Showing posts with label Gelar Akademis. Show all posts
Showing posts with label Gelar Akademis. Show all posts

Saturday, August 8, 2009

WS Rendra Terima Gelar Doktor Honoris Causa dari UGM


Budayawan WS Rendra menerima anugerah gelar Doktor Honoris Causa di bidang kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada, Selasa, (4/3/2008). Dalam pidato pengukuhannya, Rendra membacakan orasi berjudul, "Megatruh Renungan Seorang Penyair dalam Menanggapi Kalabendu."

Tak hanya menyinggung soal budaya, isi pidato penyair yang dijuluki si Burung Merak ini juga menjelajah ke ranah politik, hukum, kemanusiaan, pertanian, riset, hak asasi manusia, kemaritiman Indonesia, hingga sejarah perjuangan untuk merefleksikan pergolakan zaman yang terjadi di Indonesia. Tokoh Pujangga Besar Ronggowarsito-lah yang menjadi ilham Rendra untuk menggambarkan zaman pancaroba yang disebut Ronggowarsito berturut-turut sebagai zaman Kalatida, Kalabendu, dan Kalasuba.

"Republik Indonesia tidak luput dari pergolakan zaman ini," kata Rendra.

Rendra menyebutkan, berdasar sejarah, suku-suku di Indonesia yang kuat tatanan hukum adatnya tak bisa dijajah VOC dan sukar ditaklukkan pemerintah Hindia Belanda. Suku-suku tersebut baru bisa ditaklukkan pada abad ke-19 setelah Belanda memiliki senapan. Dia mencontohkan Sulawesi Selatan baru bisa ditaklukkan tahun 1905, Toraja 1910, Bali 1910 dan Ternate 1923.

Setelah Indonesia merdeka, cara pembangunan ternyata masih menduplikasi tata cara Hindia Belanda. Akibatnya sampai saat ini Indonesia tergantung pada modal asing. Pinjaman asing menyebabkan pemerintah tersesat dalam politik pertanian dan pangan dari lembaga asing.


Bersetelan jas warna hitam berpadu dengan kemeja putih, pidato Rendra ini memperoleh pujian dari tetamu yang hadir. Tokoh Muhammadiyah Syafii Maarif bahkan menyebut isi pidato Rendra layak menjadi cetak biru bagi pedoman pembangunan dan pembenahan negara Indonesia ke depan.

"Kalau saya ikut menguji, maka nilainya A+,” kata Amien Rais. Menurut Amien, pidato Rendra relevan dengan kondisi sosial sekarang. Terutama ketika Rendra mengingatkan bahwa peristiwa sejarah berulang lagi.

Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof Sudjarwadi menyatakan pemberian gelar Doktor Honoris Causa di bidang kebudayaan kepada WS Rendra merupakan perwujudan penghargaan atas kiprah dan prestasi luar biasa yang dilakukan oleh promovendus.

Menurut Sudjarwadi, selama hampir setengah abad, tanpa mengenal lelah Rendra dinilai telah mengartikulasikan aspirasi budaya masyarakat melalui ungkapan sastra, teater, puisi, esai dan bentuk ungkapan seni lain.

Bernarda Rurit
TEMPO Interaktif, 4 Maret 2008


Renungan Indah W.S. Rendra

Seringkali aku berkata,
Ketika semua orang memuji milikku
Bahwa sesungguhnya ini
hanyalah titipan


Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya

Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya

Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya: mengapa Dia menitipkan padaku???


Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ???

Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ???...

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,

kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.


Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku, aku ingin lebih banyak harta, ingin lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.


Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku. Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih. Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah… “ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.”

TEMPO Interaktif, 7 Agustus 2009

Thursday, July 30, 2009

Hendropriyono, Sang Doktor Filsafat


Inilah buah manis dari kerja kerasnya selama sekitar 3,5 tahun

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruang di lantai lima Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu pagi (25/7). Pria yang menjadi pusat perhatian itu tampak tersenyum lebar. Pria itu, mantan kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal TNI (Purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono, resmi menyandang predikat doktor ilmu filsafat.

Di depan tim penguji yang terdiri atas Prof Dr R Soejadi, Prof Dr Syamsulhadi, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, Prof Koento Wibisono, dan Prof Mukhtasar Syamsuddin, Hendro berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Terorisme dalam Kajian Filsafat Analitika: Relevansinya dengan Ketahanan Nasional.

