Showing posts with label Gunung. Show all posts
Showing posts with label Gunung. Show all posts

Friday, February 14, 2014

Bencana: Drama yang Menguntungkan

“Drama kehidupan di daerah bencana ternyata menjadi keuntungan tersendiri bagi sejumlah pihak.”

Awal tahun 2014, Indonesia terus dirundung bencana. Berminggu-minggu sudah korban Gunung Sinabung, Karo, Sumatera Utara mengungsi. Masyarakat Kabupaten Karo itu terpaksa mengungsi akibat letusan Gunung Sinabung. Hingga pertengahan Januari, Gunung Sinabung telah meletus sebanyak 254 kali.

Bencana Sinabung ini bahkan kian bertambah pilu, tatkala seorang korban Sinabung menuliskan kegelisahan hatinya di dunia virtual. Kegundahan hati seorang ibu korban Sinabung tersebut pecah dan muncul di dunia virtual, akibat terpancing foto-foto yang diunggah Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Dalam surat yang beredar di dunia virtual tersebut, sang ibu “berterima kasih” atas hiburan yang diberikan Ibu Ani melalui foto-foto hasil karyanya. Dalam suasana duka di pengungsian, seorang ibu negara justru mengirimkan foto-foto berlibur ke pantai bersama putranya dan juga kebahagiaan rumah tangga istana.

Namun, drama pilu akibat bencana, ternyata tak hanya milik korban Sinabung. Hingga pertengahan Januari, sejumlah daerah di Indonesia masih dilanda banjir, tak terkecuali Ibu Kota. Walaupun penanganan dari Pemda DKI Jakarta terbilang cukup cepat, hujan masih terus mengguyur sejumlah titik di Indonesia.


Mengeruk Untung
Indonesia boleh saja masih menangis. Sejumlah pengungsi masih terus dihantui dinginnya malam di tenda-tenda pengungsian. Kekurangan pasokan air bersih, makanan, dan selimut masih menjadi doa yang tak putus-putusnya dipanjatkan sejumlah pengungsi.

Namun, drama kehidupan di daerah bencana ternyata menjadi keuntungan tersendiri bagi sejumlah pihak. Salah satu yang mengeruk keuntungan cukup besar tentu saja media massa. Terutama media televisi. Sajian berita tiap hari yang disuguhkan televisi tak lepas dari daerah banjir dan kegetiran hati para pengungsi.

Tangisan ibu-ibu dan bayi di pengungsian, ricuhnya pembagian bantuan, atau kegelisahan hati para pengungsi yang “terhibur” dengan foto-foto ibu negara, menjadi suguhan yang menarik bagi media massa, tak terkecuali layar kaca. Tangisan dan harapan pilu tersebut, ternyata berbuah manis bagi televisi.

Tangisan dan harapan pilu tersebut, telah menjadi komoditas yang menarik untuk ditampilkan televisi. Drama yang umumnya muncul di layar kaca dalam bentuk sinema elektronik atau sinetron, kini dapat ditemukan dalam tenda pengungsian. Komoditias tersebut ditangkap, diolah dan dijual televisi kepada khalayak.

Budaya mengasihani melalui layar kaca menjadi hal yang lumrah terjadi dan bahkan dikonsumsi sejumlah pihak.

Televisi sebagai media massa memang memiliki tanggung jawab mengabarkan informasi terkini dari berbagai penjuru. Namun, saat dihadapkan kepada informasi, televisi telah menunjukkan dua sisi mata uang sekaligus kepada pemirsanya. Informasi yang disuguhkan media sekaligus merupakan upaya media untuk “menjual” informasi.


Televisi telah menjadi alat bagi kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan. Dalam ekonomi politik media, Vincent Mosco menawarkan tiga konsep dasar. Salah satu konsep dasar dirumuskan sebagai sebuah proses transformasi barang dan jasa beserta nilai gunanya menjadi suatu komoditas yang mempunyai nilai tukar di pasar. Konsep ini disebut komodifikasi. Secara sederhana komodifikasi merupakan upaya media massa untuk mengolah apa pun menjadi tayangan atau produk yang dapat menghasilkan keuntungan.

