Showing posts with label Energi. Show all posts
Showing posts with label Energi. Show all posts

Monday, January 18, 2016

Pertanyaan Besar Manusia yang Belum Terjawab

Salah satu sudut alam semesta yang difoto oleh teleskop Hubble milik NASA.

“Tataplah bintang-bintang dan bukan kakimu. Berusahalah memikirkan apa yang engkau lihat, dan takjublah pada apa yang membuat semesta ada. Berusahalah untuk tahu.” [Stephen Hawking]

Sejak ribuan tahun yang lampau manusia dipenuhi rasa ingin tahu dan berusaha terus untuk menemukan jawaban atas berbagai misteri semesta. Sebagian kecil mulai terjawab, tapi banyak yang hingga kini masih menyisakan teka-teki besar. Misalnya, apakah kita —sebagai manusia— sendirian saja di semesta ini? Tidak adakah makhluk lain sejenis kita yang hidup di planet lain, tata surya lain atau galaksi lain di semesta yang lain?

Mun Keat Looi, Hayley Birch, dan Colin Stuart menyusun daftar pertanyaan besar dalam buku mereka yang terbit pada tahun 2013, The Big Questions in Science: The Quest to Solve the Great Unknowns.

Duapuluh pertanyaan besar yang tercantum dalam buku ini adalah:


Satu, tersusun dari apakah alam semesta ini? Hingga kini, kita baru mengetahui 5 persen saja dari komposisi alam semesta yang mencakup atom-atom yang kita kenal dalam Tabel Periodik. Selebihnya masih misteri. Substansi yang tersisa ini kita namai dark matter dan dark energy. Dark matter, yang diketahui pada tahun 1933, bertindak bagaikan ‘lem’ yang mengikat galaksi dan klaster galaksi. Pada tahun 1998, dark energy ditemukan —energi ini mendorong ekspansi alam semesta dengan kecepatan yang kian besar.

Dua, bagaimana datangnya kehidupan? Sekitar 4 miliar tahun yang silam, kehidupan mulai terlihat di Bumi. Namun hingga kini manusia masih belum mampu menjawab pertanyaan, bagaimana kehidupan itu mula-mula terjadi. Para ahli memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang isu ini.

Tiga, apakah kita —sebagai manusia— sendirian saja di alam semesta ini? Pertanyaan ini sebenarnya mencakup dua pertanyaan: apakah ada kehidupan lain di luar sana dan —jika ada— apakah makhluk di luar sana itu terdiri dari struktur yang kompleks dan memiliki kecerdasan? Para astronom masih berusaha untuk menemukan sumber-sumber kehidupan di semesta, seperti adanya air dan oksigen.


Empat, apa yang menjadikan kita hingga disebut sebagai manusia (yang berbeda dengan makhluk lainnya)? Kita memiliki neuron tiga kali lebih banyak dibandingkan gorila, tapi DNA kita nyaris identik. Kita mempunyai otak lebih besar ketimbang kebanyakan hewan. Banyak hal yang pernah kita anggap membedakan kita, seperti bahasa, pemakaian alat, mengenali diri sendiri di cermin, ternyata juga terlihat pada perilaku hewan. Barangkali, budaya manusialah yang membuat kita berbeda, di samping kemampuan untuk bekerjasama.

Lima, apakah kesadaran itu? Kita belum memiliki pengetahuan yang utuh mengenai kesadaran, apakah ini terkait dengan wilayah tertentu otak yang bekerja sebagai jejaring atau satu bagian otak saja? Manusia juga bertanya apakah kesadaran tak lebih dari sekedar kerja fisis dari bagian-bagian otak, atau ada sesuatu yang lain? Bagaimanakah kesadaran ini muncul? Apakah kesadaran dapat ditiru dengan membuat mesin (robot artifisial intelejen) yang bekerja serupa otak manusia ?

Enam, mengapa kita bermimpi? Meskipun kita menghabiskan sepertiga hidup kita untuk tidur, tapi kita belum juga memahami mengapa kita bermimpi. Ilmuwan masih berusaha menemukan jawaban mengapa kita tidur dan bermimpi.


Tujuh, mengapa ada materi? Menurut hukum fisika, materi tidak ada sendirian, tapi ada antimateri sebagai pasangannya, hanya saja berbeda muatan listriknya. Ketika materi dan antimateri bertemu, keduanya mengalami disintegrasi dan melepaskan kilatan energi. Salah satu teori menyebutkan bahwa dentuman besar (big bang) menciptakan materi dan antimateri dalam jumlah yang sama. Bagaimana bila tidak ada materi?

