Thursday, July 28, 2022

RRC Cemas Menghadapi Fenomena Anies Baswedan!


Di awal musim dingin yang datang lebih cepat, para petinggi China berdiskusi di ruang luas berwarna merah yang didominasi potret raksasa Mao Zedong, pendiri rezim komunis China. Di sana ada pejabat intelijen, urusan luar negeri, ekonomi, media, pakar ASEAN, dan pakar Indonesia. Tapi ruang terasa sepi seperti hutan belantara.

Lalu, Presiden, Xi Jin Ping memecahkan kesunyian. “Apakah hasil pilpres Indonesia akan melestarikan status quo?” Satu per satu para pejabat itu mengemukakan pendapat dengan hati-hati. Intinya, kepentingan China di Indonesia belum aman.

“Kalau Anies Baswedan memenangkan pertarungan, pendulum politik Indonesia akan berayun lebih ke tengah. Bahkan, landscape politik Indo-Pasifik akan berubah,” kata pakar ASEAN.


Mereka beranggapan, Anies akan meninjau ulang deal-deal bisnis bidang infrastruktur dan pertambangan Indonesia-China —yang oleh pakar Indonesia dianggap tidak fair— sebagaimana dulu dilakukan PM Malaysia Mahathir Mohamad.

“Dia itu nasionalis tulen, sekaligus cendekiawan ekonomi dan politik yang cerdik. Tidak mudah menghadapi dia. Lagi pula, populeritas China di sana (Indonesia) merosot tajam belakangan ini akibat ketidakarifan kita memperlakukan bangsa yang sepanjang sejarahnya terdapat banyak simpul gerakan anti-China,” kata pakar Indonesia.

Mereka juga membahas kemungkinan berubahnya landscape politik Indo-Pasifik bila Anies memimpin Indonesia. Pembahasan dari perspektif Indonesia berjalan begini: Dari sisi geopolitik, mestinya Indonesia —dengan perbedaan budaya, sejarah, dan besaran ekonomi dibanding dengan bangsa ASEAN lain— berperan sebagai game changer di kawasan untuk sebesar-besar keuntungan bangsa.


Faktanya, Jakarta tak memainkan peran yang seharusnya di tengah persaingan kita bersama Rusia versus AS-Sekutu di kawasan. Penyebabnya, presiden Indonesia tak punya visi tentang Indo-Pasifik. Akibatnya, kementerian luar negerinya tak punya pedoman yang otoritatif dalam menjalankan politik regional, terutama dalam hubungan dengan kita, sehingga politik luar negerinya terasa mandul. Menterinya lebih memilih main aman.

Maka kita, juga lawan kita, terpaksa mengabaikan Jakarta. “Memang aneh, negeri yang begitu besar tak memahami dirinya sendiri, apalagi memahami lingkungannya,” kata pakar Indonesia. Bahkan, posisinya sebagai big brother ASEAN pun tergerus.

Kita sudah mulai menyingkirkan peran Jakarta. Lihat, ketika krisis Myanmar kian suram, yang mengganggu keamanan, ekonomi, dan kinerja ASEAN, Indonesia hanya jadi penonton setelah sedikit usaha. Peran kita di sana justru lebih menentukan. Kini, bisa dikatakan Myanmar telah menjadi “milik” kita setelah Kamboja. Dengan demikian, konsep sentralitas ASEAN di Indo-Pasifik yang dikembangkan Indonesia kehilangan makna karena, mau tak mau, Jakarta harus beradaptasi dengan kehendak kita. Ternyata mudah saja menelikung ASEAN.


Sebentar lagi, berkat kemampuan ekonomi, politik, dan militer kita, cepat atau lambat seluruh ASEAN akan jatuh ke lingkungan pengaruh (sphere of influence) kita. Untuk itu, kita harus secepatnya taklukan Indonesia lebih dulu. Kalau berhasil, teori domino akan berlaku: satu demi satu bangsa ASEAN akan luruh. Untuk tujuan itu, kita harus lebih agresif mengobral investasi mumpung rezim di sana menjadikan investasi asing sebagai sokoguru pembangunan ekonominya. Utang juga harus kita berikan sebanyak yang mereka minta. Kalau kita berhasil menjerat Indonesia dengan utang (debt trap), klaim kita atas Laut Natuna Utara (sebelumnya disebut Laut China Selatan) bisa jadi tak mendapat resistensi berarti.

Sekarang saja Jakarta segan bermasalah dengan kita. Padahal, bargaining position mereka vis a vis kita cukup besar. “Bukankah kita akan sangat rugi bila harus juga berkonflik dengan Indonesia ketika kita butuh teman strategis menghadapi musuh?” kata pejabat urusan luar negeri.

