Monday, February 14, 2011

Misteri Crop Circle di Yogyakarta


Membaca "Crop Circle" dari Udara

Senin (24/01/2011) pukul 6.00 WIB, saya telah meluncur dari rumah menuju Dusun Jogo Tirto, Berbah, di mana crop circle yang mengebohkan Indonesia sejak hari Minggu (23/01/2011) ditemukan.

Tempat itu sebenarnya dekat dari rumah saya, tapi karena harus sana sini menanyai penduduk, waktu yang saya perlukan untuk mencapainya molor menjadi 20 menit.

Sepagi itu, tempat tersebut sudah dipenuhi pengunjung. Di depan jalan masuk, beberapa pemuda berjejer mengatur kendaraan pengunjung, sembari memberikan tiket parkir, persis tukang parkir saja. Setiap sepeda motor dipungut Rp 2000.

Saya segera memarkir motor untuk bergabung dengan pengunjung lain yang semuanya menampakkan wajah penasaran. Meski begitu, tempat sekitar crop circle itu berada, tetap lapang dan tak ada yang berdesakan.

Di pojok jalan setapak menuju sawah di mana tepat crop circle berada, pedagang asongan menjajakan kue basah sederhana, sementara beberapa pemuda bersemangat menjual foto hasil jepretan Mas Dalis, putra pemilik sawah di mana crop circle tercipta.

Tak bisa disangkal, fenomena unik di Berbah ini telah memutar roda ekonomi masyarakat, kendati untuk sesaat.


Saya jelas ke sana tidak untuk melihat-lihat saja. Tujuan utama saya adalah bergabung dengan tim Teknik Geodesi UGM dan para pehobi aeromodelling yang akan memotret crop circle dari udara.

Sekitar pukul 8.00 WIB, lengkap sudah tim berkumpul. Operator aeromodelling adalah Mas Kopral, dibantu Mas Widi yang alumnus Teknik Geodesi UGM. Namun, pakar dan aktivis pemotretan udara dari Teknik Geodesi UGM, Dr. Catur Aries Rokhmana tak tampak di lapangan.

Pukul 8 lebih sedikit, pesawat meluncur dikendalikan Mas Kopral lewat remote control. Dia sepertinya sangat piawai mengendalikan alat itu dan sepertinya yakin tak akan menghadapi kendala berarti.

Ceritanya gambar sudah diambil, namun karena harus mengikuti rapat kurikulum, saya mendahului tim dan menunggu hasilnya dengan harap-harap cemas.

Lalu, ketika bertemu dengan Dr. Catur di kampus Teknik Geodesi UGM, berita cukup menarik -ah mungkin juga aneh- tersaji ke mata dan telinga saya.

Katanya, hasil pemotretan menunjukkan bahwa kamera gagal mengambil gambar tepat ketika berada di atas crop circle.


Saya lalu tanyakan kepada tim di lapangan mengapa hal itu bisa terjadi. Tak seorang pun mampu menjawab dan menjelaskan keganjilan ini.
Yang pasti, jika kamera rusak, maka tidak ada gambar yang bisa diambil. Faktanya, semua pengambilan gambar berjalan lancar, tapi itu tak berlaku ketika kamera tepat berada di atas crop circle. Aneh sekali, kamera berhenti beroperasi begitu tepat berada di atas crop circle.
Sampai tulisan ini dibuat, saya dan semua rekan tidak bisa memastikan apa penyebabnya.

Sepertinya perlu penelitian lebih serius mengenai medan magnet dan kondisi gelombang yang ada di sana ketika pemotretan terjadi, untuk menjawab keganjilan itu.

Tapi karena urusan kami adalah hanya untuk mengetahui bentuk dan dimensi geometris crop circle, maka segala gangguan bersifat elektromagnetis terhadap proses pemotretan kami abaikan. Itu karena dimensi itu tidak berada dalam perhatian kami dan tidak termasuk kegiatan pemotretan.

Tim tidak berani berandai-andai atau menerka sebelum ada bukti yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Lagi pula kapasitas kami tidak di situ.


Foto-foto yang dihasilkan dari pemotretan udara itu -tentu saja bukan yang tepat di atas crop circle karena kami memang tak mendapatkannya- kemudian kami olah secara fotogrametris sehingga menghasilkan visualisasi dengan geometri cukup akurat.