Delapan, adakah alam semesta lain? Apakah alam semesta kita ini satu-satunya alam yang ada? Teori kosmologi dan fisika partikel memprediksi adanya alam semesta lain, yang secara potensial mempunyai sifat-sifat berbeda dari alam semesta kita. Bila ada, bagaimana cara kita mengetahuinya? Bila kita tidak dapat mengonfirmasi hipotesis ini, apakah ini masih merupakan bagian dari sains?

Sembilan, dimana kita akan menaruh semua karbon? Sejak empat abad yang lalu, industrialisasi terus menghasilkan karbon yang dibuang ke atmosfir sehingga mempengaruhi perubahan iklim dan mempercepat pemanasan global. Akibatnya, semakin lama, kualitas lingkungan menjadi lebih buruk, apa yang dapat kita lakukan dengan karbon-karbon itu? Di mana kita harus menyimpannya (membuangnya) agar Bumi tetap aman untuk kita tinggali?

Matahari adalah sumber energi yang sangat besar dan melimpah.

Sepuluh, bagaimana kita dapat memperoleh lebih banyak energi dari matahari? Pasokan bahan bakar fosil kian berkurang, sementara efek buruk pembakarannya telah memanaskah atmosfir. Matahari sebenarnya menawarkan sumber energi yang amat besar, tapi kita belum menemukan cara yang tepat untuk memanfaatkannya dengan lebih baik dibanding sekedar sel surya.

Sebelas, mengapa bilangan prima begitu ajaib? Anda dapat berbelanja dengan aman di internet adalah berkat bilangan prima —bilangan yang hanya bisa dibagi oleh angka satu dan bilangan itu sendiri. Bilangan prima digunakan untuk penyandian atau enkripsi. Meski begitu, bilangan prima masih tetap menyimpan teka-teki.

Duabelas, bagaimana kita dapat mengalahkan bakteri? Alexander Flemming telah membuka jalan untuk memerangi penyakit mematikan, melakukan pembedahan, cangkok, dan terapi kemo. Namun, bahaya masih tetap mengintai —di Eropa sekitar 25 ribu orang meninggal tiap tahun karena bakteri yang resisten terhadap obat.


Tigabelas, dapatkah komputer bekerja lebih cepat lagi? Telepon cerdas kita saat ini mempunyai kemampuan komputasi yang jauh lebih besar dibandingkan setengah abad yang lampau. Jika kita ingin lebih cepat lagi, bagaimana caranya? Adakah batas kecepatan yang dapat dicapai oleh komputer?

Empatbelas, akankah kita dapat mengobati kanker? Kanker sudah ada sejak zaman dinosaurus dan disebabkan oleh gen yang kusut. Meskipun untuk sebagian dapat dicegah lewat berhenti merokok, minum minuman beralkohol, aktif berolahraga, dan mengurangi terpaan sinar matahari langsung di tengah hari, tetap saja kanker sukar dibasmi.

Limabelas, kapan kita mempunyai robot kepala pelayan? Saat ini, robot sudah bisa menyediakan minuman dan membawakan pakaian, melayani kita antar terminal di bandara. Tapi robot yang benar-benar cerdas belum lagi ada. Jepang berusaha menciptakan robot yang bisa merawat lansia pada tahun 2025, tapi entah apakah dapat terwujud?


Enambelas, apa yang ada di dasar samudera? Sembilanpuluh lima persen lautan masih belum dieksplorasi. Pada tahun 1960, Don Walsh dan Jacques Piccard turun hingga tujuh mil di kedalaman laut untuk menemukan jawabannya. Namun mereka hanya bisa melihat sekilas saja, tak sanggup berlama-lama.

Tujuhbelas, apa yang ada di dasar lubang hitam? Kita belum punya alat untuk menjawab pertanyaan ini. Relativitas umum Einstein menyatakan bahwa ketika lubang hitam diciptakan oleh bintang masif yang sekarat, maka bintang itu akan mengerut hingga bentuk yang sangat amat kecil dan padat atau disebut singularitas. Seperti apa dasarnya?

Delapanbelas, dapatkah kita hidup selamanya? Pengetahuan kita mengenai apa yang menyebabkan manusia semakin tua terus berkembang. Pengetahuan ini memungkinkan kita untuk mencari cara agar hidup bisa bertahan lebih lama. Tapi pertanyaannya bukan bagaimana agar kita bisa hidup lebih lama, tapi bagaimana agar kita bisa hidup lebih lama dengan kualitas yang baik —agar sel-sel tubuh tidak mudah rusak.


