Showing posts with label Guru. Show all posts
Showing posts with label Guru. Show all posts

Wednesday, February 8, 2017

Mengajarkan Ilmu dengan Mudah


Tak mudah menjadi guru itu. Kalau mudah, tentu setiap orang adalah guru. Sudah menjadi guru pun, ternyata tak semua guru bisa mengajar dengan baik. Kita semua punya guru favorit, disukai banyak murid, karena ia pandai mengajar, membuat kita mudah paham.

Setiap individu, dalam berbagai kesempatan sebenarnya berada dalam posisi harus menjadi guru, harus mengajarkan sesuatu. Tapi sebagaimana guru-guru di sekolah, ada orang yang sanggup jadi guru yang baik, ada yang tidak. Sering orang berdalih, dia tidak berbakat jadi guru. Tapi sering kali yang terjadi adalah, tidak ada keinginan untuk mengajarkan sesuatu dengan baik.

Bagaimana mengajarkan sesuatu dengan mudah?

Pertama, kita sendiri harus menguasai bahan yang hendak kita ajarkan. Kalau bagian ini terpenuhi, kita mungkin sudah melampaui lebih dari 50% kebutuhan untuk mengajarkan sesuatu dengan mudah. Masalah terbesar para pengajar adalah, mereka tidak menguasai materi. Paham, tapi hanya sebagian. Itulah sebabnya penjelasan dari para ahli biasanya mudah kita cerna.

Ini adalah bagian terbesar dari masalah pendidikan kita. Banyak guru yang tak paham dengan materi yang ia ajarkan. Ia sekedar menjadi tukang hafal. Selebihnya, ia melafalkan materi di depan kelas, dengan hafalan, atau membaca buku teks. Ia berharap murid-muridnya ikut jadi penghafal seperti dirinya.


Syarat kedua adalah adanya keinginan untuk berbagi. Ingat, sekali lagi, mengajar itu berbagi. Kita membagikan apa yang kita tahu. Karena ingin berbagi, ada tujuan yang hendak kita capai, yaitu sampainya pengetahuan ke orang lain. Pengajaran jadi berbeda nuansanya bila yang mengajarkan berniat memamerkan pengetahuannya, atau ingin merendahkan orang lain. Untuk bisa mengajarkan dengan mudah, perasaan seperti itu harus dihilangkan.

Hal berikutnya yang penting dalam pengajaran adalah, berempati pada orang yang kita ajar. Ada ungkapan setengah bercanda yang mengatakan bahwa orang yang sangat cerdas sulit menjadi guru yang baik. Yang bisa jadi guru yang baik adalah orang yang tidak terlalu cerdas. Ia dulu mengalami banyak kesulitan dalam belajar, sehingga tahu bagaimana kesulitan murid-muridnya sekarang. Orang-orang cerdas tidak akan pernah memahami kesulitan itu.

Yang terpenting dalam hal ini bukan soal pintar atau tidak, tapi soal empati. Coba bayangkan bagaimana kita menjelaskan suatu hal kepada anak kecil. Apa yang kita lakukan? Kita akan mulai menjelaskan dari hal yang sudah dia pahami, memakai kosa kata sederhana, sesuai perbendaharaan kata yang sudah dia miliki. Prinsip ini berlaku bagi pengajaran di semua tingkat. Karena itu, ketika kita hendak mengajar, kita perlu mengenali siapa yang hendak kita ajar. Pengenalan latar belakang pendengar adalah salah satu komponen penting dalam analisis kebutuhan training.

Langkah berikutnya adalah menyiapkan berbagai metode untuk membuat orang paham. Sering kali diperlukan penjelasan melalui berbagai pendekatan atau sudut pandang. Di sinilah penguasaan materi berperan. Orang yang paham materi secara utuh, dapat melihat masalah dan menjelaskannya dari berbagai sudut pandang. Ia akan dapat dengan mudah membangun analogi, simulasi, atau pemodelan, yang membuat orang mudah memahami masalah yang dibahas.