Bahkan, Hendro pun berhasil meraih predikat cumlaude. ''Saat ini, Allah telah memberikan kedudukan yang tertinggi bagi saudara, yaitu lulus dari pendidikan tertinggi dengan gelar cumlaude secara total,'' kata Prof Kaelan, promotornya, dalam pesan singkat usai ujian terbuka.

Dengan wajah berseri, pria kelahiran Yogyakarta, 7 Mei 1945, ini mengaku tidak menduga bakal mendapatkan predikat cumlaude. ''Predikat cumlaude itu tidak pernah saya sangka-sangka. Saya berpikir, bisa lulus saja sudah cukup.''

Untuk Hendro, inilah buah manis dari kerja kerasnya selama sekitar 3,5 tahun. Bermula dari sidang yang dimulai pada pukul 10.00 hari itu, Hendro harus mempertahankan disertasinya selama satu jam lebih. Sepanjang waktu itu, Hendro menjelaskan dengan gamblang segala hal tentang terorisme.

Berawal dari fakta bahwa hingga saat ini belum ada definisi yang jelas tentang apa itu terorisme, Hendro mengaku tergelitik untuk membahas masalah terorisme tersebut dalam dunia akademis melalui pendekatan filsafat analitik atau bahasa.

Menurut dia, bahasa yang digunakan dalam terorisme ternyata terbelah atas dua tata permainan bahasa, yaitu mengancam dan berdoa yang digunakan sekaligus. Tata permainan bahasa yang terbelah dalam terorisme tersebut menunjukkan bahwa para teroris memiliki kepribadian yang terbelah atau split personality. ''Para pelaku terorisme juga mengalami kegalatan kategori, yaitu ketidakmampuan untuk membedakan pengetahuannya sehingga mengakibatkan subjek dan objek terorisme menjadi tak terbatas,'' paparnya.

Maka, dalam disertasinya tersebut, Hendro memberi saran agar filsafat juga memperluas objeknya dalam studi tentang manusia, yaitu terkait dengan manusia yang mengalami kegalatan kategori atau manusia yang mengalami kepribadian yang terbelah. ''Itu layak dilakukan karena subjek terorisme mempunyai kondisi kejiwaan yang memungkinkan berkembangnya fisik, emosi, dan intelektual secara optimal karena mereka adalah orang normal, bukan orang gila,'' tandasnya.

Diakuinya, berdasarkan fakta historis yang bisa direkamnya sejak menjadi kepala BIN, ternyata terorisme itu sama dengan jimat yang dimiliki tokoh pewayangan Indonesia, Raden Narasoma, yaitu Candra Birawa. ''Jadi, ibarat pepatah, patah tumbuh hilang berganti. Itulah terorisme. Begitu pula yang ada di Indonesia, terorisme itu timbul tenggelam karena yang kita atasi hanya kaki-kakinya yang juga terdapat di seluruh dunia. Sementara itu, otaknya tidak ada di negeri ini,'' ujar Hendro.


Soekarno
Sepanjang sidang yang turut dihadiri beberapa tokoh nasional, di antaranya Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Dr Meutia Hatta, mantan ketua DPR RI Dr Akbar Tandjung, Fadel Muhammad, serta Sutiyoso, Hendro tak terlihat tegang. Bahkan, sesekali lulusan Akademi Militer Nasional Magelang tahun 1967 ini menjawab pertanyaan tim penguji dengan gurauan.

Seperti ketika Prof Dr Ahmad Syafii Maarif menanyakan persepsi orang yang mengaitkan terorisme dengan Islam. ''Tolong jawab dengan singkat,'' ujar Syafii.

Hendro menjawab, ''Singkatnya, mereka tidak paham Islam.'' Dan, tepuk tangan pun membahana. Setelah mereda, Hendro pun melanjutkan jawabannya dengan memberi 'versi panjang' dari pertanyaan Syafii.

Hendro pun mengakui, satu hal yang turut memotivasinya meraih gelar doktor di Fakultas Filsafat UGM adalah kenyataan bahwa mantan presiden Soekarno adalah juga doktor filsafat lulusan UGM. ''Bahkan, beliau adalah doktor filsafat pertama lulusan UGM dan sekarang saya adalah doktor ke-51,'' lanjutnya.