Sembilan belas, bagaimana kita memecahkan masalah populasi? Jumlah manusia di planet kita ini telah menjadi dua kali lipat sejak tahun 1960-an, sehingga jumlah manusia saat ini sudah lebih dari 7 miliar. Diperkirakan pada tahun 2050, jumlahnya akan menjadi ––paling tidak–– 9 miliar. Dengan manusia sebanyak itu, di mana kita akan tinggal dan bagaimana kita akan menyediakan makanan, lapangan kerja dan sumberdaya yang cukup untuk semuanya? Hijrah ke planet Mars? Siapa saja yang bisa kesana?

Duapuluh, apakah time travel mungkin dilakukan? Pengelana waktu sudah ada di sekitar kita. Astronot yang mengorbit ke angkasa luar mengalami pelambatan waktu, sebagaimana diprediksi teori relativitas khusus Einstein. Pada kecepatan orbital tersebut efeknya kecil, tapi manusia membayangkan suatu hari nanti bisa menempuh perjalanan ratusan tahun ke masa depan. Siapa tahu Anda dapat menjumpai cucunya dari cicit Anda sendiri?

Ya, siapa tahu ???

Dian Basuki
http://indonesiana.tempo.co/read/56001/2015/12/06/Pertanyaan-Besar-Manusia-yang-Belum-Terjawab

Tuesday, November 6, 2012

Menguasai Sumber Daya dan Subsidi Energi


Pekan lalu Rapat Paripurna DPR menyetujui RAPBN 2013 menjadi UU. Rapat yang tidak dihadiri 260 anggota dewan itu seperti biasa menyisakan persoalan defisit dan subsidi.

Defisit —yang lagi-lagi mendorong kebiasaan berutang yang menjerat— kali ini mencapai Rp 153,3 triliun. Karena itu, pemerintah berniat menerbitkan surat berharga negara neto Rp 180,4 triliun, utang luar negeri Rp 19,5 triliun, dan utang dalam negeri Rp 500 miliar. Sementara total utang Pemerintah per Agustus 2012 mencapai Rp 1.957,2 triliun. Subsidi energi sendiri mencapai Rp 274,7 triliun dan nonenergi Rp 42,5 triliun. Sementara belanja pegawai Rp 241,1 triliun, belanja barang Rp 164,0 triliun, dan belanja modal Rp 216,1 triliun.

Sebelum persetujuan APBN itu diberikan DPR, banyak kalangan menyetujui subsidi dikurangi sebagaimana pengalaman pada tahun 2005 dan 2008. OECD sendiri setelah 1 November 2010 meminta Pemerintah Indonesia memenuhi komitmennya mencabut subsidi, lagi-lagi pada 27 September 2012 mengkritik belanja subsidi energi. Sekjen OECD Angel Gurria mengatakan, “Indonesia perlu mengurangi subsidi energi untuk bisa mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.” Sisi lain, gugatan PP Muhammadiyah dan LSM atas UU 22/2001 tentang Migas, hingga kini belum diputuskan MK di tengah UU itu sendiri memang cacat.

Sejurus persetujuan DPR itu diberikan, Persatuan Insinyur Indonesia BKT Perminyakan mengadakan diskusi. BP Migas, Rahmat Sudibyo, dan Iin Arifin Takhyan setuju dengan cara pandang Pemerintah sebagaimana diatur dalam UU 22/2001. Sementara Hikmahanto Juwana lebih pada memasalahkan pengertian negara menguasai seperti diamanatkan pasal 33 ayat (2) dan (3) UUD1945 serta kontrak Migas yang berpihak kepada kepentingan nasional. Saya sendiri berposisi sebagai sosok yang berbeda dengan para pembicara lain.


Dalam mengurai hak negara menguasai sumber daya, Hikmahanto merujuk UU 23/1997 tentang Lingkungan Hidup, UU 41/1999 tentang Kehutanan, dan UU 7/2004 tentang Sumber Daya Air. Menurutnya, tidak ada interpretasi tunggal dari istilah dikuasai oleh negara. Interpretasi itu mencakup keterlibatan negara, negara sebagai regulator, negara memberi kewenangan kepada pemerintah dan BUMN, dan memberi peran badan usaha nonpemerintah. Sementara itu, UU 22/2001 tentang Migas memberi pemahaman bahwa Migas memang dikuasai negara dan pemerintah sebagai kuasa pertambangan.

Sebagai kuasa pertambangan, pemerintah membentuk badan pelaksana. Namun, MK berpendapat wewenang penguasaan oleh negara hanya ada pada pemerintah, yang tidak dapat diberikan kepada badan usaha. Berdasarkan hukum administrasi negara, kewenangan itu bisa dilimpahkan (delegation of authority). Maka ketika badan usaha diberi wewenang, akibatnya penguasaan negara atas sumber daya menjadi hilang. Adapun menurut UU 44/1960 tentang Migas dan UU 22/2001 sendiri, penguasaan negara pada tataran nyatanya dilakukan oleh entitas. UU 44/1960 menunjuk entitas itu pada Pertamina sementara UU 22/2001 menunjuk entitas itu BP Migas.

