Thursday, October 6, 2022

Kengerian di Pintu 13, Saat Tragedi Kanjuruhan


Perempuan, lelaki, hingga anak kecil berdesak-desakan di hadapan gerbang keluar Stadion Kanjuruhan. Dari arah lapangan, polisi terus menembakkan gas air mata. Sementara gerbang terkunci rapat-rapat. Di Pintu 13, nyawa mereka melayang.

Kopi hitam pesanannya belum lagi habis diseruput, ketika Eko Arianto mendengar suara menggelegar dari dalam Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu, 1 Oktober 2022.

“Tar… taarr… taaarrr….”

Malam belum begitu larut, tapi untuk ukuran pertandingan sepakbola di Indonesia, pukul sepuluh malam sudahlah hilir.

Di dalam stadion, wasit baru saja meniup peluit mengakhiri laga derby klasik Arema Malang versus Persebaya Surabaya. Tuan rumah kalah dengan skor 3-2.


Eko terkesiap. Dia tahu, suara menggelegar itu berasal dari senapan gas air mata yang biasa digunakan polisi kalau antarsuporter terlibat bentrok.

Tapi ia bimbang, karena hanya Aremania yang menonton di dalam stadion. Tak ada suporter Persebaya.

Eko sebenarnya sudah membeli tiket untuk menonton di dalam. Tapi malam itu, ia memutuskan tidak melihat langsung di tribun, melainkan minum kopi di warung dekat gerbang nomor 10 stadion.

Rasa penasarannya bertambah, ketika dari pintu dekat warung kopi terdengar suara jeritan orang-orang meminta pertolongan.


Eko bergegas mendekat ke pintu tribun 10. Sosok pertama yang tertangkap matanya adalah seorang perempuan lemas.

Di tengah-tengah jeritan minta tolong, perempuan yang lemas itu jatuh pingsan.

“Mas… mas, tolong mas, kami tidak bisa keluar,” teriak seseorang dari dalam gerbang.

“Ada gas air mata,” teriak yang lain.

Sejumlah Aremania bergegas menolong orang-orang yang terjebak tak bisa keluar dari pintu nomor sepuluh.

Lega karena sudah ada yang memberi bantuan, Eko mengajak teman-temannya yang lain memeriksa kondisi pintu lainnya.


Setibanya di pintu 13, Eko dihadapkan dengan pemandangan mengerikan. Perempuan, lelaki, bahkan anak-anak yang kesemuanya Aremania berdesak-desakan terperangkap.

Pintu keluar terkunci rapat-rapat. Dari arah lapangan, masih terdengar suara tembakan gas air mata yang ditujukan ke arah mereka.

Sempat ada yang menyuruh mereka ke arah tribun penonton, agar tak berdesak-desakan di depan pintu. Tapi masalahnya, polisi juga menembakkan gas air mata ke tribun. Mereka terjebak.

Di tengah kesesakan, Eko melihat orang-orang yang terjebak berusaha menjebol dinding semen agar bisa keluar dari stadion.

Dengan alat seadanya, Aremania berjuang menjebol dinding tersebut. Eko dan kawannya berinisiatif mencari aparat keamanan di sekitar agar bisa membantu membukakan pintu.


“Pak, tolong pak, banyak yang terjebak di pintu 13. Terkunci, tak bisa keluar,” kata Eko saat bertemu seorang aparat.

Namun, bukannya menolong, aparat berseragam itu justru mencaci-maki Eko.

“Jancok, teman saya juga ada yang kena!” hardiknya.

Aparat itu lantas hendak memukul Eko tapi berhasil ditangkis oleh temannya.

Tak menyerah, Eko berlari kembali menyisir sisi luar stadion untuk mencari pertolongan. Dia akhirnya bertemu anggota pengamanan pertandingan.

Namun, semuanya sudah terlambat. Ketika Eko dan petugas keamanan mendatangi pintu 13, banyak di antara Aremania yang tergeletak tak bernyawa.

Di lantai dekat pintu 13, Eko melihat banyak perempuan dan anak-anak tergeletak bertumpukan —lemas, meregang nyawa.


