Showing posts with label Surya Paloh. Show all posts
Showing posts with label Surya Paloh. Show all posts

Tuesday, November 22, 2022

Manusia “Aneh” yang Dibutuhkan Indonesia


Ditengah defisit moral, prestasi, dan karakter para pemimpin Indonesia hari ini, Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta muncul sebagai manusia “aneh”. Ia pemimpin yang bersih ketika korupsi telah membudaya di negeri ini dan nyaris tak ada pemimpin yang, langsung atau tidak langsung, tidak bersinggungan dengan korupsi.

Akar korupsi, selain budaya dan karakter buruk pemimpin, diperkuat dan diperdalam oleh oligarki. Oligarki politik dimungkinkan dan ditumbuhkembangkan oleh UU Pemilu yang diskriminatif karena membatasi akses politik rakyat.

Parliamentary threshold 4% dan presidential threshold 20% membuat jutaan suara warga negara yang menyalurkan aspirasinya ke partai politik yang tidak masuk parlemen hilang percuma dan calon pemimpin pilihan publik tak dapat ikut berkontestasi dalam pemilu.


Tapi bukan hanya parpol (pembentuk oligarki politik) yang menentukan proses pencalonan pemimpin dalam pemilu, tapi juga para pemodal (pembentuk oligarki ekonomi). Dus, koalisi dua kekuatan inilah yang menentukan dinamika politik tanah air.

Berhubung mahar politik sangat mahal bagi calon legilslatif dan calon eksekutif untuk mendapat perahu parpol, maka calon yang menang pemilu harus melakukan korupsi untuk mengembalikan modal yang telah mereka keluarkan, yang sebagian mereka dapatkan dari hasil berutang.

Tapi parpol pun tak sanggup membiayai seluruh tahapan pemilu karena dana yang disediakan negara tak cukup. Pada titik inilah oligarki ekonomi memasuki arena. Sebagai imbalan modal besar yang dikeluarkan, mereka harus ikut menentukan caleg dan capres yang akan berlaga.

Tentu si calon harus membuat komitmen terlebih dahulu untuk membalas budi pada oligarki. Maka, tak usah heran kalau kemudian sistem dan mekanisme politik ini melahirkan korupsi, pemimpin yang tidak kompeten, dan hanya menjadi kacung untuk melayani kepentingan oligarki dengan mengorbankan kepentingan rakyat yang memilih mereka.


Ironisnya, orang-orang Indonesia menjadi fatalis politik, yang menganggap semua yang menghalangi kemajuan bangsa ini sebagai keniscayaan realitas yang harus diterima. Bahkan, para influencer dan buzzer bayaran dimunculkan untuk mempertahankan status quo.

Kalau mereka diniatkan untuk sekadar menyosialisasikan program pemerintah secara rasional, terukur, dan bijaksana, mungkin tak terlalu merisaukan kita.

Faktanya, mereka telah bermetamorfosis menjadi semacam propagandis perang yang merusak akal sehat publik, mengeskalasi perpecahan dalam masyarakat, menyemburkan debu ke atmosfir sehingga mengaburkan realitas, dan berusaha secara bodoh membunuh karakter calon pemimpin yang otentik.


Herannya, Anies Baswedan tak ikut hanyut dalam durjana politik dan ekonomi Indonesia hari ini. Ia bahkan, dengan kekuatan terbatas yang dimilikinya, hendak mengubah status quo yang sudah demikian berakar, yang telah terbangun selama puluhan tahun. Anies memang aneh, tapi mengharukan.

Ia memposisikan diri sebagai David yang melawan Goliath ketika banyak orang Indonesia telah menerima kekalahan sebagai takdir di hadapan kekuatan besar yang sembrono dan rakus.

Pelan-pelan ia membangun Jakarta yang rumit dan bising dalam posisi underdog ketika citra Ahok sebagai Gubernur DKI sedang menjulang tinggi.

Ahok dicitrakan sebagai “manusia luar biasa” yang jadi korban kaum Muslim fanatik yang bodoh. Dalam posisi yang tidak meyakinkan itu, anehnya Anies dapat membalikkan keadaan. Hampir tiap hari dia membuat kita terheran-heran dengan prestasi-prestasi mengagumkan yang membuat Ahok terlihat kerdil.


Anies memang manusia “aneh”, entah dari mana dia memperoleh inspirasi-inspirasi besar yang tidak ada putusnya, yang membuat kita semua merasa bodoh, termasuk orang-orang yang membencinya.

Ya, postur moral, karakter, leadership, kecerdasan, dan jiwa legowo Anies tak dapat dilawan dengan jiwa kerdil, picik, dan culas. Lebih bijaksana kalau kita mengaguminya meskipun dengan perasaan malu.

