Thursday, November 4, 2010

Antara Mbah Maridjan dan Marzuki Alie


Mbah Maridjan adalah fenomena tradisional dan kita menanggapinya sebagai fenomena modern.Sementara itu, Marzuki Alie adalah contoh yang baik tentang modernitas yang buruk.

Modernitas yang buruk? Bayangkanlah kita menjadi Mbah Maridjan. Tanah airnya adalah Gunung Merapi. Ia dilahirkan di sana, menjadi besar di sana, menjadi berarti karenanya. Hubungannya dengan Gunung Merapi-lah yang membuat ia diangkat sebagai juru kunci gunung keramat itu oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Ia berumah di lereng tinggi, berladang di sana, memandang ke arah puncak, merasakan angin sang gunung, memberi tempat singgah bagi para pendaki yang melalui rute itu. Ia hidup oleh Merapi. (Maka tak heran ia pun rela mati oleh gunung itu). Ia telah 80 tahun lebih ketika hawa panas akhirnya menghembus nyawanya.

Ia memilih untuk tetap tinggal di rumahnya sekalipun pusat vulkanologi telah menyatakan status awas dan meminta warga untuk turun. Dulu, keputusannya yang heroik membuat ia menjadi bintang iklan –meskipun pada awalnya ia ragu. (Sudahkah MURI memberi dia rekor bintang iklan paling berumur?) Maka, ketika semburan lahar dan angin panas itu akhirnya terjadi, mengakhiri hidupnya, orang modern bertanya-tanya. Kenapa dulu ia tidak turun seperti anjuran? Dan mengingat paling banyak korban berasal dari dusunnya, Kinahrejo, bukankah ia turut bersalah membiarkan warga berkiblat padanya untuk bertahan? Tapi, Mbah Maridjan pernah berkata bahwa ia hanyalah orang dusun yang tak lulus SD.


”Jangan mengikuti saya,” katanya. Ia tak pernah melarang orang untuk mengungsi. Di situlah ia semakin menarik. Mbah Maridjan harus dibaca sebagai individu yang otonom. Memang kita tak tahu persis apa sesungguhnya tugas seorang juru kunci. Itu bukan jabatan publik yang modern, yang pada akhirnya bertanggung jawab pada masyarakat. Hal itu lebih merupakan jabatan tradisional dengan legitimasi spiritual. Tradisi Jawa percaya bahwa Gunung Merapi memiliki, bahkan merupakan sumber, kekuatan spiritual. Karena itu, dibutuhkan semacam juru yang memantau, merawat dan berkomunikasi dengan gunung itu. Legitimasi Mbah Maridjan bukan berasal dari rakyat lewat sebuah pemilihan. Legitimasinya dari Sultan.

Mbah Maridjan tidak makan pajak rakyat, dan jangan-jangan juga tidak makan apapun dari Kesultanan. Ia barangkali melapor pada Kesultanan, seandainya diminta. Tapi ia tak pernah harus melapor pada rakyat. Ia sesungguhnya tak pernah harus menjadi tokoh panutan. Ketetapan hatinya untuk tinggal di desanya tak boleh dibaca sebagai pembatalan pengumuman keadaan berbahaya. Sebab, ia adalah orang yang rela menempuh bahaya dari gunung yang dicintainya. Dalam hal ini ia seorang individu, otonom, dan menempuh jalan sepi. Setidaknya, ia merupakan seorang tokoh dalam sebuah sistem yang berbeda. Bukan sistem demokrasi modern kita.


Sebaliknya, Marzuki Alie adalah tokoh dari sistem demokrasi modern kita. Ia dipilih lewat pemilu, digaji dengan pajak rakyat. Komentarnya terhadap bencana tsunami di Mentawai menunjukkan tipe pandangan manusia modern yang tidak bermutu, yang tak seharusnya duduk di kursi Ketua DPR. Diberitakan ia mengatakan bahwa salah penduduk Mentawai sendiri untuk hidup terlalu dekat dengan laut di pulau kecil. Kalau tak ingin menghadapi risiko, sebaiknya pindah saja ke tempat lain. Ini pandangan yang melihat bencana sebagai kesialan, padahal tujuan manusia (modern-pragmatis) adalah mencari selamat, jika bukan cari untung.

