Showing posts with label Senjata. Show all posts
Showing posts with label Senjata. Show all posts

Tuesday, February 9, 2010

China Anggap Penjualan Senjata AS ke Taiwan Pelanggaran


Menlu China Yang Jiechi mengatakan, Jumat (5/2/2010), penjualan senjata AS ke Taiwan merupakan pelanggaran atas standar hubungan internasional. Kebijakan "Abang Sam" itu akan memicu reaksi Beijing. "Ini tentu saja pelanggaran atas tata cara hubungan di antara negara-negara," kata Yang dalam pidato pembukaan Konferensi Keamanan Muenchen di kota Jerman selatan itu dengan menyatakan bahwa Taiwan "bagian dari China".


"Tentu saja pemerintah dan rakyat China harus bereaksi. Tak lebih dari hak kedaulatan kami untuk melakukan apa yang perlu ... saya kira rakyat dan pemerintah China di setiap wilayah akan merasa marah mengenai hal ini," ujar menteri itu menambahkan.

"Kami telah mendekati pihak AS dan membuat gambaran dengan sangat serius pada banyak kesempatan, tetapi AS masih meneruskan penjualan itu," katanya.


Menurut perjanjian yang menderakkan hubungan China-AS tersebut, Pentagon bulan lalu mengungkapkan paket senjata senilai 6,4 miliar dollar AS bagi Taiwan yang mencakup rudal Patriot, helikopter Black Hawk, dan kapal pencari ranjau.

Beijing telah dibuat marah oleh perjanjian itu dan oleh prospek kunjungan Dalai Lama ke Gedung Putih, akhir bulan ini.


Menlu Yang menyatakan bahwa dalam perjanjian yang ditandatangani antara Washington dan Beijing, 1982, AS berjanji untuk mengurangi penjualan senjatanya ke Taiwan. "Saya sangat mengharapkan AS akan mengubah kelakuannya dalam penjualan senjata dan akan mematuhi komunike 17 Agutsus serta menghentikan penjualan senjata ke Taiwan," tegas menteri itu.


Konferensi Keamanan Muenchen selama tiga hari, yang akan berlangsung hingga Minggu (7/2/2010), itu melibatkan sekitar 300 tokoh militer, diplomatik, dan politik. Untuk pertama kalinya bahwa seorang menteri luar negeri China hadir.

KOMPAS.com, 6 Februari 2010
http://internasional.kompas.com/read/2010/02/06/10111396/China.Anggap.Penjualan.Senjata.AS.ke.Taiwan.Pelanggaran.

Hubungan China-AS Memanas


Penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan yang bernilai miliaran dollar AS menimbulkan ketegangan baru dalam hubungan AS dengan China.

Media massa China mengecam paket penjualan senjata senilai 6,4 miliar dollar AS itu. Penjualan senjata ke Taiwan dinilai dapat membahayakan keamanan nasional China. Bagaimanapun Taiwan di mata China Daratan merupakan salah satu provinsinya yang membangkang.

Sebaliknya AS melihat Taiwan terlepas dari China. AS berargumen, penjualan senjata itu untuk kepentingan pertahanan diri Taiwan, sekaligus memperkuat daya tawar menghadapi ancaman China Daratan.


Dampak paket penjualan senjata itu tidak hanya menimbulkan ketegangan AS-China, tetapi juga ketegangan China Daratan dengan Taiwan. Hubungan kedua China yang relatif tenang belakangan ini kembali memanas.

Ketegangan AS-China akibat penjualan senjata ke Taiwan menggambarkan lagi pasang surut hubungan kedua negara raksasa itu. Sesungguhnya tidak terlalu gampang menggambarkan kompleksitas hubungan kedua negara.

Pada permukaan, hubungan AS-China terkesan cenderung membaik. Kerja sama dalam bidang perdagangan dan ekonomi terlihat semakin erat. Namun, pada level yang lebih dalam, hubungan kedua negara raksasa itu sebenarnya penuh pertarungan keras, yang digerakkan oleh perbedaan kepentingan ekonomi dan politik di panggung regional ataupun global.


Kasus penjualan senjata ke Taiwan hanya menambah rangkaian ketegangan bilateral meski baru pertama di bawah pemerintahan Presiden AS Barack Obama. Ketegangan sudah lama berlangsung terkait keluhan AS menyangkut nilai tukar mata uang China yang terlalu rendah, proteksionisme perdagangan, kebebasan internet, dan kasus Tibet.

