Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Tuesday, October 21, 2025

Budaya Baca Bangun Otak Cerdas


Kemampuan membaca bukan bawaan lahir. Otak manusia tidak dirancang untuk itu. Kemampuan itu ialah penemuan budaya yang baru. Tidak ada jalan pintas membangun sirkuit membaca. Belajar membaca ialah rekayasa otak.

Di zaman AI ini, membaca semakin penting. Dunia baru saja merayakan Laszlo Krasznahorkai. Sastrawan Hongaria itu meraih Hadiah Nobel Sastra 2025.

Karyanya disebut 'visioner' dan 'mengukuhkan seni'. Karya tulis epik ialah buah dari tradisi membaca yang kuat. Sementara itu, kita masih menghadapi minat baca yang lemah dan rendah. Paradoks itu mengandung sebuah pelajaran berharga.

Laszlo Krasznahorkai, "Ahli Kiamat" Hongaria. Peraih Nobel Sastra 2025.

Membaca memaksa otak membangun jaringan saraf baru. Jaringan itu meminjam sistem bahasa lisan. Juga meminjam sistem penglihatan yang sudah ada. Proses itu mengubah struktur fisik otak kita. Area temporal superior memproses fonem. Area itu ialah unit suara terkecil dalam bahasa. Visual word form area (VWFA) mengenali huruf. Area itu hanya aktif pada orang yang bisa membaca. Itu membuktikan area tersebut dibentuk oleh pengalaman.

Pembaca pemula memulai dengan proses decoding. Mereka memetakan huruf ke suara yang sesuai. Lalu menggabungkan suara menjadi sebuah kata. Proses itu membutuhkan koordinasi visual yang baik. Juga membutuhkan koordinasi auditori dan kognitif. Latihan terus-menerus membuat mata lebih lancar. Perlahan pemrosesan kata menjadi otomatis. Tujuan akhirnya ialah pemahaman lancar tanpa hambatan.


Tantangan Literasi Kita
Data kemampuan baca kita dari PISA sangat memprihatinkan. Sekitar 70% siswa kesulitan memahami ide pokok teks. Mereka bisa membaca kata-kata dengan baik. Namun, sering kali mereka buta terhadap makna. Kondisi itu diperparah dengan harga buku yang mahal. Juga masih minimnya perpustakaan yang berkualitas.

Sementara itu, media digital ditengarai memperburuk keadaan. Konten instan menghambat kesadaran fonemik. Gerakan mata menjadi terputus-putus di layar. Hal itu mengganggu perkembangan VWFA di otak. Akibatnya fondasi neural tidak terbangun dengan kukuh. Pemahaman teks pun menjadi dangkal dan cepat lupa. Mereka hanya melihat cepat, lalu cepat lupa juga.

Padahal pada era kecerdasan artifisial (AI) ini, kemampuan membaca justru semakin krusial. Mesin AI bisa meniru hasil tulisan manusia. Namun, AI tidak bisa membangun sirkuit saraf manusia. Proses decoding dan memahami teks ialah latihan kognitif. Itu merupakan latihan terbaik bagi kecerdasan kita.


Membaca karya yang kompleks melatih ketahanan kognitif. Setiap kata yang dipahami akan memperkuat jalur saraf yang ada. Hal itu niscaya akan membangun kapasitas otak untuk berpikir yang kompleks. Kemampuan itulah yang akan menjadi 'kompas nalar' di era informasi. Kita harus tahu kapan tidak menggunakan AI. Kita juga perlu paham cara kerja dan bias di balik AI. Literasi AI tidak hanya bisa menggunakannya saja. Literasi sejati berarti mampu mengkritisi hasil dari AI.

Kemampuan AI membuat tulisan tidak serta merta meniadakan perlunya kemampuan manusia menulis. Dengan adanya AI, manusia justru harus memperkuat perlunya kemampuan menulis. Dengan demikian, kemampuan membaca pun menjadi semakin penting. AI membantu orang dengan keterampilan dasar. Namun, manfaat terbesar didapat orang berkemampuan tinggi. Sama dengan kalkulator, paling berguna bagi yang mahir berhitung.


Solusi Integratif
Kembali ke masalah mendasar, yaitu minat baca. Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan bersama. Pertama, pendekatan pengajaran membaca harus ilmiah. Pengajaran fonik sistematis sangat penting bagi tingkat dasar. Itu akan membangun kesadaran fonemik dasar decoding. Teks khusus perlu digunakan untuk melatih decoding. Latihan harus terus menerus dilakukan hingga prosesnya bisa berjalan otomatis. Langkah ini niscaya akan membentuk fondasi neural yang kukuh.

Kedua, gerakan perbanyak membaca buku fisik. Buku fisik mendukung fiksasi mata yang lebih stabil. Itu berbeda dengan layar digital yang penuh gangguan. Setiap halaman buku yang dibalik melatih sistem visual. Hal itu memfasilitasi pemahaman dan memori lebih baik. Otak menafsirkan teks cetak dan digital secara berbeda. Pemahaman mendalam sering kali lebih baik pada buku fisik. Membaca buku fisik juga memberikan pengalaman sensorial yang unik. Membaca buku fisik bisa menjadi bentuk digital detox sederhana. Ini adalah istirahat bagi mata dan otak kita dari paparan radiasi sinar digital.