Bentuk circle crop di Berbah ini memang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya oleh para pemerhati soal ini.

Karena akurat secara geometris, hasil gambar bisa digunakan untuk mengukur dimensi sebenarnya. Dan, karena pengolahannya melibatkan referensi bumi, maka koordinatnya pun bisa diketahui.

Akibatnya, hasil foto udara ini bisa ditumpangsusunkan (overlay) dengan citra satelit yang tersedia gratis pada Google Earth atau Google Maps.

Singkatnya, foto udara ini menjadi semacam peta yang dengannya bisa diketahui posisi dan dimensi crop circle Berbah ini.

Berdasarkan pengukuran foto udara itu, crop circle Berbah memiliki diameter 54 meter. Di sisi barat dan timurnya terdapat dua lingkaran yang keduanya berjarak 67 meter.


Kami berusaha mendapatkan penjelasan mengenai rumor dan misteri di seputar pembuatan crop circle dari Dr. Catur Aries Rokhmana. Namuan Ketua Laboratorium Fotogrametri dan Penginderaan Jauh Teknik Geodesi UGM ini enggan mengomentarinya.

Katanya, ketertarikan dan kapasitas tim Teknik Geodesi UGM adalah pada upaya menentukan bentuk dan dimensi crop circle secara akurat. Soal misteri dan rumor bukan urusan tim.

Dia juga menjelaskan, bentuk crop circle bisa dipetakan secara akurat dengan teknologi pemotretan udara yang dikembangkan Teknik Geodesi UGM.

Saya sependapat dengannya bahwa metode ini memang sangat efektif, karena bentuk dan dimensi bentuk-bentuk di permukaan bumi bisa diketahui dengan tepat dan akurat.

Dr. Rokhmana menyatakan, pemotretan udara ini bisa diaplikasikan dalam ragam dimensi, tidak sekadar urusan crop circle. Dia mereferensikan www.potretudara.com untuk mengetahui apa-apa saja yang dikembangkan laboratoriumnya.

Saya sendiri menilai, siapapun yang membuat crop circle Berbah, maka pastilah mereka yang memiliki cita rasa seni tinggi dan memahami benar geometri dan matematika yang jelas bukan hal yang sederhana.


Saya sepakat crop circle bisa dibuat manusia dan ini memang bisa dijelaskan dengan amat logis.

Tapi, faktanya pada sebagian kecil crop circle logika tak bisa menjelaskannya. Saat bersamaan, selalu ada pihak yang menyukai misteri, seperti pada fenomena Segitiga Bermuda.

Kendati berulangkali dijelaskan secara ilmiah, selalu saja ada penjelasan lain yang mengarahkan fenomena itu ke misteri. Ini juga berlaku pada crop circle Berbah.

Untuk itu, kita masih memerlukan penjelasan lebih lanjut mengenai crop circle Berbah yang menghebohkan ini.

I Made Andi Arsana
Dosen Geodesi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
http://www.antaranews.com/berita/243545/membaca-crop-circle-dari-udara


Ilmuwan AS: Ada Energi Tak Terlihat Pembentuk Crop Circle

Peneliti sekaligus ahli corp circle asal Amerika Serikat (AS), Nancy Talbott, menyatakan pembentukan pola pada corp circle melibatkan energi di mana ilmu sains belum bisa memberikan penjelasan. Demikian keterangan Talbott yang dikirimkan melalui email ke redaksi Tribunnews.com, Kamis (27/1/2011).

Talbott yang juga menjabat sebagai Direktur BLT Research Team Inc. yang berkedudukan di Cambridge, Massachusetts, AS ini juga menjelaskan bahwa pada awalnya ia tidak percaya jika mahluk asing atau dikenal dengan sebutan unidentified flying object (UFO) bertanggung jawab atas munculnya fenomena crop circle ini.


"Namun, dengan adanya beberapa penelitian yang dilakukan pada akhir-akhir ini terlihat ada energi yang belum diketahui jenisnya ikut terlibat," ujarnya lagi.

Ia juga menjelaskan ada beberapa aspek mistik yang menjadi perhatian dari penelitian BLT. Ia memberikan contoh seorang pemuda asal Jerman bernama Robbert vd Broeke yang memiliki kemampuan supernatural.

