Showing posts with label Ilmu Pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label Ilmu Pengetahuan. Show all posts

Monday, May 4, 2009

Epistemologi Buruh


“Ideology is indispensable in any society if men are to be formed, transformed and equipped to respond to the demands of their conditions of existence.”
— Louis Althusser

Kita bekerja tidak sekadar mencari nafkah. Tentu kita senang mendapat uang dari hasil kerja. Tapi ada bentuk lain, yakni memperjuangkan nilai-nilai yang lebih baik bagi diri kita dan orang lain. Tujuannya menciptakan kebahagiaan di dunia kerja. Kita menyebut setiap gagasan, harapan dan perbuatan menuju kondisi yang dinginkan sebagai ideologi.

Menurut sebagian orang, ideologi berkenaan dengan kumpulan ide atau gagasan. Kata Mazhab Frankfurt, ideologi adalah struktur pengetahuan yang punya solusi terhadap problem konkret yang dihadapinya. Menurut Jorge Larrain dalam The Concept of Ideology, ideologi merujuk pada sistem pendapat, nilai, dan pengetahuan yang berhubungan dengan kepentingan kelas tertentu yang cara berpikirnya mungkin berbeda-beda.

Ideologi dipahami pula sebagai visi yang komprehensif tentang segala sesuatu secara umum dan filosofis. Konsep ini ditransformasikan oleh kelas yang dominan kepada publik agar menjadi inti gerakan politik. Tujuan utama ideologi adalah tawaran perubahan melalui proses pemikiran normatif.

Dalam ringkasan lain, ideologi adalah struktur pengetahuan yang melahirkan sikap dan tindakan dalam menyikapi realitasnya. Problem tidak mesti terlihat secara kasat mata. Ia bisa berada di luar lingkungan sosial kita, melampaui dunia material kita, atau bahkan melingkari konsep kita sendiri.

Problem karyawan tidak mesti disebabkan oleh manajemen perusahaan. Bisa jadi oleh krisis ekonomi yang berada di luar kendali perusahaan. Bahkan mungkin saja ada suatu sistem yang membuat perusahaan dan karyawan tertindas bersama-sama.

Sebuah problem tidak mesti dirasakan dulu untuk disebut sebagai problem. Setiap orang yang hidup dalam realitas sosial pasti punya problem. Bahkan orang yang tidak punya problem pun punya problem. Problemnya adalah ’tidak punya problem’. Karyawan yang kesehariannya riang gembira bukan tidak punya problem. Ia punya problem, hanya saja ia tidak peka.

Fungsi ideologi mengkonstruksi semua problem manusia dan memecahkannya dalam praktik.

Memilih Ideologi
Ideologi bertumpu pada pengetahuan. Setiap manusia punya pengetahuan. Setidaknya pengetahuan tentang dirinya sendiri: dirinya adalah dirinya dan dirinya pasti bukan selain dirinya. Dalam filsafat Aristoteles, pengetahuan primordial ini disebut prinsip identitas. Kita bisa juga menyebutnya: kesadaran.

Setiap manusia punya ideologi. Apa pun profesinya. Supir, presiden, pelacur, pemulung, menteri, pengemis, polisi, pencopet, semua punya ideologi. Meskipun orang-orang itu tidak menyadarinya.

Ada kalangan yang menyanggah, “Saya sudah muak dengan ideologi. Itu masa lalu. Kita bicara yang konkret saja.” Alih-alih menetralisir ideologi, pernyataan tersebut mempertegas keniscayaan ideologi. Sang pemrotes sudah berideologi. Ideologinya: ’tanpa-ideologi’.

Mirip dengan ungkapan lain, “Saya bosan dengan aliran, golongan, atau mazhab. Saya tidak mau ikut-ikutan. Saya netral saja.” Ia memang tidak ikut aliran mainstream. Namun ia menyatakan alirannya ’netral’ atau ’tidak-bermazhab’. Bila ada dua aliran yang ia tolak, ia memilih membentuk atau berposisi di aliran ketiga.

Kesimpulannya, tidak ada orang yang bebas dari ideologi. Tidak ada pula orang yang bebas untuk tidak memilih. Bahkan, ’tidak memilih’ pun adalah sebuah pilihan. ’Memilih’, atau berkehendak, adalah sesuatu yang melekat pada diri setiap orang.