Walaupun hanya di teras rumah, sudut kecil Library Corner ini adalah langkah jitu dalam upaya strategis membangun ekosistem literasi di lingkungan kita masing-masing.

Ketiga, ubah paradigma tentang kegiatan membaca. Membaca bukan lagi kewajiban dari sekolah semata. Membaca ialah kebutuhan jiwa dan investasi neural. Aktivitas membaca merupakan latihan otak untuk menghadapi dunia. Orang tua dan guru harus menjadi teladan hidup. Mari kita ciptakan lingkungan kaya bacaan di rumah masing-masing. Lingkungan itu harus mendukung aktivitas literasi.

Kekayaan cerita sejarah, fiksi, bahkan dongeng di Indonesia ialah modal yang amat berharga. Kita punya potensi lahirkan karya-karya yang visioner. Jadikan membaca sebagai fondasi untuk menghadapi tantangan hidup dan masa depan. Membaca memberi kita kekuatan untuk bertahan. Dengan fondasi yang kuat ini, semoga lahir aneka karya besar anak bangsa. Membaca ialah gerbang menuju bangsa yang pintar, budaya yang pandai dan peradaban yang cerdas. Itulah investasi terbaik untuk masa depan anak-cucu kita semua.

Ismunandar
Staf Ahli Menteri Kebudayaan,
Mantan Dubes/Wadetap RI UNESCO

Media Indonesia, 15 Oktober 2025

Wednesday, September 12, 2018

Berawal dari Perpustakaan Keluarga


Sebelum mampu membaca, ia lebih dulu mengamati benda-benda yang tertata di rak dalam rumahnya. Setiap saat, setiap kali bermain-main di dalam rumah, ia kerap berhenti di depan rak-rak itu: memandangi benda-benda di dalamnya yang ditata berjajar, atau kadang pula hanya ditumpuk begitu saja. Sebagai anak-anak, ia terpukau, lalu bergumam, “Benda apakah ini? Untuk apa benda-benda ini? Apakah benda-benda ini bisa dimakan?”

Bertahun-tahun kemudian, ia baru tahu bahwa benda-benda yang membuatnya terpukau di masa kecilnya dahulu bernama buku. Ketika mulai mengenal tulisan dan sedikit demi sedikit bisa membacanya, ia membuka buku-buku itu perlahan-lahan. Kadang, ia mengerti apa yang dibacanya, tetapi kadang pula dahinya mengernyit karena tak mampu mencerna apa yang tertulis pada halaman-halamannya yang, apabila dibuka, menguarkan aroma kertas yang khas. Dalam ketidakmengertian itu, ia hanya melihat ilustrasi-ilustrasi di dalamnya, yang kadang membuatnya merenung atau tersenyum. Apabila tidak, ia akan meletakkan buku itu begitu saja, lalu mengambil buku yang lain lagi.


Demikianlah, di usia kanak-kanak, ia sudah memiliki keterpukauan dan kekariban yang luar biasa pada makhluk bernama buku. Di rak berisi sekitar 1.500 buku koleksi ayahnya itulah, ia menghabiskan hampir sebagian besar masa kecilnya. Dari keterpukauan pada kata-kata dan kekariban pada aroma kertas yang khas pada setiap buku itu pula, kemudian ia belajar menulis dan bercita-cita menjadi seorang penulis.

Puluhan tahun kemudian, keterpukauan dan kekariban yang dirawatnya bertahun-tahun itu pun berbuah: ia diganjar penghargaan Nobel Sastra dunia pada tahun 2006 untuk novelnya, “Namaku Merah Kirmizi.” Ya, dialah Orhan Pamuk, salah satu sastrawan besar abad ini yang lahir di kota Istambul, Turki.

Orhan Pamuk mengisahkan pengalaman masa kecilnya bersama buku-buku koleksi sang ayah itu dengan menulis “Koper Milik Ayahku,” sebuah esai panjang, yang ia baca pada pidato penganugerahan nobelnya. Bagi Pamuk, perpustakaan keluarganya tersebut memiliki peran penting tidak hanya dalam membentuk karier kepenulisannya, tetapi juga membentuk pribadinya, membentuk cara pandangnya dalam menatap manusia, dunia, dan kehidupan.


Di negeri kita sendiri, dalam khazanah sastra Indonesia, kita mengenal nama Seno Gumira Ajidarma dan Acep Zamzam Noor. Pada sebuah ceramah tentang proses kreatifnya, Seno berkisah, sejak kecil, ia hampir tak pernah melihat dinding rumahnya. Sekujur dinding rumah Seno tertutup buku-buku yang jumlahnya ribuan milik ayah dan ibunya.

Kemudian, pada sebuah esai tentang proses kreatifnya, Acep Zamzam Noor menulis bahwa perkenalannya pertama kali dengan tulisan adalah melalui buku-buku dan koran koleksi ayahnya, juga majalah-majalah berbahasa Sunda koleksi ibunya. Kini, keduanya memetik hasil dari keakraban bersama buku, koran, dan majalah-majalah itu di masa kecilnya. Seno menjadi salah satu penulis cerpen dan novelis terkemuka di Indonesia, sedangkan Acep menjadi penyair, esais dan pelukis dengan karya-karya yang mengagumkan.