Dengan gelar ini, Hendro menjadi doktor ke-1.089 yang diluluskan UGM dan menjadi doktor ke-51 dari Fakultas Filsafat UGM. Kesuksesan Hendro ini pun disambut gembira oleh sang promotor, Prof Kaelan, yang mengenang kegigihan peraih gelar kehormatan Veteran Pembela Republik Indonesia ini. ''Dia pernah dua kali melakukan bimbingan tengah malam,'' ujar Kaelan.

Sedangkan, Hendro mengenang kehangatan civitas akademika UGM. ''Saya merasa beruntung bisa kuliah di UGM karena sikap kekeluargaannya,'' ungkap dia.

Gelar doktor tampaknya menjadi puncak dari catatan panjang pendidikan pria yang juga mahir menembak ini. Hendro tercatat telah mendapatkan gelar sarjana hukum, sarjana ekonomi, sarjana teknik industri, hingga menempuh pendidikan pascasarjana di Filipina.

Akan tetapi, ternyata, mantan presiden Soekarno bukanlah satu-satunya motivasinya. Diam-diam, Hendro menyimpan motivasi lain untuk gelar doktornya ini. ''Saya sengaja mengikuti banyak kuliah bukan untuk memajang banyak gelar di depan dan belakang nama saya, tetapi agar anak-anak saya bosan mengikuti upacara wisuda saya,'' kata Hendro yang turut didampingi sang istri dan ketiga anaknya.

Republika, 26 Juli 2009

Air Zamzam di Negeri Comberan


Di usia sepuhnya, Gus Mus makin gantheng wajahnya dan makin bening cahaya yang memancar dari wajah itu. Bahkan kulit beliau yang aslinya coklat kini menjadi cenderung kuning-putih. Itu bukan wajah Gus Mus yang kita kenal dalam kebudayaan di bumi. Itu langit.

Sungguh bikin cemburu. Bagaimana hamba Allah satu ini, semua manusia dari Sabang hingga Merauke diam-diam pada bingung, ambruk, kuyu, frustrasi dan putus asa, meskipun ditutup-tutupi -dia malah makin sumringah hidupnya, wajahnya tersenyum, seluruh wajahnya tersenyum, bukan hanya bibir beliau: benar-benar seluruh wajah beliau, lagak-laku dan output karakter beliau adalah senyuman.

Tiba-tiba muncul makhluk yang bernama Doctor Honoris Causa. Menghampirinya. ‘Ngenger’ kepadanya. Melamarnya untuk menjadi sandangannya. Sudah pasti beliau tersenyum, mengulurkan tangan. Dan dengan penuh kasih sayang, menunjukkan sikap menerima, menampungnya, mengakomodasikannya, menggendongnya, mengelus-elusnya.

Jauh di dalam kalbunya Gus Mus mengerti betapa inginnya si Doctor Honoris Causa itu diperkenankan untuk menjadi bagian dari kehidupan Gus Mus. Dan ‘Ma abasa wa ma tawalla, an ja-ahul a’ma…. tak mungkin beliau berpaling, meremehkan dan mengabaikan pengemis yang hina dina sekalipun.

Padahal di dalam doa-doanya, Gus Mus selalu meletakkan semua makhluk lemah itu di shaf terdepan dari aspirasinya. Bahkan jenis hati beliau tidak puas untuk memohon “Ya Allah, sayangilah para pengemis, mudahkanlah kehidupan mereka, limpahilah dengan rizqi-Mu yang luasnya tak terhingga kali seluruh jagat raya”. Bunyi perasaan terdalam beliau agak lebih radikal: “Alangkah mudahnya bagi-Mu ya Allah untuk sejak awal menciptakan pagar-pagar qadla dan qadar agar dalam peradaban ummat manusia tak usah ada pengemis, tak usah ada hamba-hamba yang selemah itu, apalagi sampai dilemahkan, di-pengemis-kan”.