Si pemuda ini satu-satunya di dunia yang bisa tahu kapan dan di mana crop circles terbentuk di Belanda dan ini tentu saja mengherankan terutama kejadian yang berlangsung di sekitarnya. "Saya bahkan pernah bersama Robert dan melihat dua penampakan crop circle," kata Talbott, mengenai pengalamannya di Belanda saat itu.

http://www.tribunnews.com/2011/01/27/ilmuwan-as-ada-energi-tak-terlihat-pembentuk-crop-cirle


Misteri Crop Circle di Sleman Hingga Kini Belum Terpecahkan

Fenomena misterius berupa lambang 'UFO' di Sleman, Yogyakarta, juga terjadi di belahan bumi lainnya. Di negara-negara Eropa fenomena ini dikenal sebagai crop circle, misteri pembentukannya hingga kini belum terpecahkan.

Berdasarkan penelusuran detikcom dari berbagai sumber di blogspot.com, Senin (24/1/2011), crop circle merupakan fenomena alam yang kerap dijumpai. Sudah hampir 350 tahun semenjak kemunculan perdana di Inggris pada tahun 1647, sampai sekarang cara pembentukannya masih misterius.

Crop circle adalah suatu bentuk lingkaran dan bentuk bentuk lain seperti geometri yang kebanyakan berukuran cukup besar, biasanya terbentuk di ladang pertanian. Di Inggris, Amerika, Jepang, dan Australia kerap ditemukan fenomena ini.

Bentuknya pun beragam, dari mulai lingkaran sederhana hingga bentuk geometris yang sangat kompleks. Beberapa diantaranya bahkan berbentuk citra flora dan fauna yang unik dan menunjukkan bahwa pembuatnya adalah makhluk yang cerdas.

Sebuah video yang berhasil merekam proses terjadinya sebuah crop circle di oliver’s castle pada tahun 1996, menunjukkan bahwa sebuah crop circle berukuran besar terbentuk dalam waktu hanya sekitar 20 detik.


Banyak spekulasi mengenai peroses terbentuknya crop circle. Ada yang beranggapan fenomena tersebut rekayasa manusia, tapi ada pula yang beranggapan murni dari proses gejala alam. Namun hingga kini belum ada kesimpulan pasti atas sebab terjadinya fenomena tersebut.

Sebelumnya diberitakan, warga Sleman, Yogyakarta, dihebohkan oleh tanda misterius di persawahan yang muncul usai angin kencang. Warga setempat meyakini tanda yang berbentuk lingkaran raksasa tersebut sebagai pendaratan pesawat 'UFO' dari planet lain.

Lambang tersebut berbentuk lingkaran berdiameter 70 meter. Di tengah lingkaran raksasa tersebut terdapat lambang misterius. Tanda tersebut dibentuk oleh hamparan padi yang rebah setelah terjadinya angin kencang.

Pihak Kepolisian pun membenarkan munculnya lambang misterius 'UFO' tersebut. Polisi bahkan sudah mengabadikan peristiwa langka tersebut.

Elvan Dany Sutrisno
http://www.detiknews.com/read/2011/01/24/010042/1552727/10/misteri-crop-circle-di-sleman-hingga-kini-belum-terpecahkan


Ada SUTET di atas Lambang Misterius 'UFO' di Sleman

Terdapat SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) di atas lambang misterius 'UFO' di daerah persawahan di Sleman, Yogyakarta. Sejumlah ahli menyebut lambang ini sebagai crop circle yang terbentuk karena pengaruh medan magnet bumi.

Sejumlah ahli di Amerika mempercayai 80 persen dari crop circle direkayasa oleh manusia dan 20 persen kemungkinan tercipta sendiri oleh medan magnet bumi.

"Aliran SUTET berada di atas sawah yang ada lambangnya," ujar salah seorang warga setempat, Pradhita Wahyu, kepada detikcom, Minggu (23/1/2011).


Ahli asal AS, Jeffery Walson yang telah meneliti 130 lingkaran simbol di ladang gandum menemukan fakta bahwa 90 persen di sekitar lambang misterius ini terdapat transformator yang berhubungan dengan kabel listrik berkekuatan tinggi.