Pengetahuan, Pondasi Ideologi
Ideologi mempunyai tiga pondasi: gagasan, sikap, dan aksi. Konsep atau gagasan (knowledge) adalah tersingkapnya realitas tanpa keraguan. Konsep diperoleh dari interaksi subjek dengan objek melalui panca indera yang terverifikasi melalui akal rasional kita. Konsep-konsep yang terakumulasi sejenis dan terstruktur kita namakan ilmu pengetahuan.

Sikap adalah konsekuensi lanjut atau penilaian spontan atas pengetahuan yang kita terima. Jika kita tidak punya sikap, bisa dipastikan kita tidak punya pengetahuan. Sikap kita menentukan penilaian kita atas realitas yang kita tangkap. Dan penilaian kita menentukan kualitas diri kita.
Sedangkan perbuatan manusia sangat bergantung pada kesadarannya atas realitas. Karena kita makhluk sosial, maka tindakan kita harus mengarah pada pembaruan kehidupan sosial pula.

Misalnya, kita melihat sebuah buku. Otomatis kita punya konsep tentang buku. Pengetahuan tentang buku ini punya nilai kuat dan lemah, tergantung pada sejauh mana ’buku’ itu teruji keberadaannya. Informasi tentang buku lebih lemah nilainya daripada melihat buku, lebih lemah nilainya daripada memegang buku, lebih lemah nilainya daripada menggunakan buku, lebih lemah nilainya daripada mengetahui secara detil bagaimana sebuah buku itu dibuat.

Seperti halnya sebatang sumpit yang nampak bengkok saat dicelupkan ke segelas air. Setelah diraba, sumpit itu tidak benar-benar bengkok. Kita tahu, ada pembiasan cahaya atau penjelasan fisika lain. Sumpit bengkok hanya sebatas pemahaman saja. Dan pengetahuan yang kuat adalah sumpit tidak bengkok. Begitu seterusnya.

Kita hidup untuk mencari pengetahuan yang sebenar-benarnya, yang akan kita bela sampai mati. Kita tidak mau menerima pengetahuan yang belum teruji. Pengetahuan yang lemah hanya berfungsi sebagai informasi dalam benak kita. Tidak akan berpengaruh sedikitpun bagi diri kita. Sedangkan pengetahuan yang kuat akan mengoreksi pengetahuan sejenis yang lebih lemah. Pengetahuan itu akan memperkokoh pengetahuan sejenis yang sudah ada.

Buruh yang punya pengetahuan perburuhan yang utuh akan mengetahui segala konsekuensi perbuatannya. Ia akan lebih peka terhadap nasib buruh-buruh lain, terutama yang tertindas. Ia juga menyadari sistem perburuhan punya hubungan dengan sistem lain. Sebaliknya, buruh yang tidak punya pengetahuan perburuhan yang utuh tidak akan berani bertindak. Meskipun ia dizalimi. Ia lebih berpikir personal dan tidak peduli dunia lain.

Pengetahuan dan Keyakinan
Pengetahuan yang bernilai kuat akan menjadi keyakinan kita. Puncak keyakinan adalah keimanan. Misalnya, buku yang kita lihat, rasakan, gunakan, ketahui cara produksinya, akan menjadi iman kita setelah kita yakini betul keberadaannya.

Setiap manusia pada dasarnya telah beriman pada sesuatu, yakni pada objek pengetahuannya tersebut. Karena objek-objek di alam semesta ini tak terbatas –dari yang terindera hingga tidak terindera, dari yang kasat mata hingga batin— maka pengetahuan dan iman kita pun tidak terbatas. Perjalanan pengetahuan manusia beranjak dari sesuatu yang terbatas menuju objek pengetahuan yang tidak terbatas.


Kesadaran
Pengetahuan, keyakinan, keimanan adalah pondasi utama kesadaran (consciousness). Awal kesadaran berkenaan dengan pengetahuan primordial kita. Kita sadar: diri kita = diri kita; diri kita = bukan selain diri kita. Bila kita tidak menyadari kedirian kita, mustahil kita menyadari keberadaan yang lain. Kesadaran terkait erat dengan kontrol atau kewaspadaan.