Sebagai wakil rakyat, ia tidak berhak menyalahkan korban, sebab ia tak pernah lahir di wilayah serupa dan harus tinggal di sana. Ia tidak boleh menyalahkan korban, sebab ia adalah pejabat negara dan negara hanya punya tugas menyelenggarakan kesejahteraan warga –termasuk ketika terjadi bencana.

Ayu Utami
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/360763/

Mbah Maridjan, Iklan dan Perubahan Tradisi


Lelaki tua berpeci dan badannya dibalut kain batik berdiri tegak dan menunjukkan kepalan tangan ke atas sambil berteriak “Roso, roso”! Awalnya aneh tampilan iklan jamu tersebut. Lambat laut sosok dalam iklan menjadi ikon dan sohor namanya di Tanah Air. Sapaannya khas, Mbah Maridjan. Nama aslinya Mas Penewu Surakso Hargo, lelaki kelahiran Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.

Iklan di layar kaca itu mengekspresikan perubahan jalan hidupnya. Semula sosoknya lebih dikenal di komunitas pendaki Gunung Merapi karena dia wakil juru kunci gunung (1970) dan juru kunci Merapi sejak 1982, diangkat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dianugeri gelar Raden Mas Surakso Hargo. Sejak menjabat juru kunci, dia ‘dilewati’ awan panas pada 1994, 1998, 2001, 2003, 2006. Simbol tokoh kearifan lokal dilekatkan publik ketika bergeming dari ancaman awan panas gunung Merapi pada 2006 dengan dalih mengemban amanah dan kesetiaan pada tugas. Sikap kesetiaan ditunjukkan lagi ketika Merapi meletus, Selasa (26/10/2010). Dia bertahan di rumah dan Tuhan mengambil mandatnya di dunia.


Sentuhan Irwan Hidayat, Dirut PT Sido Muncul pada 2006, makin melambungkan namanya. Ikon iklan jamu menjadikannya sosok “komersial” namun juga mengubahnya jadi dermawan. Jutaan uang dari royalti iklan tidak menjadikannya mabuk dunia, semua tetangga merasakan ‘berkah’ uang Mbah Maridjan dari iklan.

Menjadi jutawan juga tak menjadikannya lupa diri. Ketika produk iklan mengajaknya nonton Piala Dunia di Jerman, 2006, dia berkilah tak bisa berangkat karena tak ada yang mencari rumput untuk sapinya.

Ketika akrab dengan entertainment, Mbah Maridjan tidak menyadari ada ‘atasan’ yang mengawasinya dari Kraton Yogyakarta. Perilaku yang paling disorot adalah kasus perubahan perilaku terhadap tradisi kerajaan dan posisinya sebagai prajurit.


Pengageng Pawedan Hageng Punokawan, GBPH Prabukusumo menceritakan ada yang mengejutkan Kraton Yogyakarta dari perilaku almarhum semasa hidupnya. Pada 10 Agustus 2010, Kraton Yogyakarta punya hajat besar, milad jumenengan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Mbah Maridjan harus menerima perangkat upacara dengan pakaian adat kraton untuk Labuhan Ageng Dal, siklus upacara besar memperingati tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X periode delapan tahunan.

“Upacara Labuhan Ageng Dal merupakan upacara besar dan sakral, semua pakaian adat harus dipakai. Ada laporan Mbah Maridjan bertingkah lain. Dia menerima uborampe atau perangkat upacara dengan kondisi pakai sarung (kain), baju koko dan kupluk (kafiah) putih. Ini upacara besar kok begitu, bagaimana sikap yang mbahu rekso (penguasa) Merapi?,” ujar Prabukusumo, Rabu (27/10/2010).


Kejadian itu setidaknya menjadi perhatian, diwaspadai sebagai tanda-tanda zaman. “Abdi dalem kok bertindak nyeleneh? Itu kelihatan lo,” ujar dia. Menurut dia, abdi dalem dalam menghadapi Merapi tidak bisa seenaknya sendiri. Ada dimensi keyakinan sekaligus teknologi yang perlu dihayati. Keyakinan boleh saja (dipegangi) bahwa Merapi selalu bersahabat, tak pernah meletus. Alam berubah, teknologi membaca, dan menunjukkan Merapi bisa meletus.

“Teknologi dan keyakinan harus dipadu dalam menghadapi Merapi. Tidak bisa dengan caranya sendiri. Kasus ini pelajaran ke depan,” kata Prabukusumo.