Tapi Anies tidak membutuhkan rasa terima kasih kita padanya, yang membuat Jakarta terlihat lebih modern, indah, manusiawi, dan cerdas.

Toh, ia belum merasa cukup berbuat lebih baik untuk seluruh warganya. Masih banyak yang ingin ia lakukan. Kalaupun ada sesuatu yang dianggap berharga dari upayanya membangun Jakarta adalah cukup dengan mengapresiasi model pembangunan yang dilakukannya, yang mengintegrasikan aspek budaya, sosial, ekonomi, agama, manusia, dan politik global dalam setiap kebijakan yang diambilnya.

Anies Baswedan, Zulkifli Hasan, Gatot Nurmantyo.

Ini belum pernah dilakukan gubernur DKI mana pun sepanjang sejarahnya. Bahkan, berkat karya dan beleidnya —termasuk dalam menangani covid-19 yang antisipatif dan cepat— membuat ia kini lebih populer di mata komunitas internasional ketimbang Jokowi.

Anies memang seorang kosmopolitan, yang dengan bahasanya yang terstruktur indah dalam menyampaikan pikiran dan gagasan bersifat universal, yang mudah difahami seluruh warga di planet ini. Ingat, bahasa mencerminkan kecerdasan. Bahasa yang belepotan, yang tentu saja melemahkan maksud yang ingin disampaikan, dengan sendirinya menunjukkan kualitas intelektualnya.

Yang juga aneh dari Anies adalah dia memiliki kualitas karakter yang melampaui para pemimpin Indonesia saat ini. Setidaknya pemimpin formal yang sedang berkuasa. Karakter terbagi dua. Karakter yang menunjuk pada kejujuran, rasa keadilan, empati pada orang kesusahan, dst.


Yang kedua adalah karakter yang menunjuk pada disiplin, kerja keras, berorientasi hasil, dst. Anies memiliki karakter yang utuh ini.

Karakter Anies yang menonjol yang didapat dari kombinasi internalisasi nilai-nilai yang ditanamkan orangtuanya yang relijius dan sangat terpelajar, interaksi dengan berbagai lingkungan budaya sepanjang perjalanan hidupnya, dan ilmu pengetahuan yang mendalam, hendak dihancurkan para pembencinya.

Sangat mungkin juga para oligarki yang khawatir kepentingannya terganggu bila Anies menggantikan Jokowi atau orang-orang yang ingin mempertahankan status quo. Namun, kearifan dan prestasi Anies sudah demikian tebal yang tidak mungkin dilawan dengan kebencian, kekerdilan, dan kerakusan.

Anies Baswedan dan Aher alias Ahmad Heryawan.

Lihat, sejak hari pertama ia mengambil alih balai kota dari Ahok, hunjaman kecaman dan fitnah sudah menggempurnya. Aneh, Anies cuma senyum. Ia terus menjawab mereka dengan karya dan karakter yang terjaga. Bisa jadi Anies melihat mereka bukan lawan sepadan dari sisi moral dan pengetahuan.

Maka, ia membiarkan anjing terus menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Karakter ini ternyata efektif membuat mereka frustrasi. Memang tidak ada ceritanya kebodohan dan keculasan mengalahkan karakter agung nan cerdas.

Bahkan kebodohan dan keculasan itu, tanpa mereka sadari, justru membuat ketokohan Anies semakin bersinar.

Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Ridwan Kamil.

Karena ia jadi pembeda antara yang batil dan jahil dengan yang benar dan pandai. Anies adalah manusia “aneh”, maka untuk melawannya harus orang yang aneh pula, yakni orang-orang yang mau melawan arus, berkarakter, berilmu, dan berani melawan penindasan dan hegemoni oligarki.

Kalau Anies bukan manusia “aneh”, tidak mungkin ia mau menghentikan belasan pulau reklamasi yang dijaga koalisi oligarki politik dan ekonomi.

Toh, kalau dia bukan manusia “aneh” dan mengikuti budaya korupsi bangsa, orang akan menganggapnya normal kalau ia menerima sogokan ratusan milyar dari para pengembang pulau reklamasi asalkan ia mengizinkan proyek bernilai lima ratusan triliun itu dilanjutkan.

Anies Baswedan bersama isteri dan keempat putra-putrinya.

Bagaimanapun, keanehan Anies membuat kita tersentak sadar bahwa kebatilan dapat dilawan dan bahwa bangsa ini dapat keluar dari lingkaran setan oligarki ketika oligarki mulai diterima sebagai realitas kehidupan bangsa yang harus diterima.