Selain Seno Gumira Ajidarma dan Acep Zamzam Noor yang mengawali titik proses kreatifnya melalui perpustakaan keluarga, kita juga mengenal Soekarno dan Abdurrahman Wahid. Soekarno kecil tumbuh dengan buku-buku dan koran-koran berbahasa Belanda milik Raden Soekemi Sosrodihardjo, ayahnya. Sementara Abdurrahman Wahid menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan buku-buku juga koran dan majalah milik KH Abdul Wachid Hasyim, bapaknya, yang juga salah satu tim perumus kemerdekaan Indonesia dan menteri agama pada era Soekarno.


Pemikir kritis
Dari perpustakaan Raden Soekemi itulah, Soekarno merintis jalan sebagai seorang pemikir yang kritis dan aktif dalam pergerakan nasional menentang kolonialisme. Dan, dari perpustakaan Kiai Wachid itu pula, Gus Dur merintis jalan hidupnya sebagai santri kelana hingga menjadikannya seorang maestro dalam pemikiran ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, juga pejuang kemanusiaan yang hingga kini mengharumkan bangsa Indonesia di seluruh dunia.

Bukan kebetulan kemudian apabila keduanya sama-sama menjadi presiden Republik Indonesia. Bung Karno menjadi presiden pertama, sedangkan Gus Dur menjadi presiden keempat. Tak hanya menjadi presiden, keduanya pun dikenal sebagai pemikir kebangsaan yang memiliki ide-ide brilian saat menjalankan roda pemerintahan negara. Kebijakan-kebijakan yang dibuat kedua presiden yang sama-sama pemikir ini tidak berangkat dari kehampaan, tetapi dari imajinasi yang orisinal dan mengagumkan tentang Indonesia masa depan. Imajinasi kreatif yang dimiliki keduanya tidak jatuh dari langit begitu saja, tetapi buah dari petualangan-petualangan mereka melalui bacaan-bacaan luas dari buku-buku, koran, dan majalah di masa kecilnya.

Betapa dahsyatnya manfaat perpustakaan keluarga terhadap perkembangan anak. Perpustakaan keluarga tidak hanya menjadi ruang tempat anggota keluarga menyimpan buku, koran, atau majalah yang sudah tidak dibaca, misalnya. Lebih dari sekadar itu, perpustakaan keluarga dapat menjadi ruang tempat anak-anak kita mengawali proses kreatif atau penjelajahan inteligensinya.

Patung Bung Karno sedang memegang buku.

Selain usia meniru, usia kanak-kanak juga merupakan masa-masa pertumbuhan yang dipenuhi rasa ingin tahu. Pada usia ini, anak-anak selalu ingin tahu pada benda-benda di hadapannya, atau penasaran pada apa pun yang ada di sekelilingnya. Berawal dari memandang, mengamati, menyentuh, memegang, lalu membuka-buka halaman demi halaman, anak mengawali perkenalannya dengan buku.

Perkenalan dengan buku di masa kanak-kanak semakin penting, terutama di zaman ini, zaman ketika gawai (gadjet) telah merebut hampir seluruh waktu manusia, termasuk anak-anak dan dunianya. Meski sama-sama bisa merebut perhatian atau menyedot konsentrasi anak, pengaruh buku dan gawai berbeda.

Saat berhadapan dengan buku, seorang anak akan dibawa pada petualangan dari tempat yang satu ke tempat lain, dari tokoh yang satu ke tokoh yang lain, dari karakter yang satu ke karakter yang lain, dalam sebuah dunia yang dibentangkan penulis ke hadapannya melalui kata demi kata. Petualangan bersama buku adalah sebuah petualangan membaca yang membuat anak berpikir kreatif dengan cara menyusun keping-keping imajinasinya; mereka-reka atau mempertanyakan apa yang dibacanya dengan nalar kritis; serta melatih kepekaannya pada kata, diksi, dan metafora. Kisah-kisah, dongeng, catatan perjalanan, atau apa pun yang termaktub dalam buku, niscaya akan melibatkan emosi, kognisi, dan inteligensi mereka secara aktif.


Untuk memiliki perpustakaan keluarga, tidak harus menunggu hingga memiliki koleksi sekitar 1.500 buku seperti Orhan Pamuk, atau memiliki ribuan buku yang memadati sekujur dinding rumah sebagaimana Seno Gumira Ajidarma. Perpustakaan keluarga dapat dimulai dari lima buku, sepuluh buku, dua puluh buku, hingga seterusnya. Yang terpenting bukan jumlah, melainkan bagaimana buku-buku itu ada di dalam rumah hingga merangsang keingintahuan anak dan mampu menyedot perhatiannya.

Perpustakaan keluarga juga dapat membantu perkembangan dan pelajaran anak pada satuan pendidikannya. Di sekolah, akan tampak berbeda antara anak yang memiliki perpustakaan keluarga dan yang tidak; antara anak yang menyukai buku dan yang tidak. Dengan demikian, menghadapi anak yang memiliki perpustakaan keluarga di rumahnya, posisi guru di sekolah tidak lagi sebagai sumber, tetapi sebagai partner yang menemani anak dalam memasuki dunia kreatif karena anak tersebut sudah memiliki bekal bacaan yang kaya.