Ada pertemuan antara elektrik negatif yang dihasilkan dari aliran air di sekitar sawah dengan elektrik positif yakni kabel bertegangan tinggi, sehingga terbentuklah medan magnet listrik. Medan magnet inilah yang kemudian merobohkan gandum lalu membentuk lingkaran aneh.
Namun demikian temuan ahli ini belum sepenuhnya terbukti. Para ahli belum bisa memberikan seluruh jawaban untuk pertanyaan mengenai bentuk yang dihasilkan serta tujuan pembuatannya.

Elvan Dany Sutrisno
http://www.detiknews.com/read/2011/01/23/233439/1552720/10/ada-sutet-di-atas-lambang-misterius-ufo-di-sleman?nd992203605

Tuesday, January 11, 2011

Aktor Kawakan Amak Baldjun Telah Tiada


Aktor teater dan film kawakan Amak Baldjun meninggal dunia pada usia 68 tahun di Rumah Sakit MH Thamrin, Salemba, Jakarta, Rabu (5/1/2011) sekitar pukul 04.45. Setelah disemayamkan di rumah duka di Jalan Kebalen 6 Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, jenazah dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta, Rabu siang, setelah shalat dzuhur.

Menurut putri ketiga Amak Baldjun, Naila, almarhum meninggal akibat serangan stroke dan pendarahan di batang otak. Amak Baldjun pingsan setelah menjalankan shalat ashar di sebuah pengajian di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (2/1/2011) sore. Setelah dirawat sebentar di RS Tebet, Amak lantas dipindah ke RS MH Thamrin pada Minggu malam.

Ayah tidak pernah sadar selama tiga hari lebih. Rabu sekitar 04.45, beliau meninggal,” kata Naila.


Menurut catatan keluarga, ini adalah serangan stroke ketiga setelah serangan pertama tahun 2006 dan kedua Mei 2010. Almarhum meninggalkan tiga anak, yaitu Reihana (37), Farhana (35), dan Naila (28), serta dua cucu, yakni Hanif (11) dan Hudan (9). ”Beliau ayah yang demokratis, sabar, dan sayang kepada anak-anak,” kata Naila menambahkan.

Kerabat, kawan, serta sejumlah seniman teater dan film melayat di rumah duka. Tampak hadir, antara lain, aktor senior Amoroso Katamsi, penyair Taufiq Ismail, aktris Jajang C Noer, Ratna Riantiarno, Cok Simbara, serta sutradara Nano Riantiarno, Jose Rizal Manua, dan Chaerul Umam.

Amak Baldjun lahir di Surabaya, Jawa Timur, tahun 1942 dan menghabiskan masa remaja di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, kemudian lebih aktif di dunia seni peran. Sempat bergabung dengan Bengkel Teater WS Rendra di Yogyakarta, kemudian ia ikut membesarkan Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer sejak awal tahun 1970-an.


Setelah bermain sejumlah lakon di Teater Kecil, Amak kemudian merambah ke dunia film. Akting yang matang membawanya masuk sebagai nomine aktor pembantu pria terbaik lewat film Janur Kuning dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1980 serta nomine aktor pembantu pria terbaik film Ramadhan dan Ramona pada FFI tahun 1992. Salah satu film terakhirnya adalah Ayat-ayat Cinta (tahun 2007) garapan sutradara Hanung Bramantyo, di mana dia berperan sebagai hakim.

Sutradara Teater Koma, Nano Riantiarno, menilai Amak Baldjun adalah aktor yang kuat. ”Dia punya kekayaan imajinasi untuk mendekati tokoh yang dimainkan dengan karakter berbeda. Dia menjadi abang bagi adik-adiknya yang belajar bermain teater dan film,” katanya.

oase.kompas.com


Aktor
***untuk Amak Baldjun (1942-2011)

SATU adegan dalam Hamlet: Pangeran yang selalu bimbang untuk bertindak itu membawa masuk sebuah teater keliling untuk mentas di Istana Elsinore. Ia merencanakan sesuatu yang cerdik, nakal, dan berbahaya: ia akan memprovokasi raja baru, Claudius. Ia perhitungkan baginda akan bereaksi keras dengan lakon yang disiapkannya —hingga terungkaplah kejahatannya sebagai pembunuh khianat kakaknya sendiri, raja lama, Hamlet tua.

Adegan pementasan dalam tragedi Shakespeare ini menentukan. Yang dipentaskan ”Pembunuhan Gonzago”. Hamlet menamakannya ”jebakan tikus”. Dan benar, Claudius terjebak. Ia terguncang menyaksikan pementasan itu: yang dilakukan para aktor di pentas itu persis seperti kejahatan yang diperbuatnya.


