Friday, August 18, 2023

Buku, Kuda, Nirwan Ahmad Arsuka


Tiba-tiba suatu sore Nirwan Arsuka muncul di kantor saya di Mampang, dengan sepeda motor yang warna dan modelnya kontan mengingatkan saya pada motor tukang pos yang tiap bulan mengantarkan wesel dari kampung. Dua lapis pakaiannya terbungkus jaket kulit hitam. Kerapatan sapu tangan penutup mulutnya memastikan ia mustahil ditembus debu Jakarta.

Tak jelas ia tinggal di mana, lebih tak jelas lagi pekerjaannya. Maka saya, di pertengahan 1990an itu, mengajaknya tinggal bersama di bedeng kontrakan seluas 5 x 7 m2 yang saya tempati sendirian di kawasan Jagakarsa.

Kami lalu mendirikan PT Paradigma Internasional, menjual ringkasan buku-buku manajemen dan kepemimpinan dari Soundview, Amerika, yang menyeleksi ketat buku-buku bergenre itu, yang terbit 1.500 judul per tahun.

Berkantor di lantai 11 gedung mentereng di Rasuna Said Kuningan, pemberian seorang kenalan yang baik hati, sebentar saja terbukti ia bukan direktur yang mahir mengelola bisnis; dan saya komisaris yang lebih buruk dari penjaga pintu kereta. Tak sampai setahun, ikhtisar Soundview yang bagus itu, dan diterjemahkan dengan baik pula, lenyap tak bersisa. Kami hanya bisa tertawa pahit dan diam-diam sama mengakui bahwa kami memang tak berbakat dagang.


Kami menempati pondok di sisi selatan di deretan tiga rumah itu. Ketika setahun kemudian rumah di ujung utara kosong, ia mengontraknya —dan baru keluar 15 tahun kemudian. Ia sedih karena tiba-tiba pemilik menyatakan ingin memakai rumah itu buat dirinya sendiri. Ia kesal karena baginya rumah dan kampung itu telah membuatnya nyaman. Suasana tenangnya ia nikmati nyaris 24 jam. Lokasinya mudah dicapai, dan yang terpenting: biaya kontraknya murah.

Para tetangga terdekat selalu heran. Hampir tiap minggu ada paket buku dari Amazon datang ke alamatnya. Ia seakan tak membutuhkan apapun di dunia ini selain buku, yang harganya rata-rata mahal. Ruang kerjanya di kamar depan penuh dengan rak buku yang doyong keberatan muatan. Ruang tamunya yang kecil disesaki rak-rak buku yang sama doyongnya. Ia tetap memilih menambah rak untuk buku-buku yang pasti datang nanti, daripada memasang meja-kursi.

Para tamunya tak kurang bahagia berbincang dengannya meski harus bersila di lantai bertikar seadanya. Beberapa tamu tak jarang datang dengan membawa aneka minuman mahal, yang harus ditampung di gelas dan cangkir yang warna-warnanya sesuai jumlahnya. Ia konsisten, rupanya. Anti keseragaman, apalagi penyeragaman. Tak boleh ada gelas-cangkir yang sama.


Tetangga makin heran karena dengan situasi seperti itu, tamunya ada yang datang dengan sedan Mercedes terbaru atau jip Lexus. Saya tak pernah bisa memberi jawaban yang memuaskan setiap tetangga bertanya apa pekerjaan warga pengontrak bedeng yang selalu membungkuk di depan layar komputer itu.

Kami, apalagi kalau seluruh peserta obrolan adalah geng lama Jogja, lebih sering memilih kongko di teras kecilnya. Sebab kondisinya lumayan: ada sofa rotan dengan kemiringan 30 derajat, yang jok busa tipisnya pasti dulu berwarna putih. Plus cahaya bohlam 5 watt.

Tiada yang peduli pada ironi besar bahwa dengan fasilitas semacam itu bahan obrolan adalah soal jatuh dan bangunnya peradaban-peradaban besar dunia, state of the art kesastraan Indonesia, alasan-alasan Seamus Heaney memenangkan Nobel Sastra tahun ini, film-film artistik-filosofis karya sineas Zhang Yimou dan Abbas Kiarostami, buku-buku yang memotret perkembangan mutakhir sains dan teknologi.


Ia mungkin tak selalu setia pada semua hal lain, tapi tidak pada buku. Di kampung halamannya di Dusun Leppe’e, Kabupaten Barru, atau di Makasar setelah ia di masa SD pindah ke sana, ia tersihir oleh serial-serial karya Kho Ping Hoo yang tak pernah tamat. Ia memilih membeli atau menyewa buku daripada menggunakan uang jajannya untuk es cendol dan gorengan yang dijajakan di dekat sekolahannya.

Ia mencuri rokok pamannya dan menjualnya untuk membeli buku. Ketika uangnya habis, dan ia melihat buku yang digilainya di toko buku, ia mencurinya. Dan tertangkap. “Sejak itu saya bersumpah akan membalasnya,” katanya. “Saya harus membalasnya dengan cara menyediakan buku-buku kepada anak-anak tak mampu agar mereka bisa membaca buku.”

Dan sumpah itulah yang diwujudkannya, puluhan tahun kemudian, ketika ia rasa sudah bisa bergerak dengan lebih leluasa; meski ia tak pernah benar-benar lapang dalam soal pemilikan uang.


Ia yakin, jaringan teman-temannya, yang rata-rata menaruh minat besar pada perbukuan, juga para sukarelawan yang ia percaya akan datang sendiri untuk membantu ikhtiarnya, akan bisa membantunya menggerakkan organisasi langka yang tak ada orang yang berani memulainya: Kuda Pustaka, kemudian dibakukan menjadi Pustaka Bergerak. “Jika anak-anak tak mampu itu kesulitan mendatangi pusat-pusat perbukuan di perkotaan,” katanya, “maka bukulah yang harus mendatangi mereka.”