Eko mendadak terdiam, berhenti memberikan kesaksian tentang malam tragis itu. Tubuhnya melunglai hingga rebah di pangkuan Yuli yang ada di sampingnya.

“Gak kuat aku mas,” tuturnya.

Aremania dari distrik Dau itu menangis meraung-raung. Yuli Sumpil lantas mengusap-usap punggungnya, menenangkan.

“Yang kuat … gak apa-apa, ceritakan saja,” kata Yuli.

Eko dan Yuli hadir sebagai saksi dalam konferensi pers Federasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tidak Kekerasan, Malang, Senin 3 Oktober 2022.

Mereka adalah penyintas tragedi Kanjuruhan dua hari sebelumnya, yang mengakibatkan ratusan Aremania meninggal dunia. Tragedi itu bermula dari tembakan gas air mata polisi ke arah tribun penonton.

“Gate 13 itu seperti kuburan massal mas, banyak perempuan dan anak-anak.”

Setelahnya, Eko kembali menangis.


Korban nyawa demi cucu
Tempik sorak bergema di segala penjuru Stadion Kanjuruhan, Krajan, Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, saat Arema Malang berlaga melawan seteru abadinya, Persebaya.

Ahmad Wahyudi bersama istrinya Sulastri, juga ikut larut dalam gemuruh massa Aremania. Bersama mereka, ada ketiga keponakan, menantu, dan cucunya.

Tapi kegembiraan itu seketika berubah menjadi mencekam saat polisi dan TNI menghalau sejumlah Aremania yang memasuki lapangan hendak bersalaman dengan skuat kesayangannya tersebut.


Wahyudi yang berusia 60 tahun mengajak sang istri dan semua keluarganya untuk keluar lebih dulu karena situasi mulai tak asyik ditonton.

“Ayo bu, kita keluar saja,” kata Wahyudi.

“Kenapa pak?” jawab Sulastri.

“Enggak baik anak kecil lihat kayak begini. Kita keluar saja cari makan, daripada cucu lihat begini.”

Sulastri dan lainnya mengikuti langkah Wahyudi menuju tangga ke arah pintu keluar tribun nomor dua belas.

“Bu, pegangan besi biar enggak jatuh,”

Sulastri menuruti perkataan sang suami —usianya sudah masuk kepala lima, tubuhnya tak lagi kuat bila meniti anak tangga.


Dalam waktu bersamaan, Sulastri sempat melihat benda berasap melayang di atas kepalanya. Seketika itu pula matanya terasa perih.

Benda itu gas air mata yang ditembakkan polisi dari pinggir lapangan.

Saking perihnya, Sulastri tak bisa membuka mata. Pada kesempatan terakhir melihat, ia menggamit tangan Wahyudi.

“Pegangan semua, pegangan,” perintah Wahyudi.

Wahyudi berada paling depan, diikuti Sulastri, menantu, cucu, dan ketiga keponakannya.

Dari sekitar tangga, persisnya di tribun nomor 12, Aremania lainnya banyak berteriak ketakutan. Polisi masih terus menembaki mereka memakai gas air mata.


Demi menyelamatkan diri, penonton bergegas ke tangga menuju pintu 12, sehingga Wahyudi sekeluarga harus melawan arus massa untuk sampai ke gerbang.

Ratusan orang berdesak-desakan, mencari jalan keluar. Tapi, pintu 12 hanya dibuka satu sisi.

Wahyudi mencari cara agar bisa menyelamatkan keenam anggota keluarganya. Sembari terus berpegangan tangan, mereka menyeruak mendekati pintu.

Sementara dorongan Aremania dari arah belakang semakin kuat. Tak ayal, pegangan Wahyudi dengan keenam keluarganya terlepas.


Sulastri, istri Wahyudi, terombang-ambing di tengah massa yang berdesak-desakkan. Ia terdorong ke sana-ke mari oleh suporter yang juga ingin selamat.

Dada Sulastri semakin sesak, kedua matanya tak bisa melihat karena perih. Dalam hati, ia hanya pasrah bila harus mati di pintu 12. Setelahnya, dia tak sadarkan diri.

Ketika siuman, Sulastri justru harus menerima kabar buruk: suaminya tewas. Sementara cucu, menantu, dan ketiga keponakannya berhasil keluar selamat dari stadion.