Di sini, ”Pembunuhan Gonzago” berhasil. Hamlet sudah memperkirakannya: ”I have heard that guilty creatures sitting at a play/ Have by the very cunning of the scene/ Been struck so to the soul.

Pernah mendengar bahwa orang-orang yang bersalah yang menonton sebuah lakon dapat terpukul hatinya karena sebuah adegan, malam itu, di ruang pertunjukan Istana Elsinore, Hamlet bersiap, gugup, tapi waspada. Sebelum pertunjukan dimulai, Hamlet memutuskan satu peran buat sandiwaranya: ”The play’s the thing/ Wherein I’ll catch the conscience of the king.

Agaknya di mana-mana orang teater menyimpan ambisi yang sama: sebuah lakon akan masuk ”menangkap” hati nurani orang yang berkuasa. Lebih sederhana lagi: para penulis lakon, sutradara, dan aktor menyimpan hasrat (atau mimpi) bahwa teater akan bisa mengubah hidup.

Tapi tak demikian itu akhirnya.


Yang menarik dalam Hamlet ialah bahwa sebuah lakon ternyata mengandung dua peran yang bertentangan. Di satu sisi, ia bagian dari tindakan transformatif. Di Elsinore, ”Pembunuhan Gonzago” disutradari Hamlet, seorang pangeran yang memanggul tugas politik untuk membalas dendam dinastinya. Lakon itu langkah awal. Seperti saya katakan tadi, dalam hal ini lakon itu berhasil. Tapi di lain sisi, sebuah teater justru punya kelebihan bila dibandingkan dengan tindakan politik yang seharusnya.

Hamlet menyadari itu beberapa saat sebelum pertunjukan mulai. Ia melihat bagaimana seorang aktor,

… hanya dalam satu fiksi, satu gelora dalam mimpi, mampu memaksa sukmanya masuk ke geraknya yang piawai, dan wajahnya pun tampak layu, air matanya membasah, pandang beralih, suara terputus…


Sebuah tubuh yang berubah —dan semua itu dilakukan bukan untuk apa-apa. ”And all for nothing”. Atau, katakanlah, aktor itu dengan seluruh dirinya jadi orang lain hanya karena seorang Hekuba. Tapi apa arti dirinya bagi Hekuba, dan Hekuba bagi dirinya, hingga ia harus menangis buat perempuan Troya yang sedih dalam karya kuno Yunani itu?

Dibandingkan dengan sang aktor yang tampil di pentas sebagai Hekuba, pangeran yang merancang perubahan kekuasaan itu, Hamlet, justru merasa dirinya seorang yang palsu. ”Oh, what a rogue and peasant slave I am!,” keluhnya. Ia merasa seperti keledai dengan keberanian yang terbatas. Ia hanya memuntahkan kata-kata, seperti pelacur murahan. ”Like a whore…,” katanya —sebuah analogi yang ganjil sebenarnya, sebab dalam kebimbangannya yang terus-menerus, Hamlet tak hendak melayani siapa pun, kecuali pesan hantu mendiang ayahnya yang terbunuh.

Ia mungkin berlebihan, tapi benar: sang aktor di pentas tampak lebih unggul. Kelebihan itu bukan hanya ketika dibandingkan dengan seorang Hamlet yang cuma berani mengutarakan kata. Acting lebih bernilai ketimbang action karena seorang aktor, atau sebuah teater, mendapatkan maknanya ketika hadir tanpa perhitungan.And all for nothing”.


Dibanding itu tampak, pekerjaan politik Hamlet punya tujuan spesifik. Laku Hamlet terbatas pada tugas yang dibebankan ke pundaknya oleh almarhum ayahnya. Seluruh tragedi Hamlet terbangun oleh desain dendam. Ia memang mengatakan, dengan sarkasme yang terbuka, bahwa Denmark, di bawah Claudius, adalah ”sebuah penjara”. Tapi bukan saja Hamlet ragu untuk menjebol penjara itu. Emansipasi sama sekali bukanlah agendanya.