Hambatan terbesar dalam pengajaran adalah ketiadaan keinginan untuk mengajarkan. Banyak orang berpengetahuan yang menganggap hanya dia yang bisa menguasai sesuatu, sehingga enggan mengajarkan pada orang lain. Orang lain dia anggap tak akan bisa menguasai pengetahuan itu. Ada pula orang yang takut tersaingi. Takut orang yang dia ajari kelak menjadi lebih ahli.

Mendidik dan mengajari adalah bagian yang sangat penting dalam kepemimpinan. Kepemimpinan yang sukses salah satu ukurannya adalah keberhasilan sang pemimpin mendidik kader-kader, dengan keahlian setara dengan dirinya, atau lebih tinggi. Tidak sedikit pemimpin yang gagal memahami aspek ini. Mereka mengira, menjadi pemimpin hebat itu adalah kalau ia bisa berdiri bak menara tinggi, di tengah orang-orang yang tak mampu menyamainya, sehingga ia menjadi sangat menonjol.

Singkat kata, mengajar itu sebenarnya adalah soal menjadi tunduk merunduk, merendahkan diri di hadapan orang-orang yang menjadi tujuan kita berbagi. Seperti kita duduk bersama anak-anak, menjadikan pandangan mata kita sejajar dengan mereka, lalu mulai berkomunikasi dengan empatik.

Hasanudin Abdurakhman,
Cendekiawan; Penulis;
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
DETIKNEWS, 30 Januari 2017


Teach It Easy

Awal tahun 2007 saya mulai bekerja di industri manufaktur. Dalam keadaan pengalaman nol di bidang industri saya harus mengurus berbagai hal berkenaan dengan persiapan produksi sebuah perusahaan baru.

Salah satu masalah yang saya hadapi adalah mesin-mesin yang diimpor sudah tiba di pelabuhan, dan harus diurus proses kepabeanannya (custom clearance). Tentu saja saya tak tahu apa yang harus dilakukan.

Waktu itu kami masih menumpang di kantor perusahaan grup, menunggu kantor dan pabrik kami selesai dibangun.

Karena karyawan juga masih sedikit, banyak hal yang dimintakan bantuannya kepada karyawan perusahaan grup, dan mereka dibayar ekstra atas bantuan ini. Termasuk juga dalam urusan impor tadi.


Saya minta asisten manajer yang mengurusi ekspor impor untuk mengajari saya, dan dia setuju. Di ruang rapat dia menyodorkan kertas bertuliskan istilah-istilah yang biasa dipakai dalam kegiatan ekspor impor.

Bapak ngerti nggak istilah-istilah ini?” tanya dia.

Nggak.” jawab saya.

Aduh, inilah susahnya kalau harus mengajari orang yang tidak punya latar belakang perdagangan internasional,” kata dia ketus.

Saya melongo. Kalau saya punya latar belakang perdagangan internasional, tentu saya tidak perlu bertanya sama dia. Tapi sudahlah. Saya perlu urusan saya beres, jadi saya dengarkan dia dengan sabar.

Dia menjelaskan ini itu, yang sebenarnya tidak jelas juga. Akhirnya berbekal sedikit informasi saya berurusan dengan perusahaan jasa kepabeanan (forwarder) yang dia tunjuk.

Banyak dokumen kurang ini itu, ribut, sampai akhirnya barang bisa tiba ke pabrik meski terlambat dari jadwal.


Setelah itu kami pindah kantor. Menjelang pindah kantor dia menawarkan. “Nanti kalau mau ekspor hubungi saya, biar saya bantu.” katanya. Saya cuma mengangguk.

Di kantor baru, saat akan impor saya undang forwarder. Saya minta mereka menjelaskan apa yang harus kami siapkan, dan apa yang mereka urus. Juga berapa lama waktu yang diperlukan.

Berdasarkan itu kami mulai melakukan proses custom clearance untuk impor kami selanjutnya. Saya tidak perlu tahu detil soal impor, yang penting cukup untuk keperluan mengeluarkan barang kami dari pelabuhan. Walhasil, impor kami lancar tanpa masalah. Saat mau ekspor pun begitu. Semua berjalan lancar.

Saat ketemu dia lagi beberapa bulan kemudian setelah kami pindah, dia bertanya, “Pak, kapan mau mulai ekspor? Kan saya mau bantu.