Dan ia benar-benar menyodorkan buku-buku itu kepada anak-anak di tempat-tempat paling terpencil. Di lereng gunung di pedalaman Jawa Barat, di perkampungan nelayan di Sulawesi Selatan, di pedalaman Sumatera Utara. Anak-anak itu tak bisa lolos. Di mana pun mereka berada, buku-buku Nirwan akan mengejar mereka.

Ia mengerahkan semua sarana transportasi yang tersedia: kuda, perahu, sepeda, juga pundak manusia. Keyakinannya terbukti. Begitu banyak orang yang dengan sukarela membantu mengantarkan buku-buku itu, termasuk dengan memanggulnya sambil berjalan kaki, mendaki lereng pegunungan.


“Yang paling mengharukan,” tuturnya, “adalah setiap relawan Pustaka Bergerak mendatangi kampung-kampung terpencil, anak-anak yang sedang bermain langsung berhamburan ingin segera mendapatkan pasokan buku terbaru.”

Ia jengkel setiap mendengar keluhan lama bahwa minat baca anak-anak kita, juga kalangan dewasa, sangat rendah. Baginya masalahnya adalah ketersediaan buku. Jika buku tersedia, seperti yang dibuktikannya dengan kegigihan Pustaka Bergerak, anak-anak maupun orang dewasa di kampung-kampung suka membacanya.

Soal lain, katanya, harus diakui bahwa mutu buku kita —penulisan, ilustrasi dan keseluruhan tampilannya— memang harus terus dibenahi. Ia sendiri di masa kecil menggandrungi seri Time Life, yang mematri minatnya seumur hidup pada sains dan teknologi.

Sampai dua tahun lalu Pustaka Bergerak telah menyalurkan lebih dari 300 ton buku. Dugaannya kembali terbukti. PT Pos Indonesia menggratiskan biaya pengiriman buku-buku itu ke mana pun buku dialamatkan. Di tiap alamat, sudah ada barisan relawan yang siaga menunggu untuk segera menyalurkannya ke banyak titik. Para anggota polisi dengan suka rela mengawal para relawan itu sampai tujuan.


Dengan semua itu Keluarga Besar Alumni Universitas Gadjah Mada tahun lalu menganugerahinya Penghargaan Alumni Berprestasi. Ini melengkapi penghargaan oleh Presiden Joko Widodo yang ia terima sebelumnya.

Sejak lima belasan tahun terakhir, ia meminati kuda dan perkudaan —kuda pula yang ia kawinkan dengan kegairahannya menyebarkan buku, dengan memanfaatkan punggungnya untuk menggendong ratusan buku menapaki jalan-jalan kecil di pedalaman. Terdengar kabar bahwa ia membeli seekor kuda dan menyimpannya di suatu tempat di luar Jakarta. Saya hanya pernah melihat beberapa aksesori untuk keperluan penunggangan kuda, khususnya cambuk kulit yang artistik.

Terdengar pula kabar bahwa ia sedang menulis novel dengan tema kuda. Saya tak pernah berani menanyakan perkembangan penulisannya; tapi saya duga keras novel itu akan lama selesai. Sebagai penulis esai yang hebat, ia menulis dengan sepenuh kesungguhan dan sangat cermat memilih diksi. Untuk karya fiksi, kesungguhan dan kecermatannya pasti digandakannya tiga kali.


Sejak lama ia juga meminati kesastraan. Di sini pun ia mencoba mengawinkannya dengan minat-minatnya yang lain. Ia menyoroti langkanya puisi dan prosa fiksi Indonesia dalam menggarap tema sains.

Ia menyebut, satu-satunya novel, atau yang pertama dalam sastra Indonesia, yang cukup apresiatif terhadap manfaat sains adalah “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer.

Juga sebaris singgungan atas aspek ini dalam sebuah puisi Sapardi Djoko Damono. Ia cukup gembira dan menghargai penyinggungan ini, betapapun sangat minim; jauh lebih sedikit daripada yang ia harapkan. Ia menulis kritik yang kuat terhadap sisi sains yang dikisahkan oleh sebuah novel Dewi Lestari.

Ia sendiri lebih memilih peran sebagai pemerhati dan sekali-sekali menjalankan fungsi kritikus sastra. Sebagai penulis esai-esai kebudayaan dan dampak sosial-budaya dari perkembangan sains, ia tak bisa disebut tak produktif. Ia menghasilkan tiga jilid kumpulan tulisan, salah satunya hampir seribu halaman.

Fokusnya tetap: keajaiban manusia, yang sering disebutnya “maha manusia.” Sejak mahasiswa ia memang mengagumi Prof. Teuku Jakob, ahli antropologi ragawi bereputasi internasional yang pernah menjabat rektor UGM.


Meski ia tak pernah bekerja sesuai keahliannya sebagai sarjana Teknik Nuklir, minatnya pada sains tak pernah surut. Setahun lalu kami bersama tujuh kawan lain mendirikan ForSains, untuk menyebarkan semacam scientific culture, sebagai pengimbang kecil bagi maraknya religious culture. Sejauh ini buahnya lumayan, berupa media online berisi berita, ide dan temuan-temuan terbaru sains.

Perbukuan dan penulisan selalu lekat di hatinya yang terdalam. Pekan ini, dua tulisannya terbit, sebuah kolom di Kompas, sebuah lagi di majalah Tempo. Ia menulis keduanya dalam kesendiriannya yang hening di lantai 5 apartemen pinjaman dari sahabat lamanya.

Ia tak sempat menyaksikan terbitnya dua kolomnya itu. Saya akan membacakannya untukmu, Nirwan Ahmad Arsuka, Barru 1966 - Jakarta 2023.

Hamid Basyaib
Facebook, 9 Agustus 2023
https://www.facebook.com/hamid.basyaib


Beruntun Duka itu Tiba

Ichan Loulembah. Nirwan Ahmad Arsuka. Lalu Raharja Waluya Jati. Ah, ketiganya memiliki makna dan sumbangan tersendiri dalam perjalanan, pergumulan dan pertumbuhanku.