Atau sebenarnya tak ada politik dalam diri Hamlet —dan bagi saya, itulah sumber melankolinya yang mendasar. Ia tak kunjung bertindak karena ia tak punya alasan yang mendorongnya jadi seorang militan: pada dirinya tak ada desakan untuk melakukan sesuatu bagi dunia yang lebih luas, untuk kebaikan siapa saja, kini dan kelak. Untuk liyan.

Sementara itu, seni akting adalah sebuah keputusan tiap saat, sebuah laku tiap momen, yang terdorong untuk mencapai sesuatu yang sempurna, sesuatu yang ”benar” dan ”indah”, meskipun tak jelas apa itu, tapi jelas untuk siapa saja.


Saya melihat Amak Baldjun di pentas dalam Sumur Tanpa Dasar. Ia memerankan tokoh utama, Jumena Wartawangsa, melalui adegan yang berlangsung —dalam kata-kata penggubahnya, Arifin C. Noer— di rumah, dalam pikiran Jumena atau ”di mana saja”. Ia bergerak dalam ruang dan tanpa ruang, sendirian tapi juga tak sendirian. Kepiawaian Amak adalah ia tak mencoba menggapai sesuatu yang di luar proses tubuh dan kejiwaan itu. Namun ia, aktor yang ulung, terus-menerus bergerak di panggung dari dirinya sendiri dan ke diri orang lain, bolak-balik, terus-menerus. Ia tak dikuasai tokoh yang diperankannya, ia tak menguasai tokoh itu.
Artinya ia tak bisa berlebihan ke satu sisi dan berlebihan ke sisi lain. Tak berlebihan, itulah tujuan ”bermain”, the purpose of playing, sebagaimana nasihat Hamlet ke para aktor yang ia siapkan di Elsinore malam itu.

Sebab dalam ”bermain”, manusia tak bisa utuh dan sendiri. Sang aktor memberi kita tauladan tentang itu.

Goenawan Mohamad
www.tempointeraktif.com

Thursday, December 16, 2010

WikiLeaks dan Diplomasi


Pembocoran informasi rahasia oleh situs WikiLeaks telah membuat wajah Amerika Serikat merah padam.

Kita tak habis pikir, kok bisa dokumen berklasifikasi rahasia jatuh ke tangan pihak yang tidak punya kewenangan. Kalau saja dokumen tersebut milik negara yang tidak canggih dalam penanganan informasi, hal itu mudah dimengerti. Namun, bukankah yang mengalami kebocoran informasi adalah negara maju dalam teknologi informasi?

Dari kawat diplomatik antara kedutaan AS di sejumlah negara dan Washington, dunia mengerti apa penilaian diplomat AS tentang pemimpin dunia, yang banyak di antaranya merupakan sahabat AS. Ada komentar tentang kanselir Jerman, presiden Perancis, dan mantan pemimpin Inggris. Kalau hanya komentar tentang pemimpin, di negara demokrasi itu hal umum. Yang menghebohkan adalah pengungkapan bahwa pemimpin negara Arab mengimbau AS untuk menyerang Iran guna menghentikan program nuklirnya.


Kita bisa melihat, dalam soal menilai pemimpin, yang jadi kikuk adalah AS, sedangkan untuk soal Iran, tak disangsikan lagi yang terbongkar adalah sikap politik negara-negara Arab. Negara Arab sahabat AS memilih tidak mengomentari isi informasi yang dibocorkan ini. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyatakan, ia percaya hubungan diplomatik AS dengan negara yang disebut bisa menahan keguncangan yang terjadi.

Di luar reaksi yang muncul, baik dari negara yang pemimpinnya disebut-sebut dalam kawat maupun dari AS sendiri, pengamat diplomasi bisa melihat dan membandingkan, apa yang disampaikan dalam diplomasi, dan apa yang sebenarnya menjadi isi hati.

Untuk negara Arab, ternyata apa yang diungkapkan di belakang layar berlainan dengan apa yang disampaikan di forum. Seperti dikutip International Herald Tribune, mana berani negara-negara Arab menyampaikan imbauan kepada AS untuk menyerang Iran.


Hal lain yang dapat kita simak dari pembocoran oleh WikiLeaks ini adalah kuatnya visi Julian Assange, pendiri dan pemimpin redaksi situs yang amat masyhur di dunia ini. Kita bisa mengatakan, sungguh berani dia, padahal AS sudah memperingatkan sebelum pembocoran dilakukan.

