Showing posts with label JW Marriott. Show all posts
Showing posts with label JW Marriott. Show all posts

Monday, July 27, 2009

Pidato SBY Ekstrim Karena Terlalu Sedih


Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pasca bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton mengundang banyak kritik. Statemen yang ekstrim dan mengaitkan bom dengan Pilpres 2009 itu muncul karena SBY terlalu sedih.

"Secara psikologis, komunikasi orang yang terlalu senang atau terlalu sedih bisa melakukan kesalahan. Dalam konteks ini, pada saat pidato setelah pemboman, Pak SBY terlalu sedih," kata pengamat komunikasi politik Effendi Gazali.

Hal itu disampaikan Effendi dalam diskusi publik di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2009). Perasaan sedih SBY ini muncul karena bom meledak setelah Pilpres 2009 berlangsung dengan cukup aman. Kesedihan SBY juga terlihat dari gestur dan cara berbicara SBY saat berpidato.

"Ini bisa kita lihat dari gestur dan cara Pak SBY bicara yang agak terisak-isak," kata Effendi. Dalam kondisi ini, menurut Effendi, SBY seharusnya didampingi tim yang memberikan kekuatan untuk menghadapi masalah terorisme.

"Dalam jangka waktu satu-dua minggu setelah peledakan, seharusnya semua bersatu di belakang Presiden," tandas pengamat asal Universitas Indonesia (UI) ini.

Ayu Fritriana, detikNews, 22 Juli 2009

Saturday, July 25, 2009

Permadi: SBY Ditipu Bawahannya


Anggota Dewan Penasihat Partai Gerindra Permadi SH mengatakan bahwa SBY telah dikelirukan oleh bawahannya mengenai informasi ancaman terhadap dirinya. SBY sendiri, pascapeledakan di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, dalam pidatonya mengungkapkan temuan berupa foto-foto yang memperlihatkan SBY dijadikan sasaran tembak.

Oleh sejumlah kalangan, pidato tersebut ditengarai justru semakin memperkeruh suasana dan berpotensi menuding kelompok-kelompok tertentu terkait hasil pilpres.

"Kalo menurut saya SBY itu ditipu oleh bawahannya. Gambar yang ditunjukkan itu gambar yang pernah ditunjukkan pada Komisi I DPR empat tahun yang lalu. Itu waktu latihan masalah Poso," kata Permadi di sela-sela Rapimnas II Partai Gerindra di Hotel Millenium, Jakarta Pusat.

Ia menyarankan, sebaiknya SBY meminta maaf kepada publik atas pernyataan yang dinilainya tidak tepat tersebut. "SBY harus berani meminta maaf jika dia memang dikelirukan oleh bawahan-bawahannya," kata Permadi tanpa menjelaskan siapa yang dimaksud "bawahan" tersebut.

KOMPAS.com, 21 Juli 2009

Monday, July 20, 2009

Bom Meledak Saat Bos Tambang Sedang Rapat


Sejumlah petinggi perusahaan tambang menjadi korban

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro mengakui sejumlah bos tambang menjadi korban ledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta. Itu terjadi saat ada pertemuan beberapa petinggi perusahaan pertambangan dan perminyakan di JW Marriot.

"Saya dapat kontak, memang ada acara breakfast meeting beberapa CEO pertambangan dan perminyakan, kita memang mengalami musibah," katanya di Departemen Keuangan, Jumat 17 Juli 2009.

Salah satu yang meninggal adalah CEO PT Holcim Indonesia, Timothy Mackay. Holcim adalah salah satu perusahaan semen terbesar di Indonesia.


Sedangkan, sejumlah bos tambang juga menjadi korban peristiwa ini. Mereka adalah James Castle konsultan investasi tambang di Indonesia, Noke Kiroyan mantan Presdir PT Rio Tinto Indonesia, Kevin S Moore Presiden Direktur Husky, Gary Ford Presdir Anadarko, Dave Potter Direktur PT Freeport dan Adrianto Machribi Komisaris Freeport.

Kedua petinggi Freeport tersebut sudah dibawa ke rumah sakit Singapura untuk mendapatkan perawatan intensif. "Kami masih terus konfirmasi tentang status ini," kata dia.

Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan
VIVAnews, 17 Juli 2009

Pernyataan SBY Soal Pelaku Peledakan Bom


Assalamualaikum, Salam Sejahtera bagi kita semua,
Bismillahirrahmanirrahim al-hamdulillahi rabil 'alamin,

Saudara-saudara, rakyat Indonesia yang saya cintai dimanapun saudara berada. Hari ini adalah titik hitam dalam sejarah kita, terjadi lagi serangan atau pemboman yang dilakukan oleh kaum teroris di Jakarta. Aksi teror ini diperkirakan dilakukan oleh kelompok teroris meskipun belum tentu jaringan terorisme yang kita kenal selama ini terjadi di bumi Indonesia, yang menimbulkan derita dan kesulitan yang dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia.

Aksi yang tidak berperikemanusiaan ini, juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka bagi mereka yang tidak berdosa. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini atas nama negara dan pemerintahan dan selaku pribadi, maka bagi para keluarga yang ditinggalkan saya mengucapkan turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Semoga saudara-saudara kita yang menjadi korban, hidup tenang di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.

Saudara-saudara, aksi pemboman yang keji dan tidak berperikemanusiaan ini serta tidak bertanggungjawab ini, terjadi ketika baru saja bangsa Indonesia melakukan pemungutan suara dalam rangka pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, dan ketika KPU sedang menghitung hasil pemungutan suara itu. Kejadian ini yang sangat merusak keamanan dan kedamaian di negeri ini, juga terjadi ketika rakyat sungguh menginginkan suasana dan tempat yang aman, tenang dan damai, dan justru rakyat ingin agar selesainya pemilu 2009 ini kita semua segera bersatu, membangun kembali negara kita, untuk kepentingan rakyat Indonesia.


Terus terang juga, aksi pemboman ini terjadi ketika rakyat merasa prihatin atas kegaduhan politik di tingkat elit disertai sebagaimana yang saya ikuti setiap hari, ucapan-ucapan yang bernada menghasut dan terus memelihara suhu yang panas dan penuh dengan permusuhan yang itu sesungguhnya bukan menjadi harapan rakyat setelah mereka semua melaksanakan kewajiban demokrasinya beberapa saat yang lalu.

Saudara-saudara saya yakin, hampir semua diantara kita merasa prihatin, berduka, dan menangis dalam hati, seperti yang saya rasakan. Memang ada segelintir orang di negeri ini yang sekarang tertawa puas, bersorak dalam hati, disertai nafsu amarah dan keangkara murkaan. Mereka segelintir orang itu tidak memilki rasa kemanusiaan dan tidak peduli dengan kehancuran negara kita, akibat aksi teror ini yang dampaknya luas bagi ekonomi kita, iklim usaha kita, kepariwisataan kita, citra kita di mata dunia dan lain-lain lagi.


Saat ini saudara-saudara disamping kita pemerintah menjalankan kegiatan tanggap darurat untuk merawat saudara-saudara kita yang menjadi korban dalam aksi pemboman ini, investigasi juga tengah dilakukan. Saya telah menerima laporan awal dari investigasi yang sedang berlangsung ini. Setelah saya menerima laporan awal, saya telah menginstruksikan kepada Polri, Badan Intelejen Negara, dan lembaga-lembaga lain yang terkait untuk melakukan investigasi secara cepat dan menyeluruh serta mengadili pelaku-pelakunya, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Saya yakin sebagaimana yang dapat kita ungkapkan diwaktu yang lalu, para pelaku dan mereka-mereka yang menggerakkan aksi terorisme ini akan dapat kita tangkap dan akan kita adili secara hukum. Saya juga menginstruksikan kepada para penegak hukum untuk juga mengadili siapa saja yang terlibat dalam aksi terorisme ini, siapapun dia, apapun status dan latar belakang politiknya.


Pagi ini saya mendapat banyak sekali pertanyaan, atau saudara-saudara yang mengingatkan kepada saya. Yang berteori paling tidak mencemaskan, kalau aksi teror ini berkaitan dengan hasil pemilihan Presiden sekarang ini. Saya meresponnya sebagai berikut, bahwa kita tidak boleh main tuding dan main duga begitu saja, semua teori dan spekulasi harus bisa dibuktikan secara hukum. Negara kita adalah negara hukum dan negara demokrasi. Oleh karena itu norma hukum dan norma demokrasi harus betul-betul kita tegakkan. Bila seseorang bisa dibuktikan bersalah secara hukum, baru kita bisa mengatakan yang bersangkutan salah.