Oleh karena begitu penting dan sangat bermanfaatnya perpustakaan keluarga, dalam hal ini ada dua pihak yang harus berperan aktif guna mewujudkannya. Pertama, orangtua. Orangtua perlu memiliki kesadaran betapa pentingnya buku atau bacaan-bacaan apa pun, seperti koran dan majalah, bagi anak. Dengan kesadaran ini, orangtua semestinya mulai mengumpulkan buku sedikit demi sedikit, lalu menatanya pada rak yang sudah dipersiapkan di dalam rumah.


Kedua, pemegang kebijakan. Pemegang kebijakan adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga dan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, perlu mengampanyekan dan menyosialisasikan program “satu rumah satu perpustakaan keluarga.” Perpustakaan keluarga, selain bisa menjadi ruang kreatif keluarga, juga dapat mendukung pendidikan anak di satuan pendidikan untuk mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang tidak hanya kondusif, tetapi juga kreatif-inovatif sebagai kunci keberhasilan pendidikan.

Membangun perpustakaan keluarga, menyediakan buku-buku dan bacaan bagi anak di dalam rumah, tidak untuk menjadikan anak kita sebagai sastrawan atau presiden. Menjadi sastrawan, presiden, atau menjadi apa pun, yang penting kelak ia menjadi anak yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Ahmadul Faqih Mahfudz,
Penulis Kebudayaan
KOMPAS, 24 Agustus 2018

Friday, September 5, 2014

Buku


David C. McClelland (1917-1998) adalah seorang psikolog sosial asal Amerika Serikat yang tertarik pada masalah-masalah pembangunan. McClelland mempertanyakan, mengapa ada bangsa-bangsa tertentu yang rakyatnya bekerja keras untuk maju, dan ada yang tidak. Dia membandingkan antara bangsa Inggris dan Spanyol, yang pada abad ke-16 merupakan dua negara raksasa yang kaya raya. Sejak saat itu, Inggris terus berkembang menjadi semakin besar. Namun Spanyol menurun menjadi negara lemah. Mengapa bisa terjadi demikian? Apa penyebab timbulnya ketimpangan kemajuan tersebut?

Berdasarkan tuturan Arief Budiman dalam buku Teori Pembangunan Dunia Ketiga (1995), setelah mencari beberapa aspek melalui penelitian dan pembuktian yang nyata, akhirnya McClelland menemukan jawabannya. Ternyata faktor penentu perbedaan itu terletak pada (buku) cerita dan dongeng anak-anak yang terdapat di kedua negeri tersebut. Kelihatannya, dongeng dan cerita anak-anak di Inggris pada awal abad ke-16 itu mengandung semacam virus yang menyebabkan pembacanya terjangkiti penyakit “butuh berprestasi” (need for achievement). Sedangkan cerita anak dan dongeng yang ada di Spanyol didominasi oleh cerita romantis, lagu-lagu melodramatis, dan tarian yang justru membuat penikmatnya lunak hati (lembek), dan meninabobokan.


McClelland juga mengumpulkan 1.300 cerita anak-anak di banyak negara dari era 1925 dan 1950. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa cerita anak-anak yang mengandung nilai achievement (hasrat berprestasi) yang tinggi pada suatu negeri selalu diikuti oleh adanya pertumbuhan yang tinggi pula pada negeri itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian. Penelitian McClelland menghasilkan satu kesimpulan: buku (bacaan) mempunyai kekuatan untuk mengubah seseorang.

Setelah keputusan Mahkamah Konstitusi, yang mengukuhkan pengusung revolusi mental Jokowi-JK menjadi Presiden-Wakil Presiden RI ke-7, jika merujuk pada hasil penelitian McClelland, maka salah satu strategi kebudayaan untuk melakukan revolusi mental adalah melalui buku.


Berdasarkan penelitian McClelland, perubahan mental di Spanyol dan Inggris membutuhkan waktu 25 tahun. Namun Jepang hanya memerlukan waktu “sangat singkat” untuk mengubah mental para generasi muda tentang sepak bola. Melalui penerbitan komik manga Captain Tsubasa yang untuk pertama kalinya terbit pada tahun 1994, pemerintah Jepang betul-betul melakukan revolusi mental. Hanya butuh waktu sewindu -terhitung dari pertama kali buku komik itu terbit- yakni pada 2002, berbagi bersama Korea Selatan, Jepang membuktikan mampu menjadi tuan rumah Piala Dunia sekaligus berhasil lolos ke babak kedua.

Pada titik kesadaran itu, kebijakan tentang perbukuan tidak bisa dianggap enteng dan sambil lalu begitu saja. Besar harapan saya, Jokowi memberi kesempatan kepada para stakeholder budaya baca, terutama yang diprakarsai oleh para penulis, penerbit, jurnalis, media massa, perguruan tinggi, dan para pegiat literasi, untuk bertemu dan secara khusus membahas hal-ihwal dunia buku, serta visi dunia penerbitan kita sebagai strategi kebudayaan dan “jalan cepat” menuju perubahan mental tersebut. Dan ini pula yang menjadi harapan para pengelola Taman Bacaan Masyarakat yang terlibat dalam Rembuk Budaya Baca di Yogyakarta pada 11-14 Agustus lalu.