Kita catat juga misi WikiLeaks, membocorkan informasi rahasia dilakukan untuk memerangi korupsi pemerintah dan korporasi. Itulah keterbukaan yang berani. Kita juga bisa mencatat, ternyata di balik berbagai informasi yang kita tahu, sebenarnya masih ada banyak lagi informasi yang kita tidak tahu, dan boleh jadi maknanya bertolak belakang dari yang kita dengar di ruang publik.

Dalam kaitan ini, kearifan yang bisa kita tangkap adalah di era informasi yang penuh liku dan jebakan, kita tak bisa begitu saja larut dalam kelimpahan informasi. Rupanya tetap —atau bahkan semakin— dibutuhkan kewaspadaan tersendiri. Selain itu, rupanya diperlukan juga komunikasi lebih jujur dan tulus, bahkan di antara pihak yang tergolong sahabat sekalipun.

Tajuk Rencana KOMPAS
http://cetak.kompas.com/read/2010/12/02/02551391/tajuk.rencana


Perang WikiLeaks Memanas

Para pendukung WikiLeaks terus mengobarkan perang data di internet dengan menyerang situs pihak-pihak yang dianggap anti-WikiLeaks. Sementara WikiLeaks terus membocorkan kawat rahasia yang menunjukkan rasa superioritas AS terhadap negara-negara lain.

Situs perusahaan kartu kredit Visa cabang Eropa (www.visaeurope.com) dan situs resmi Pemerintah Swedia (www.regeringen.se) menjadi sasaran terbaru kelompok aktivis peretas (hacktivist) bernama Anonymous.

Harian Aftonbladet di Swedia melaporkan, situs regeringen.se mati beberapa jam dari Rabu tengah malam hingga Kamis (9/12) dini hari. Sementara situs visaeurope.com masih belum bisa diakses dari Jakarta hingga Kamis petang.

Sebelumnya, kelompok hacktivist yang sama juga menyerang blog lembaga layanan keuangan ThePayPalBlog.com, situs bank PostFinance di Swiss, situs kantor jaksa penuntut Swedia, situs kantor pengacara dua wanita Swedia yang melaporkan pendiri WikiLeaks Julian Assange dalam kasus pelecehan seksual, dan situs dua politisi AS penentang WikiLeaks, yakni Sarah Palin dan Senator Joe Lieberman.


Anonymous mengincar perusahaan-perusahaan yang telah memutuskan, dengan alasan apa pun, untuk tak berurusan lagi dengan WikiLeaks,” ungkap juru bicara Anonymous berjuluk Coldblood dalam wawancara dengan BBC Radio 4.

Coldblood mengatakan, Anonymous telah merekrut sedikitnya 4.000 peretas di seluruh dunia, yang siap menyerang pihak-pihak yang memiliki ”agenda anti-WikiLeaks” dalam sebuah gerakan yang dinamakan Operation Payback (Operasi Balas Dendam).

Kami berusaha menjaga internet tetap bebas dan terbuka, tetapi beberapa tahun belakangan pemerintah (berbagai negara) mencoba membatasi kebebasan itu. Situs web yang tunduk pada kemauan pemerintah akan menjadi sasaran kami,” kata dia.


Superioritas AS
Bocoran terbaru dari WikiLeaks makin menunjukkan AS merasa superior terhadap negara lain dan bisa bertindak sewenang-wenang kepada siapa pun.

Dalam sebuah kawat tertanggal Februari 2007, AS meminta Jerman tak menangkap dan menahan 13 agen CIA yang terlibat kasus salah tangkap seorang warga negara Jerman, Khaled-el-Masri, pada 2003. Masri dituduh sebagai anggota Al Qaeda dan disiksa lima bulan di sebuah penjara rahasia di Afganistan sebelum dibebaskan.

Dalam kawat tersebut, AS mengancam apabila Jerman jadi menangkap para agen CIA itu, hubungan Jerman-AS akan terganggu. Jerman akhirnya membatalkan surat perintah penahanan terhadap mereka.


Dalam kawat lain tertanggal 23 Februari 2010, Asisten Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Afrika Johnnie Carson menyebut China sebagai ”kompetitor ekonomi yang sangat agresif, jahat, dan tak bermoral” dalam sebuah pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak di Nigeria.