Saat kita sadar berkendaraan, kita waspada terhadap kendaraan lain di sekeliling kita, lubang, rambu lalu lintas dan penyeberang jalan. Tapi bila kita tidak sadar, tertidur atau melamun, besar kemungkinan kita mendapatkan kecelakaan.

Misalnya, kita melihat sebuah buku di etalase. Tapi karena pikiran kita melayang entah ke mana, maka buku yang kita lihat tidak akan hadir di benak kesadaran. Mata kita bekerja normal, tapi tidak berfungsi sebagai indera penglihatan (baca; indera kesadaran).

Begitupun dengan posisi kita sebagai karyawan. Karyawan yang sadar adalah ia yang selalu awas dalam setiap berhubungan dengan perusahaan. Mulai saat perjanjian kerja dibuat, spesifikasi yang diberikan hingga beban pekerjaan tersebut. Ia tahu perusahaan selalu mencari celah untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari karyawannya. Sebaliknya, karyawan yang tidak sadar adalah karyawan yang menekankan standar abstrak terhadap perusahaannya. ”Ah, saya tidak masalah lembur tidak dibayar. Toh cuma beberapa jam saja.” Padahal perusahaan selalu menekankan standar konkret.

Dengan demikian, sungguh mengherankan ada orang-orang yang lebih suka menghilangkan kesadarannya dengan minum minuman keras atau memakai obat-obat terlarang. Alasan umumnya adalah melarikan diri dari problem hidup. Padahal masalah hidup tidak akan pernah hilang kecuali dihadapi dan diselesaikan hingga tuntas. Mabuk cuma menunda masalah. Setelah ia bangun tidur dan siuman kembali, problem itu pun datang kembali.

Batas Kesadaran
Semakin besar konsep yang kita miliki, semakin luas kemungkinan kesadaran kita. Setiap makna yang kita peroleh selalu kita kaitkan dengan realitas lain yang lebih besar, atau spesifik. Misalnya, rambut adalah medan kesadaran pencukur rambut. Bagi loper koran, rambut orang bukan wilayah kesadarannya. Ia hanya butuh pembeli koran.

Tidak heran, sebagian pemikir mengatakan bahwa diri kita terkait dengan pekerjaan kita. Apa yang kita kerjakan terkait erat dengan struktur pengetahuan yang melekat dalam diri kita. Ia dibentuk berdasar pengalaman dan pengetahuan yang terus menerus. Di alam ini selalu muncul dua kelas yang berlawanan. Satu sama lain bertarung memperebutkan hegemoni. Di luar itu semuanya adalah nonsens.

Sampai kapan pun perusahaan mengeksploitasi karyawan. Orang kaya pasti mencuri harta orang miskin. Negara pasti menindas warganya. Tidak ada dua kelas sosial yang berbeda bisa bekerja sama, kecuali salah satunya berhasil ditundukkan.

Tapi ada pandangan lain. Dikatakan, mereka yang menguasai dan memperluas kesadarannya tidak hanya pada kelas dan pekerjaannya semata, maka ia akan mempunyai penyikapan yang lebih utuh dan komprehensif. Semakin besar medan kesadaran kita, semakin luas makna kita tentang sebuah pekerjaan. Kita tidak dikungkung pada sejenis pekerjaan tertentu saja.

Bagi kalangan ini, pekerjaan hanyalah alat, bisa berganti atau berubah. Yang utama tetaplah ideologi atau tokoh di belakang pekerjaan tersebut. Tidak setiap perusahaan itu penjahat, tidak setiap orang kaya itu pencuri, dan tidak setiap negara itu penindas.

Tindakan
“Thinking is easy, acting is difficult, and to put one’s thoughts into action is the most difficult thing in the world.” (Berpikir itu mudah, berbuat itu sulit, dan yang paling sulit adalah menerapkan pikiran orang lain ke dalam tindakan di dunia ini)
–Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832).

Tiap orang punya motif. Meskipun jenis pekerjaan yang dilakukan sama, kualitas pekerjaan berbeda pada tiap-tiap orang. Dan titik tertinggi pekerjaan manusia adalah pada pengorbanannya untuk sesuatu di luar dirinya yang menurutnya lebih sempurna.