Saya harus mengatakan untuk yang pertama kalinya kepada rakyat Indonesia, bahwa dalam rangkaian pemilu legislatif dan pemilihan Presiden dan pemilihan Wakil Presiden tahun 2009 ini memang ada sejumlah (data) intelijen yang dapat dikumpulkan oleh pihak yang berwenang. Sekali lagi ini memang tidak pernah kita buka kepada umum, kepada publik, meskipun kita pantau dan kita ikuti. Intelijen yang saya maksud adalah adanya kegiatan kelompok teroris yang berlatih menembak dengan foto saya, foto SBY dijadikan sasaran, dijadikan lisan tembak.

Saya tunjukkan, ada rekaman videonya, ini mereka yang berlatih menembak (sambil menunjukkan foto-foto yang didapat dari badan intelijen). Dua orang menembak (dengan) pistol. Ini sasarannya, dan ini foto saya dengan perkenaan tembakan di wilayah muka saya, dan banyak lagi. Ini (data) intelijen, ada rekaman videonya, ada rekaman gambarnya, bukan fitnah bukan isu. Saya mendapatkan laporan ini beberapa saat yang lalu.

Masih berkaitan dengan intelijen, diketahui ada rencana untuk melakukan kekerasan dan tindakan melawan hukum berkaitan dengan hasil Pemilu. Ada pula rencana untuk pendudukan paksa KPU pada saat nanti hasil pemungutan suara diumumkan. Ada pernyataan akan ada revolusi jika SBY menang, ini intelijen bukan rumor bukan isu, bukan gosip. Ada pernyataan kita bikin Indonesia seperti Iran. Dan yang terakhir ada pernyataan, bagaimanapun juga SBY tidak boleh dan tidak bisa dilantik. Saudara bisa menafsirkan apa arti ancaman seperti itu.


Dan puluhan intelijen lain yang sekarang berada di pihak yang berwenang, tadi pagi terus terang sebagaimana kebiasaan saya, saya ingin langsung datang ke lokasi. Tapi, Kapolri dan semua pihak menyarankan jangan dulu, karena memang belum steril, masih dibersihkan, masih disisir dan ancaman setiap saat bisa datang, apalagi dengan contoh yang saya sampaikan tadi, ancaman fisik. Tetapi tentu hidup dan mati tentu di tangan Allah SWT, tidak boleh terhalang untuk menjalankan tugas saya, untuk rakyat untuk negara ini. Dan karena pengamanan Presiden itu berada di pundak TNI saya yakin TNI telah mengambil langkah-langkah seperlunya.

Terhadap semua intelijen itu saudara-saudara, apakah terkait dengan aksi pemboman hari ini atau tidak terkait, saya menginstruksikan kepada semua jajaran penegak hukum untuk menjalankan tugasnya dengan benar, objektif tegas dan dapat dipertanggungjawabkan, dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. Andaikata tidak terkait ancaman-ancaman yang tadi itu, dengan aksi pemboman hari ini, tetaplah harus dicegah, harus dihentikan, karena anarki, tindakan kekerasan, pengrusakan, tindakan melawan hukum bukan karakter demokrasi, bukan karakter negara hukum. Sangat jelas, atas semuanya ini, saya selaku kepala negara dan kepala pemerintahan, mengutuk keras aksi teror yang keji ini, saya juga sangat-sangat prihatin dengan kejadian ini.

Barangkali atau biasanya dalam keadaan seperti ini, banyak diantara kita yang kurang berani menyampaikan kecaman dan kutukannya, barangkali karena pertimbangan politik. Saya dengan bahasa terang harus menyampaikan seperti itu, karena demikian amanah saya sebagai Kepala Negara.

Mengapa saya sangat-sangat prihatin? Pertama, saudara tahu lima tahun terakhir ini perekonomian kita tumbuh dengan baik, dunia usaha, kepariwisataan, swasembada pangan, investasi, perdagangan, sektor riil semua bergerak, meskipun kita menghadapi krisis-krisis global yang datang silih berganti. Yang kedua satu minggu terakhir ini saja, nilai saham kita menguat tajam, nilai tukar rupiah juga menguat. Dengan ekonomi yang terus tumbuh, kesejahteraan rakyat kita sesungguhnya secara bertahap terus juga meningkat, termasuk dapat dilaksanakannya program-program penanggulangan kemiskinan, program-program pengurangan pengangguran atau yang sering saya sebut dengan program pro rakyat.