Lebih dari 1.600 perusahaan China menanam investasi senilai 1,44 miliar dollar AS di Afrika pada 2009. ”China berada di Afrika untuk (kepentingan) China sendiri,” cetus Carson.

http://cetak.kompas.com/read/2010/12/10/04264433/perang.wikileaks.memanas


Dari Gosip sampai "Bukan Rahasia"

Masih berpikir Amerika Serikat adalah negara bebas yang menjunjung tinggi kemerdekaan pers, kebebasan mendapatkan informasi, dan bisa memisahkan urusan negara dengan ranah pribadi? Jika masih, berpikirlah ulang ....

Badan-badan pemerintah federal AS telah mengeluarkan peringatan, setiap pegawai negeri di negara itu yang membaca bocoran dokumen kawat diplomatik rahasia di WikiLeaks bisa dipecat dari pekerjaannya.

Salah satu badan pemerintah itu adalah Kantor Manajemen dan Anggaran Gedung Putih. Kantor tersebut mengirim memo berisi larangan kepada setiap pegawainya yang tak punya otorisasi dan seluruh rekanan untuk membaca dokumen rahasia di situs WikiLeaks maupun situs apa pun, baik di komputer milik pemerintah maupun komputer pribadi mereka.


Belakangan beredar surat elektronik yang berisi peringatan, pelajar dan mahasiswa yang ketahuan membaca dokumen rahasia di WikiLeaks, sekadar memasang link menuju dokumen itu atau mengomentari isinya di situs jejaring sosial bisa terancam tak akan diterima bekerja sebagai pegawai negeri di AS.

Pemerintah AS berpendapat, dokumen-dokumen tersebut masih berstatus rahasia meski sudah beredar luas di internet maupun dimuat di media massa. ”Jadi, membaca, menyebarkan, atau sekadar mengomentari dokumen-dokumen itu bisa dianggap sebagai pelanggaran terhadap Executive Order 13526 tentang Informasi Keamanan Nasional Rahasia,” tutur Maura Kelly, asisten dekan bidang pengembangan karier di Boston University.

Padahal, isi dokumen yang dikategorikan rahasia, yang bocor di WikiLeaks, itu banyak yang sekadar berisi gosip macam di arisan ibu-ibu, seperti mengomentari kepribadian dan kebiasaan orang sampai jenis hidangan yang disajikan dalam pesta pernikahan.


Salah satu kabel, misalnya, mengomentari pemimpin Libya Moammar Khadafy yang selalu didampingi perawat ”bahenol” dari Ukraina. Presiden Turkmenistan disebut ”tidak terlalu cerdas” dan ”pembohong terlatih”, yang konon pernah mengharuskan setiap orang yang masuk ke ruangannya memakai celana yang tersetrika licin.

Dalam kawat lain yang dikutip majalah The Economist, seorang diplomat menggambarkan pesta pernikahan yang dihadiri Presiden Chechnya Ramzan Kadyrov di kawasan Kaukasus Utara, Rusia. Hidangan dalam pesta itu digambarkan sebagai ”potongan-potongan sapi dan kambing” yang direbus jadi satu di sebuah kuali besar.

Laporan kuliner lain datang saat Duta Besar AS untuk Eritrea Ronald McMullen diundang piknik makan siang oleh seorang pejabat senior negara di Afrika itu. ”Bapak Duta Besar dan ibu disuguhi jeroan kambing bakar yang diberi madu dan saus pedas (tetapi disajikan tanpa sendok garpu) dan dilumuri minuman tradisional yang semi difermentasi dan rasanya asam, namanya ’sewa’,” demikian bunyi kawat diplomatik itu.


Banyak juga yang berisi informasi yang sudah diketahui publik atau bahkan dicomot dari koran atau majalah umum. Salah satu dokumen berlabel rahasia (baru boleh dipublikasikan tahun 2019) hanya berisi informasi bahwa Kanada adalah teman setia AS dan bahwa politisi Partai Konservatif di Inggris tidak rukun dengan politisi dari Partai Liberal Demokrat. Sesuatu yang sudah lazim diketahui semua orang.

Ada pula satu kawat dari Kedubes AS di Ankara, Turki, yang seluruh paragrafnya diberi tanda ”bukan rahasia”, tetapi dokumennya sendiri secara utuh dilabeli ”rahasia”.

Aneh bukan?

http://cetak.kompas.com/read/2010/12/10/04272156/dari.gosip.sampai.bukan.rahasia