Ichan kukenal ketika menjadi menjadi jurnalis. Ia menjadi jurnalis dan penyiar terkemuka di Radio Trijaya FM saat aku jadi jurnalis DeTik pada 1992-1994. Lalu persinggungan dan perjumpaan terjadi dengannya, sebagian besar di ranah aktivisme dan gerakan sosial.

Perjumpaan dan pergumulanku dengan Nirwan jauh lebih panjang. Kami aktivis UGM pada kurun yang sama; dia berkuliah di Teknik Nuklir, sedang aku di Sosiologi. Gelanggang Mahasiswa, panggung demonstrasi, dan angkringan menjadi sejumlah ajang perjumpaan yang selalu menghidupkan dan menghangatkan percakapan kami.


Bahkan, ia juga cukup kerap mampir ke ‘markas’ kami di pinggir kali Code pada tahun 88-89 yang kami beri nama “Code 340” —sesuai nomor rumah yang terletak persis di atas tebing kecil di pinggir kali Code itu. Yang kuingat, ia beberapa kali datang pada larut malam, lalu berdiskusi seru diiringi bernyanyi bersama diiringi petikan dari gitarku. Kadang ia menginap atau pulang dini hari.

Mungkin teman se‘markas’ bisa menambah cerita yang sudah lama terkubur itu. Jawil Yahya Biasa Erwan Widyarto Harko Suharko Jusra Abdi dkk.

Belakangan kami bersua lagi saat aku tinggal dan menjadi jurnalis di Jakarta pada 1992-1995. Sementara ia aktivis dan peneliti lepas di berbagai project dan aktivisme. Ia sempat menjadi redaktur Lembar Budaya Kompas selain menjadi Direktur Eksekutif Freedom Institute. Belakangan ia lebih dekat dengan adikku, Hasif Amini, dan sempat tinggal di rumah petak di daerah Poltangan, Pasar Minggu, Jakarta.


Dengan Jati, aku tak pernah terlalu dekat. Pergumulanku dengannya lebih banyak lantaran sejumlah aktivis adik kelasku di UGM, semacam Andi Arief, Arie Djito, Nezar Patria.

Yang kuingat, perjumpaanku terakhir dengannya di sebuah cafe di Sagan sekitar tahun 2017. Waktu itu tak lama seusai Pilkada DKI yang riuh rendah. Aku kencan ngobrol dengan Bung Nezar yang waktu itu masih Pemred di The Jakarta Post, jika tak salah ingat.

Di tengah obrolan hangat bersama keluarga itu bergabunglah Jati, Dadang Juliantara dan Widadi Kasno. Obrolan itu mengasyikkan karena merefleksikan keragaman kubu dan poros politik tapi kami tetap bisa berbincang dengan hangat.


Duka terdalam atas kepergian kalian bertiga, sobat. Maafkan, aku tidak sempat menjumpai dan mengantar kalian menuju peristirahatan terakhir menuju ke keabadian.

Doa terbaik untuk kalian bertiga —yang aku yakin punya mimpi yang sama untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Lanjutkan nongkrong di angkringan di surga.

Lahum Alfatihah ....

Note: Kutulis di atas KA menuju Yogyakarta International Airport

Najib Azca
Dosen Universitas Gadjah Mada
Wasekjen PBNU
https://www.facebook.com/najib.azca


In Memoriam Nirwan Ahmad Arsuka, Nabi yang Membuka Jendela Semesta

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Sahabat kita, pegiat literasi untuk wong cilik dan terpencil di Nusantara telah pergi meninggalkan kita semua. Nirwan, pendiri perpustakaan bergerak itu, telah membuka jendela dunia untuk anak-anak dan warga yang hidup di daerah terpencil. Pustaka Bergerak yang telah menyalurkan buku-buku bacaan ke seluruh pelosok Nusantara adalah legasi Nirwan yang akan dikenang sepanjang masa.

Perkenalanku dengan Nirwan
Nirwan Ahmad Arsuka, 5 September 1967 – 6 Agustus 2023, pernah mengirim tulisan ke redaksi majalah Ulumul Quran (UQ) yang diterbitkan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), tahun 1990-an. Saat itu aku redaktur UQ, setelah resign dari Badan Tenaga Atom Nasional. Artikel Nirwan membahas sains dan filsafat dalam Islam.

Setelah aku baca, aku putuskan dalam rapat redaksi, tulisan Nirwan lolos, layak muat. Mas Dawam Raharjo sebagai Pemred pun setuju.



api karena antriannya panjang —maklum majalah triwulanan— harus menunggu lama untuk muncul di UQ. Sampai kemudian aku "dipinang" Republika tahun 1993 untuk memilih naskah opini dan menulis tajuk rencana di "koran Islam" itu. Aku lupa, apakah tulisan Nirwan yang bagus tadi jadi dimuat atau tidak oleh redaktur UQ sepeninggalku.

Sejak itulah aku terkesan pada sosok Nirwan, sarjana teknik nuklir UGM yang berpikiran luas dan bernas. Lama aku ingin berkenalan dengan anak muda kreatif ini. Saat itu, aku yakin Nirwan akan menjadi some body. Bukan sebagai ahli nuklir yang berkutat di laboratorium fisika radiasi atau reaktor nuklir, tapi dalam dunia filsafat, puisi, dan literasi.

Betul dugaanku. Di tahun 2000-an dan seterusnya, nama Nirwan Ahmad Arsuka sering muncul di berbagai media massa. Baik sebagai penulis kolom maupun nara sumber. Nirwan pun menjelma menjadi "seleb intelektual" di Indonesia. Publik mengenal Nirwan bukan sebagai fisikawan, tapi budayawan.


Kekagumanku yang lain terhadap Nirwan adalah ketika ia dengan serius membedah hikayat sastra fenomenal dari Bugis, La Galigo. Kitab sastra epik kehidupan ini ditulis dari budaya lisan suku Bugis (konon sudah ada sejak abad ke-13) dan merupakan salah satu karya sastra terbesar di dunia. UNESCO menyebut La Galigo sebagai "Memory of the World".