Apalagi sedang tumbuh mitos bahwa tanpa oligarki, ekonomi bangsa akan runtuh, yang dengan demikian akan semakin menyengsarakan rakyat. Anies membuktikan sebaliknya dan ini yang membuat oligarki ketakutan.

Mereka mulai menebarkan propaganda dengan narasi palsu bahwa Anies berbahaya bagi bangsa karena dia manusia “aneh”. Segala citra buruk pun ditimpakan pada tokoh ini yang membuat malaikat menangis.

Anies Baswedan bersama isteri Fery Farhati.

Tapi kita sebagai bangsa akan lebih menderita kalau tokoh “aneh” ini tersingkir dari panggung politik sebagai hasil dari konspirasi kekuatan-kekuatan jahat.

Hal ini bisa saja terjadi bilamana keinginan parpol mencapreskannya tidak diridhai oligarki ekonomi.

Namun, bila kita percaya pada pameo “vox populi vox dei” (suara rakyat adalah suara tuhan) di mana suara dukungan kepada orang “aneh” bernama Anies Rasyid Baswedan semakin membesar, maka parpol-parpol akan dipaksa melirik tokoh bersahaja ini berdasarkan hitung-hitungan pragmatis dan keuntungan politik-ekonomi.

Toh, seandainya ia dicapreskan, peluang menangnya sangat besar. Rakyat menaruh harapan besar kepadanya untuk mengubah status quo yang tidak adil dan menyengsarakan rakyat menjadi negeri kerakyatan yang menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua.


Mereka percaya Anies bisa karena, walaupun sejumlah parpol mengusungnya dalam pilgub 2017, ia tidak memberikan konsesi atau kompensasi apa pun kepada parpol pendukungnya setelah menjadi gubernur.

Tapi parpol tak kecewa, bahkan bersyukur, karena jagonya terbukti berhasil menghadirkan kemajuan sosial, ekonomi, dan agama warga Jakarta.

Kalau sekarang banyak orang berharap Anies memimpin Indonesia ke depan, itu karena “salah” Anies sendiri yang tanpa sengaja telah membangun dirinya menjadi seorang raksasa melalui postur moral, karakter, leadership, kecerdasan, tawadhu, dan karya-karya prestisius.

Semua ini bukan pencitraan, tapi hal-hal nyata yang bisa disaksikan orang Indonesia paling awam sekalipun. Memang kendati hanya berkapasitas sebagai seorang gubernur, karya Anies meng-Indonesia. Pemikiran dan gagasannya melampaui sekat-sekat daerah, suku, agama, dan golongan.

Orang “aneh” seperti ini yang diperlukan bangsa ini untuk membereskan pekerjaan rumah yang rumit di tengah persaingan global yang berat, yang tak bisa dilakukan manusia-manusia biasa yang tidak aneh dalam konteks Indonesia.


Apa kata sejarah kalau dalam momentum krusial seperti sekarang ini Indonesia gagal menghadirkan pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman.

Sejarah melahirkan tokoh dan, pada gilirannya, tokoh melahirkan sejarah. Anies dilahirkan oleh sejarah Indonesia dan dunia yang dialaminya sendiri dan yang dia pelajari melalui buku.

Dari sini dari hasil dialektikanya dengan sejarah zamannya dan sejarah yang telah jauh di belakang, serta pergumulan pemikiran dengan gagasan dan sejarah dunia memungkinkannya meletakkan Indonesia dalam peta dunia dan mencari jawaban yang pas atas tantangan yang dihadapinya.

Dengan begitu, Anies “si orang aneh” akan melahirkan sejarah yang memang hanya mungkin dilakukan oleh orang di atas rata-rata dari semua aspek. Semoga Allah mengabulkan kehendak rakyat Indonesia yang sudah lama menderita akibat dipimpin oleh tokoh inkompeten yang ahistoris.

Smith Alhadar
Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDe)
www.targethukum.com

Wednesday, October 28, 2015

Panas Dingin Surya Paloh


Perkara suap hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan, telah menyeret Sekretaris Jenderal Partai NasDem Patrice Rio Capella. Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho dan istri mudanya, Evy Susanti —yang telah lebih dahulu dijerat Komisi Pemberantasan Korupsi— bernyanyi pernah memberikan duit Rp 200 juta kepada Rio Capella. Fulus itu sebagai imbalan untuk mengatur kasus dana bantuan sosial (bansos) yang melibatkan Gatot di Kejaksaan Agung.

Ditemui Tempo di kantor NasDem pada Sabtu, 17 Oktober 2015, Ketua Umum NasDem Surya Paloh buka-bukaan soal kasus yang menerpa partainya. Dia juga bicara soal kedekatannya dengan Presiden Joko Widodo dan pengusaha asal Cina, Sam Pa.

Berikut wawancara selengkapnya.