Oh, kami sudah jalan beberapa kontainer, kok.” jawab saya.

Eeeee, kenapa nggak bilang-bilang? Emang sudah bisa sendiri?

Saya jawab dengan senyuman saja.


Akhir tahun 2011 di perusahaan tempat saya bekerja, kami membeli alat untuk analisa kimia, namanya gas chromatography. Alat ini dibeli dalam rangka produksi produk baru di tempat kami.

Untuk keperluan ini saya merekrut seorang karyawan yang berlatar belakang ilmu kimia. Perekrutan karyawan ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan saat kami berunding soal produksi produk baru ini.

Namun dalam perjalanannya kemampuan karyawan ini selalu dipertanyakan oleh orang QC di pihak pelanggan. “Kalau dia orang yang tidak pernah pakai alat ini dan tidak punya kemampuan analisa dengan alat ini percuma. Mending dia dikirim ke Jepang untuk ditraining.” tulis dia dalam email.

Saya keberatan, karena selain berbiaya tinggi hal itu menurut saya mubazir. Menurut saya alat ini fungsinya adalah alat quality control. Artinya, sekedar alat ukur untuk menguji sesuatu, bukan alat analisis seperti kalau seseorang menggunakannya di bidang riset.

Jadi, usulan itu saya tolak, tapi saya beri jaminan kepada dia bahwa staf yang saya rekrut akan bisa memakai alat tadi saat diperlukan. Dia punya pengalaman banyak di bidang kimia, walau belum pernah memakai alat ini.


Prinsip saya, kalau cuma soal cara memakainya, staf saya bisa belajar dari penjual alat. Dan itulah yang kami lakukan. Selebihnya, sesuai kesepakatan, orang QC dari Jepang ini yang akan mengajarkan.

Karena khawatir soal kemampuan kami, pihak perusahaan induk pergi ke pelanggan ini, melihat proses pelaksanaan pengukuran. Mereka merekam pelaksanaan itu dan mengirimnya ke kami.

Saya saksikan videonya, cuma kegiatan menakar, menimbang, dan membuat larutan. Di bagian tertentu larutan harus dikocok. “Ini salah satu teknik penting, know how yang diperlukan. Kalau tidak biasa melakukan analisa tidak akan bisa melakukan teknik ini.” katanya. Halah, cuma begitu saja.

Beberapa bulan kemudian  orang ini datang. Saya pikir dia akan segera mengajar. Eh, dia malah minta staf saya ditraining di perusahaan grup. Untuk apa?

Harus dicek dulu apakah dia sudah bisa pegang pipet dan bikin larutan dengan benar,” kata dia.

Saya sebenarnya keberatan, tapi malas ribut. Saya suruh saja staf saya ikut training, menggunakan gas chromatography, diajari oleh staf lokal di sana.


Kembali ke perusahaan kami, saya suruh staf tadi mempraktekkan hasil trainingnya. Ia melakukan pengukuran. Tamu saya tadi minta hasil pengukuran. Dia tidak pernah mengajari staf saya, langsung minta saja. Kami serahkan hasilnya, dan hasilnya benar. Lalu, apa kesulitan yang dia khawatirkan selama ini?

Begitulah. Tidak sedikit orang yang menganggap ilmu yang dia miliki adalah ilmu yang sulit, sehingga sulit pula diajarkan kepada orang lain. Hanya orang hebat macam dia yang bisa menguasainya. Padahal sebenarnya itu hal sederhana yang bisa diajarkan secara sederhana.

Bahkan banyak hal yang sebenarnya cukup sulit, namun bisa diajarkan secara sederhana kalau yang mengajarkan adalah orang yang benar-benar mahir. Orang sering membuat sulit sesuatu agar dirinya tampak hebat.

Anda mau hebat? Ajarkan sesuatu secara mudah. Teach it easy!