Karya sastra ini berupa surek (narasi atau serat sastra puitis) yang terdiri dari 6.000 halaman dan 300.000 baris teks. La Galigo menceritakan sebuah kisah asal-usul manusia dan peradabannya. Seperti epik Adam dan Hawa yang kemudian anak cucunya memenuhi bumi dengan dinamika peradabannya.

Pada awal kelahiran La Galigo, surek ini dipercaya oleh leluhur suku Bugis sebagai pedoman hidup. Karena itu surek La Galigo dianggap sakral. La Galigo ditulis dalam huruf asli Bugis kuno yang konon, saat ini, hanya dipahami oleh ratusan orang suku Bugis. Nirwan adalah salah satu orang Bugis yang berusaha memahaminya.

Surek La Galigo dibaca dengan irama seperti Shalawat Nabi atau Dandang Gula karena dipercaya sebagai mantra. Mantra ini dibaca untuk tolak bala, selamatan rumah baru, menyambut musim tanam, upacara pernikahan dan lain-lain.


Hikayat La Galigo dimulai dari kisah penciptaan dunia dan turunnya anak sulung raja langit yang diutus ke bumi (di kawasan Sulawesi Selatan, Luwu). Putra Langit tersebut bergelar Batara Guru. Batara Guru lalu digantikan Batara Lattu, putranya. Batara Lattu memiliki dua anak kembar yang dibesarkan secara terpisah. Sawerigading dan We Tenriabeng.

Saat dewasa dua anak kembar yang dibesarkan secara terpisah ini kembali ke Luwu. Ternyata Saweri dan Tenri saling jatuh cinta. Eiiit, saudara kembar tak bisa dinikahkan. Jika dipersatukan, Langit akan murka.

Pemuda Sawerigading pun sedih. Ia merantau ke Negeri China dengan perahu bersama para pengawal kerajaan.

Dalam perjalanannya menuju China, ia menghadapi banyak ujian hidup. Semuanya bisa dihadapi Sawerigading. Sampai di China, Sawerigading bertemu wanita cantik. Si cantik yang kemudian jadi istrinya itu bernama We Cudai. Dari perkawinan ini, lahirlah La Galigo. Dari hikayat inilah, lahir kisah-kisah lain —semacam serendipity sureq— yang berkaitan dengan kehidupan dan peradaban manusia. Pinjam narasi Nirwan —hikayat La Galigo adalah percakapan manusia dengan semesta. Percakapan ini muncul dalam narasi. Di suku Bugis narasi ini muncul dalam bentuk surek La Galigo.


Menurut Nirwan, dunia jika dikuak intinya, tiada lain adalah narasi. Segala sistem pengetahuan manusia, entah itu filsafat, kosmologi, atau bahkan sastra, dibangun di atas sebuah narasi. Melalui “lidah” manusia, alam semesta mewujudkan dirinya melalui kisah yang tertuang dalam narasi. Dengan kata lain, ujar Nirwan, sepanjang manusia menciptakan narasi tentang hidupnya, maka alam semesta pun mengungkapkan dirinya di hadapan manusia.

Itulah sebabnya, tukas Nirwan, peradaban yang tidak ditopang dengan narasi, lambat laun akan punah. Tidak ada peradaban di mana pun tanpa narasi.

Minat baca Nirwan memang luar biasa —ia melalap sastra, filsafat, sains, kosmologi, sosiologi, politik, dan entah apalagi. Itu tercermin dari tulisan-tulisannya yang tersebar di media cetak dan elektronik. Nirwan pun kemudian lebih dikenal sebagai budayawan, alih-alih fisikawan nuklir.

Nirwan seperti halnya fisikawan cum budayawan Fritjof Capra berusaha mengeksplorasi sains, filsafat, dan sastra hingga bertemu di titik yang sama dalam kosmologi kehidupan. Yaitu: manusia sebagai satu kesatuan antara mikro dan makrokosmos. Jalaluddin Rumi menyebutnya, manusia adalah samudra dalam setitik air.


Betul, manusia yang berasal dari setitik nutfah atau air hina (pinjam Rhoma Irama) kemudian menjelma menjadi penguasa jagat raya. Di era artificial intelligent (AI), era manusia sebagai raja diraja di semesta, niscaya terwujud. Pertanyaannya, apakah sang raja diraja kelak akan memelihara bumi atau menghancurkannya?

Inilah yang saat ini menjadi polemik. Tolong, tanyakan kepada Oppenheimer —bagaimana perasaan hatinya setelah bom atom ciptaannya meledak di Hiroshima dan Nagasaki. Kenapa Oppenheimer tak mau melanjutkan proyek bom hidrogennya? Tampaknya Oppenheimer takut, manusia akan musnah di muka bumi akibat pengetahuannya. Ia akan menyesal sepanjang hidupnya karena menciptakan senjata pemusnah massal yang mengerikan itu. Oppenheimer tampaknya ogah menjadi manusia seperti kisah Frankenstein. Ilmuwan yang menciptakan senjata pemusnah massal yang akhirnya memusnahkan manusia sendiri.

Kembali ke Nirwan. Beruntung, setelah rajin mengikuti pikiran-pikiran Nirwan yang menembus batas, aku berkenalan secara fisik dengannya di perpustakaan Freedom Institute (FI) milik Rizal Mallarangeng di Jalan Proklamasi, Jakarta. Saat itu Nirwan adalah direktur perpus tersebut.

Di era Nirwan inilah FI sangat prestisius. Bukan hanya perpusnya yang ramai, tapi kegiatan diskusinya juga sangat berkualitas. Aku selalu datang di acara-acara diskusi filsafat, sastra, dan budaya di FI.


Di FI, inilah aku berkenalan dengan sosok unik, Ryu Hasan, seorang ahli bedah saraf yang "sarap". Dalam sebuah diskusi yang dikomandani Nirwan, Ryu Hasan yang konon berdarah "habib" ini mempertanyakan, bagaimana Tuhan menghukum manusia yang kode genetik ketuhanan di pita DNA-nya telah dipotong? Bagaimana Tuhan menentukan umur manusia bila kode genetik usianya di benang DNA dipotong?