Memang di dalam salah satu cara berpikir tasawuf para pemberi membutuhkan mereka yang diberi. Orang kaya membutuhkan orang miskin, sebab orang miskin adalah jalan memperbanyak pemberian, infaq dan shadaqah. Orang miskin adalah lahan subur untuk menanam kasih sayang. Gus Mus setahu saya tidak turut menikmati bermain logika dan simulasi sosial sufisme. Beliau transenden dari pola-pola adegan itu dengan mempertapakan dambaan cinta, alangkah indahnya kehidupan tanpa orang-orang miskin yang meruntuhkan hati dan memeras airmata.


Bahasa gamblangnya: Gus Mus pada dasarnya tidak merasa krasan juga Doctor Honoris Causa melamar-lamar dirinya. Dan lebih sangat “haram mu’aqqad” lagi kalau sampai ada bagian dari kehidupan ini di mana Gus Mus yang melamar gelar Doktor, mendambakannya, mengambisiinya, merakusinya, merindukannya, apalagi sampai menyiapkan uang dalam jumlah sangat besar dalam rangka memperhinakan dirinya.

Lho, apakah gelar Doktor itu hina? O tidak lah yaoo… Ini hanya pernyataan ta’aqqud dan tafaqquh bahwa yang selain Tuhan selalu menjadi jatuh hina jika diperlakukan sebagaimana Tuhan. Hanya Allah yang memiliki maqam untuk didambakan, untuk diraih, diserakahi untuk ‘dimiliki’, digadang-gadang serta dicita-citakan untuk bersanding. Selain Allah, bahkanpun Rasulullah, juga seluruh manusia dan alam semesta, cocoknya dicintai, disayang.

Gus Mus menyayangi gelar Doktor beliau, tapi insyaallah tak sampai mencintai. Disayang karena mereka yang memberinya gelar itu juga sangat sayang kepada Gus Mus. Namun tidak sampai mencintai, karena beliau bukan orang bodoh.

Gelar Doktor mencerminkan pencapaian ilmu maksimal pada ukuran mesin berpikir manusia. Tidak sempurna dan belum puncak, dalam arti potensialitas yang dianugerahkan Allah atas daya akal manusia, yang masih menyediakan cakrawala luas dan langit tinggi. Yang masih amat jauh di luar jangkauan pencapaian peradaban berpikir ummat manusia sampai sekian puluh abad. Sedangkan gelar Profesor menggambarkan kelulusan komitmen terhadap dunia ilmu dan kesetiaan terhadap tradisi kemuliaan pemeliharan dan penyebaran ilmu. Tafaqquh ‘ilmi wan-tisyaruh.

Itu idiomatik dan simbol dari dunia persekolahan di mana pencarian ilmu diinstitusionalisasikan, dengan ‘syubhan’ politik dan perdagangan -tetapi yang terakhir ini tidak menjadi perhatian dalam tulisan ini. Di luar sekolah, masyarakat (Indonesia, Jawa) membangun sendiri idiomatik dan simbol-simbolnya untuk mengukuhkan pencapaian manusia di antara mereka: Kiai, Panembahan, Ki, Begawan, Pendekar, Pandito. Pada tataran yang lebih popular dan sehari-hari muncul simbol: Mbah, Lurah, Danyang, mBahurekso, dst, yang semuanya menggambarkan pengakuan umum atas pencapaian tertentu dari seseorang.

Kalau memang ‘terpaksa’, KH Mustafa Bisri kita lengkapi saja atributnya: Mbah Lurah Danyang mBahurekso Pandito Begawan Panembahan Ki Kiai Profesor Doktor Mustafa Bisri, dan saya urun nambahi satu tapi tanpa upacara: Karomallohu wajhah…. Karena insyaallah beliau karib dan sehabitat dengan Sayyidina Ali ibn Abi Thalib dalam sejumlah konteks, utamanya ta’aqqudul iman, tafaqquhul ‘ilmi wa ni’matul ma’rifah serta thariqatsuwung’, fana’.


Doktor itu kedewasaan ilmu, namun tidak menjamin kematangan mentalitas dan spiritualitas. Bahkan tidak menjanjikan kedewasaan sosial dan kultural. Sedangkan Gus Mus mohon maaf: memiliki semua itu.

Tak akan didengarkan orang kalau ada seorang Doktor berfatwa, sebagaimana kalau KH Mustafa Bisri (andaikan beliau mau) berfatwa. Sebab ‘fatwa’ arti telanjang epistemologisnya adalah kedewasaan yang ‘jangkep’. Doktor masih kedewasaan parsial dan ‘githang’.