Hasanudin Abdurakhman,
Cendekiawan; Penulis; 
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
KOMPAS, 2 Februari 2017

Saturday, February 6, 2016

Kecakapan Bermatematika


Jika haluan kapal melenceng, mempercepatnya semata justru akan menjauhkan dari tujuan. Seperti itulah keadaan pendidikan matematika sekolah kita. Jika hanya meningkatkan upaya kegiatan belajar-mengajar tanpa dibarengi mengubah arah, pelajar kita akan tetap tertinggal. Meralat arah pembelajaran matematika mutlak dibutuhkan.

Besar kemungkinan ini alasannya mengapa setiap tiga atau empat tahun sejak hampir 20 tahun lalu kita rutin membaca berita hasil buruk pelajar Indonesia dalam tes pemetaan matematika internasional. Laporan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) menunjukkan capaian yang rendah sekaligus menurun dan Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan capaian yang secara statistika stagnan rendah.

Untuk memperbaikinya, mau tak mau harus diawali dengan merumuskan ulang kecakapan bermatematika sebagai tujuan pembelajaran matematika. Dari rumusan itu, kemudian didaftar keterampilan yang diharapkan dan diterjemahkan menjadi sasaran pembelajaran matematika pada tiap jenjang pendidikan.


Kecakapan yang relevan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tiap tahun sudah meningkatkan tingkat kesulitan soal ujian nasional (UN) Matematika. Beberapa sekolah juga sudah menambah jam pengajaran matematika, tetapi semua ini tetap tak memberi dampak berarti pada capaian TIMSS ataupun PISA walau nilai UN Matematika naik. Artinya, ada perbedaan jenis kecakapan bermatematika yang diharapkan.

Maka, jika sekarang pelajar diminta lebih giat belajar, guru diminta kreatif mengajar, UN dipersulit serta dibuat tiga kali setahun, dan uji kompetensi guru (UKG) tiap tahun, kecil peluangnya ini akan membuahkan perbaikan berarti. Walau dari sisi perencanaan dan penganggaran berbagai program pendidikan berskala nasional, seperti UN dan UKG, memiliki “daya serap” tinggi dan juga “menjalankan amanat UU”, dampak terhadap peningkatan kecakapan bermatematika pelajar tidak berarti.

Ada data yang menunjukkan bahwa jam sekolah di Indonesia termasuk tinggi, sekarang ada yang menuduh lama waktu di sekolah itu sebagai alasan rendahnya kecakapan murid. Maka, muncul ide untuk menguranginya. Ini akan sama saja. Seperti layaknya laju kapal dipercepat atau diperlambat, tetapi arah haluannya meleset. Semua upaya jadi nirguna. Malah mungkin justru semakin menjauhkan dari sasaran. Yang pertama dan utama harus dibenahi adalah: mengoreksi arah tujuan. Koreksi drastis harus dimulai dengan merumuskan ulang kecakapan bermatematika yang relevan dengan kehidupan dunia hari ini sebagai tujuan pembelajaran matematika.


Teknologi dan sains telah mengubah kehidupan, termasuk kecakapan hidup yang dibutuhkan zaman ini sudah berubah dari masa sebelumnya. Sejumlah pekerjaan telah diambil alih oleh mesin dan komputer. Khususnya jenis pekerjaan dengan keterampilan berpikir tingkat rendah, seperti routine-cognitive atau proses berpikir rutin. Misalnya, kasir atau penjaga di loket gerbang tol telah jamak digantikan oleh komputer dan mesin.

Maka, pelajar sekarang perlu mengutamakan belajar keterampilan yang belum tergantikan oleh komputer atau mesin, seperti keterampilan menyelesaikan masalah tak rutin, berpikir kreatif, dan berkomunikasi kompleks. Ringkasnya, pelajar perlu menekankan pengembangan kecakapan berpikir tingkat tinggi dan secukupnya mengembangkan keterampilan berdasar kecakapan berpikir tingkat rendah yang perlahan-lahan akan berkurang. Pendidikan matematika sekolah di Asia mutlak perlu menyeimbangkan pengembangan kecakapan bermatematika berdasar berpikir tingkat rendah dan tinggi karena kehidupan serta dunia kerja di Asia sebagian masih tradisional.