Ya. Semua kepercayaan dan agama muncul sebagai konsekwensi adanya kode-kode genetik yang ada dalam pita DNA di sel-sel tubuh manusia. Aku tak tahu bagaimana respon Nirwan terhadap perspektif Ryu Hasan. Ini artinya, Nietzsche benar —ketika berbicara bahwa manusia bisa "membunuh" Tuhan. Entahlah! Konsep tentang Tuhan memang absurd. Tidak sesederhana seperti yang dipaparkan Abdul Somad dan Aa Gym.

Satu hal, kini Nirwan dengan "ruh" nya yang tanpa jasad akan mengeksplor di kehidupan baru yang oleh manusia beragama disebut alam akhirat atau alam malakut. Nirwan, apakah hukum fisika ada di alam sana? Apakah narasi masih diperlukan untuk berkomunikasi di alam tanpa materi itu? Apakah ada sastra dan filsafat di kehidupan bidadari dan malaikat?


Kau pasti akan menjawabnya kelak ketika bereinkarnasi menjadi "Avatar" di kehidupan lain. Kelak di alam yang lain, aku ingin mempertanyakan hal tersebut padamu.

Nirwan, kau sekarang pasti memahami kenapa Yesus hidup tanpa istri. Maaf, aku yang sering bertanya, kenapa kau lama menjomblo waktu di FI —kini terpaksa mengakui kehebatanmu. Hidup menjomblo telah membuatmu terbang dengan imajinasi yang liar tentang wanita ideal. Dan ternyata wanita ideal itu hanya ada dalam khayal Khalil Gibran melalui surat-surat cintanya kepada May Ziadah, kekasih imajinatifnya. May Ziadah mungkin adalah "titik nol-nol-nol koma sekian" dari relasi manusia dan semesta seperti dinarasikan hikayat La Galigo. Mungkinkah itu Nirwan?

Melalui tulisan ini, aku ucapkan Selamat Jalan, Nirwan. Dunia literasi kelak akan menyebutmu sebagai nabi. Nabi yang berhasil membangun surga di bumi. Kau telah membuka jendela semesta untuk umat manusia.

Syaefudin Simon
Freelance Columnist
https://www.facebook.com/eldin.ibnuathiyyah

Wednesday, July 5, 2023

Jangan, Pak !!!


Dear Presiden,

Sepertinya advis ini tak berguna bagi Bapak. Wong Bapak sedang kalap. Tapi sangkakala harus ditiupkan dari sekarang biar seluruh anak bangsa bersiap diri menghadapi prahara yang mungkin akan segera Bapak ciptakan.

Kami ketakutan menerima info terbaru dari Profesor Hukum Tata Negara Denny Indrayana bahwa KPK segera mempersangkakan Anies Baswedan terkait ajang Formula-E. Bisa saja info Denny meleset, apalagi KPK adalah lembaga yang rasional.

Penjegalan Anies nyapres tanpa legal standing yang meyakinkan bisa menimbulkan keos nasional. Tapi Bapak orang yang nekad. Dan lembaga antirasuah itu telah berubah menjadi bulldog Bapak. Bagaimana mungkin kami tidak takut!? Orang nekad biasanya narrow minded dan emosional.


Bapak sampai hati. Tentu Anies bukan pangeran dari kahyangan yang berlenggang ringan di muka bumi tanpa dosa. Tapi isu Formula-E terlalu dipaksakan, Pak. Mengapa kita sebagai bangsa makin hari makin bebal?

Jangan lakukan itu, Pak. Anies telah menjadi icon pro-perubahan yang didukung puluhan juta orang. Dan mereka terlanjur tidak percaya pada kredibilitas KPK. Sebaliknya, mereka percaya pada niat jahat Bapak memenjarakan Anies.

Bukankah pelemahan KPK bermotif politik untuk melayani kepentingan kekuasaan Bapak dan oligarki? Dalam konteks ini, bagaimana publik mau percaya kalau kebencian Bapak terhadap Anies begitu mencolok?


Dear Presiden,

Sudah lama kami dengar Bapak menekan Ketua KPK Firli Bahuri untuk secepatnya menahan Anies agar dia tidak menjadi kompetitor Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto dalam pilpres nanti.

Bapak hanya mau pilpres diikuti dua pasang calon. Memangnya Bapak siapa? Apakah Bapak punya sertifikat dari Allah yang memandatkan Bapak untuk cawe-cawe? Kami tahu Bapak tak ikut berjuang untuk membangun sistem demokrasi.

Tapi seharusnya Bapak menghormati spirit reformasi yang diperjuangkan mahasiswa dengan nyawa. Spirit reformasi adalah menerapkan demokrasi secara konsisten. Faktanya, Bapak hendak membunuhnya. Secara vulgar pula. Sungguh kita dulu salah memilih Bapak. Kita mengira orang sederhana akan berhati tulus. Ternyata keliru.


Integritas Firli sedang disorot, Pak. Setelah berulang kali menekan anak buahnya mempersangkakan Anies —kami yakin atas perintah Bapak— kini ia diduga kongkalikong dengan Kementerian ESDM biar korupsi di sana tak terbongkar.

Sebelumnya ia menerima gratifikasi dan bertemu dengan koruptor yang melanggar garis merah etika KPK. Mana bisa orang seperti ini Bapak harapkan kami untuk percaya. Kami ikuti secara saksama kasus Formula-E.

Sudah empat kali BPK mengaudit penyelenggaraan ajang itu tanpa menemukan penyimpangan. KPK sudah memeriksa Anies. Dan tidak ada kesepakatan di antara penyelidik KPK untuk menaikkan kasus ini ke tahap penyidikan.

Ketua KPK Firli Bahuri, Presiden Jokowi, Ketua MK Anwar Usman.