Jusuf Kalla, Irwan Hidayat, dan Mbah Maridjan

Irwan Hidayat memandang sisi lain. “Bapakmu meninggal terhormat,” kata dia di telinga Asih, salah seorang anak perempuan Mbah Maridjan. “Dia adalah lambang kesetiaan, keberanian. Supaya terus dikenang, iklan Mbah Maridjan akan tetap saya putar. Biar dikenang dan mengingatkan kesetiaan. Royaltinya untuk keluarga dan masyarakat Kinahrejo,” katanya.

Mukhijab
http://www.pikiran-rakyat.com/node/125674

Maridjan


Nama itu mungkin berasal dari bahasa Arab, marjãn (permata dari batu karang merah), yang penyebutannya bisa ditemukan dalam Al-Qurãn (surat Ar-Rahmãn ayat 22 dan 58 ). Ini salah satu isyarat yang menandai adanya pengaruh Arab (Islam) terhadap orang Jawa, terutama mereka yang hidup di seputar keraton. (Ingat kisah tentang para penyebar Islam di Jawa, yang dikenal sebagai Wali Sanga).

Bagi masyarakat Jawa sendiri, Maridjan mungkin bukan nama yang unik. Bahkan Mbah Maridjan sebagai sebuah pribadi pun, bagi orang yang mengenal bagaimana “manusia Jawa” bukanlah pribadi yang unik.

Sebagai tipologi abdi dalem keraton (ke-ratu-an, kerajaan), khususnya Jawa, orang seperti Maridjan bukanlah contoh satu-satunya. Ia adalah ‘wakil’ (representasi) dari segolongan manusia yang –notabene– memandang raja sebagai pusat pengabdian, karena raja adalah titisan atau perwujudan Sang Mahakuasa. Karena itu, kepatuhan manusia seperti Maridjan terhadap raja adalah kepatuhan yang bukan hanya penuh hormat (pemuliaan) dan khidmat (pengabdian), tapi juga cinta. Dan bukan sembarang cinta pula, tapi cinta mati.


Maka tidak perlu heran bila manusia jenis ini juga mempunyai kesetiaan yang tak pernah pudar atau luntur, karena kesetiaan itu sudah melebur dalam darah yang mengaliri seluruh tubuh. Bahkan ketika ruh (spirit) pengabdian itu sudah tak mampu lagi mengalirkan darah ke sekujur tubuh, karena sang tubuh hangus tersambar wedhus gembel (sebutan penduduk sekitar Merapi untuk awan panas yang disemburkan sang gunung), ia masih berusaha untuk meninggalkan sang tubuh dalam posisi sujud, sebagai lambang pengabdian yang –mudah-mudahan– akan selalu dikenang.


Tapi, walaupun kebanyakan orang tidak mau mengenang; mungkin karena ketidakpedulian atau kesibukan masing-masing yang amat sangat padat, ruh Maridjan akan selalu menemukan tempat singgahnya, setidaknya ke anak-cucu; sebagaimana dulu ruh itu juga menitis dari atas ke dalam diri Maridjan.

Ya. Maridjan memangku jabatan (sejak tahun 1982) sebagai juru kunci adalah ‘titisan’ (baca: warisan) dari ayahnya (Mbah Darso), diawali dengan menjadi wakil sang ayah (tahun 1970). Dan begitu juga selanjutnya Maridjan menitiskan kepada salah seorang putranya, yang kini menjadi abdi dalem keraton Yogya, yang sudah siap melanjutkan estafet pengabdian sakral itu.

Raden Mas Penewu Surakso Hargo dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Marjãn abdi keraton
Maridjan adalah merjan (permata) para abdi keraton, yang kilaunya baru memijar dan menjadi pusat perhatian pada tahun 2006. Bulan Mei tahun itu, “yang lenggah” (duduk; bertahta) di gunung Merapi untuk kesekian kali menyelenggarakan ‘hajat’, yang ditafsirkan orang di luar sebagai gejala-gejala gunung Merapi akan meletus. Ketika ‘hajatan’ itu ditafsirkan para pengamat modern sebagai keadaan Merapi yang berstsatus “awas”, sehingga para penduduk harus mengungsi, (Mbah) Maridjan bertahan di tempat tinggalnya di dusun Kinahrejo. Ia bahkan tidak peduli walau permintaan untuk mengungsi datang dari presiden dan sultan Yogya sendiri.