Semua itu terjadi saudara-saudara, karena tahun-tahun terakhir ini negara kita benar-benar aman dan damai. Sehingga disamping ekonomi tumbuh, rakyat kita di seluruh pelosok Tanah Air, bisa bekerja, bisa menjalani kehidupan sehari-harinya dengan tenang, bebas dari rasa ketakutan. Sementara itu citra kita di mata dunia tahun-tahun terakhir ini juga makin meningkat, karena dunia menilai negara kita makin aman, tertib dan damai. Negara kita memiliki kehidupan demokrasi yang makin mekar, serta penghormatan kepada Hak Azasi Manusia yang makin baik, negara yang ekonominya juga tumbuh, dan negara yang berperan dalam percaturan global. Bahkan, ini yang sangat memilukan, sebenarnya kalau tidak ada kejadian ini, klub sepakbola terkenal di dunia, Manchester United, berencana untuk bermain di Jakarta.

(kemudian SBY terdiam … beberapa saat ….)

Saudara-saudara dengan aksi-aksi teror yang keji dan tidak bertanggungjawab ini, apa yang kita bangun hampir lima tahun terakhir ini, oleh kerja keras dan tetesan keringat seluruh rakyat Indonesia, lagi-lagi harus mengalami goncangan dan kemunduran. Lagi-lagi dampak buruknya harus dipikul oleh seluruh rakyat Indonesia, minus mereka-mereka yang melakukan tindakan yang tidak bertanggungjawab itu.


Oleh karena itu, kebenaran dan keadilan, serta tegaknya hukum harus diwujudkan. Saya bersumpah, demi rakyat Indonesia yang sangat saya cintai, negara dan pemerintah akan melaksanakan tindakan yang tegas, tepat, dan benar terhadap pelaku pemboman ini, berikut otak dan penggeraknya ataupun kejahatan-kejahatan lain yang mungkin atau dapat terjadi di negeri kita sekarang ini.

Kepada Polri, TNI, BIN, termasuk para Gubernur, Bupati dan Walikota, saya minta untuk terus meningkatkan kewaspadaan, terus berusaha keras mencegah aksi-aksi teror. Dan kemudian yang lebih penting lagi, para penegak hukum harus betul-betul mencari, menangkap dan mengadili para pelaku, para penggerak, dan otak dibelakang kekerasan ini.

Barangkali ada diantara kita, yang diwaktu yang lalu melakukan kejahatan, membunuh, menghilangkan orang barangkali, dan para pelaku itu barangkali masih lolos dari jeratan hukum, kali ini negara tidak boleh membiarkan mereka menjadi drakula dan penyebar maut di negeri kita. Saya tahu selama lima tahun ini pihak kepolisian telah berkali-kali mencegah dan menggagalkan aksi terorisme. Telah bisa menyita bahan peledak yang siap diledakkan, sudah bisa membongkar beberapa jaringan, meskipun lolos hari ini, terjadilah musibah yang sangat merobek keamanan dan nama baik bangsa dan negara kita.

Agar tugas untuk mencegah dan memberantas terorisme ini serta kejahatan-kejahatan yang lain dapat dilaksanakan dengan baik, intelijen harus benar-benar tajam. Pencegahan harus benar-benar efektif. Polri, BIN, TNI harus benar-benar bersinergi. Sikap lengah dan menganggap ringan sesuatu harus dibuang jauh-jauh. Ini amanah kita kepada rakyat, kepada negara.


Kepada rakyat Indonesia seraya juga meningkatkan kewaspadaan tetaplah menjalankan profesi dan kehidupan saudara secara normal. Jika ada keganjilan, segera beritahu Polri. Jangan biarkan kaum teroris beserta otaknya berkeliaran di sekeliling saudara. Saudara pun bisa menjadi korban setiap saat manakala kaum teroris itu dibiarkan merancang lagi aksi-aksi terornya di negeri kita ini. Selanjutnya kedepan, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, seluruh komponen bangsa, untuk marilah kita lebih bersatu dan menjaga keamanan dan perdamaian di negeri ini.

Bangsa manapun, agama apapun, kita semua tidak membenarkan terorisme, apapun motif dan alasannya. Jangan ragu-ragu, jangan setengah hati, dan jangan takut, untuk mencegah dan memberantas terorisme. Sementara itu aksi teror yang terjadi hari ini jangan pula menghalangi semangat dan upaya kita untuk membangun dan memajukan negara kita ini. Kita terus berjuang dan membikin lebih baik, demokrasi dan penghormatan HAM lebih baik, penegakan hukum, pembangunan daerah, peningkatan kesejahteraan rakyat dan sebagainya.