Fatwa bukan produk dari rapat sekian ratus Ulama yang naik pesawat dari berbagai propinsi untuk mengacungkan tangan dan meneriakkan “Setuju!” dalam sebuah rapat yang berprosedur demokrasi, penjajagan pendapat untuk mencapai kesepakatan. Atau lebih rendah lagi: pendapat sudah disediakan, dan ratusan Ulama bersegera menyetujuinya karena hal itu merupakan ujung dari suatu eskalasi politik, mobilisasi berpikir dan honorarium. Untuk Indonesia, tradisi semacam itu sudah ma’ruf wa mafhum, dan semua tinggal meng-amin-i.

Sesungguhnya Gus Mus adalah seorang Al-Mufti. Hanya saja beliau terlalu rendah hati. Sekurang-kurangnya Al-Mufti adalah kualitas dan maqam beliau. Dan kalau beliau hampir tidak pernah menduduki kursi itu dan tidak ‘nyuwuk’ fatwa apa-apa kepada bangsa dan ummat yang tidak mengerti kegelapan (apalagi cahaya) ini, kita orang dusun tahunya barangkali memang beliau tidak memperoleh ‘wangsit’ untuk berfatwa. Allah sendiri menerapkan sifat As-Shobur kepada bangsa Indonesia, Gus Mus nginthil di belakang-Nya.

Dan sungguh saya selalu merasa gatal untuk menggoda Gus Mus, di tengah perjalanan hidup ‘asyik ma’syuk di tengah hutan belantara penuh comberan ini.

Maka sengaja tulisan menyambut penggelaran Doctor Honoris Causa untuk Gus Mus ini saya bikin berlama-lama dan terlambat-lambat. Memang sih ada sejumlah kesibukan, tapi alasan utama saya bukan itu. Motif saya yang sesungguhnya adalah: saya sangat bernafsu menyiksa Gus Mus, saya sangat cemburu pada beliau, dan saya berkhayal berlari kencang mendahului Gus Mus.

Saya buka rahasia pribadi: saya ini seorang penakut bin pengecut. Hidup saya tanpa kekuasaan, baik sebagai warga masyarakat, sebagai suami, sebagai bapak, sebagai lelaki atau sebagai apapun. Itu gara-gara saya tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk menyentuh orang lain dengan kehendak saya. Tidak sedikit pun saya berani menyiksa siapa pun, baik menyiksa dengan kejahatan maupun dengan kemuliaan, dengan keburukan atau kebaikan, dengan kesalahan maupun kebenaran.

Jangankan menjadi pemimpin Negara atau wakil rakyat, sedangkan menjadi kepala rumahtangga saja saya memilih untuk tidak berkuasa. Saya hanya bagian dari keluarga, bagian dari masyarakat dan Negara. Padahal aslinya di dalam diri saya terdapat nafsu kekuasaan yang meluap-luap, bahkan ada semacam potensi kekejaman yang selama ini saya sembunyikan dengan sangat rapi. Nah, terhadap Gus Mus: saya menemukan peluang sangat besar dan melimpah untuk berkhayal punya kekuasaan dan menyelenggarakan penyiksaan-penyiksaan semaksimal mungkin.

Sebab saya tahu dan yakin bahwa beliau tak akan marah. Gus Mus tidak memiliki hubungan genetik, kefamilian atau keterkaitan sosial dengan kemarahan. Satu point ini saja sungguh seribu kali lebih penting dan lebih tinggi mencapaian mental maupun ilmiahnya -dibanding seribu gelar doktor kepada beliau. Kalau ada orang marah, itu pasti bukan Gus Mus. Dan kalau para saintis tidak mampu menemukan keterkaitan dialektis antara fenomena marah dengan kosmos ilmu, maka tidak perlu ada Sekolahan, Universitas ataupun Pesantren.