Kajian Hikmahanto perlu dilengkapi dengan merujuk pada UU 5/1960 tentang Pokok-pokok Agraria dan KUH Perdata. Menurut penjelasannya, karena negara merupakan organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat yang bertindak selaku badan penguasa, perkataan dikuasai dalam UU 5/1960 pasal 2 ayat (1) bukanlah berarti dimiliki, tetapi memberi wewenang kepada negara untuk melaksanakan pasal 2 ayat (2) tadi. Lalu, kita bisa menganalogikan masalah itu pada konsep KUH Perdata dalam lingkup hukum benda (bergerak atau tidak). Untuk hal ini konsep bezit dapat diaplikasikan.


Menurut KUH Perdata, bezit adalah suatu keadaan di mana seseorang menguasai suatu benda seolah-olah kepunyaannya sendiri, yang oleh hukum dilindungi dengan tidak memasalahkan hak milik itu sebenarnya pada siapa. Konsep ini seharusnya diaplikasikan melalui prinsip dan proses bahwa sebagai pemegang kedaulatan, rakyat adalah pemilik sumber daya. Melalui pemilu, rakyat memberikan kekuasaan dan kewenangan kepada sosok atau partai yang dipilihnya untuk menjalankan apa yang dikampanyekan dan dipercayakan dengan tetap berpijak pada konstitusi.

Catatan terpentingnya adalah, hasil pemilu harus dalam rujukan menjalankan amanat konstitusi. Amanat, proses dan kesesuaian ini yang melahirkan pemenang pemilu adalah bezitter, yakni partai atau orang yang menguasai suatu benda bergerak (sumber daya) atau tidak bergerak (jabatan pada negara Republik Indonesia) menjalankan kekuasaan dan kewenangannya sesuai dengan kontrak politik dan tidak bertentangan dengan amanat konstitusi.

Para teknokrat, birokrat, dan politisi seakan tidak peduli bahwa konsep negara menguasai sumber daya berhubungan secara sistematik dengan pengertian hajat hidup orang banyak, juga tidak menyentuh apakah energi itu barang komersial atau bukan. Padahal, hal tersebut berdampak pada harga jual atas barang yang dibutuhkan setiap orang. Di sana, persoalan tersebut berhubungan dengan subsidi. Lalu, apa pengertian subsidi?

Saya pun belum bisa menjumpai peraturan perundang-undangan yang mendefinisikan pengertian subsidi. Nota Keuangan dan APBN 2012 Bab IV halaman 85 menjelaskan, subsidi merupakan alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi, menjual barang dan jasa, yang memenuhi hajat hidup sedemikian rupa, sehingga harga jualnya dapat dijangkau masyarakat.


Kemudian ditegaskan lagi, subsidi energi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/ lembaga yang menyediakan dan mendistribusikan bahan bakar minyak jenis tertentu (BBM dan BBN), liquefied petroleum gas (LPG) tabung 3 kilogram, dan tenaga listrik, sehingga harga jualnya terjangkau masyarakat. Penerjemahan pada APBN seperti inilah yang membuat perdebatan keras antara saya dengan almarhum Widjajono Partowidagdo dan Harry Azhar Azis.

Semestinya pengertian subsidi diposisikan dulu sesuai dengan konstitusi, yakni alokasi belanja pemerintah dalam rangka memenuhi tugas konstitusi: APBN dalam rangka untuk memenuhi hajat hidup orang banyak dan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Kalau ini pengertiannya, tidak mungkin kita langsung menerapkan hitungan seperti di atas, sebab kita harus mengoptimalkan dulu sumber daya dalam negeri. Optimalisasi ini berujung pada biaya penyediaan sendiri atas energi. Kekurangannya kita impor, yang juga mempunyai perhitungan sendiri.

Syaratnya, baik penyediaan sendiri karena menggunakan bahan baku dan mesin kilang sendiri maupun impor minyak olahan, tidak sesen pun dikorupsi. Gabungan atas dua harga itulah yang saya minta pada Banggar DPR, 12 Maret 2012 dan saya sampaikan di MK pada 06 Juni 2012. Lagi-lagi yang muncul adalah keinginan Kementerian ESDM yang menaikkan harga per triwulan sebesar Rp 500/liter.

Maka kesimpulannya adalah, kita senang menyelesaikan masalah pada ranting atau dahannya. Akar masalahnya sendiri tak pernah kita konstruksi dan rekonstruksikan. Ini sekadar bukti bahwa negara memang sudah kalah melawan pasar.

Ichsanuddin Noorsy
Ekonom
Koran SINDO, 2 November 2012