Dear Presiden,

Dalam kewaspadaan publik atas perilaku KPK, secara kontroversial MK pimpinan Anwar Usman, ipar Bapak, memperpanjang masa jabatan Firli dan anak buahnya. Di bawah kepemimpinan Bapak orang-orang tercela dipelihara dan dimakmurkan. Sulit untuk tidak mengaitkan keputusan itu dengan kehendak Bapak memperalat kepengurusan KPK saat ini untuk tujuan politik menjelang pilpres.

Setelah memperpanjang masa jabatan dan menyingkirkan komisioner yang berintegritas, kini semua penyelidik KPK, sesuai info Denny, sepakat mempersangkakan Anies setelah penggelaran perkara ke-19.

Bapak angkuh. Dengan pakaian kekuasaan yang pendek dan sempit, Bapak memainkan tipuan-tipuan aneh di hadapan Tuhan. Tak apa Bapak menyepelekan Allah. Tapi suara orang tertindas didengar Allah, Pak. Setidaknya, Bapak menimbang kelangsungan kekuasaan Bapak sendiri.

Presiden Jokowi berbincang dengan Pak Anies Baswedan, mengenai persiapan penyelenggaraan Formula E di tengah sirkuit yang sedang dikerjakan dengan background Jakarta International Stadium.

Sebenarnya pembuktian ada tidaknya korupsi di ajang Formula-E tidak sulit. Semua pihak yang terlibat event ini masih hidup. Dokumen-dokumen yang relevan juga masih tersimpan rapi di Balaikota.

Anies juga bukan petinggi partai pendukung pemerintah. Dengan kata lain, ia tak punya beking penguasa. Dus, ia rentan untuk dikriminalkan. Tapi fakta bahwa kasusnya sulit ditangani menunjukkan legal and ethical standing KPK vis a vis Anies memang lemah.

Keluhan KPK bahwa mereka kesulitan menjadikannya tersangka lantaran takut simpatisannya marah tak bisa dipercaya. Toh, setelah ketidakpercayaan publik terhadap KPK bereskalasi, justru Anies mau dipenjarakan. Permainan bodoh yang membahayakan macam apa lagi ini !?

Ahok dan Rumah Sakit Sumber Waras.

Dear Presiden,

Tidak mungkin KPK nekad mengambil langkah ini tanpa dorongan Bapak. Bukankah setelah dilemahkan KPK berada di bawah kendali Bapak? Saya tidak menyangka Bapak nekad merusak pilpres dan menerabas konstitusi untuk alasan yang sulit dimengerti.

Bapak terlihat culas dalam pemberantasan korupsi. Kasus-kasus yang mencolok tak disentuh. Misalnya, kasus Sumber Waras yang melibatkan Ahok yang menurut BPK, berpotensi merugikan negara lebih dari Rp 100 miliar.

Kasus suap Harun Masiku yang disebut-sebut melibatkan Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto didiamkan. Demikian pula kasus korupsi E-KTP yang dilaporkan melibatkan Ganjar Pranowo dan Puan Maharani.

Ketum PKB Cak Imin, Ketum Golkar Airlangga Hartarto, dan Ketum PAN Zulkifli Hasan.

Ketum PAN Zulkifli Hasan, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, dan Ketum Golkar Airlangga Hartarto juga merupakan pasien rawat jalan. Alhasil, sekiranya Bapak serius memberantas korupsi seharusnya mereka dibawa ke meja hijau.

Tapi memang Bapak tak boleh istiqamah karena dapat mencelakakan keluarga Bapak sendiri. Bukankah putra-putra Bapak melakukan KKN dan membangun politik dinasti? Sedangkan sekutu Bapak dan mereka yang dapat diperalat untuk mendukung kekuasaan Bapak dipelihara. Pemimpin kayak apa ini !? Di rezim otoriter seperti Cina dan Korea Utara pun para pejabat yang korupsi disikat habis.

Bapak tak perlu memasukkan Zulhas, Cak Imin, dan Airlangga ke penjara karena mereka berharga untuk melayani kepentingan politik Bapak. Tentu mereka akan patuh, terutama setelah menteri dari Nasdem dipenjarakan.

Tapi patutkah Bapak berbangga diri ketika berhasil menciptakan ketakutan menyeluruh di kalangan elite? Bapak telah melebihi Presiden Soeharto. Legislatif dan yudikatif mandul kecuali bekerja hanya untuk kepentingan keluarga dan kroni-kroni Bapak, serta para oligarki.


Kini kampus telah berubah menjadi kuburan karena para civitas akademika takut bersuara demi menyelamatkan diri dari kemurkaan Bapak. Dalam kesunyian ini, Bapak sangat percaya diri. Apalagi, hasil survey menyatakan 82 persen responden puas terhadap kinerja Bapak.

Data ini seolah menjadi pembenaran untuk melakukan apa saja yang Bapak kehendaki, termasuk cawe-cawe. Bapak tidak peduli pada peringatan para pakar hukum tatanegara bahwa cawe-cawe dapat menjadi pintu masuk untuk memakzulkan Bapak.

Katakan sejujurnya apa penyebab dendam Bapak kepada Anies? Ada banyak alasan yang dikemukakan Bapak secara implisit dan analisis para pengamat. Di antaranya, Anies tak bersedia melanjutkan legacy Bapak.

Anies Baswedan memegang tongkat sakti (Cakra) milik Pangeran Diponegoro.

Tapi belakangan, setelah Andy Noya —dalam acara “Kick Andy” di MetroTV yang menghadirkan Anies— isu yang kurang diketahui publik mencuat ke permukaan. Atas nama publik, Andy menyatakan Anies menelikung Bapak terkait tongkat sakti (cakra) Pangeran Diponegoro.

Cakra itu dirampas pemerintah kolonial Belanda setelah Diponegoro berhasil ditangkap. Saat belum lama menjabat sebagai Mendikbud, cakra yang sangat bernilai itu dikembalikan Belanda kepada pemerintah RI melalui Anies karena Bapak sedang melawat ke Filipina.