Ada orang yang bertindak sebagai reaksi atas apa yang dihadapinya. Ia lapar, karena itu ia bekerja.
Ada orang yang bertindak berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Ia mulai rajin menabung karena pernah menderita kesulitan keuangan.
Ada orang yang bertindak karena pengalaman orang lain. Ia rajin menabung karena meyakini hemat pangkal kaya.
Ada pula orang yang bertindak sebagai konsekuensi ideologinya. Ia hidup sederhana bukan karena tidak mampu membeli barang mewah. Tapi ia sisihkan sebagian pendapatannya untuk membantu orang-orang yang tidak mampu.

Ada lagi orang yang bertindak sebagai bentuk perlawanan. Ia bekerja bukan sekadar agar mampu membantu orang-orang yang kekurangan. Ia juga berupaya menyadarkan kelas mereka. Ia menyadari, kesusahan mereka dalam memperoleh pekerjaan, pendidikan dan kesehatan, dikarenakan sistem ekonomi pasar liberal.

Kita sebut contoh lain. Misalnya, mengapa kita bersusah payah demonstrasi perburuhan? Jawabannya bisa bermacam-macam, mulai dari yang praktis hingga yang normatif dan idealis.
Seorang demonstran buruh bisa berucap, ia turun ke jalan karena sudah capek hidup miskin. Bila demonstrasi tersebut berhasil dan upah buruh meningkat, ia berencana mengganti ponselnya dengan model terbaru, yang ada fitur kamera megapiksel, suara stereo, dan game menarik.

Buruh yang lain nyeletuk santai, lebih baik turun ke jalan daripada bengong di pabrik. Sesekali refreshing. Siapa tahu bisa disorot televisi.

Ada lagi yang bergerak sebagai bentuk solidaritas. Tidak enak bila ada demonstrasi buruh yang tidak kita ikuti karena status kita pun buruh.

Ada pula buruh yang beralasan, membiarkan sistem yang zalim adalah sama saja dengan menciptakan generasi budak. Dulu, katanya, kedua orangtuanya bukan buruh. Sekarang ia, anaknya, jadi buruh. Bagaimana jadinya bila sistem ini tidak diubah? Tentu nasib anak cucunya lebih mengenaskan lagi. Karena itulah ia melawan.

Tindakan bisa sama, tapi intensitas kepedulian dan pemahaman pada sumber masalah berbeda-beda.

Tanda Kepedulian
Lihatlah tayangan fauna di televisi. Demi sumber kehidupan baru, banyak kambing mati diterkam buaya saat menyeberang sungai. Adakah simpati dan keprihatinan dari sesama kambing yang masih hidup? Adakah kambing yatim piatu yang diurus kambing dewasa? Tidak ada. Mereka berjuang untuk tujuan masing-masing. Mereka bergabung dengan komunitas kambing lain bukan karena ada sebuah tujuan luhur, melainkan hanya ingin mencari keselamatan masing-masing.

Buruh yang melakukan demonstrasi demi menghindar dari kemiskinannya sendiri tidak bernilai apa-apa. Ia tidak ubahnya kambing yang mencari rumput hijau. Tindakan manusia tidak bernilai apa-apa bila tidak mempunyai struktur dan sistematika ideologi yang jelas dan argumentatif. Dan kualitas sebuah tindakan ditentukan pada sejauh mana kita berani menanggung risiko atas segala perjuangan kita.

Demonstrasi menentang PHK yang sewenang-wenang bisa bernilai rendah apabila hanya didasarkan pada sekadar ikut-ikutan. Ia bernilai tinggi ketika dilandaskan pada kesadaran nilai bahwa kesewenang-wenangan harus dilawan, tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah melakukan tindakan nyata? Apakah tujuan tindakan kita?

Ringkasan:
1. Konsepsi melahirkan kesadaran.
2. Kesadaran mengantarkan sikap.
3. Sikap menghasilkan tindakan.
4. Konsepsi tanpa kesadaran adalah khayalan.
5. Kesadaran tanpa penyikapan adalah wacana kosong.
6. Penyikapan tanpa tindakan tanda kepengecutan.
7. Tindakan tanpa kesadaran, kesia-siaan.
8. Tindakan yang benar pasti punya tujuan.

anditoaja.wordpress.com

Saturday, December 20, 2008

Makna Membangkitkan Minat Baca


HEBAT. Itu tanggapan atas berita bahwa Indonesia bisa menjadi model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Penilaian itu diberikan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Sejak 2007, buta aksara di Indonesia turun 1,7 juta orang, menjadi 10,1 juta. Sekitar 7 juta di antaranya perempuan. Sukses program pemberantasan buta aksara antara lain berkat dukungan 59 perguruan tinggi negeri dan swasta di berbagai daerah di Indonesia. Jendela dunia terbuka makin lebar bagi mereka yang melek aksara.