Di sisi lain, tak terelakkan, China tampil sebagai raksasa baru dalam bidang ekonomi yang terus membayangi kekuatan AS pada tingkat kawasan ataupun global. Sudah disebut-sebut, China paling lama tahun 2050 akan mengambil posisi AS sebagai kekuatan ekonomi nomor satu dunia. Tanda-tandanya mulai kelihatan jelas.


China terus menikmati tingkat pertumbuhan ekonomi mengesankan, sementara banyak negara di dunia, termasuk AS, terseok-seok oleh krisis keuangan global yang berawal di AS. Sejak akhir tahun lalu, China mengambil posisi Jerman sebagai eksportir nomor satu dunia. Tidak lama lagi China akan mengambil alih posisi Jepang sebagai kekuatan ekonomi nomor dua dunia.

Kemajuan dan pengaruh China yang melesat tinggi sudah pasti mengganggu posisi AS sebagai negara adidaya. Ketegangan hubungan kedua negara dikhawatirkan pula akan memengaruhi stabilitas kerja sama ekonomi dan keamanan pada tingkat kawasan ataupun global.

Tajuk Rencana KOMPAS, 2 Februari 2010

Penjualan Senjata AS Kepada Taiwan Rugikan Hubungan Antara Tiongkok dan AS


Pemerintah AS baru-baru ini mengumumkan rencana untuk menjual senjata kepada Taiwan senilai 6,4 miliar dolar AS, tindakan tersebut tidak saja dengan kasar mengintervensi urusan dalam negeri Tiongkok, dengan serius mengancam keamanan negara Tiongkok, merugikan usaha penyatuan damai tanah air Tiongkok, tetapi juga akan dengan serius merugikan hubungan antara Tiongkok dan AS.


Sebagaimana diketahui, di dunia ini hanya ada satu Tiongkok, Taiwan adalah bagian dari wilayah Tiongkok. Masalah Taiwan menyangkut kepentingan inti Tiongkok, sementara juga merupakan masalah inti yang paling penting dan paling sensitif dalam hubungan antara Tiongkok dan AS. "Pernyataan Bersama Tiongkok-AS" yang diumumkan tahun lalu dengan tegas menunjukkan, "kedua pihak sependapat, menghormati kepentingan antara satu sama lain amat penting dalam menjamin sepenuhnya perkembangan mantap hubungan antara kedua negara." Tak lama lagi, pihak AS bahkan berencana menjual senjata kepada Taiwan dengan alasan apa yang disebut "Undang-Undang Hubungan Dengan Taiwan".


Pada kenyataannya, tindakan itu tak lain adalah versi terbaru strategi AS untuk "mengekang Tiongkok dengan masalah Taiwan". Sejak lama, AS menganggap dengan menggunakan masalah penjualan senjata dapat menyulut hubungan lintas Selat Taiwan, sementara membawa manfaat kepada pedagang senjata AS, khususnya di bawah latar belakang kekuatan nasional terpadu Tiongkok terus meningkat, daya pengaruh internasional semakin kuat, maka penjualan senjata kepada Taiwan menjadi "sebuah kartu kuat" AS untuk mengekang perkembangan Tiongkok.


Namun, kecenderungan umum hubungan antara Tiongkok dan AS dewasa ini adalah kerja sama, bukan konfrontasi, penjualan senjata kepada Taiwan telah membelakangi kecenderungan umum tersebut. Bagi pihak Tiongkok, keputusan salah pihak Amerika itu telah merusak arus perkembangan damai hubungan lintas Selat Taiwan, merugikan kepentingan keamanan nasional Tiongkok dan usaha penyatuan damai tanah air dan juga merugikan perasaan nasional rakyat Tiongkok.


Pada hari kedua setelah AS mengumumkan penjualan senjata kepada Taiwan, Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Kementerian Pertahanan Tiongkok dan badan lainnya berturut-turut menyatakan kemarahan dan protes keras, sementara mengumumkan empat langkah anti pengekangan, termasuk untuk sementara menghentikan kunjungan timbal balik terkait yang direncanakan antara tentara kedua negara, menunda sebagian program pertukaran antara tentara kedua negara, menunda konsultasi tingkat wakil menteri yang diadakan dalam waktu dekat mengenai keamanan strategis, pengontrolan persenjataan dan non proliferasi dan mengenakan sanksi terhadap perusahaan AS yang menjual senjata kepada Taiwan.