“Bapak meninggal demi menyelamatkan kami dan cucunya,“ kata Sulastri, Senin 3 Oktober.

Suaranya masih parau. Sulastri bersama belasan penyintas tragedi Kanjuruhan larut dalam kesedihan yang sama di kantor Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, saat mengenang peristiwa tersebut.


‘Kenapa kami ditembaki?’
Aulia Rahman Maksum sebenarnya masih belum kuat untuk kembali ke Stadion Kanjuruhan, setelah dua hari sebelumnya terjebak di antara Aremania yang hendak menyelamatkan diri.

Senin siang, Aulia masih memakai baju seragam. Dari sekolahnya, SMK Negeri 1 Kepanjen, dia bersama teman-temannya menguatkan hati untuk kembali ke stadion, untuk berdoa bagi para korban.

Sabtu malam akhir pekan lalu, Aulia bersama enam temannya menonton laga Arema Vs Persebaya. Mereka tak mau melewatkan big match Liga Indonesia itu.

Aulia bersama teman-temannya membeli tiket dan duduk di tribun 14. Sepanjang pertandingan, tidak ada kejadian apa pun.

Tak pula ada perkelahian antarsuporter. Sebab, tak satu pun Bonek —suporter Persebaya—diperkenankan menonton laga.


Namun, setelah pertandingan selesai, turun salah seorang pendukung ke lapangan, mendatangi manajemen Arema.

“Kalau saya, hanya diam di tribun. Tapi setelah satu orang pertama turun, beberapa orang lainnya ikut turun,” kata Aulia.

Menyusul kemudian polisi membawa senjata gas air mata masuk ke lapangan. Mereka menembak ke arah kerumunan yang ada di lapangan.

Parahnya, tembakan itu juga diarahkan ke tribun 14. Padahal, tidak ada satu pun Aremania yang berusaha manjat pagar masuk ke lapangan.

“Saya sesalkan itu, kenapa tembakan diarahkan ke kami. Malah, orang yang berada di lapangan itu aman,” kata Aulia.


Tribun 12 dan 14 menjadi sasaran polisi menembakkan gas air mata. Tak ayal, Aremania di kedua tribun itu dikuasai kepanikan dan berdesak-desakan ke arah pintu keluar agar selamat.

Ketika itu, Aulia berdiri paling depan. Persis di depan pagar. Paling dekat sama polisi. Di tribun 14. Asap gas air mata sudah bergelayut pekat di udara.

Ia tidak lagi memperhatikan kondisi sekitar. Aulia sudah tidak bisa melihat. Matanya pedih. Bernapas pun susah.

Pikirannya saat itu cuma harus bisa keluar dari stadion. Aulia hanya bisa mendengar teriakan. Ada juga yang melontarkan caci-maki ke polisi yang tak henti menembakkan gas air mata.

“Suara yang paling banyak saya dengar itu cewek. Ada juga suara anak-anak. Tapi, saya sudah tidak bisa melihat apa pun. Jalan saja hanya bisa meraba sekitar,” kata dia.


Tatkala sampai di gerbang keluar, pintu masih tertutup rapat. Sangat padat manusia di tangga. Saling dorong tak lagi terhindarkan.

Aulia sudah berada di tengah tangga. Pada detik tertentu, ada dorongan dari atas, akhirnya semua orang di tangga terjatuh.

Ingatan Aulia hanya sampai di situ. Karena detik selanjutnya, dia pingsan.

“Saat terjatuh, saling tindih. Orang paling bawah itu meninggal dunia. Banyak banget yang seperti itu. Saya saja pingsan. Saat sadar, sudah di ruang VIP,” kata Aulia.

Aulia baru siuman Minggu subuh, sekitar pukul empat. Ternyata, teman-temannya lah yang menyelamatkannya.


Tak ada serangan ke pemain Persebaya
Dadang Hermawan, seorang Aremania, berani bersumpah tak ada satu pun di antara mereka yang menyerang pemain Persebaya saat masuk ke lapangan seusai laga. Karenanya, dia merasa janggal, kenapa polisi langsung melepas tembakan gas air mata.