Agus M Irkham,
Pegiat Literasi
KORAN TEMPO, 2 September 2014

Saturday, February 14, 2009

Dari Penguasa ke Peradaban

Ibnu Al-Nadim dalam kitabnya, Al-Fihrist, mengisahkan, suatu malam khalifah Al-Ma’mun (813-833) bermimpi melihat sosok berkulit putih kemerah-merahan, keningnya lebar, matanya biru, sikapnya gagah, sedang duduk di atas singgasana. Orang itu tidak lain adalah Aristoteles.

Percakapan yang berlangsung di antara mereka —dalam mimpi itu—memberi inspirasi kepada Al-Ma’mun untuk menyosialisasikan literatur Yunani di lingkungan akademinya. Setelah mengadakan hubungan surat-menyurat dengan penguasa Byzantium, Al-Ma’mun mengutus sebuah tim kerja ke Yunani. Tak lama berselang utusan itu kembali dengan membawa sejumlah buku untuk diterjemahkan.

Inilah awal mula gerakan penerjemahan di dunia Arab pada abad pertengahan. Langkah ini membuat akademi Bait Al-Hikmah (dar al-ilm)—yang dirintis Al-Ma’mun—semakin tersohor. Dalam kerja penerjemahan literatur Yunani, Al-Ma’mun mengundang para fisikawan, matematikawan, astronom, penyair, ahli hukum, ahli hadis dan mufasir dari berbagai penjuru.

Mereka diberi fasilitas dan perlindungan negara agar dapat mencurahkan seluruh perhatian pada pengembangan ilmu pengetahuan. Sir John Glubb dalam Moslem Heroes in The World—dikutip oleh M Atiqul Haque (1995)—mencatat bahwa Hunain Ibn Ashaq, seorang Kristiani, telah menerjemahkan karya-karya Aristoteles dan Plato dari karya-karya Hippocrates dan Galen dalam bidang fisika. Karya itu beberapa tahun kemudian menyebar sampai ke Eropa Barat melalui Sisilia dan Spanyol.

Setelah menjamurnya karya-karya terjemahan itu, semakin lengkaplah koleksi buku di perpustakaan akademi Bait Al-Hikmah. Sebagaimana dicatat juga oleh Al-Nadim, perpustakaan itu telah mempekerjakan sarjana-sarjana brilian, seperti Al-Kindi (801-873), filsuf Arab pertama yang juga banyak menerjemahkan karya-karya Aristoteles. Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi (775-835), matematikawan terkemuka, penemu Al-Jabar juga bekerja di perpustakaan ini. Selama masa tugasnya di perpustakaan itu, ia menulis karya monumental Kitab Al-Jabr wa Al-Muqabillah.

Para penguasa di kurun itu dinilai sebagai pribadi-pribadi yang memiliki perhatian penuh terhadap pertumbuhan ilmu pengetahuan. Ini dibuktikan dengan keterlibatan mereka secara langsung dalam membangun perpustakaan.

Pentingnya perpustakaan
Pada tahun 1065, perdana menteri pemerintahan Saljuk, Malik Shah—dalam sejarah dikenal dengan nama Nizam Al-Mulk—mendirikan perpustakaan Nizamiyah sebagai sentral penyimpanan buku-buku bagi kelangsungan aktivitas keilmuan di Madrasah Nizamiyah.

Menariknya, peningkatan jumlah koleksi di perpustakaan ini diselenggarakan dengan program wakaf besar-besaran. Ibn Al-Thir menyebutkan, Muhib Al-Din An-Najjar Al-Baghdadi mewakafkan koleksi pribadinya dalam jumlah relatif banyak. Khalifah An-Nashir juga ikut ambil bagian dalam program pewakafan tersebut.

Perpustakaan itu mempekerjakan pustakawan reguler sebagai karyawan yang digaji tinggi. Di antara pustakawan terkenal seperti Abu Zakariyyah Al-Tibrizi dan Yaqub Ibn Sulaiman Al-Askari bekerja di perpustakaan ini. Di sana pula Nizam Al-Mulk Al-Tusi (wafat 1092) menghabiskan sebagian besar waktunya dan menulis buku tentang hubungan internasional, Siyar Mulk yang terkenal itu. (Sardar, 2000).

Masih di kawasan Baghdad, pada tahun 1227, khalifah Muntasir Billah mendirikan sebuah perpustakaan megah guna memfasilitasi berbagai diskursus keilmuan di madrasah Musthansiriyah.

Pengeliling dunia Ibn Batutah menceritakan tentang Musthansiriyah dan perpustakaannya dengan jelas. Dikerahkan 150 unta untuk membawa buku-buku langka dari istana sehingga perpustakaan itu memiliki koleksi 80.000 judul buku.

Melihat kekayaan khazanah intelektual yang tersimpan di setiap perpustakaannya, wajarlah jika Baghdad masa itu menjadi pusat berbagai aktivitas keilmuan. Pelajarnya datang dari berbagai penjuru dunia.

Pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan yang dipelopori langsung oleh penguasa tidak saja terkonsentrasi di dalam satu wilayah seperti Baghdad, tetapi juga tumbuh pesat di belahan wilayah lain seperti di Kairo. Menurut catatan Sardar, di daerah ini terdapat Khazain Al-Qusu, sebuah perpustakaan megah yang didirikan oleh salah seorang pejabat Fatimiyah, Al-Aziz Ibn Al-Muizz. Perpustakaan itu terdiri atas 40 ruangan yang diisi lebih dari 1,6 juta buku dan sudah tersusun dengan sistem klasifikasi canggih.