Di kelas matematika, kegiatan melibatkan berpikir canggih, tetapi menggunakan konsep sederhana, misalnya mengestimasi perhitungan dan menyelidiki kesahihan suatu pernyataan perlu ditambah porsinya. Sebaliknya, praktik kuno guru “menyuapi” murid dengan rumus matematika ruwet yang seperti turun dari langit dan akhirnya dihafal semata sekadar untuk ujian perlu ditinggalkan.


Justru sekarang harus mulai fokus pada kegiatan pelajar menurunkan atau menemukan rumus-rumus dasar sendiri. Ukuran banyaknya rumus yang dihafal harus diganti dengan dalamnya gagasan matematika yang dipahami. Dengan pengalaman bermakna seperti ini, tidak saja anak jadi memahami secara mendalam dan percaya diri, tetapi juga akan kasmaran bermatematika sekaligus akan berhasrat terus mempelajari matematika.

Yang tak kalah penting ialah merumuskan ulang problem solving atau penyelesaian masalah di sistem pendidikan matematika nasional. Yang sebelumnya diartikan secara sempit sebagai menjawab soal panjang, ruwet, tetapi sudah “siap santap” dilahap rumus hafalan tertentu perlu diralat. Anggapan sempit penyelesaian masalah matematika sebagai penyelesaian soal yang disajikan dalam bentuk “cerita” juga perlu diluruskan.

Keterampilan menyelesaikan masalah matematika hari ini diartikan sebagai merancang berbagai jawab untuk masalah tak rutin dari fenomena yang belum tampak jelas konsep matematikanya. Pelajar diharapkan mulai dari menggali gagasan matematika yang tersembunyi dalam fenomena itu dan mematematikakannya, menentukan jawab matematika, sampai menafsirkan jawabnya ke fenomena semula.


Tindak lanjut
Upaya pelajar mengembangkan kecakapan bermatematika bermakna tersebut bukan tanpa kendala. Para guru yang hendak membelajarkan kecakapan bermatematika bermakna ini juga dihadapkan pada kendala.

Ironisnya, kendalanya justru sebagian ada di kebijakan pemerintah sendiri. Rangkaian UN Matematika, Standar Isi Matematika, Kurikulum Matematika, buku ajar matematika, dan pelatihan guru matematika masih setengah hati atau bahkan mengganduli pelajar dan guru mengembangkan kecakapan bermatematika bermakna itu.

Akhirnya, tantangan bagi badan penelitian dan penentu kebijakan pendidikan serta organisasi pendidikan matematika negara-negara di Asia adalah merumuskan kecakapan bermatematika hari ini. Kemudian, dari rumusan ini dirancang alat evaluasi guna mengukur kecakapan bermatematika tersebut. Baru kemudian dapat disusun strategi pembelajaran matematika dan menyiapkan fasilitas pendukungnya yang sistematis mengarah tepat pada pengembangan kecakapan bermatematika itu. Jika ini sudah dilakukan, barulah menggiatkan proses belajar-mengajar masuk akal dan akan memberi dampak berarti.

Iwan Pranoto,
Guru Besar Matematika ITB,
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI New Delhi

KOMPAS, 15 Januari 2016

Wednesday, December 23, 2009

Presiden Bantah Aliran Dana Bank Century kepada Tim SBY


Dikatakan ada aliran dana dari Bank Century kepada tim politik SBY dalam jumlah besar. Saudara-saudara, di hadapan Allah, pada kesempatan yang baik ini, di forum pendidik yang mulia, yang memiliki perasaan, nurani, dan akal budi, saya ingin menyampaikan, berita itu 100 persen tidak benar,” ujar Presiden dalam peringatan Hari Guru Nasional tahun 2009 dan Hari Ulang Tahun Ke-64 Persatuan Guru Republik Indonesia di Jakarta, Selasa (1/12).

Presiden menyebutkan, fitnah, pencemaran nama baik, dan pembunuhan karakter, seperti yang dialaminya dan keluarga, berpotensi merusak demokrasi. ”Kalau politik yang kita harapkan makin bermartabat, sebagai cerminan dari demokrasi yang makin matang, tiba-tiba penuh dengan intrik, fitnah, saya harus mengatakan, keadilan bisa terinjak, demokrasi bisa rusak, dan peradaban dapat tercemar,” ujarnya.