“Setelah wasit meniup peluit tiga kali, dua teman dari sektor Timur turun tidak menyerang pemain Persebaya. Sebab pemain Persebaya sudah masuk ruang ganti,” kata dia.

Dia mengatakan, Aremania yang memasuki lapangan tak ada yang berniat buruk, apalagi berbuat rusuh meski Arema Malang kalah dalam laga tersebut.

“Nawak-nawak (kawan-kawan) hanya menyalami dan mensupport pemain Arema. Setelah itu diamankan steward.”

Steward —petugas keamanan laga— meminta Aremania yang masuk ke lapangan untuk naik kembali ke tribun.


Tapi, Aremania dari tribun utara turun ke lapangan karena mengira ada keributan antara petugas keamanan dengan kawan mereka.

"Spontan turun dikira gegeran (ribut)," ujarnya.

Tak lama kemudian, aparat merespons dengan tindakan represif.

“Bawa tameng dan senjata membubarkan kami. Saya kira cukup, ternyata disusul dengan menembakkan gas air mata.”

Tembakan itu sontak membuat Aremania berlarian menyelamatkan diri. Bahkan ada yang nekat terjun dari pagar stadion.

"Mereka lari menyelamatkan diri ke tengah lapangan bukan untuk menyerang petugas. Mereka menyelamatkan diri dari gas air mata," tutur Dadang.


Gas air mata mengepung tribun. Dirasakannya gas tersebut sangat perih dan menyengat.

Ia menilai gas tersebut bukan untuk menghalau massa, tapi gas air mata untuk perang.

“Berdasarkan literatur yang saya baca, gas itu (tragedi Kanjuruhan) di kulit saya perih banget. Bahkan sampai sekarang saya masih sesak.”

Dadang sendiri saat itu memutuskan lari ke arah tribun VIP. Sampai di sana, betapa kagetnya dia melihat sejumlah Aremania tergeletak tak bernyawa, termasuk teman ngopinya.

"Saya temukan teman saya sudah meninggal dunia," kata dadang, menangis.


Dua hari setelah tragedi Kanjuruhan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat.

Presiden Jokowi memerintahkan aparat penegak hukum mengusut tuntas tragedi tersebut. Tapi, belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menduga terdapat pelanggaran HAM oleh aparat kepolisian maupun TNI dalam tragedi Kanjuruhan. Sedikit-dikitnya, hal itu terekam saat aparat menendang dan memukuli Aremania yang sedang berjalan.

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa menyebut prajuritnya yang terekam video menendang Aremania bukanlah bentuk pertahanan diri, melainkan tindakan pindana. Dia berjanji mengusut dan menyeret sang prajurit ke pengadilan militer.

Reza Gunadha
Tim Liputan: Yuliharto Simon, Dimas Angga Perkasa, dan Aziz Ramadani.
Suara.com, 4 Oktober 2022

Thursday, September 22, 2022

Azyumardi Azra dan Sikap Mental Konspiratif


Dalam makalah di muktamar ABIM, Prof Azyumardi membahas potensi kebangkitan peradaban Muslim. Berikut ini sebuah catatan dari Asro Kamal Rokan.

Ketika dipercaya memimpin Dewan Pers, Mei 2022, banyak harapan masyarakat pers pada Prof Dr Azyumardi Azra, terutama untuk memperkuat kebebasan pers. Prof Edi ––begitu biasa disapa–– dikenal independen, sangat kritis, prodemokrasi, dan tentu cendekiawan. Ini modal besar sebagai penjaga yang tangguh kebebasan pers dari berbagai intervensi dan tekanan.

Lima bulan setelah ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pers dari unsur masyarakat, Prof Edi wafat, Ahad (18 September 2022) pukul 12.30 di Rumah Sakit Serdang, Selangor, Malaysia. Keterangan resmi Rumah Sakit Serdang, yang dikutip Kedutaan Besar RI di Kuala Lumpur, Ahad, menyebutkan Prof Edi menderita kelainan jantung.

Perjalanan terakhir Prof Azyumardi Azra menuju Malaysia.