Sebagai implikasi dari tingginya sense of science para penguasa masa itu, sampai pada periode sejarah kerajaan-kerajaan kecil (malakut thawaif), kultur semacam ini masih tetap terpelihara. Kerajaan-kerajaan kecil juga sibuk membangun perpustakaan, seperti perpustakaan Nuh Ibn Mansur, salah seorang sultan Bukhara.

Sebagaimana digambarkan Ibnu Sina: ”Setelah memohon dan mendapat izin dari Nuh bin Mansur untuk mengunjungi perpustakaan ini, saya menemukan banyak ruangan yang penuh dengan buku-buku. Sebuah ruangan berisi buku-buku filsafat dan puisi, sementara ruangan lainnya yurisprudensi. Saya membaca katalog dari pengarang kuno dan mendapatkan semua buku yang diperlukan. Di sana banyak sekali buku-buku yang tidak pernah saya temukan sebelumnya,” (Bibliophilism in Medieval Islam, 1938).

Ajang keilmuan
Model-model perpustakaan abad pertengahan yang telah menjadi salah satu tiang penyangga peradaban di era golden age. Bukan hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan literatur, tetapi juga berperan sebagai wahana bagi sejumlah aktivitas keilmuan, termasuk riset dan polemik keilmuan. Begitu juga pengunjung perpustakaan, bukan hanya kalangan keluarga kerajaan, juga terbuka untuk seluruh pelajar dari berbagai tingkatan keilmuan.

Sebuah peradaban, sukar dibayangkan bila tanpa buku. Dan, distribusi ilmu pengetahuan akan cepat bergulir bila para penguasa terlibat langsung dalam mendirikan perpustakaan.
Sejak lama, hubungan penguasa dengan buku telah menjadi semacam ”syarat-rukun” dalam menegakkan tiang-tiang penyangga sebuah peradaban. Perhatian yang sungguh-sungguh terhadap dunia perbukuan itu sendiri adalah juga sebuah lelaku yang beradab sehingga Sardar menyebutnya sebagai civilization of book (peradaban buku). Lalu, sudahkah para penguasa (juga calon penguasa kita hari ini yang sibuk berkampanye) menyadarinya?

Aguk Irawan MN, Pengarang, Penerjemah, dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah
KOMPAS, 14 Februari 2009

Saturday, December 20, 2008

Makna Membangkitkan Minat Baca


HEBAT. Itu tanggapan atas berita bahwa Indonesia bisa menjadi model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Penilaian itu diberikan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Sejak 2007, buta aksara di Indonesia turun 1,7 juta orang, menjadi 10,1 juta. Sekitar 7 juta di antaranya perempuan. Sukses program pemberantasan buta aksara antara lain berkat dukungan 59 perguruan tinggi negeri dan swasta di berbagai daerah di Indonesia. Jendela dunia terbuka makin lebar bagi mereka yang melek aksara.

Namun, angka tadi tidak seiring dengan hasil survei UNESCO yang menunjukkan minat baca kita sangat rendah. Dua tahun lalu kita yang paling rendah di kawasan Asia. Sementara itu International Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN. Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United Nations Development Program (UNDP) menempatkan kita pada urutan rendah dalam hal pembangunan sumber daya manusia.

Kenyataan-kenyataan tadi membuktikan, melek aksara tidak menjamin peningkatan kemampuan maupun minat membaca. Kita perlu prihatin. Tanpa minat baca, dari mana kita bisa memperoleh ide-ide segar dan baru? Dilihat dari jumlah penduduk kita dan jumlah harian yang beredar tiap hari, persentase bacaan koran amat sangat kecil. Seputar 1%? UNESCO menetapkan, sebaiknya 10%.

Editorial Media Indonesia hari Senin lalu khusus membahas soal ini. Antara lain disebutkannya, kemajuan media elektronik salah satu faktor yang ikut menghambat lajunya minat baca. Memang masyarakat kita sejak dulu jauh lebih mengandalkan budaya lisan daripada tulisan. Masyarakat kita lebih suka menonton wayang, misalnya. Bahwa jumlah buku dalam bahasa-bahasa daerah tidak berarti, membenarkan asumsi tadi. Maka kita tidak terlalu kaget ketika melihat masyarakat kita sekarang jauh lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi daripada membaca. Gejala ini sebenarnya ada di semua negara, bergantung pada kelompok masyarakatnya, tontonannya, dan jenis bahan bacaan yang ada.

Tekanan sosial seharusnya ada pengaruhnya. Misalnya, apakah minat dan kemampuan membaca merupakan persyaratan bagi klasifikasi sosial masyarakat? Di tingkat bawah, orang-orang kita yang buta aksara, atau yang kemampuan membacanya kurang, lebih sulit mencari pekerjaan yang memadai jika dibandingkan dengan mereka yang lebih terdidik. Ini seharusnya mendorong masyarakat untuk belajar membaca lebih baik.