Langkah pihak Tiongkok itu justru dengan tindakan nyata menyatakan pendirian tegas pihak Tiongkok untuk memelihara kedaulatan, kemerdekaan dan keamanan negara. Perbuatan AS untuk menjual senjata kepada Taiwan membawa dampak serius bagi pertukaraan militer antara kedua negara yang baru saja dipulihkan, sehingga merugikan kerja sama antara kedua pihak di berbagai bidang dan merugikan situasi perkembangan hubungan antara kedua negara.


Sementara itu, penjualan senjata AS kepada Taiwan juga dengan serius merugikan citra dan kepentingannya diri sendiri. Sebagai negara berkembang, Tiongkok untuk pertama kali mengenakan sanksi terhadap perusahaan Amerika karena masalah penjualan senjata. Diberitakan, yang mendapat daftar pesanan penjualan senjata kepada Taiwan adalah sejumlah konglomerat persenjataan dan industri, sebagian besar di antaranya memiliki kepentingan bisnis di Tiongkok, apabila dicantumkan dalam daftar sanksi, mereka tidak saja akan mengalami kerugian besar dalam ekonomi, tetapi juga akan kehilangan kepercayaan Tiongkok.


Sebagai hubungan yang paling penting dalam konfigurasi dunia, kemajuan hubungan antara Tiongkok dan AS akan membawa manfaat kepada rakyat kedua negara bahkan kepada seluruh dunia, sebaliknya akan merugikan kepentingan rakyat kedua negara bahkan melibatkan seluruh dunia. Ditinjau dari arti itu, penjualan senjata AS kepada Taiwan tidak sesuai dengan arus perkembangan damai masyarakat umat manusia.


Tiongkok selalu menjalankan kebijakan diplomatik yang damai, tidak ingin menyaksikan hubungan antara kedua negara mengalami kerusakan, akan tetapi, Tiongkok sekali-kali tak akan berkompromi dalam masalah pemiliharaan kedaulatan dan keutuhan wilayah yang menyangkut kepentingan inti. Untuk mendorong hubungan Tiongkok-AS berkembang dengan sehat, pihak Amerika harus segera menghentikan penjualan senjata kepada Taiwan.

CRI.cn, 2 Februari 2010
http://indonesian.cri.cn/201/2010/02/02/1s107570.htm

Sunday, September 28, 2008

Amerika Serikat Dorong Penjualan Senjata


Harian The New York Times, Minggu (14/9/2008), memaparkan rencana pemerintahan Presiden Amerika Serikat George W Bush mendorong lebih aktif penjualan persenjataan dan perlengkapan militer, seperti tank, helikopter, pesawat jet, kapal perang, pesawat tanpa awak, hingga peluru kendali.

Penjualan senjata itu dilaporkan terkait dengan perang di Irak dan Afganistan. AS berencana meningkatkan kekuatan yang ada di dua wilayah itu. AS mendorong pembelian senjata untuk tujuan militernya di luar negeri. Namun, AS juga berupaya mendorong penjualan senjata kepada negara lain.

Harian The New York Times juga mengungkapkan, senjata dan berbagai macam perlengkapan militer itu untuk mengantisipasi ancaman serangan dari Korea Utara dan Iran. Khusus untuk tahun ini, penjualan persenjataan dan perlengkapan militer yang lain buatan AS mencapai sekitar 32 miliar dollar AS, tahun 2005 penjualan mencapai 12 miliar dollar AS.

Penjualan senjata meluas
Selama ini fokus penjualan AS adalah ke Timur Tengah, kini meluas ke Afrika Utara, Asia, Amerika Latin, Kanada, dan Eropa. “Ini bukan perdagangan senjata ilegal, tetapi membangun dunia yang lebih aman,” sebut The Times yang mengutip komentar Wakil Komandan Angkatan Udara Bruce Lemkin.

Dua tahun terakhir Irak telah menyepakati pembelian lebih dari 3 miliar dollar AS dan akan membeli lagi perlengkapan militer hingga 7 miliar dollar AS. Dalam tiga tahun terakhir ini Pemerintah AS juga sepakat membeli senjata dan peralatan militer sekitar 10 miliar dollar AS terkait ketakutan pada Iran.

Departemen Pertahanan menyebutkan, Argentina, Brasil, India, Irak, Pakistan, Azerbaijan, Maroko, dan Georgia adalah pelanggan senjata AS yang baru. Uni Emirat Arab berencana membeli antirudal AS seharga 16 miliar dollar AS. Arab Saudi dan Israel -pelanggan tetap AS- juga meningkatkan pesanan. Ketua Komite Luar Negeri di DPR AS Howard Berman mengkhawatirkan peningkatan transaksi senjata justru mengancam perdamaian dunia.

KOMPAS, 15 September 2008