Pada Jumat (16/9/2022) dalam penerbangan Jakarta ke Kuala Lumpur, Prof Edi mendadak sesak napas dan dipasang oksigen. Tiba di Bandara KLIA, cendekiawan Muslim itu dilarikan ke RS Serdang untuk perawatan lanjutan. Penasihat Ikatan Setiakawan Wartawan Malaysia-Indonesia (Iswami) Datuk Zakaria Abdul Wahab, setelah mendapat info, langsung ke RS Serdang.

Menurutnya, Prof Edi dalam kondisi tidak sadar. Mantan Pemimpin Redaksi Kantor Berita Bernama Malaysia tersebut terus memberikan kabar kepada kami melalui WhatsApp Group.

Dan, Ahad siang, kabar meninggalnya Prof Edi kami terima. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, telah pergi seorang guru, cendekiawan, dan sahabat baik. Tokoh sederhana, yang kepadanya wibawa, marwah, dan martabat pers diharapkan semakin tegak, semakin independen.


Prof Azyumardi berada di Malaysia memenuhi undangan sebagai pembicara seminar internasional Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) di Bangi Convention Center, Kajang, Malaysia, Sabtu (17/9). Seminar ini bertema “Masa Depan Peradaban Kosmopolitan Islam ––Membina Optimistik Generasi Baharu”.

Prof Edi rencananya akan berbicara pada sesi pertama, Sabtu pagi, membawa makalah berjudul “Nusantara untuk Kebangkitan Peradaban: Memperkuat Optimisme dan Peran Umat Islam Asia Tenggara”. Makalah tersebut tidak sempat dibacakan Prof Edi, selamanya.

Dalam makalah 22 halaman, yang diedarkan kepada peserta muktamar ABIM, Prof Edi membahas potensi kebangkitan peradaban Muslim. Secara demografis di seluruh dunia, tulis Prof Azyu, jumlah kaum Muslimin meningkat secara signifikan, diperkirakan lebih dari 1,9 miliar jiwa (2022), agama kedua terbesar setelah Kristianitas (Katolik dan Protestan digabungkan).


Dengan jumlah yang terus meningkat itu, kaum Muslim memiliki potensi kian besar pula; tidak hanya untuk membangun peradaban Muslim, tetapi juga pada peradaban dunia secara keseluruhan.

Tetapi potensi itu belum bisa diwujudkan, belum dapat menjadi aset, bahkan sering lebih merupakan liabilities. Ini karena kebanyakan penduduk Muslim tinggal di negara-negara berkembang, bahkan terkebelakang. Kondisi pendidikan tidak kompetitif, di bawah standar. Banyak murid putus sekolah. Tidak punya masa depan untuk memajukan diri sendiri, apalagi peradaban Muslim dan peradaban dunia.

Sementara itu, ada negara-negara Muslim kaya raya berkat minyak, mendatangkan windfall terus menerus karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Tetapi, tulis Prof Edi, windfall tersebut justru menambah beban negara-negara Muslim yang tidak memiliki sumber daya alam BBM. Bahkan sebaliknya, mereka mensubsidi negara-negara kaya minyak tersebut.

Windfall itu tidak mengalir ke negara-negara Muslim miskin dalam bentuk grant atau investasi. Jika ada, jumlahnya tidak signifikan, boleh dikatakan hanya berupa tetesan belaka.


Karena itulah, menurut Prof Edi ––yang meraih gelar Master of Art (MA) di Universitas Columbia tahun 1988–– negara-negara Muslim yang miskin atau berkembang harus mengandalkan sumber-sumber lain, termasuk menambah utang dari negara-negara atau lembaga-lembaga keuangan Barat seperti Bank Dunia (World Bank) dan Dana Moneter Internasional (IMF). Keadaan ini menambah ketergantungan pada Barat, yang jelas memiliki implikasi ekonomis, politis, dan bahkan psikologis di kalangan umat Islam.

Salah satu dampak psikologis itu, tulis Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini, menguatnya sikap mental konspiratif; bahwa para penguasa negara-negara Muslim berkolaborasi dengan Barat, misalnya, mengembangkan ekonomi pasar yang liberal di negara-negara Muslim dengan mengorbankan potensi-potensi ekonomi dalam masyarakat Muslim sendiri.