Bagaimana tanggapan Anda soal kasus Rio Capella?

Menjawab pertanyaan tadi, suasana pasti prihatin. Aneh kalau saya bilang tidak prihatin. Sedih pasti. Bagaimana pun Patrice Rio Capella dalam kedudukannya sebagai Sekretaris Jenderal, usia juga belum terlalu tua, dan ada potensi diri yang saya lihat, dimiliki oleh yang bersangkutan. Walaupun saya sudah mengingatkan dia, ketika dia pertama sekali melaporkan kepada saya, dia diminta bersaksi, saya bilang saya berharap, hanya sebagai saksi. Tapi begitu you tidak lagi sebagai saksi, itu statusnya ditingkatkan, you tahu kan apa konsekuensinya? Rio bilang, saya tahu, Bang.

Ada dua pilihan, you mengundurkan diri atau you diberhentikan. Dan itu yang terjadi. Kurang dari waktu tiga jam KPK menetapkan dia sebagai tersangka, Rio datang kepada saya di sini. Dia bilang, saya sudah ngerti ini statusnya. Bang, dengan permohonan maaf, saya akan cari keadilan. Tapi yang kita sepakati, saya sudah ditetapkan sebagai tersangka, saya harus berhenti.

Sekecil apa pun kesalahan Rio, dia salah bila menurut kesepakatan ini. Kenapa saya katakan tadi salah, karena dia telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Kenapa? Karena kita dukung upaya-upaya pemberantasan korupsi penegakan hukum di negeri ini. KPK bagi Nasdem adalah satu-satunya institusi yang harus terus bergerak.

Patrice Rio Capella

Prosesnya cukup cepat ….

Setelah Rio mundur, kami press conference dan mengangkat pelaksana tugas sekretaris jenderal. Ibu Nining Indra Saleh, mantan Sekretaris Jenderal DPR. Jadi bukan juga orang baru. Saya pikir, ini orang tepat.

Dalam tempo tiga jam, Nasdem telah menetapkan tiga hal terhadap Rio: pemberhentian dia sebagai Sekjen, sebagai anggota DPR, dan sebagai anggota sekaligus. Nah, ini perlu digarisbawahi, saya rasa ini fenomena. Hak politiknya, hak hukumnya, sebenarnya masih ada. Bagi NasDem nggak ada urusan. Pokoknya jalan. Ini konsistensi, bukan kepura-puraan. Nah, ini telah kami letakkan upaya-upaya untuk menghargai kebijakan keputusan KPK.

Keputusannya sampai mencabut status keanggotaan Rio di NasDem ….

Dengan segala permohonan maaf, ini kesepakatan. Kenapa ada lembaga extraordinary KPK? Sebenarnya untuk apa KPK ada? Kan sudah ada dua lembaga penyidik kita, ada kepolisian ada kejaksaan. Kok tiba-tiba ada? Karena tuntutan situasional. Kita butuh lembaga penyidik yang lebih punya powerfull. Hadir itu KPK, sebagai lembaga extraordinary.

Kejadian ini juga spirit-nya, pengorbanannya NasDem adalah pendidikan politik. Tetapi orang tidak percaya, bisa saja dia menganggap kita berpura-pura, bahkan saya bisa dianggap jadi markus.

Jadi, memang membawa konsistensi, tantangan lebih besar. Nah inilah sumbangsih yang bisa diberikan oleh Rio. Dia harus hilang dari sini. Apa you pikir seorang Bang Surya dan kawan-kawan yang lebih 10 juta anggota NasDem ini nggak merasa sedih? Bahkan ada stasiun televisi kalau bisa bubar aja nih partai ini, bubar gara-gara kasus yang ini. Dakwaan kasusnya berapa sih?

Rp 200 juta .…

Nah, bukan billion. Itu ekuivalen US$ 15 ribu sampai US$ 16 ribu. Nggak lebih dari itu.


Apakah tidak melihat ada tebang pilih?

Nanti kalau saya bicara itu, dianggap NasDem bela diri. Seluruh kemurnian ini jadi rusak. Kalau Bang Surya ngomong kalian ini tebang pilih, itu ada kasus banyak di sana, bahkan jangan-jangan yang tersangka tapi belum kalian umumkan. Nanti kami disebut defensif.

Nah, terduduklah seorang Surya di sini. Dia merenung. Tapi satu yang saya mau yakinkan kalian. Saya modalnya adalah konsistensi dan kejujuran hati saya. Mau dipercaya atau tidak, cuma ini modal. Maka, saya ingin pergi ke kantor ICW (Indonesia Corruption Watch), berdialog dengan kawan-kawan ini. Dari pada saling mengkonstruksikan cara berpikir dengan negative imagination, negative perception, kenapa nggak kita duduk?