Tapi ya siksaan saya kepada Gus Mus sekedar terbatas pada ulur-ulur waktu jadinya tulisan ini. Celakanya beliau sama sekali tidak marah. Tersiksa sedikit pun tidak. Padahal kalau sampai beliau tersiksa, betapa indah puisi-puisi yang terungkap dari ketersiksaan itu. Gus Mus adalah pendekar kehidupan yang bukan sekedar sanggup menemukan ketenteraman dalam kecemasan, menggali kebahagiaan dari jurang derita, atau menikmati kekayaan di dalam kemiskinan. Lebih dari itu Gus Mus bahkan mampu membuat kegelapan itu tak ada, karena yang ada pada beliau, dan bahkan beliaunya itu sendiri: adalah cahaya.

Kemudian hal cemburu: beliau ini dikejar-kejar dilamar-lamar oleh Doctor Honoris Causa. Sementara saya orang tua sampai hampir batas jatah usia hari ini tak pernah dinantikan orang, apalagi dikejar. Tak menggembirakan orang hadirku dan tak ditangisi orang hilangku. Tak dirindukan oleh siapapun saja kecuali oleh istri dan anak-anakku.

Maka saya dendam kepada Gus Mus. Dan dengan melambat-lambatkan tulisan ini saya bisa membangun khayalan bahwa saya bukan hanya juga berposisi dikejar-kejar, tapi juga ‘GR’ bahwa yang mengejar-ngejar saya adalah orang besar bernama KH Mustafa Bisri. Dan karena saya dikejar oleh Gus Mus, sedangkan Doctor Honoris Causa mengejar Gus Mus, maka saya berada dua langkah di depan Doctor Honoris Causa. Dengan demikian tak mungkin Doctor Honoris Causa akan pernah mampu mencapai lari kencang saya.

Bagi siapa pun yang kebetulan membaca tulisan ini, mudah-mudahan menjadi paham kenapa sampai setua ini saya tidak pernah “dadi wong, tak pernah mencapai apa-apa dan tak pernah menjadi siapa-siapa. Jawabannya sangat gamblang dengan alinea-alinea di atas: saya sudah sangat bergembira cukup bermodalkan khayalan-khayalan semacam itu. Puji Tuhan ada kesempatan untuk membuka rahasia itu, karena hanya Gus Mus yang memiliki keluasan untuk men-senyum-i khayalan-khayalan saya, sementara lainnya selama ini hanya mencibir dan meremehkan saya.

Maka di luar itu semua tentulah saya turut mengucapkan ‘mabruk’ atas penganugerahan gelar Dr.HC kepada Gus Mus, tanpa mempersoalan bahwa -ibarat baju, gelar itu terlalu kecil atau ‘cekak’ untuk Gus Mus. Atau dengan kata lain beliau -dengan segala kualitas dan bukti-bukti kesalehan dan kreativitas puluhan tahun hidupnya- terlalu besar untuk hanya digelari Dr.HC.

Sebenarnya saya sudah menantikan penganugerahan ini 30-40 tahun silam. Atau mungkin malah diperlukan ijtihad untuk mendirikan lembaga gelar yang lebih tinggi derajat mutunya, lebih meluas cerminan jangkauan manfaatnya serta lebih mendalam kasunyatan kekhusyukan komitmennya. Terserah apapun saja nama gelar khusus itu yang bisa kita gunakan untuk menunjukkan kesadaran kita dalam mengapresiasi “Manusia Thawaf” dari Rembang ini.

Tetapi omong-omong qulil haqqa walaw kana murran KH Mustafa Bisri sebenarnya juga sama sekali tidak cocok hidup di zaman di mana beliau hidup sekarang ini. Di Negeri ajaib yang Gus Mus menangisinya berurai-urai airmata di hadapan Allah sambil hati beliau geli setengah mati dan tertawa terpingkal-pingkal.

Minimal ada satu syarat mendasar yang Gus Mus tidak miliki secuilpun untuk ‘relevan’ hidup di zamannya: tidak punya ambisi, tidak memiliki ‘ananiyah’, tidak punya kesanggupan mental untuk membuang rasa malu, serta terlalu rewel terhadap martabat dan harga diri ke-insan-an beliau. Sistem nilai yang berlaku komprehensif dewasa ini akan tiba pada suatu perkenan sosial dan permisivisme budaya terhadap siapa pun untuk bukan hanya memasang gambar wajahnya di jalanan-jalanan atas niat dan inisiatifnya sendiri, melainkan pelan-pelan kelaminnya juga sudah siap untuk diiklankan.