Vincent Mosco membagi komodifikasi dalam tiga bentuk. Bentuk pertama adalah komodifikasi isi atau content media komunikasi. Proses komodifikasi ini dimulai ketika pelaku media mengubah pesan melalui teknologi yang ada menuju sistem interpretasi yang penuh makna hingga menjadi pesan yang marketable.

Bencana kini telah menjadi konten yang menarik untuk “dijual” media massa. Content yang muncul di ruang-ruang redaksi adalah content yang dapat “dijual” kepada khalayaknya. Oleh sebab itu tiap content yang dihasilkan haruslah menghasilkan keuntungan.

Melalui apa keuntungan tersebut didapatkan televisi? Sebuah tayangan dikatakan memiliki tayangan yang baik, dewasa ini, tak lebih adalah tayangan yang dapat mempersembahkan rating dan sharing yang tinggi. Karena rating dan sharing tinggi itulah, parameter bagi pemasang iklan.

Inilah yang perlu direnungkan? Dalam berita yang mengumbar bencana, content berita seperti apakah yang menarik bagi khalayak? Ternyata content berita menarik dalam bencana dikategorikan sejumlah televisi sebagai isak tangis balita, hawa dingin yang menggigit para pengungsi, kisruhnya koordinasi bantuan, hingga hiburan foto-foto sang ibu negara bagi korban Sinabung.


Kedua, komodifikasi audience atau khalayak. Salah satu prinsip dimensi komodifikasi media massa menurut Gamham dalam buku yang ditulis Mosco menyebutkan, pengguna periklanan merupakan penyempurnaan dalam proses komodifikasi media secara ekonomi.

Khalayak merupakan komoditas penting untuk media massa dalam mendapatkan iklan dan pemasukan. Media dapat menciptakan khalayaknya sendiri dengan membuat program menarik, khalayak yang tertarik tersebut dikirimkan kepada pengiklan. Perih rasanya, saat melihat para pengiklan memasang iklan saat laporan langsung reporter dari medan bencana. Belum lagi, saat sejumlah breaking news bencana tersebut, ternyata disponsori sejumlah brand ternama.

Rasanya program peduli atau kasih yang memberikan bantuan kepada para korban menjadi sekadar keharusan belaka. Namun, program tersebut tak jarang justru kembali dijual kepada publik sebagai sebuah acara televisi. Apalagi, tak sedikit artis atau publik figur yang ikut mendompleng tayangan bencana tersebut. Namun, saat sorotan kamera padam, secepat itu pula kepedulian mereka terhadap para korban surut.


Ketiga, komodifikasi pekerja (labour). Pekerja merupakan penggerak kegiatan produksi sampai distribusi. Pemanfaatan tenaga dan pikiran mereka secara optimal dengan cara mengonstruksi pikiran mereka tentang bagaimana menyenangkannya jika bekerja dalam sebuah institusi media massa, walaupun dengan upah yang seringkali “belum layak” seperti yang seharusnya.

Hati bertambah perih, tatkala melihat reporter muda yang begitu menggebu, ternyata hanya boneka belaka bagi kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan. Semangat idealisme mereka sebagai pewarta, dimanfaatkan kaum kapitalis dengan mengomodifikasi liputan langsung di lokasi bencana.

Bencana, tak lagi hanya sebuah informasi bagi kotak ajaib bernama televisi. Tiap tangis balita maupun ibu-ibu, hawa dingin di tenda pengungsian, menjadi komoditas yang punya nilai jual tinggi. Televisi telah menjadi sarana empuk untuk memperkaya diri kaum kapitalis. Lalu di mana suara hati nurani? Masihkah ia bersenandung pilu bagi mereka?