Memang ada kerusakan akibat aksi terorisme hari ini, mari bersama-sama kita perbaiki dan kemudian mari kita terus bangkit dan maju kembali. Kita bangsa, negara, rakyat tidak boleh kalah dan menyerah kepada terorisme. Tidak boleh membiarkan kekerasan, ektrimitas dan kejahatan-kejahatan lain, terus tumbuh di negeri ini. Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT akan melindungi kehidupan bangsa Indonesia. Dan dengan memohon ridha Allah, SWT saya sampaikan kepada rakyat Indonesia, saya akan terus berada di depan, untuk menghadapi ancaman dan tangangan ini, serta untuk mengemban tugas yang berat namun mulia ini.

Demikian pernyataan saya, terimakasih.
Wassalamualaikum Wr Wb.

Bersatu Lawan Terorisme


Ledakan bom mengguncang Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta, Jumat (17/7) pukul 07.47 dan 07.57. Polri memastikan ledakan bom yang dikecam sejumlah kalangan dari dalam dan luar negeri adalah bom bunuh diri. Untuk menghadapi aksi terorisme dibutuhkan sikap kebersamaan dari segenap komponen bangsa.

Ledakan bom yang terjadi satu hari sebelum tim Manchester United menginap di Hotel Ritz-Carlton itu menewaskan 8 orang dan melukai 53 orang. Di antara orang yang menjadi korban adalah Timothy D Mackay (61) asal Selandia Baru (Presiden Direktur PT Holcim Indonesia). Dari olah tempat kejadian perkara dipastikan dua bom rakitan meledak dan satu bom aktif yang belum sempat diledakkan ditemukan di kamar 1808 Hotel Marriott.

Dalam jumpa pers di halaman Hotel Ritz-Carlton, Jumat malam, Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri menjelaskan, pelaku bom bunuh diri di Hotel Marriott dan Ritz-Carlton menginap terlebih dahulu di Marriott. ”Mereka menginap di kamar 1808 sejak 15 Juli dan menyiapkan bom bunuh diri di sana,” kata Bambang.

Kapolri menolak menjelaskan teroris berinisial ”N” yang memesan kamar di Hotel Marriott. Para teroris dijadwalkan keluar hotel tanggal 17 Juli.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna menambahkan, pelaku peledakan bom membawa tas laptop untuk menyembunyikan bom yang dibawa.


Ledakan di Marriott meninggalkan lubang seperti kawah di dalam ruangan megah antara lobi dan Restoran Syailendra. Dari lubang tersebut tercium bau amis meski polisi sudah menyiram air untuk membersihkan lokasi.

”Dipastikan low explosive dari analisis tempat kejadian perkara, yaitu dengan ditemukannya black powder. Dua ledakan masing-masing terjadi pukul 07.47 di Restoran Syailendra JW Marriott dan di Ritz-Carlton pukul 07.57. Ketepatan waktu terjadinya ledakan didapat dari analisis CCTV di setiap hotel,” kata Nanan.

Sebelumnya, Menko Politik Hukum dan Keamanan Widodo AS yang juga meninjau lokasi mengatakan ledakan berasal dari bom berdaya ledak tinggi (high explosive).

Nanan memastikan terdapat 61 korban ledakan, 8 di antaranya tewas dan 53 lainnya luka-luka. Korban tewas telah dipindahkan ke Rumah Sakit Polri Sukanto, Kramat Jati, Jakarta Timur. Korban luka dirawat di RS MMC, RS Medistra, RS Jakarta, dan RS Pusat Pertamina.


Presiden jenguk
Jumat siang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjenguk korban di RS MMC. Sebelum menjenguk korban, Presiden Yudhoyono menggelar jumpa pers di Istana Negara. Presiden mengemukakan, serangan teroris di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, merupakan titik hitam sejarah Indonesia. Presiden memperkirakan aksi teror belum tentu dilakukan kelompok jaringan terorisme selama ini.

Dalam bagian jumpa persnya itu, Presiden Yudhoyono juga sempat menyinggung soal pemilu presiden. Pernyataan Presiden itu kemudian mengundang tanggapan balik dari calon presiden lain.

Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, yang calon presiden, menegaskan, ledakan di Hotel Marriott dan Ritz-Carlton tak ada hubungannya dengan pelaksanaan pemilu presiden yang baru lalu. Apalagi dikaitkan dengan kegagalannya sebagai calon presiden bersama calon presiden lain, Megawati Soekarnoputri. ”Ah! Tidak ada itu. Jadi, dikira Ibu Megawati dan saya yang melakukan itu? Mohon maaf. Saya sama sekali tidak akan dan tidak pernah melakukan itu,” ujar Wapres berkali-kali.