Namun, angka tadi tidak seiring dengan hasil survei UNESCO yang menunjukkan minat baca kita sangat rendah. Dua tahun lalu kita yang paling rendah di kawasan Asia. Sementara itu International Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN. Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United Nations Development Program (UNDP) menempatkan kita pada urutan rendah dalam hal pembangunan sumber daya manusia.

Kenyataan-kenyataan tadi membuktikan, melek aksara tidak menjamin peningkatan kemampuan maupun minat membaca. Kita perlu prihatin. Tanpa minat baca, dari mana kita bisa memperoleh ide-ide segar dan baru? Dilihat dari jumlah penduduk kita dan jumlah harian yang beredar tiap hari, persentase bacaan koran amat sangat kecil. Seputar 1%? UNESCO menetapkan, sebaiknya 10%.

Editorial Media Indonesia hari Senin lalu khusus membahas soal ini. Antara lain disebutkannya, kemajuan media elektronik salah satu faktor yang ikut menghambat lajunya minat baca. Memang masyarakat kita sejak dulu jauh lebih mengandalkan budaya lisan daripada tulisan. Masyarakat kita lebih suka menonton wayang, misalnya. Bahwa jumlah buku dalam bahasa-bahasa daerah tidak berarti, membenarkan asumsi tadi. Maka kita tidak terlalu kaget ketika melihat masyarakat kita sekarang jauh lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi daripada membaca. Gejala ini sebenarnya ada di semua negara, bergantung pada kelompok masyarakatnya, tontonannya, dan jenis bahan bacaan yang ada.

Tekanan sosial seharusnya ada pengaruhnya. Misalnya, apakah minat dan kemampuan membaca merupakan persyaratan bagi klasifikasi sosial masyarakat? Di tingkat bawah, orang-orang kita yang buta aksara, atau yang kemampuan membacanya kurang, lebih sulit mencari pekerjaan yang memadai jika dibandingkan dengan mereka yang lebih terdidik. Ini seharusnya mendorong masyarakat untuk belajar membaca lebih baik.

Lain situasinya dengan masyarakat di negara-negara maju. Membaca kelihatannya sudah menjadi bagian dari hidup. Membaca juga memberi hiburan. Sistem dan fasilitas dibangun untuk mendukungnya. Begitu bertimbun bacaan-bacaan yang padat makna sejarah, makna ilmiah, atau padat nilai-nilai kemanusiaan, moral dan spiritual, maupun hiburan, sehingga masyarakat tinggal memilih sesuai selera. Membaca sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

Alex Inkeles, profesor sosiologi emeritus pada Hoover Institut, Universitas Stanford, pernah mengatakan tujuan pokok pembangunan ekonomi adalah mengusahakan tercapainya taraf penghidupan yang layak bagi segenap rakyat. Namun, rasanya kita sepakat, kemajuan suatu bangsa tidak bisa hanya diukur dari GNP per kapita rakyatnya. Pembangunan juga mencakup ide mendewasakan kehidupan politik, seperti tercermin dalam proses pemerintahan yang stabil dan tertib, yang didukung kemauan rakyat banyak. Juga mencakup pendidikan yang menyeluruh bagi rakyat, termasuk pengembangan seni budaya, sarana komunikasi, dan penyuburan segala bentuk rekreasi. Kesimpulannya, pembangunan mensyaratkan perubahan sikap dan perilaku manusia. Perlu transformasi. Sarana paling ampuh untuk transformasi adalah komunikasi. Bacaan termasuk di dalamnya.

Sejauh ini kita terkesan bingung menghadapi ide transformasi. Wajar karena transformasi menuntut perubahan cara berpikir. Secara berangsur kita harus meninggalkan cara berpikir yang sudah mengendap lama dalam budaya kita dan sudah kedaluwarsa. Sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun. Meninggalkannya seperti meninggalkan prinsip-prinsip kehidupan asli kita. Tarik ulur pertentangan mengenai hal ini masih terjadi sampai sekarang. Dalam hal modernisasi, kita masyarakat heterogen.