Nah, boleh tanya apa aja. Coba lihat dan kulitin. Dan kita dukung bersama bagaimana kegiatan pemberantasan korupsi dibuat di negeri ini. Nggak boleh ada sekat komunikasi jarak. Kalau sudah dengki, sirik, kebencian, bagaimana kita dialog?

Kenapa saya melakukan begini? Saya merasa nggak ada sesuatu yang perlu ditutupin. Itu dulu modal bagi NasDem.

Jadi penting untuk membuka dialog?

LSM-LSM ini penting. Kalau partai politik, memang partai politik sedang dilihat. Salah terima suap Rp 200 juta saja banyak tuduhan, lalu mau bubarkan partai politik katanya.


Betulkah pernah ada pertemuan di kantor NasDem dengan Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho?

Permintaan pertemuan itu inisiasi OC Kaligis. Kapasitas beliau sewaktu sebagai Ketua Mahkamah Partai. Beliau duduk di sini, saya berada di sini. Dia bilang, Pak Ketum saya mohon tolonglah menerima Bung Gatot, Gubernur Sumut. Masalah apa? Dia nggak cocok sama Erry (Tengku Erry Nuradi, Wakil Gubernur Sumatera Utara).

Itu tidak langsung saya respons. Sebulan kemudian baru saya terima dia. Saya terima saja dua-duanya. Kenapa? Saya ini macam kakak bagi mereka berdua. Gatot ini kader PKS. Erry itu dulu Golkar, terus ke NasDem. Ini, supaya kalian tahu dua-dua. Saya ini kakak mereka yang memang dibesarkan di daerah wilayah Sumatera Utara. Semua orang tahu.

Ketika mereka juga mencalonkan diri, saya dukung juga. Jadi kalau ada susahnya, ya saya ikut juga. Itu yang orang nggak paham. Mendukungnya sebagai apa? Waktu itu belum Partai NasDem, ormas saja. Gatot dan Erry nggak cocok, tidak harmonis dalam hubungannya, apa salahnya sih? Pertemuannya di meja sana. Siapa yang hadir? OC, Gatot, Erry, dan saya. Berarti empat orang, kan?


Tak ada Evy Susanti, istri muda Gatot?

Evy itu wajahnya aja belum saya lihat. Kamu lihat betul-betul, saya nggak pernah lihat. Saya nggak pernah dengar suaranya. Jadi suara saya nggak dengar, wajah saya nggak tahu. Di mana saja, kapan saja, pada siapa saja. Ini sungguh-sungguh.

Nah bagaimana rekonstruksi kejadiannya? Dalam pertemuan itu yang pasti OC tidak bicara, sama sekali nggak ada bicara. Saya bicara mendahului.

+ Gatot, apa kabar?
- Baik, Bang.
+ Sehat?
- Sehat
+ Kamu, Ry? Bagaimana kira-kira keadaan, silakan apa yang mau dibicarakan.
Ngomonglah dia. Basa-basinya, “Saya ini sudah menjabat gubernur ini ini. Hubungan saya dengan Bang Ery ini harusnya tidak apa-apa. Terasa memang kurang harmonislah bang. Saya merasa tidak seharusnya seperti ini.”

Intinya keluhan dia, yang tidak harmonis.

Evy Susanti, istri muda Gatot Pujo Nugroho.

Sekarang saya tanya Erry dong. “Ry, kalau kamu bagaimana?” Dia bilang, “saya juga begini, Bang. Sebagai wakil kan harapannya mendukung supaya kami ini bisa bersama dan ada pembagian tugas. Ini saya tidak dikasih tugas.”

Jadi, ini dua adik yang rupanya ada yang nggak pas satu sama lain. Jadi saya bilang, bagaimana kalian akan memimpin daerah itu untuk maju, kalau sinergi aja di antara kalian berdua itu tidak bagus. Yang rugi ini bukan kalian berdua, yang rugi ini seluruh rakyat Sumatera Utara itu. Sebagai kakak, saya hanya minta satu, kasihlah kebanggaan saya: kalian sukses memimpin daerah.

Pembicaraan itu nggak lama, 15 menit. Selesai, tidak pernah ada telepon lanjutan. Apalagi yang bilang dikaitkan dengan Jaksa Agung. Tanggung, kenapa nggak Presiden? Orang nggak tahu saya bisa telepon Presiden. Kenapa saya harus telepon Jaksa Agung? Saya bisa telepon, kalian boleh rekam. Pasti saya bisa telepon, “Bapak Presiden, apa kabar? Sehat, Pak? Ini Bung Surya.” Saya yakin telepon saya diterima, saya yakin. Masak saya bohong?