Di tempat terpisah, Megawati meminta semua pihak tidak mempolitisasi dan memperkeruh suasana dengan mengaitkan peristiwa peledakan bom dengan proses dan hasil pemilu legislatif maupun pemilu presiden yang baru berlangsung. Ia mengingatkan pemerintah, dalam kondisi seperti ini seharusnya semua elemen bangsa bersatu padu melawan terorisme.


Prabowo Subianto yang melakukan konferensi pers, Jumat malam, karena baru tiba dari luar kota memberi penegasan senada. Menurut Prabowo, memang banyak yang kecewa dengan pemilu, tetapi mengaitkan rasa kekecewaan itu dengan peledakan bom adalah lompatan yang terlalu jauh. ”Tidak ada dari kubu Mega-Prabowo juga JK-Wiranto yang mengungkapkan kekecewaan dengan melakukan tindakan biadab ini,” ujarnya.

Menurut Prabowo, dalam menghadapi terorisme, semua pihak justru merapatkan barisan. Sebagai orang yang punya pengalaman di militer, dia pun siap membantu mengamankan negara. ”Saya pun siap menghadap Presiden. Dalam menghadapi terorisme, kita mendukung pemerintah,” ucapnya.


Teridentifikasi
Berdasarkan data dari Mabes Polri, korban tewas dipindahkan ke RS Polri Sukanto dalam 12 kantong mayat. Sebanyak enam jenazah dalam kondisi utuh, masing-masing dipisahkan dalam kantong mayat tersendiri. Dari hasil identifikasi tim forensik RS Polri Sukanto, menurut Bambang Hendarso Danuri, baru satu yang positif teridentifikasi, yaitu Timothy D Mackay.

Sementara itu, Perdana Menteri Australia Kevin Rudd mengkhawatirkan tiga warga negara Australia yang ikut menjadi korban. Mereka antara lain Nathan Verity (39) dan Garth Mc Evoy (40) (Commercial Manager PT Thiess).

Nanan Soekarna menambahkan, kejadian ledakan bom kedua kalinya di Marriott belum dipastikan akibat keteledoran sistem keamanan. Sementara Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar yang juga mendampingi Presiden di RS MMC mengakui pihaknya kecolongan sehingga terjadi ledakan bom tersebut. ”Bisa saja kau bilang begitu (kecolongan) karena tidak terdeteksi oleh kita (BIN),” ujar Syamsir. Namun, Syamsir berpendapat, soal kecolongan itu adalah hal yang bisa terjadi kapan saja, termasuk di Indonesia. ”Soal kebobolan kapan saja bisa, bukan negara kita saja. Superpower saja bisa kebobolan,” ujarnya. Meskipun menjamin keamanan pascaledakan, Syamsir mengakui, pihaknya masih mencium hal-hal yang mencurigakan. Namun, dia enggan mengungkap hal apa itu.


Suasana lapangan
Hingga Jumat sore, kerumunan orang, polisi, dan reporter dari sejumlah media massa lengkap dengan berbagai peralatan pengiriman berita masih terlihat di kawasan Mega Kuningan. Sebelumnya, beberapa saat setelah ledakan, ratusan karyawan hotel, apartemen, dan perkantoran yang beroperasi di Mega Kuningan diliburkan. Namun, sebagian karyawan tetap bertahan di sekitar lokasi ledakan. Masyarakat di sekitar Kuningan dan dari penjuru Jakarta juga mulai berdatangan.

Salah seorang korban, Bambang Trianto, mengalami shock lantaran dia pernah menjadi korban peristiwa serupa di Hotel Marriott tahun 2003. Hal itu dibenarkan juru bicara Yayasan Forum 58 -yayasan sosial yang menaungi korban peristiwa peledakan bom, yang pernah terjadi di sejumlah tempat di Indonesia hingga sekarang- Vivi Normasari, saat ditemui di RS Jakarta. ”Pak Bambang sebetulnya masih berobat jalan untuk menyembuhkan luka bakar di tubuhnya akibat ledakan bom di Hotel JW Marriott beberapa tahun lalu. Dia bekerja sebagai tenaga pengamanan di sana. Sekarang dia tidak mengalami luka fisik, hanya shock,” ujar Vivi.

Wardi, petugas keamanan yang berjaga tak jauh dari Hotel JW Marriott, mengatakan, sejak pagi hingga sore kemarin memang banyak orang yang menanyakan keberadaan keluarganya yang kebetulan bekerja atau sedang mengurus sesuatu di Mega Kuningan.

KOMPAS, 18 Juli 2009