Lain situasinya dengan masyarakat di negara-negara maju. Membaca kelihatannya sudah menjadi bagian dari hidup. Membaca juga memberi hiburan. Sistem dan fasilitas dibangun untuk mendukungnya. Begitu bertimbun bacaan-bacaan yang padat makna sejarah, makna ilmiah, atau padat nilai-nilai kemanusiaan, moral dan spiritual, maupun hiburan, sehingga masyarakat tinggal memilih sesuai selera. Membaca sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

Alex Inkeles, profesor sosiologi emeritus pada Hoover Institut, Universitas Stanford, pernah mengatakan tujuan pokok pembangunan ekonomi adalah mengusahakan tercapainya taraf penghidupan yang layak bagi segenap rakyat. Namun, rasanya kita sepakat, kemajuan suatu bangsa tidak bisa hanya diukur dari GNP per kapita rakyatnya. Pembangunan juga mencakup ide mendewasakan kehidupan politik, seperti tercermin dalam proses pemerintahan yang stabil dan tertib, yang didukung kemauan rakyat banyak. Juga mencakup pendidikan yang menyeluruh bagi rakyat, termasuk pengembangan seni budaya, sarana komunikasi, dan penyuburan segala bentuk rekreasi. Kesimpulannya, pembangunan mensyaratkan perubahan sikap dan perilaku manusia. Perlu transformasi. Sarana paling ampuh untuk transformasi adalah komunikasi. Bacaan termasuk di dalamnya.

Sejauh ini kita terkesan bingung menghadapi ide transformasi. Wajar karena transformasi menuntut perubahan cara berpikir. Secara berangsur kita harus meninggalkan cara berpikir yang sudah mengendap lama dalam budaya kita dan sudah kedaluwarsa. Sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun. Meninggalkannya seperti meninggalkan prinsip-prinsip kehidupan asli kita. Tarik ulur pertentangan mengenai hal ini masih terjadi sampai sekarang. Dalam hal modernisasi, kita masyarakat heterogen.

Menurut Inkeles, ciri-ciri manusia modern ada dua; yang eksternal dan yang internal. Yang pertama berkaitan dengan lingkungan. Yang kedua tentang sikap, nilai-nilai, dan perasaan. Perubahan eksternal mudah dikenali. Urbanisasi, komunikasi massa, industrialisasi, kehidupan politik, dan pendidikan, semua itu gejala-gejala modernisasi.

Namun, sekalipun lingkungan telah modern, tidak dengan sendirinya kita menjadi manusia modern. Baru kalau kita berhasil mengubah cara berpikir kita, mengubah perasaan kita, mengubah perilaku kita, maka kita bisa menyebut diri manusia modern.

Ciri-ciri manusia modern adalah kalau dia bersedia membuka diri terhadap pengalaman baru, inovasi, dan perubahan. Maka jendela dunia akan terbuka. Itu semua bisa terjadi pada awalnya lewat bacaan karena manusia modern tidak hanya membatasi wawasannya pada lingkungan dekatnya, tetapi ingin melebarkan wawasannya ke cakrawala lain.

Permasalahannya sekarang, bagaimana meningkatkan minat baca, dan meningkatkan kualitas dan kuantitas bahan-bahan bacaan sesuai kebutuhan masyarakat modern? Tentang buta aksara, kalau kita memang dianggap model untuk pemberantasan buta aksara, sistem yang ada tentunya akan kita teruskan. Kalau bisa, mempercepatnya. Kartini (1879-1904) sudah lebih dari seabad lalu berprakarsa mengajar membaca dan menulis kaumnya sekalipun dia sendiri hanya berpendidikan sekolah dasar. Sekarang masih ada 7 juta perempuan buta aksara. Fakta itu menyedihkan dan patut disesalkan. Kemungkinan mereka itu tinggal di desa-desa dan daerah-daerah terpencil yang sulit dijangkau.

Tentang kualitas dan kuantitas bahan bacaan, sebenarnya dua hal itu, dan minat baca, membentuk lingkaran setan. Minat baca bisa dibangkitkan oleh bahan bacaan yang bermutu dan/atau memikat. Kalau minat baca jumlahnya banyak, kuantitasnya menjadi banyak. Demikian seterusnya. Kualitas dan kuantitas buku yang mencukupi, dan harganya terjangkau, bisa menjauhkan masyarakat dari godaan-godaan hiburan lain yang tidak bermutu.

Bahwa masyarakat, dari anak-anak sampai orang tua, sering terpaku menonton televisi, boleh dikata sepanjang waktu luang mereka. Mungkin karena tidak ada hiburan lain, atau karena tidak ada keharusan bagi anak-anak untuk banyak membaca di rumah. Selain tidak ada keharusan bagi orang tua untuk memberikan teladan. Tentang keteladanan orang tua, Pustaka Publik di negeri Serawak, Malaysia, menyiasatinya dengan meminta kerja sama orang tua untuk menanamkan kebiasaan membaca. Orang tualah yang dipinjami buku. Dalam beberapa minggu, petugas Pustaka Publik datang kembali untuk mengganti buku-buku lama dengan yang baru.

