke coy?


http://aryajenar.wordpress.com/