KOMPAS, 2 Desember 2009

Friday, December 19, 2008

Pertumbuhan Profesionalitas Keguruan


Profesionalitas keguruan —atau keprofesionalan di bidang keguruan— adalah sesuatu yang tumbuh, berkembang, dan layu.

Keprofesionalan itu tumbuh saat seseorang menyiapkan diri menjadi guru. Berkembang saat mereka bekerja sebagai guru; layu saat mereka tak lagi menggeluti pekerjaan sebagai guru.

Pandangan ini bertentangan dengan anggapan banyak orang, profesionalisme dan profesionalitas merupakan sesuatu yang konstan, tidak berubah-ubah, dalam diri guru. Menurut anggapan ini, jika seseorang telah mendapat pendidikan profesional untuk pekerjaan guru, ia akan menjadi guru profesional dengan profesionalitas yang menetap di suatu jenjang tangga profesionalitas keguruan.

Mana yang benar? Menurut saya anggapan pertama. Dalam setiap profesi, profesionalitas seseorang akan berubah dan umumnya perubahan itu berupa kenaikan. Amat langka profesionalitas seseorang mengalami kemunduran. Ini hanya terjadi ketika orang meninggalkan jabatan profesionalnya.

Almarhum Prof Dodi Tisna Amijaya semula adalah seorang ilmuwan biologi. Namun, setelah bertahun-tahun menjadi birokrat —mulai dari Rektor ITB, lalu Dirjen Pendidikan Tinggi, Ketua LIPI, dan akhirnya Duta Besar RI di Paris— beliau merasa bukan lagi seorang ilmuwan biologi. Katanya suatu ketika, "Saya ini kan bukan biologist lagi. Saya sudah berubah menjadi biopolitician."

Begitu pula jika seorang dokter pindah jabatan menjadi menteri. Ia akan kehilangan profesionalitasnya sebagai dokter, apalagi jika dokter itu bertahun-tahun bertahan menjadi menteri. Almarhum dr Soedarsono, mantan Dubes RI di Yugoslavia, pada tahun 1947 duduk sebagai anggota Delegasi Republik Indonesia dalam Konferensi Linggarjati. Suatu saat, ada seorang anggota delegasi asing jatuh sakit. Dr Soedarsono diminta memeriksa anggota delegasi asing itu. Merasa tidak sanggup lagi melakukan pekerjaan seorang dokter, dia meminta koleganya, almarhum dr Yuwono, untuk menggantikan memeriksa pasien asing itu. Kata dr Soedarsono kepada dr Yuwono: "Tolong gantikan saya! Saya sudah bertahun-tahun tidak memeriksa pasien." Konon, selama pendudukan Jepang beliau sibuk dengan urusan politik.

Profesionalitas
Mari kita periksa dinamika profesionalitas bidang kepilotan.

Ketika seseorang menyelesaikan pendidikannya sebagai pilot, ia sudah seorang pilot profesional. Tetapi, profesionalitasnya dalam mengemudikan pesawat terbang masih terbatas. Ia hanya boleh mengemudikan pesawat terbang dari jenis yang dipelajari selama pendidikan. Biasanya jenis ringan atau kecil dan belum boleh mengemudikan pesawat terbang besar, seperti Boeing 737 atau Boeing 747. Izin untuk ini kelak akan diperoleh setelah ia mengikuti serangkaian pendidikan pilot tambahan. Jika kelak pilot itu dipindahkan dari pesawat Boeing 747 ke Airbus 380, ia harus menjalani pendidikan atau pelatihan khusus untuk Airbus 380 sebelum benar-benar boleh mengemudikan Airbus 380.

Bagaimana dengan seorang guru? Ketika ia menyelesaikan pendidikan profesionalnya sebagai guru, ia sudah disebut guru profesional. Gajinya pun sudah lebih tinggi daripada guru yang belum mendapat predikat guru profesional. Tetapi, dalam status guru profesional pemula, profesionalitas keguruannya masih terbatas. Ia belum dapat melaksanakan tugas-tugas keguruan yang kompleks. Misalnya, ia belum dapat menangani murid yang bandel. Ia juga belum mampu melayani dengan baik kebutuhan murid yang amat cerdas atau yang lamban pikirannya. Ia baru dapat melayani murid-murid biasa, murid "rata-rata" (average pupils) karena baru itulah yang dipelajari.