Banyak orang menafsirkan –dan kemungkinan besar itu benar– bahwa Maridjan hanya bersedia patuh kepada raja yang memberinya jabatan juru kunci dan gelar Mas Penewu Suraksohargo I, yaitu Sultan Hamengku Buwono IX. Dengan demikian, ia –harap maklum!– hanya memandang Sultan HB X sebagai seorang gubernur NKRI. Dan hal itu memang diucapkan olehnya pada waktu itu. “Bila beliau (Sultan HB X) memerintahkan demikian (menyuruhnya mengungsi, red), berarti beliau seorang gubernur,” katanya.

Mbah Maridjan antara kopiah dan blangkon

Kesetiaan terhadap satu pihak bisa (otomatis) menyebabkan pembangkangan terhadap pihak lain. Itu hukum alam alias sunnatullah, karena Allah tidak menciptakan dua hati di satu rongga dada. Tapi itu hanya berlaku bagi orang yang sadar betul bahwa “hidup adalah pilihan”, sehingga langkah berikutnya setelah memilih adalah menunjukkan totalitas pengabdian, apa pun risikonya. Itulah prinsip yang dipegang teguh Maridjan. Dan untuk menegaskan prinsipnya itulah Maridjan mengatakan kepada orang-orang yang bertanya mengapa ia tak mau mengungsi, “Kalau memang mereka (penduduk yang tinggal di lereng Merapi) merasa sudah waktunya mengungsi, mereka harus mengungsi. Jangan hanya manut (ikut) orang bodoh yang tidak sekolah seperti saya.”

Benarkah Maridjan “orang bodoh” karena “tidak sekolah”?

Tidak!

Perkataan Maridjan adalah sebuah isyarat. Sebuah peringatan bahwa “kebenaran” tidak harus selalu diukur dengan “ilmu sekolahan”. Lebih-lebih lagi bila yang dibicarakan adalah soal falsafah hidup.


Seorang teman mengatakan bahwa Maridjan adalah contoh manusia idealis Platonis sejati, yang menempatkan “ide” (idea) sebagai pemandu hidup.

Dalam terminologi Jawanya (walau berasal dari bahasa Arab!), ide itu adalah batin. Maridjan memang manusia yang setia pada kata batin; yang isinya tiada lain adalah falsafah hidup orang Jawa lingkaran keraton.

Sementara itu, kebanyakan kita adalah manusia naturalis bentukan lembaga sekolah; yang sering kali menempatkan batin sebagai hamba bagi nature (alam; benda, materi). Karena ‘suara alam’-lah maka para pejabat BPPTK (Badan Penyelidikan dan Pengembangan Kegunung-apian) dan semua ‘orang sekolahan’ berteriak-teriak menyuruh rakyat menyingkir dari Gunung Merapi, dan karena ‘suara batin’-lah Maridjan dan sejumlah penduduk tetap bertahan di tempat tinggal mereka.


Ketika ternyata Gunung Merapi meletus seperti telah diisyaratkan ‘kaum naturalis’ melalui hasil pengamatan mereka atas alam, ‘kaum idealis’ dengan Maridjan sebagai salah satu figurnya (seperti) jatuh sebagai pihak terkecundang (kalah).

Tapi, benarkah bahwa Maridjan kalah?

Secara fisik dan pragmatis, Maridjan memang kalah. Tubuh tuanya tak mampu melawan terjangan awan panas. Tapi, secara batin (idea), kalahkah dia?

Tidak!


Kematiannya justru semakin menguatkan gaung suara batinnya, bahwa untuk menjadi bernilai itu manusia harus menjadi pengusung atau personifikasi –atau bahasa Al-Qurãnnya fã’il (pelaku)– dari sesuatu yang memang merupakan saripati dari segala nilai, yaitu idea atau konsep atau falsafah.

Terserah idea atau konsepnya berasal dari mana atau milik siapa. Itu soal lain.

Maridjan hanya contoh dari orang yang konsisten (istiqamah) dalam menghidupi atau menghidupkan sebuah falsafah, bahkan sampai kehidupan lahiriahnya sendiri berakhir.

Salam hormat untukmu, Mbah Maridjan!

Ahmad Husein kndm
http://ahmadhaes.wordpress.com/2010/10/28/marijan/