Dampak lebih lanjut dari psikologi konspiratif ini dengan segera mengalir ke dalam kehidupan politik, dalam bentuk ketidakpercayaan pada rezim berkuasa, yang dapat mendorong instabilitas politik di banyak negara Muslim.


Menurut Prof Edi, psikologi konspiratif lebih jauh lagi menjadikan kalangan Muslim —khususnya sebagian ulama, pemikir dan aktivis Muslim— terperangkap ke dalam sikap defensif, apologetik, dan reaksioner; terpenjara ke dalam enclosed mind atau captive mind, mentalitas tertutup yang penuh kecurigaan dan syak wasangka.

Akibatnya, tulis Prof Edi, kalangan Muslim seperti ini lebih asyik pula dalam masalah-masalah furu’iyyah (percabangan), baik dalam bidang sosial, budaya, pemikiran dan keagamaan. Buahnya adalah keterjerambaban ke dalam tindakan dan aksi-aksi yang kurang produktif dalam upaya memajukan peradaban Muslim. Karena itu, jika kita mau berbicara tentang kemajuan peradaban Muslim, sudah waktunya kaum Muslimin membebaskan diri dari psikologi konspiratif dan enclosed mind.

Harapannya, kaum Muslimin lebih mengkonsentrasikan diri pada upaya-upaya kreatif dan produktif daripada terus dikuasai sikap defensif, apologetik, dan reaksioner yang sering eksesif.


Dalam seminar "Masa Depan Peradaban Kosmopolitan Islam" di Malaysia, yang tidak sempat dihadirinya tersebut, Prof Azyu mengajukan sejumlah usulan untuk kebangkitan peradaban ––yang dapat dilakukan Indonesia dan Malaysia, negara di luar Timur Tengah.

Prasyarat utama adalah stabilitas politik. Menurutnya, demokrasi Indonesia yang telah diadopsi dan dipraktikkan sejak 1999 masih perlu dikonsolidasikan dalam tiga hal: basis konstitusional-legal, kelembagaan (parpol, legislatif dan eksekutif), dan budaya politik. Hanya dengan konsolidasi lebih lanjut dapat ditegakkan good governance, penegakan hukum, dan kohesi sosial.

Sedangkan di Malaysia, menurutnya, juga mendesak perlu konsolidasi kekuatan politik umat Islam yang tercerai-berai dalam beberapa tahun terakhir. Keadaan ini jelas tidak menguntungkan untuk mempertahankan hegemoni politik dan kekuasaan Melayu, baik di eksekutif maupun legislatif. Juga tidak menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi yang mutlak perlu bagi kemajuan puak Melayu khususnya.

Konsolidasi demokrasi dan politik di kedua negara berpenduduk mayoritas Muslim ini mutlak untuk pembangunan peradaban utama juga meniscayakan partisipasi publik dalam proses politik demokrasi dengan segala ekses negatif yang sudah sampai pada titik yang tidak bisa dimundurkan lagi.


Tetapi juga jelas, tulis Prof Azyu, proses politik demokrasi di Malaysia dan Indonesia masih menyisakan banyak masalah, sejak dari fragmentasi politik, kepincangan politik, oligarki politik, korupsi, dan tidak fungsionalnya check and balances.

Prof Azyu percaya, kunci utama kebangkitan peradaban Islam adalah pendidikan. Pendidikan di Indonesia dan Malaysia, bukan hanya harus mencapai pemerataan (equity), tapi juga harus semakin berkualitas sejak dari tingkat dasar, menengah sampai pendidikan tinggi. Hanya dengan pendidikan seperti itu, kaum muda negeri ini dapat bertransformasi bersama menuju kemajuan peradaban.

Dalam konteks itu, pendidikan tinggi khususnya harus dikembangkan, bukan sekadar teaching higher institution —atau universitas pengajaran— tetapi sekaligus menjadi research institution. Proses pendidikan di perguruan tinggi sudah waktunya berbasiskan riset.


Pentingnya pendidikan tidak hanya dibahas Prof Azyumardi di seminar-seminar. Ia melakukannya. Ketika dipercaya sebagai Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) 1998-2002, ia melakukan perubahan besar. IAIN Syarif Hidayatullah diubah statusnya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta pada 2002. Ini diikuti perguruan tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) lainnya.