Batas profesionalitas
Dalam setiap profesi, ada tugas-tugas profesional yang relatif mudah selain yang relatif rumit. Tugas profesional yang relatif mudah dapat diserahkan kepada profesional pemula dengan kecakapan profesional minimal. Adapun tugas profesional yang kompleks atau rumit harus ditangani petugas profesional dengan profesionalitas lebih tinggi.

Di bidang kedokteran, dokter muda dengan profesionalitas kedokteran masih minim hanya boleh menangani apa yang disebut "penyakit-penyakit umum". Untuk penyakit-penyakit khusus harus ditangani dokter dengan profesionalitas lebih tinggi, seperti dokter spesialis.

Masalahnya, apa batas minimal profesionalitas keguruan? Ini merupakan masalah yang harus ditentukan secara hati-hati. Dalam bidang profesionalitas pilot, batas minimalnya (mungkin) mampu menerbangkan pesawat secara lancar dan selamat. Tetapi, jika pilot profesional pemula ini dibajak di udara, dapatkah dia mengatasinya dengan baik, tanpa seorang penumpang pun menjadi korban? Mungkin tidak! Untuk mengatasi pembajakan udara, diperlukan pilot dengan profesionalitas kepilotan lebih tinggi.

Profesionalitas tambahan seperti ini biasanya datang dari pengalaman. Jadi, dalam bidang kepilotan, peningkatan jenjang profesionalitas ditentukan oleh dua faktor, pendidikan lanjutan dan pengalaman.

Profesionalitas keguruan
Bagaimana dengan keguruan? Faktor-faktor apa yang menjadi kriteria untuk menentukan, apakah jenjang profesionalitas seorang guru harus dinaikkan atau belum? Saya tidak tahu! Saya tidak punya pengalaman di bidang supervisi pendidikan.

Pertanyaan ini dikemukakan dengan maksud agar kita yang merasa turut berkepentingan juga ikut memikirkannya. Jika masyarakat tidak turut berpikir, proyek besar nasional untuk membuat guru-guru kita menjadi profesional bisa terancam bahaya kekacauan konseptual yang dalam praktik bisa muncul dalam berbagai jenis malapraktik dalam pengelolaan guru.

Tujuan profesionalisasi keguruan ini akhirnya bukan hanya menciptakan kesempatan bagi para guru untuk meningkatkan pendapatannya secara sah (legitimate). Yang lebih penting ialah menaikkan kompetensi para guru kita dalam kegiatan pembelajaran (teaching), kegiatan pelatihan (training), dan kegiatan pendidikan (educating).

Secara umum, batas minimal profesionalitas keguruan ditentukan oleh definisi kita tentang kompetensi keguruan. Apa tugas guru? Menyelenggarakan kegiatan pembelajaran saja, atau juga menyelenggarakan pelatihan dan kegiatan pendidikan?

Pertanyaan ini pada gilirannya bergantung pada paradigma pendidikan yang kita ikuti. Jika kita ingin membentuk watak para murid, selain membimbing mereka memupuk pengetahuan dan keterampilan, mau tidak mau kita harus mengikuti paradigma klasik, yaitu pendidikan adalah kegiatan untuk memupuk keterampilan hidup, yaitu keterampilan menghidupi sendiri, keterampilan hidup secara bermakna, dan untuk turut memuliakan kehidupan.

Jika ini paradigma yang diikuti, berdasarkan pelajaran sejarah pendidikan universal, di sekolah para murid harus dibimbing untuk memupuk pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan kearifan (wisdom).

Jika pandangan ini yang diikuti, profesionalitas keguruan sungguh bukan hal sederhana, yang cukup dipelajari sekali dalam hidup. Profesionalitas keguruan merupakan keterampilan yang kompleks, yang harus jelas dirinci untuk dapat dikuasai dengan baik oleh setiap guru.

Mochtar Buchori, Pendidik
KOMPAS, 17 Desember 2008