Tak disangka Bapak sangat kecewa karena Bapak ingin menjadi orang pertama yang menerima tongkat sakti itu. Bagi orang Jawa, kasus ini sangat sensitif. Diyakini bahwa orang pertama yang nenerima cakra itu akan menjadi pemimpin besar.

Mungkin saja Bapak punya versi sendiri yang membantah narasi versi Anies. Saya menghargai budaya lokal kendati saya tidak mempercayai klenik. Toh, hal-hal yang irasional pun dapat dijelaskan secara rasional menggunakan ilmu pengetahuan modern, seperti antropologi.


Bagaimanapun, kendati Bapak tidak menjadi pemimpin besar karena kemampuan Bapak memang tak memungkinkan untuk itu, setidaknya Bapak telah menjadi presiden negara besar ini selama dua periode.

Pencapaian Bapak ini sebenarnya tidak masuk akal bila kita menggunakan ilmu pengetahuan. Bapak tidak berprestasi di Solo kecuali berbohong bahwa Bapak menciptakan mobil Esemka. Di Jakarta juga Bapak tidak berprestasi kecuali blusukan-blusukan ke gorong-gorong.

Ketika berkampanye dan debat presiden, Bapak pun tidak beradu gagasan kecuali menggelontorkan sejumlah janji surga yang memang hanya diniatkan untuk membohongi publik.

Kalau Bapak adalah capres di negara-negara yg mengedepankan rasionalitas dan moralitas tinggi bagi calon pemimpinnya, tidak mungkin Bapak terpilih jadi presiden. Bahkan sekadar menjadi capres pun tidak. Dus, tanpa memegang cakra itu pun Bapak sudah didekati Dewi Fortuna.


Bangsa ini juga telah melahirkan presiden-presiden besar tanpa mereka memegang cakra itu. Kemampuan intelektual dan leadership merekalah yang menjadikan mereka pemimpin besar.

Sudah tidak berprestasi dan meninggalkan legacy yang bermasalah, kini Bapak hendak menjungkalkan Anies, bakal capres yang diyakini dapat menyelesaikan sebagian dari masalah gawat yang Bapak tinggalkan.

Jangan, Pak! Perlawanan besar akan muncul dari dalam maupun luar negeri. Pilar-pilar negara akan roboh, tatanan demokrasi akan berantakan, dan bangsa ini niscaya akan kembali terpuruk.


Tak sepadan pembalasan dendam Bapak kepada Anies dengan mengorbankan bangsa secara keseluruhan. Tapi saya pesimistis Bapak akan mendengar advis ini. Bapak orang konyol. Karena itu, nekad mengambil tindakan irasional.

Tapi penting untuk Bapak ketahui bahwa hari ini semakin banyak orang yang kecewa pada Bapak. Tindakan sewenang-wenang terhadap Anies justru dapat mencelakakan Bapak sendiri beserta keluarga.

Jangan percaya pada info dari para penjilat bahwa penjegalan Anies tak akan beresiko. Ekspektasi rakyat atas mantan Gubernur DKI Jakarta itu sudah terlalu tinggi untuk bisa digembosi, Pak. Di mana-mana sekarang orang bicara tentang people power.

Hati-hatilah Pak. Waspadalah !!!

Tangsel, 24 Juni 2023

Ditulis oleh: Smith Alhadar dengan sedikit suntingan.
Penasihat Institute for Democracy Education (IDe)
Sumber: tilik.id

Wednesday, June 7, 2023

Surat Terbuka untuk Presiden Jokowi


Presiden yang saya hormati,

Surat terbuka ini saya tulis karena cinta saya dari dalam lubuk hati kepada tanah air dan hormat saya kepada Bapak sebagai Kepala Negara.

Bapak bisa membacanya sebagai kritik, tetapi saya tidak ragu karena Bapak pernah bilang langsung kepada saya bahwa Bapak tidak keberatan dikritik karena kritik adalah masukan bagi Bapak.

Saya juga percaya bahwa kritik itu penting. Bahkan kritik dari seorang kawan itu tujuannya agar kawan kita tidak terjerumus. Dengan memuji terus-menerus, maka justru kawan kita akan jatuh terjerembab.


Seperti Bapak tahu, saya pada mulanya adalah pendukung kuat Bapak, bahkan pernah mengedarkan selebaran terkenal yang berjudul “10 Alasan Mengapa Saya Memilih Jokowi” saat periode Pertama.

Begitu pula pada periode kedua saya menjadi pendukung Bapak, meski saya tidak pernah masuk tim resmi kampanye Bapak.

Namun demikian, pada periode dua, saya dapati Presiden saya telah banyak berubah dan banyak membuat kesalahan.

Umpamanya dalam penempatan pembantu-pembantunya, lemah dan tebang pilih dalam penegakan hukum, mengusung kebijakan-kebijakan ekonomi yang menguntungkan kelompok pemodal termasuk modal asing.


Juga menghalangi partisipasi publik dalam proses berbagai UU yang penting. Dan banyak hal lagi yang pernah saya tulis dan tidak akan saya ulangi di sini.

Tapi, yang utama dan terpenting dalam tulisan singkat ini adalah saya merasa, di ujung jabatan Bapak, presiden kita telah mengambil langkah-langkah dan manuver-manuver politik yang membahayakan demokrasi kita.

Demokrasi yang dengan susah payah ditegakkan dan dengan korban jiwa yang telah dikorbankan untuk membangun negeri ini oleh anak-anak muda pada revolusi atau reformasi tahun 1998, sekarang menurut pendapat saya, dalam keadaan bahaya menuju keruntuhan.

Yang saya maksud adalah dalam setahun terakhir ini, Bapak tidak lagi konsentrasi kepada pekerjaan utama yang dimandatkan rakyat, yang harus diakui telah mencapai berbagai kemajuan menggembirakan, tetapi telah bermanuver untuk merusak demokrasi.


Antara lain dengan pembatasan jumlah calon presiden oleh UU dan ada berbagai perilaku aib yang membahayakan demokrasi, baik langsung oleh Bapak sendiri maupun oleh pembantu-pembantu Bapak yang dekat dan bekerja di Istana yang tidak mungkin dilakukan tanpa sepengetahuan dan restu dari orang paling berkuasa di negeri ini, yaitu Presiden RI.