Gatot Pujo Nugroho dan Tengku Ery Nuradi.

Anda mengontak Jaksa Agung?

Kenapa mesti Jaksa Agung? Apa motivasinya? Satu, kalau dikaitkan dengan materi, kan kalau membantu orang, kita ambil dua aja, ada materi dan non-materi. Materinya kira-kira, bukan saya sombong, Gatot mampu beri saya apa? Untuk seorang Surya, ketua partai ini. Insya Allah, mudah-mudahan, bukan takabur, tidak ada. Ini sejujur-jujurnya.

Kemudian non-materi, politik. Apa yang saya harapkan dari Gatot? Supaya popularitas NasDem ini hebat? Supaya saya dikenang hebat? Atau supaya hebat sekali? Kadang-kadang barangkali orang jangan-jangan berpikir, ini hebat sekali membantu PKS. Nggak ada juga. Jadi kalau yang namanya pertemuan itu, ada. Kan sudah pasti, nggak terbantahkan dari awal. Siapa yang hadir saya sudah ceritakan, isi konten.

Nah pertanyaan berikutnya, ada nggak satu kalimat pun, baik yang diutarakan oleh Erry atau Gatot atau saya, “Ini kami sedang berperkara, tolonglah. Bang, tolong bantu.” Nggak ada satu kalimat pun.

Jadi ending pertemuannya, “Baik-baik kalian bekerja berdua,” selesai. Saya yakin BAP-nya juga begitu. Insya Allah begitu. Kalau nggak, itu lucu sekali. Ya di BAP kalau bilang nggak ada pertemuan, bohong dong. Memang ada.

Tapi konten, substansi, isi, pertemuan apa? Terus di mana kaidah yang terlanggar? Jangankan hukum, etik apa yang terlanggar? Menerima kedatangan gubernur dan wakil gubernur. Saya terima di sini, mulai dari orang awam, para kader, pimpinan partai, presiden, saya terima di sini. Pejabat dalam dan luar negeri kepala negara saya terima di sini.


Anda siap diperiksa KPK untuk menjelaskan hal itu?
Nah, inilah yang sekarang menjadi konsumsi publik. Dunia akan runtuh kalau pertemuan itu tidak terbongkar dan Bung Surya tidak dipanggil sebagai saksi oleh KPK. Saya pikir KPK emangnya goblok? Mau memaksakan, apa, memanggil-memanggil saksi? Boleh saya katakan, tidak akan sedangkal itu. Jadi harus ada reason (alasan), ada dasar hukumnya. Ada ini-itu kalau kita memang percaya pada KPK. Saya percaya kepada KPK.

Uang Rp 200 juta buat Rio itu katanya sebagai uang muka .…
Jangan kamu tanya sama saya kenapa, uang apa. Jangan-jangan ini uang sunat yang lupa bayar. Yang pasti uangnya 200 juta perak. Mana tahu dia punya utang sunat belum bayar, atau apa. Kamu tahu siapa yang kasih duit itu? Yang saya dengar yang kasih itu namanya Sisca? Siapa Sisca itu? Kawan lama atau bekas pacar, nggak tahu kita. Di mana kerjanya? Di OC Kaligis. Kantornya situ. Ini ada apa anak satu ini, kan begitu ceritanya. Kita nggak tahu, saya nggak mencampuri urusan privasi dia. Tapi, saya rasa, nggak harus runtuh negeri ini dengan urusan itu.

Cerita Rio tentang uang itu?

Rio sama saya nggak ada sembunyi-sembunyi. Nggak ada tuh protes protes. Uang juga sudah dibalikin. Di atas tiga puluh hari kan gratifikasi. Tapi kenapa lebih lama itulah pertanyaannya.

Kalau dari sisi kalkulasi politik, sebenarnya kan di Sumut lebih untung kalau…
Bagaimana kita harus bergembira atau menikmati sesuatu di atas kesedihan orang lain, musibah, siapa pun itu. Jangankan kawan, rasanya musibah orang yang tidak kita kenal, itu pun tidak pantas kita bergembira. Cobaan ini bagi Nasdem tidak ringan.


Partai lain menghubungi aparat penegak hukum. Kalau NasDem?

Kalau mau jujur saya kenal dengan penegak hukum kok. Ada nggak Pak Surya itu telepon. Saya tidak pernah. Apa Bang Surya nggak kenal. Kalau saya bilang nggak, saya bohong dong. Coba tanya ada gak yang dilobi. KPK yang menetapkan sekjen NasDem ada nggak dihubungi. Partai lain mungkin iya. Coba kalian lihat partai kecil ini bikin rusuh terus.