Cocoknya Gus Mus ada di antara para sahabat Rasulullah Muhammad SAW: dolan mengobrol ke kampung-kampung bersama Abu Dzar Al-Ghifari, malamnya majlisan dengan Babul-‘Ilmi, pintu ilmu pengetahuan: Sayyidina Gagah Ganteng Brilian Ali ibn Abi Thalib karomallohu wajhah.

Maka atmosfir peristiwa penggelaran Dr.HC untuk Gus Mus ini saya masuki dengan kegembiraan sebagaimana memasuki pesta setengah “majdzub”. Saya ikut minum anggur rasa syukur yang menggelegak tanpa alasan apapun kecuali menikmati kekayaan “qudroh”nya Allah SWT. Saya melintas kesana-kemari menyapa semua sahabat keindahan dan mengobrol dengan para “mab’utsin” kebenaran dan kebajikan.

Siapa saja yang tak tahan bersegeralah pergi menjauh dari saya. Sebab saya melayang-layang surving diving sampai terkadang terpikir di benak saya NU itu sebaiknya dibagi dua: ada firqoh Nahdloh dan firqoh Ulama. Ketua golongan Nahdloh bolehlah KH Hasyim Muzadi, tapi Ketua Ulamanya harus KH Mustafa Bisri.

Gus Mus memimpin gairah ta’limul ardl wa ma’rifatussama, yang lain silahkan memanfaatkan pengetahuan dan legitimasi langit untuk pengetahuan dan kepentingan di bumi. Harus Gus Mus yang memimpin. Kok harus? Siapa yang mengharuskan? Ya saya sendiri, lha wong ini tulisan saya sendiri. Terwujud dan terjadinya Gus Mus jadi Ketua NU ya cukup dalam diri saya sendiri, karena kalau di kasunyatan NU saya bukan sekedar tidak punya hak apa-apa, tapi juga tidak ada.

Ini tulisan-tulisan saya sendiri, dan yang saya tulis adalah jenis orang yang tidak akan marah atau berbuat apapun meskipun saya tulis bagaimanapun. Jadi saya Ketua-NU-kan dia, kalau perlu seumur hidup. Seumur hidup.

Dan ini sama sekali bukan soal ambisi atau kerakusan, melainkan berdasar feeling saya dalam hal niteni tradisi sunnah-nya Allah. Manusia dengan kaliber dan kualitas macam Rasulullah Muhammad SAW oleh Tuhan diselenggarakan atau dilahirkan hanya satu kali selama ada kehidupan. Kalau taruhan tidak haram, saya berani taruhan soal ini.

Jenis Ibrahim AS dan Musa AS bolehlah lima abad sekali. Atau kalaupun saya sebut 10-20 abad juga tak akan pernah ada kemampuan penelitian ilmu manusia untuk membenarkannya atau menyalahkannya. Salahnya sendiri banyak sekolahan ummat manusia berlagak-lagak pinter tapi tidak ada peneliti hal-hal beginian, mana mungkin akan pernah mengenal clue ‘perilaku’ Allah ini.

Lha makhluk yang berperan sebagai Mustafa sesudah Bisri sesudah Mustafa sesudah Bisri entah yang keberapa ini, yang khalayak umum, kelas menengah intelektual sampai institusi Negara menyangka ia adalah Ulama dan Seniman -tinggal Anda perkirakan maqamnya, keistimewaannya, spesifikasinya, genekologinya, koordinat kosmologisnya. Dilahirkan 75 tahun sekali? 102 tahun sekali? 309 tahun sekali?

Saya tidak mau terjebak oleh adagium “La ya’riful Waly illal Waly”: tak ngerti Wali kecuali Wali. Anda jangan percaya pada rumus yang membuat Anda tersesat menyangka saya mengerti Gus Mus karena saya sekualitas dan semaqam dengan beliau. Jangan coba-coba memompa kepala saya menjadi besar, sebab saya sudah sangat pusing oleh besar kepala saya.

Rumus lebih tepat untuk ini adalah “hanya kekecilan semut yang mampu mengagumi kebesaran gajah”.

Ditulis Oleh Muhammad Ainun Nadjib untuk Dr.HC-nya Mustofa Bisri (Gus Mus)
kenduricinta.com, 10 Juli 2009