Menurut Inkeles, ciri-ciri manusia modern ada dua; yang eksternal dan yang internal. Yang pertama berkaitan dengan lingkungan. Yang kedua tentang sikap, nilai-nilai, dan perasaan. Perubahan eksternal mudah dikenali. Urbanisasi, komunikasi massa, industrialisasi, kehidupan politik, dan pendidikan, semua itu gejala-gejala modernisasi.

Namun, sekalipun lingkungan telah modern, tidak dengan sendirinya kita menjadi manusia modern. Baru kalau kita berhasil mengubah cara berpikir kita, mengubah perasaan kita, mengubah perilaku kita, maka kita bisa menyebut diri manusia modern.

Ciri-ciri manusia modern adalah kalau dia bersedia membuka diri terhadap pengalaman baru, inovasi, dan perubahan. Maka jendela dunia akan terbuka. Itu semua bisa terjadi pada awalnya lewat bacaan karena manusia modern tidak hanya membatasi wawasannya pada lingkungan dekatnya, tetapi ingin melebarkan wawasannya ke cakrawala lain.

Permasalahannya sekarang, bagaimana meningkatkan minat baca, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas bahan-bahan bacaan sesuai kebutuhan masyarakat modern? Tentang buta aksara, kalau kita memang dianggap model untuk pemberantasan buta aksara, sistem yang ada tentunya akan kita teruskan. Kalau bisa, mempercepatnya. Kartini (1879-1904) sudah lebih dari seabad lalu berprakarsa mengajar membaca dan menulis kaumnya sekalipun dia sendiri hanya berpendidikan sekolah dasar. Sekarang masih ada 7 juta perempuan buta aksara. Fakta itu menyedihkan dan patut disesalkan. Kemungkinan mereka itu tinggal di desa-desa dan daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau.

Tentang kualitas dan kuantitas bahan bacaan, sebenarnya dua hal itu, dan minat baca, membentuk lingkaran setan. Minat baca bisa dibangkitkan oleh bahan bacaan yang bermutu dan/atau memikat. Kalau minat baca jumlahnya banyak, kuantitasnya menjadi banyak. Demikian seterusnya. Kualitas dan kuantitas buku yang mencukupi, dan harganya terjangkau, bisa menjauhkan masyarakat dari godaan-godaan hiburan lain yang tidak bermutu.

Bahwa masyarakat, dari anak-anak sampai orang tua, sering terpaku menonton televisi, boleh dikata sepanjang waktu luang mereka. Mungkin karena tidak ada hiburan lain, atau karena tidak ada keharusan bagi anak-anak untuk banyak membaca di rumah. Selain tidak ada keharusan bagi orang tua untuk memberikan teladan. Tentang keteladanan orang tua, Pustaka Publik di negeri Serawak, Malaysia, menyiasatinya dengan meminta kerja sama orang tua untuk menanamkan kebiasaan membaca. Orang tualah yang dipinjami buku. Dalam beberapa minggu, petugas Pustaka Publik datang kembali untuk mengganti buku-buku lama dengan yang baru.

Pengalaman itu disampaikan oleh perwakilan Malaysia ketika menghadiri seminar internasional Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) bertema Reading for all. Organisasi sosial GPMB berdiri Oktober 2001, diprakarsai antara lain oleh Perpustakaan Nasional RI dan Departemen Pendidikan Nasional. Dia berfungsi menjadi mitra kerja pemerintah pusat maupun daerah dalam usaha meningkatkan minat baca masyarakat. Namun, sekalipun sudah berdiri tujuh tahun, gaungnya tidak banyak kita dengar. Mungkin masyarakat juga tidak terlalu peduli kalau itu menyangkut minat baca.

Seminar Reading for all yang diselenggarakan dua tahun lalu, juga dihadiri wakil-wakil dari Jepang, Belanda, Australia, dan Singapura. Mereka sependapat bahwa meningkatkan minat baca bisa dilakukan dengan menumbuhkan kebiasaan membaca secara disiplin lewat jalur pendidikan formal. Pembicara dari Jepang, misalnya, mengatakan mereka sekarang memiliki prinsip; teman duduk terbaik adalah buku. Di mana-mana di tempat-tempat umum kita melihat mereka membaca. Kebiasaan itu terpelihara. Sekolah-sekolah di Jepang mewajibkan para siswa membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar. Metode pendidikannya dibuat sedemikian rupa sehingga para murid terdorong aktif membaca.