Prof Azyumardi membangun Kampus UIN Jakarta menjadi lebih modern, melakukan transformasi besar-besaran, mengembangkan program studi, dan mendirikan sejumlah fakultas. Di antaranya Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Kesehatan, dan Fakultas Kedokteran.

Azyu berkeinginan generasi muda Islam menguasai teknologi, sosial, ekonomi, dan kedokteran ––yang pada Abad Pertengahan silam melahirkan pemikir-pemikir besar Islam.

Mantan wartawan majalah Panjimas yang menjadi Ketua Dewan Pers.

Transformasi
Sukses di UIN, nama Prof Azyumardi semakin dikenal luas, tidak saja sebagai pemikir Islam, tapi juga pendidik yang membumikan gagasannya. Ketika Redaktur Pelaksana Republika Nasihin Masha mengajukan nama Azyumardi sebagai penulis kolom tetap "Resonansi", sebagai Pemimpin Redaksi Republika saat itu, saya langsung setuju. Sejak 2003 itu, Azyumardi menjadi pengisi tetap kolom "Resonansi" hingga akhir hayatnya.

Kolomnya digemari. Tidak seperti umumnya akademisi, tulisan Azyumardi lebih cair dan mudah dimengerti. Kalimatnya efektif. Ini mungkin karena Azyu, yang juga wartawan, terbiasa menggunakan bahasa jurnalistik. Tulisan-tulisan Azyu di kolom "Resonansi", selain berisi berbagai gagasan, juga tentang kehadirannya dalam sejumlah seminar internasional.

Semasa hidup, Azyu sering diundang sebagai pembicara seminar-seminar internasional di mancanegara. Ia juru bicara yang baik dalam mempromosikan Islam rahmatan lil 'alamin di masyarakat yang mencurigai Islam. Sepanjang hidupnya diisi dengan belajar dan mendidik.

Mendapatkan gelar kehormatan dari Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris dan juga bintang kehormatan dari Pemerintah Jepang yang diserahkan oleh Kaisar Akihito.

Azyu orang Asia Tenggara pertama yang diangkat sebagai Guru Besar Kehormatan Universitas Melbourne, Australia (2004-2009). Carroll College, Montana, USA, memberinya Honoris Causa. Lebih dari 44 buku telah diterbitkan dan puluhan artikel telah ditulis dalam bahasa Indonesia, Inggris, Arab, Italia, dan Jerman.

Selain itu dia juga merupakan anggota Dewan Penyantun, penasihat dan Guru Besar Tamu di beberapa universitas di mancanegara; dan juga lembaga riset dan advokasi demokrasi internasional.

Gagasan dan pemikiran Azyu melintasi batas-batas negara. Ratu Elizabeth II dari Kerajaan Inggris menghormatinya dengan memberi gelar Commander of the Most Excellent Order of British Empire (CBE), 2010. Azyu adalah satu-satunya akademisi Indonesia yang menerima penghargaan tinggi tersebut.


Pemerintah Jepang juga memberinya bintang The Order of the Rising Sun: Gold and Silver Star, yang diserahkan Kaisar Akihito dan Perdana Menteri Shinzo Abe di Tokyo, Jepang (2017). Lelaki berpenampilan sederhana ini termasuk The 500 Most Influential Muslim Leaders (2009) dalam bidang keilmuan.

Prof Azyumardi Azra telah pergi menemui Sang Maha Pencipta, yang menentukan hidup manusia. Tapi, cendekiawan besar dan Guru Bangsa ini, tidak benar-benar pergi dan hilang. Puluhan buku, ratusan makalah yang berisi gagasan dan pemikirannya ––juga ilmu serta keteladanan yang diwariskannya–– akan tetap hidup dan bahkan akan berkembang sebagai kekayaan yang tidak ada habis-habisnya.

Selamat jalan Guru ....