NasDem kehilangan orang di partai. OC Kaligis, Rio .…

Saya prihatin. Kita mau kejar ‘shirotol mustaqim,’ tapi jangan berkata berat cobaan. Itu doa saya. Kemampuan saya. Ini saya ceritakan apa adanya. Saya minta jangan berat-berat.

Ada konspirasi?
Abang bisa lihat dari ini. Itu tugas kalian untuk mencari itu. Ini mudah-mudahan jadi pembelajaran bagi partai NasDem partai kecil ini. Siapapun bisa datang dan pergi, tapi partai ini tetap pada komitmennya.

Ke ICW itu Anda mau melakukan apa?

Aku cuma mengundang ICW. Ada spirit yang mau kita bangun.


Reshuffle? Menteri NasDem Belum Luar Biasa

Soal kabinet, betulkah akan ada reshuffle lagi?

Semakin banyak reshuffle menunjukkan kondisi pemerintahan yang belum kondusif. Sedikit-sedikit reshuffle. Ini jadi excuse. Harus kita akui belum penuh namun sebagian besar sudah ke arah positif. Lihat saja sekarang stabilitas makro ekonomi kita fluktuatif. Tergerusnya devisa nasional. Tapi itu juga bukan hal yang terlalu ekstrem.

Presiden Jokowi sering berkonsultasi dengan Anda?

Tentunya ada pembicaraan ini. Tidak hanya ekonomi, kami membicarakan berbagai sektor. Kira-kira sekitar sebulan yang lalu.

Menurut Anda, reshuffle bagaimana?

Masyarakat tidak membutuhkan itu saat ini. Mungkin yang mereka butuhkan optimisme pemenuhan kebutuhan. Sandang pangan harga stabil. Syukur-syukur kebutuhan tercukupi. Itu basic need yang harus dipenuhi. Stabilitas ekonomi tercapai. Itu sensitif. Inilah yang harus dipikirkan presiden dan pemerintah.

Ya memang for what? Kalau ditanyakan pada saya. Nanti saya bilang begini, nanti dikira NasDem takut di-reshuffle. Serba salah. Nggak ada urusan mau reshuffle.

Termasuk polemik RUU KPK ada penundaan yang memakan energi juga. Jangan sembarang revisi tapi tidak berjalan baik. Yang dicari itu penguatan kok. Tapi institusi lainnya, jaksa dan polisi juga harus diperkuat. Ada lex specialis di KPK. Tapi kan memang KPK lahir dengan tujuan seperti itu. Muara penguatan ya negara. Jangan sampai ada institusi yang kuat tapi negaranya lemah. Untuk apa?


Kinerja menteri dari NasDem bagaimana?

Average belum terlalu luar biasa tapi tidak di bawah average. Karena ada proses learning by doing. Dilihat dari enam bulan pertama dan kedua berbeda. Biasalah belum pernah di kabinet. Uji coba dia duduk-duduk jadi menteri. Enam bulan kedua sudah mulai ada perbaikan. Tapi cobaan tidak gampang. Kita bisa lihat Bu Siti (Menteri Kehutanan) menengok El Nino. Hutan 70 juta hektare yang terbakar. Ini kurang tanggap. Matilah Siti kalau sendiri. Ini sepuluh Siti pun tidak akan mampu. Tapi yang penting bagaimana direction-nya jelas.

Kinerja Menteri Agraria Ferry Mursyidan Baldan?

Sudah membaik. Tampang saja kan menguntungkan. Ferry saya kenal sebagai pembuat UU. Dulu sebelum dilantik, saya selalu mengenalnya sebagai pembuat UU. Dia dulu aktif di prolegnas. Banyak UU yang rusak di buat Ferry. Banyak produk UU yang kurang sehat. Tapi relatif, yang penting mereka tetap menjaga komitmen. Rusak NasDem kalau hanya bergerak untuk partai. Makanya banyak yang kalah di MK. Itu karena produknya.

Jaksa Agung M. Prasetyo?

Seorang Prasetyo yang saya kenal kalem nggak kontroversial. Kalau cari yang kontroversial, cari yang dari LSM. Prasetyo ini kalem, Jawa lagi, bukan Sumatera. Kalau Batak mungkin beda. Tapi masak jaksanya Surya semua? Kalau mau cari yang sensasional atau yang banyak gebrakan jangan Prasetyo. Prasetyo itu kalem, tenang, dan hati-hati. Saya percaya akan membaik kariernya.


Impor Minyak Angola dan Penangkapan Sam Pa

Bagaimana tanggapan Anda atas penangkapan Sam Pa, rekan bisnis Anda di Cina?