Tentang minat baca masyarakat Jepang yang tinggi, memang sudah sejak Restorasi Meiji lebih seabad lalu, Jepang memiliki tekad untuk mengejar kemajuan kebudayaan Barat. Sampai sekarang pun ribuan buku asing, terutama dari Amerika dan Eropa, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Seperti orang kehausan, mereka tidak henti-hentinya menimba ilmu dan pengetahuan lewat bacaan. Untuk penduduk sekitar 125 juta orang, di sana tiap harinya beredar puluhan juta eksemplar surat kabar, tiap bulannya beredar ratusan juta eksemplar majalah dan jenis terbitan serupa, dan tiap tahunnya dicetak lebih dari 1 miliar buku. Pemegang rekor dunia. Lebih dari 50% tenaga kerja menangani industri ilmu pengetahuan.

Ekspose para utusan luar negeri di seminar Reading for all itu menyemangati publik yang gemar membaca di Indonesia. Intinya mereka menegaskan, maju tidaknya minat baca masyarakat berkaitan erat dengan peningkatan kemajuan suatu masyarakat. Dan peningkatan minat baca yang paling efektif adalah yang melalui jalur pendidikan formal. Di Belanda, peningkatan minat baca disiasati dengan mengharuskan para siswa memperkaya pengetahuan dengan membaca, ditunjang sistem perpustakaan yang memenuhi kebutuhan mereka. Di Singapura, minat baca para siswa ditumbuhkan lewat kurikulum. Misalnya guru mengharuskan siswa menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan dukungan sebanyak mungkin buku. Di Australia, para siswa dibekali dengan semacam kartu untuk menuliskan judul buku yang dibaca. Catatan hasil membaca dan penilaian atas buku yang dibaca dilakukan setiap hari, sebelum kelas dimulai. Guru menyuruh setiap siswa menceritakan isi buku yang telah dibacanya. Sistem ini sekarang diberlakukan juga di sekolah-sekolah Indonesia yang berafiliasi dengan sekolah-sekolah Australia.

Untuk menunjang peningkatan minat baca, memang tidak akan cukup hanya dengan imbauan dan seruan. Banyak persoalan lebih gawat yang dihadapi masyarakat sehingga peningkatan minat baca dianggap bukan secara langsung menjadi tanggung jawab mereka. Karena itu kebijakan tersebut harus dijalin dalam sistem, khususnya dalam sistem pendidikan formal. Di luar itu, terbangunnya sistem dan fasilitas-fasilitas pendukung menjadi harapan banyak orang, termasuk pengadaan buku-buku bermutu yang harganya terjangkau dan jumlahnya mencukupi. Juga perpustakaan-perpustakaan yang jumlahnya memadai, untuk sekolah-sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi maupun perpustakaan-perpustakaan umum. Misalnya, selain yang milik pemerintah, akan sangat ideal kalau tiap RT, atau paling tidak tiap RW, berprakarsa membangun perpustakaan atau balai bacaan bagi warganya. Sejumlah budayawan aktivis telah melakukannya.

Semoga nanti kita bisa membuktikan, apa manfaat menggulirkan tradisi membaca bagi pembangunan manusia modern Indonesia untuk masa depan. Buku-buku bacaan anak-anak yang memuat dongeng-dongeng dan kisah-kisah menantang atau misterius, misalnya, bisa mengembangkan imajinasi anak Indonesia tanpa mengenal batas. Bila imajinasi mereka cukup kuat, tidak mungkin mereka akan meninggalkannya tanpa mencoba meraihnya. Begitu pula lewat bacaan, kita dengan rela akan meninggalkan pandangan-pandangan sempit yang tidak sesuai lagi dengan zamannya. Berbagai buku yang padat informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan serta pengalaman masyarakat dunia pada gilirannya nanti akan membuat kita ikut berpacu mengejar kemajuan yang juga dicoba diraih bangsa-bangsa lain.

Oleh Toeti Adhitama, Anggota Dewan Redaksi Media Group
mediaindonesia.com - 12 September 2008