Jakarta, 19 September 2022

Asro Kamal Rokan
Pemimpin Redaksi Harian Republika (2003-2005),
Pemimpin Umum LKBN Antara (2005-2007),
Anggota Dewan Kehormatan PWI Pusat (2018-2023)

REPUBLIKA, 20 September 2022

Tuesday, August 30, 2022

Doa Orang Terzalimi dalam Kasus KM 50


Nabi SAW bersabda "ittaqi da'watal mazluumi, fainnahu laisa bainahaa wa bainallahi hijaabun" (Berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, sesungguhnya antara ia yang teraniaya dan Allah tidak ada penghalang -- HR Bukhari-Muslim)

Marak berita atau tulisan yang mengaitkan peristiwa terbunuhnya Brigadir Joshua di Duren Tiga dengan doa Habib Rizieq Shihab (HRS) saat diadili di Pengadilan Negeri Jakarta Timur atau mubahalah keluarga 6 anggota Laskar FPI di Dewan Dakwah Indonesia (DDI). Seperti diketahui bahwa Kadiv Propam atau Kasatgasus bersama anggota tim ternyata terlibat dalam penanganan Kasus Km 50.


Adapun doa HRS yang dibacakan di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Jakarta Timur adalah permohonan kepada Allah agar pelaku, perekayasa, serta semua yang terlibat dalam pembunuhan keji atas enam anggota Laskar FPI di Jalan Tol Jakarta - Cikampek Km 50 itu dihukum dan dihancurkan dengan sehancur-hancurnya oleh Allah SWT.

Demikian juga mubahalah keluarga keenam syuhada yang meyakini bahwa putera mereka telah dianiaya dan dibunuh oleh aparat dengan keji. Mereka memohon kepada Allah bagi yang berdusta untuk mendapat balasan laknat dan adzab dari Allah SWT. Karena keluarga itu merasa terzalimi akibat cerita sandiwara pihak Kepolisian.


Doa dan permohonan kepada Allah SWT baik yang dilakukan HRS maupun oleh keluarga keenam anggota FPI nampaknya mulai menunjukkan bukti-bukti. Hebatnya bukti-bukti itu timbul dari peristiwa unik di rumah dinas Kadiv Propam Irjen Pol Ferdy Sambo. Bahkan ada persamaan modus yang kemudian terbongkar jalan ceritanya.

Persamaan itu soal tembak-menembak, aparat yang dikorbankan, rusak dan hilangnya CCTV, rekayasa alat bukti, penganiayaan, pembunuhan berencana, hingga Komnas HAM yang ditengarai ikut dalam permainan. Semoga kasus Duren Tiga dapat membuka tabir kejahatan dalam kasus Km 50. Karena ternyata Divisi Propam ikut menangani kasus pembunuhan 6 laskar FPI. Ada indikasi kuat keterlibatan Irjen Ferdy Sambo entah sebagai Kadiv Propam atau Kasatgassus dalam peristiwa terbunuhnya 6 laskar FPI.


Doa adalah senjata orang beriman, penegak agama, cahaya langit dan bumi (HR Abu Ya'la). Doa juga alat mengubah kemungkaran walau dikategorikan sebagai selemah-leman iman, karena ada cara mengubah selain dengan kekuatan tangan dan perkataan. Ketika mukmin merasa dirinya tidak berdaya maka do'a adalah enerji pamungkas.

Doa orang-orang yang terzalimi dalam kasus Km 50 akan didengar Allah SWT. Sehingga, pada saatnya kelak, peristiwa ini akan terkuak dengan sebenarnya termasuk para pelaku dan perencananya. Penjahat itu dapat bersembunyi beberapa saat tetapi tidak untuk selama-lamanya. Kini ada kunci pembuka yang Allah berikan dan kunci itu menempel di pintu rumah dinas mantan Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo.


Kasus Km 50 adalah hutang Polri dan hutang pemerintahan Jokowi yang harus segera dibayar. Kesadaran untuk membuka skenario jahat dalam kasus Km 50 akan lebih baik daripada menunggu penagihan paksa oleh Allah Yang Maha Kuasa. Doa HRS dan mubahalah dari keluarga enam anggota Laskar FPI serta sakit hati jutaan kaum muslimin yang peduli pada peristiwa itu akan menggetarkan dan menggoyahkan sendi-sendi kekuasaan para pelaku kezaliman.

Kesombongan dan kebohongan itu berbatas ruang dan waktu. Tak akan abadi selamanya.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati Politik dan Kebangsaan
FNN, Bandung, 13 Agustus 2022