Saya mendengar tapi yang saya tahu tidak seperti itu. Yang saya tahu tidak dalam …. Kondisi terakhir memang dia diminta memberikan supervisi dalam kasus besar, dalam hal ini Sinopec (perusahaan minyak dan gas asal Cina). Dia harus bisa memberikan penjelasan. Sejauh mana kerugian yang disebabkan Sinopec, terkait dengan memperkenalkan Sinopec berinvestasi di Afrika. Tidak seperti yang dibilang Financial Times. Tapi Amerika Serikat melihat Sam Pa ini unik sekali. Dia banyak berdiplomasi termasuk ke Afrika. Networking dia luas, jadi memang sensasional.

Anda terganggu penangkapan Sam Pa?

Insya Allah, enggak ada. Kan dia bukan CEO. Dia pokoknya tokoh. Kan kita tidak pakai uang dalam negeri. Kalau bisa, teman seperti Sam Pa ini ada punya sepuluh. Capital inflow mengalir. Jangan mainin APBN. Banyak warga kita yang berinvestasi di luar.


Anda dekat sekali dengan Sam Pa?

Dulu pernah kalian taruh foto Abang jadi cover majalah Tempo. Presiden Jokowi sedang lemah, baru pakai networking dia. Undang Angola kurang dari 48 jam. Itu resmi itu. Enggak mungkin kalau enggak punya networking luas. Memang itu mengganggu urusan cucuruyut itu. Tapi enggak percaya. Dia kan networking besar. Enggak akan ganggu Indonesia.

(Majalah Tempo memberitakan bahwa Presiden Jokowi bermaksud mengimpor langsung minyak mentah dari Angola lewat China Sonangol. Sam Pa adalah orang di balik ini).

Hubungan Anda belakangan dengan Sam Pa?

Bertemu dua bulan lalu di singapura. Hubungan baik.


Ahok Itu Tegas, Penuh Imajinasi

Bagaimana dengan Ahok? NasDem akan mengusung Ahok dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017?

Ahok itu kontroversial, tapi dia cenderung lebih baik dan lebih baik. Dia punya poin positif. Sikap NasDem masih belum ada karena pilkada masih jauh. Tapi kita tahu Jakarta itu kompleks. Polusi udara kita terparah di dunia setelah Mumbai. Kemacetan bahkan sudah dianggap wajar. Tingkat toleransi kemacetan semakin tinggi. Kedisiplinan juga. Ahok itu tegas, penuh imajinasi.

Kriteria NasDem ada di Ahok?

Ada sebagian, tapi kan belum pasti. Sampai saat ini ada.

Calon wakil Ahok yang akan dipilih?

Nanti kami diskusikan dengan Tempo (tertawa). Kan, harus kompak semuanya biar mantap. Yang ingin kami tingkatkan adalah pembangunan dan kebanggaan sebagai orang Jakarta.

TEMPO.co.id
[wawancara-eksklusif-surya-paloh-blakblakan]
Sabtu, 24 Oktober 2015


Panas Dingin Partai Nasdem

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Jumat 23/10/2015, mendatangi Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjalani pemeriksaan. Pengusaha sekaligus pemimpin Media Group itu datangi KPK menyusul ditahannya politikus Nasdem, Patrice Rio Capella, oleh KPK pada hari yang sama (Jumat, 23 Oktober 2015).

Surya Paloh datang ke KPK untuk diperiksa sebagai saksi di dua kasus. “Saya jadi saksi untuk kasus Rio dan Gatot,” katanya di kantor KPK. Surya Paloh datang mengenakan kemeja putih dan jas hitam. Ia didampingi beberapa stafnya serta ketua DPP Partai Nasdem bidang hukum, Taufik Bashari.

Sebelumnya, Patrice Rio Capella ditahan KPK setelah menjadi tersangka penerima gratifikasi dalam penanganan perkara bantuan daerah, tunggakan dana bagi hasil, serta penyertaan modal sejumlah badan usaha milik daerah (BUMD) Sumatera Utara di Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Agung. Ini merupakan pengembangan kasus yang menjerat Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan istri mudanya, Evy Susanti. Gatot dan Evy juga telah ditetapkan sebagai tersangka atas kasus gratifikasi ini. KPK menjerat Gatot dan Evy sebagai pemberi duit Rp 200 juta kepada Rio.


Patrice Rio Capella resmi ditahan hari ini, Jumat, 23 Oktober 2015. Dia keluar dari gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, dengan mengenakan baju tahanan KPK berwarna oranye.

Saat dibawa menuju mobil KPK, Rio tak bicara sepatah kata pun, walau diberondong pertanyaan puluhan wartawan. Rio Capella ditahan di rumah tahanan KPK yang berada di dalam Kompleks Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Rio menjalani masa penahanan 20 hari pertama.

TEMPO.co.id
Jum'at, 23 Oktober 2015