Seperti kita ketahui, meski UU dibuat di DPR, namun tidak akan menjadi UU tanpa kesepakatan dan persetujuan eksekutif yang ikut bersama menyusunnya.

Saya ingin mengingatkan bahwa korupsi itu bukan sekadar korupsi uang saja, tetapi ada korupsi dalam bentuk lain.

Presiden Jokowi diberi mandat oleh rakyat agar bekerja sepenuh waktu untuk sebesar-besar manfaat bagi seluruh bangsa Indonesia.


Namun ketika Presiden menggunakan waktunya dan fasilitas serta simbol negara untuk bermanuver politik bagi keuntungan dirinya atau kelompok yang dekat dengannya atau keluarganya, maka sebenarnya beliau telah terperosok ke dalam perbuatan koruptif yang hukumnya haram.

Saya yakin Bapak adalah seorang Muslim yang baik dan religius. Oleh karena itu, saya akan mengingatkan hal ini dari sudut pandang agama Islam juga.

Dalam Islam, istilah husnul khotimah dan su’ul khotimah sangat dikenal. Artinya akhir yang baik dan akhir yang buruk.

Biasanya diartikan bahwa akhir yang baik (husnul khotimah) sebagai mati dalam keadaan beriman dan sebaliknya su’ul khatimah mati dalam kondisi menolak kehadiran Ilahi.


Namun husnul khotimah bisa juga diartikan ketika seseorang konsisten dan banyak melakukan kebaikan sampai akhir hayatnya.

Sedang su’ul khotimah adalah mereka yang mulanya baik, tetapi di penghujung hidupnya terperosok ke dalam perbuatan-perbuatan yang tidak layak, yang tidak diridhoi Allah SWT.

Inilah mereka yang berada dalam kerugian besar yang sangat merugikan dirinya, baik bagi kehidupannya di sini seterusnya maupun kehidupan berikutnya di akhirat nanti.

Seperti kita ketahui, hidup kita di sini hanya sementara, hidup kita yang panjang nanti ada pada tahap berikutnya yaitu, di alam akhirat.


Bahkan kita disarankan untuk tidak memberi nama anak kita yang baru lahir dengan nama orang besar sebelum orang itu wafat.

Sebab tidak sedikit orang hebat yang memulai sesuatu dengan baik menjadi terkenal dan dikagumi, tetapi pada ujung hayatnya sebelum wafat dia telah melakukan perbuatan buruk. Dan itulah yang diingat oleh masyarakat.

Dalam pemilihan umum legislatif dan pemilihan umum presiden bulan Februari tahun depan, tugas seorang presiden adalah memastikan bahwa pemilu dan pilpres berjalan dengan damai, adil dan jujur, bukan ikut campur di dalam menentukan siapa yang boleh ikut di dalam kontes presiden maupun yang tidak boleh karena pertimbangan-pertimbangan kepentingan kelompok.

Saya tidak tahu apa sebenarnya yang dituju oleh Presiden Jokowi sehingga ada kandidat yang terang terangan dihalangi untuk maju sebagai capres.


Orang bertanya, apakah Pak Jokowi takut bila calon itu menang bisa membongkar rahasia-rahasia yang membahayakan dirinya?

Atau ini hanya sebuah ego bahwa presiden mendatang harus melanjutkan program-program yang ditinggalkan oleh presiden Jokowi seluruhnya, baik program-program itu dinilai tepat maupun dinilai tidak menguntungkan rakyat banyak?

Satu hal lagi sebagai akibat dari campur tangan penguasa tertinggi di Indonesia ini dalam pemilu dan pilpres bisa juga menimbulkan bahaya hilangnya kedamaian di negeri ini, menimbulkan chaos, pemberontakan, dan sebagainya, seperti reformasi tahun 1998 yang mengakibatkan kerusakan, pembakaran, dan hilangnya nyawa dan sebagainya. Mudah-mudahan Allah melindungi kita dari bencana itu.

Perlu saya ingatkan, meski tidak banyak, tetapi masih ada waktu untuk Bapak berubah dan memperbaiki diri segera, menjadikan Presiden Jokowi sebagai penguasa tertinggi yang menjamin kelancaran perjalanan pemilihan umum dan pilpres mendatang dengan damai, adil, dan jujur.


Menjadi Presiden yang mewariskan legacy yang kosong dari catatan buruk. Melanjutkan pulang ke Solo dengan hidup tentram dan bahagia bersama keluarga tanpa rasa bersalah.

Untuk itu dengan hormat, saya imbau Bapak menghentikan segera manuver-manuver politik Bapak dan pembantu-pembantu Bapak yang secara kasat mata sangat merugikan perjalanan demokrasi di negeri kita.

Apalagi sekarang dengan UU yang ada, rakyat tidak bebas memilih siapa presidennya karena calon-calon presiden itu telah ditentukan oleh UU yang memberi monopoli kepada partai atau gabungan partai yang memiliki jumlah suara minimal 20 persen kursi di DPR.


Mudah-mudahan Allah membantu Bapak untuk sadar diri dan yakin bahwa mandat yang diberikan oleh rakyat kepada diri Bapak adalah mandat untuk kebaikan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi apalagi kepentingan kelompok dan konco-konco yang banyak mengambil keuntungan dari perjalanan pemerintahan selama ini.

Mudah-mudahan Allah menyelamatkan bangsa ini dengan menolong penguasa tertinggi di negeri ini agar kembali ke jalan yang lurus, jalan yang diakhiri dengan husnul khotimah, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Jalan yang berakhir dengan baik dan dicatat dalam sejarah manusia maupun dalam catatan Allah sebagai amal yang ganjarannya taman surga (jannah). Aamiin.

Abdillah Toha
Pemerhati politik, sosial, ekonomi, agama,
Penasihat wakil presiden periode 2009-2014,
Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN)

Kompas.com, 30 Mei 2023