Pengalaman itu disampaikan oleh perwakilan Malaysia ketika menghadiri seminar internasional Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) bertema Reading for all. Organisasi sosial GPMB berdiri Oktober 2001, diprakarsai antara lain oleh Perpustakaan Nasional RI dan Departemen Pendidikan Nasional. Dia berfungsi menjadi mitra kerja pemerintah pusat maupun daerah dalam usaha meningkatkan minat baca masyarakat. Namun, sekalipun sudah berdiri tujuh tahun, gaungnya tidak banyak kita dengar. Mungkin masyarakat juga tidak terlalu peduli kalau itu menyangkut minat baca.

Seminar Reading for all yang diselenggarakan dua tahun lalu, juga dihadiri wakil-wakil dari Jepang, Belanda, Australia, dan Singapura. Mereka sependapat bahwa meningkatkan minat baca bisa dilakukan dengan menumbuhkan kebiasaan membaca secara disiplin lewat jalur pendidikan formal. Pembicara dari Jepang, misalnya, mengatakan mereka sekarang memiliki prinsip; teman duduk terbaik adalah buku. Di mana-mana di tempat-tempat umum kita melihat mereka membaca. Kebiasaan itu terpelihara. Sekolah-sekolah di Jepang mewajibkan para siswa membaca selama 10 menit sebelum melakukan kegiatan belajar mengajar. Metode pendidikannya dibuat sedemikian rupa sehingga para murid terdorong aktif membaca.

Tentang minat baca masyarakat Jepang yang tinggi, memang sudah sejak Restorasi Meiji lebih seabad lalu, Jepang memiliki tekad untuk mengejar kemajuan kebudayaan Barat. Sampai sekarang pun ribuan buku asing, terutama dari Amerika dan Eropa, telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang. Seperti orang kehausan, mereka tidak henti-hentinya menimba ilmu dan pengetahuan lewat bacaan. Untuk penduduk sekitar 125 juta orang, di sana tiap harinya beredar puluhan juta eksemplar surat kabar, tiap bulannya beredar ratusan juta eksemplar majalah dan jenis terbitan serupa, dan tiap tahunnya dicetak lebih dari 1 miliar buku. Pemegang rekor dunia. Lebih dari 50% tenaga kerja menangani industri ilmu pengetahuan.

Ekspose para utusan luar negeri di seminar Reading for all itu menyemangati publik yang gemar membaca di Indonesia. Intinya mereka menegaskan, maju tidaknya minat baca masyarakat berkaitan erat dengan peningkatan kemajuan suatu masyarakat. Dan peningkatan minat baca yang paling efektif adalah yang melalui jalur pendidikan formal. Di Belanda, peningkatan minat baca disiasati dengan mengharuskan para siswa memperkaya pengetahuan dengan membaca, ditunjang sistem perpustakaan yang memenuhi kebutuhan mereka. Di Singapura, minat baca para siswa ditumbuhkan lewat kurikulum. Misalnya guru mengharuskan siswa menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan dukungan sebanyak mungkin buku. Di Australia, para siswa dibekali dengan semacam kartu untuk menuliskan judul buku yang dibaca. Catatan hasil membaca dan penilaian atas buku yang dibaca dilakukan setiap hari, sebelum kelas dimulai. Guru menyuruh setiap siswa menceritakan isi buku yang telah dibacanya. Sistem ini sekarang diberlakukan juga di sekolah-sekolah Indonesia yang berafiliasi dengan sekolah-sekolah Australia.

Untuk menunjang peningkatan minat baca, memang tidak akan cukup hanya dengan imbauan dan seruan. Banyak persoalan lebih gawat yang dihadapi masyarakat sehingga peningkatan minat baca dianggap bukan secara langsung menjadi tanggung jawab mereka. Karena itu kebijakan tersebut harus dijalin dalam sistem, khususnya dalam sistem pendidikan formal. Di luar itu, terbangunnya sistem dan fasilitas-fasilitas pendukung menjadi harapan banyak orang, termasuk pengadaan buku-buku bermutu yang harganya terjangkau dan jumlahnya mencukupi. Juga perpustakaan-perpustakaan yang jumlahnya memadai, untuk sekolah-sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi maupun perpustakaan-perpustakaan umum. Misalnya, selain yang milik pemerintah, akan sangat ideal kalau tiap RT, atau paling tidak tiap RW, berprakarsa membangun perpustakaan atau balai bacaan bagi warganya. Sejumlah budayawan aktivis telah melakukannya.

Semoga nanti kita bisa membuktikan, apa manfaat menggulirkan tradisi membaca bagi pembangunan manusia modern Indonesia untuk masa depan. Buku-buku bacaan anak-anak yang memuat dongeng-dongeng dan kisah-kisah menantang atau misterius, misalnya, bisa mengembangkan imajinasi anak Indonesia tanpa mengenal batas. Bila imajinasi mereka cukup kuat, tidak mungkin mereka akan meninggalkannya tanpa mencoba meraihnya. Begitu pula lewat bacaan, kita dengan rela akan meninggalkan pandangan-pandangan sempit yang tidak sesuai lagi dengan zamannya. Berbagai buku yang padat informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan serta pengalaman masyarakat dunia pada gilirannya nanti akan membuat kita ikut berpacu mengejar kemajuan yang juga dicoba diraih bangsa-bangsa lain.

Oleh Toeti Adhitama, Anggota Dewan Redaksi Media Group
mediaindonesia.com - 12 September 2008