Altobeli Lobodally,
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mercu Buana
SINAR HARAPAN, 5 Februari 2014

Thursday, November 4, 2010

Mbah Maridjan, Iklan dan Perubahan Tradisi


Lelaki tua berpeci dan badannya dibalut kain batik berdiri tegak dan menunjukkan kepalan tangan ke atas sambil berteriak “Roso, roso”! Awalnya aneh tampilan iklan jamu tersebut. Lambat laut sosok dalam iklan menjadi ikon dan sohor namanya di Tanah Air. Sapaannya khas, Mbah Maridjan. Nama aslinya Mas Penewu Surakso Hargo, lelaki kelahiran Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Iklan di layar kaca itu mengekspresikan perubahan jalan hidupnya. Semula sosoknya lebih dikenal di komunitas pendaki Gunung Merapi karena dia wakil juru kunci gunung (1970) dan juru kunci Merapi sejak 1982, diangkat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dianugeri gelar Raden Mas Surakso Hargo. Sejak menjabat juru kunci, dia ‘dilewati’ awan panas pada 1994, 1998, 2001, 2003, 2006. Simbol tokoh kearifan lokal dilekatkan publik ketika bergeming dari ancaman awan panas gunung Merapi pada 2006 dengan dalih mengemban amanah dan kesetiaan pada tugas. Sikap kesetiaan ditunjukkan lagi ketika Merapi meletus, Selasa (26/10/2010). Dia bertahan di rumah dan Tuhan mengambil mandatnya di dunia.


Sentuhan Irwan Hidayat, Dirut PT Sido Muncul pada 2006, makin melambungkan namanya. Ikon iklan jamu menjadikannya sosok “komersial” namun juga mengubahnya jadi dermawan. Jutaan uang dari royalti iklan tidak menjadikannya mabuk dunia, semua tetangga merasakan ‘berkah’ uang Mbah Maridjan dari iklan.

Menjadi jutawan juga tak menjadikannya lupa diri. Ketika produk iklan mengajaknya nonton Piala Dunia di Jerman, 2006, dia berkilah tak bisa berangkat karena tak ada yang mencari rumput untuk sapinya.

Ketika akrab dengan entertainment, Mbah Maridjan tidak menyadari ada ‘atasan’ yang mengawasinya dari Kraton Yogyakarta. Perilaku yang paling disorot adalah kasus perubahan perilaku terhadap tradisi kerajaan dan posisinya sebagai prajurit.


Pengageng Pawedan Hageng Punokawan, GBPH Prabukusumo menceritakan ada yang mengejutkan Kraton Yogyakarta dari perilaku almarhum semasa hidupnya. Pada 10 Agustus 2010, Kraton Yogyakarta punya hajat besar, milad jumenengan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Mbah Maridjan harus menerima perangkat upacara dengan pakaian adat kraton untuk Labuhan Ageng Dal, siklus upacara besar memperingati tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X periode delapan tahunan.

Upacara Labuhan Ageng Dal merupakan upacara besar dan sakral, semua pakaian adat harus dipakai. Ada laporan Mbah Maridjan bertingkah lain. Dia menerima uborampe atau perangkat upacara dengan kondisi pakai sarung (kain), baju koko dan kupluk (kafiah) putih. Ini upacara besar kok begitu, bagaimana sikap yang mbahu rekso (penguasa) Merapi?,” ujar Prabukusumo, Rabu (27/10/2010).


Kejadian itu setidaknya menjadi perhatian, diwaspadai sebagai tanda-tanda zaman. “Abdi dalem kok bertindak nyeleneh? Itu kelihatan lo,” ujar dia. Menurut dia, abdi dalem dalam menghadapi Merapi tidak bisa seenaknya sendiri. Ada dimensi keyakinan sekaligus teknologi yang perlu dihayati. Keyakinan boleh saja (dipegangi) bahwa Merapi selalu bersahabat, tak pernah meletus. Alam berubah, teknologi membaca, dan menunjukkan Merapi bisa meletus.

Teknologi dan keyakinan harus dipadu dalam menghadapi Merapi. Tidak bisa dengan caranya sendiri. Kasus ini pelajaran ke depan,” kata Prabukusumo.

Jusuf Kalla, Irwan Hidayat, dan Mbah Maridjan

Irwan Hidayat memandang sisi lain. “Bapakmu meninggal terhormat,” kata dia di telinga Asih, salah seorang anak perempuan Mbah Maridjan. “Dia adalah lambang kesetiaan, keberanian. Supaya terus dikenang, iklan Mbah Maridjan akan tetap saya putar. Biar dikenang dan mengingatkan kesetiaan. Royaltinya untuk keluarga dan masyarakat Kinahrejo,” katanya.

Mukhijab
http://www.pikiran-rakyat.com/node/125674