Kita tahu, dalam menghentikan upaya ekspansi kita di Laut China Selatan, AS-Inggris-Australia membentuk aliansi militer bernama Quad. AS juga, bersama Jepang, Australia, dan India membentuk AUKUS. Mereka bilang, tujuan Quad dan AUKUS adalah menjaga LCS dan Indo-Pasifik tetap menjadi kawasan bebas navigasi dan inklusif. Namun, sesungguhnya mereka hendak membatasi lebensraum (living space) kita, yang sangat kita butuhkan dalam menjaga momentum perkembangan kita menjadi adidaya tunggal.


Pandangan AS dan sekutunya sebenarnya sejalan dengan visi Indonesia tentang sentralitas ASEAN di Indo-Pasifik. Namun, ASEAN punya jalan sendiri yang tidak konfrontatif menghadapi kita. Akibat ASEAN Way ini, dalam pembentukan Quad maupun AUKUS, Indonesia tidak dimintai pendapatnya. “Padahal, negeri ini beresiko besar bila terjadi konflik militer terbuka antara kita dan AS-Sekutu,” kata pejabat militer.

Kita harus bantu Rusia agar bisa memenangkan perang Ukraina karena dengan demikian rencana kita menduduki Taiwan dengan bantuan Rusia akan mudah terlaksana. Kemenangan mudah kita di Taiwan akan menggentarkan ASEAN, khususnya Indonesia, untuk berpikir seribu kali kalau mau menghalangi kehendak kita. Mungkin sekali musuh kita telah menghubungi Jakarta untuk ikut serta dalam aliansi-aliansi itu mengingat posisi geografisnya yang sangat strategis. Namun, Jakarta menolak.

Hal ini bisa difahami karena Indonesia tak mau terlihat berseberangan dengan kita. Musuh kita hanya mau menarik ASEAN ke dalam kerja sama militer. Tentu saja ini pikiran yang bodoh. Seharusnya mereka membanjiri ASEAN dengan duit sebagaimana yang kita lakukan. Itu pun belum tentu mereka mendapatkan hasil maksimal karena mustahil ASEAN yang lemah bersedia bermusuhan dengan negara raksasa seperti kita, yang kemajuannya akan membuat ASEAN kecipratan rezeki. Namun, keadaan akan berubah bila Anies memimpin Indonesia.


“Apakah dia akan mengambil sikap anti-China? Apakah dia akan mengutak-atik masalah Muslim Uighur?” Tanya presiden Xi Bopeng. “Tentu saja tidak. Anies seorang yang sangat rasional, yang pandai mengubah kelemahan menjadi kekuatan,” kata ketua intelijen yang mendapat laporan dari Jakarta. Pakar Indonesia menambahkan, “Terlalu besar ruang yang dapat ia eksploitasi untuk menguatkan posisi bangsanya menghadapi kita.”

Dia adalah figur internasional yang punya jalinan pertemanan dengan institusi-institusi bergengsi di seluruh dunia. Ini karena pemikiran dan komitmen demokrasi dan HAM yang mendapat simpati luas. Mengingat ada keluhan rakyat Indonesia tentang kerja sama ekonomi dengan kita, yang dianggap terlalu menguntungkan kita, sangat mungkin Anies akan meninjau kembali. Dulu, dengan sangat berani dia menghentikan proyek reklamasi di Teluk Jakarta yang didukung penguasa karena merugikan banyak pihak.

Dia sangat mahir mengangkat martabat orang, kelompok, atau entitas, sebagaimana dia lakukan atas Kota Jakarta dan masyarakatnya. Gagasannya sambung menyambung secara tidak terduga dan selalu mempesona. “Anies seperti kepiting, kita akan selalu tidak tahu ke mana ia akan bergerak kalau disentuh. Orang seperti ini tidak mudah kita kalahkan,” kata pakar Indonesia.


“Besarnya dukungan yang dia peroleh dari musuh kita akan meningkatkan bargaining position Indonesia. Mungkin kita harus melepaskan klaim kita atas Laut Natuna Utara untuk meneguhkan pertemanan kita dengan Indonesia,” kata pejabat urusan luar negeri.

Kita juga terpaksa harus bersedia berunding ulang dengan dia mengenai konsesi-konsesi tambang dan proyek infrastruktur karena desakannya untuk itu akan sangat populer. Dan kita tak dapat menekannya secara ekonomi karena mudah saja dia mengganti posisi kita dengan negara lain.

“Ingat, tambang-tambang nikel di berbagai daerah di Indonesia yang telah kita kuasai juga diminati banyak negara. Bukankah nikel, bahan utama baterei, adalah komoditas masa depan ketika dunia berkomitmen segera meninggalkan bahan bakar fosil?” Kata pejabat ekonomi.

Menurutnya, Anies akan mengeksploitasi ketidakadilan dalam perjanjian-perjanjian investasi yang banyak menyerap tenaga kerja kita, padahal pengangguran di negeri itu cukup tinggi. “Mengenai Uighur?” Menurut pejabat urusan luar negeri, kita memang punya teman ormas Islam terbesar di sana yang mungkin akan membentengi posisi kita di sana. Toh juga, dunia Islam mendiamkannya.


Jadi, mestinya ruang Anies untuk bermanuver terkait itu ini terbatas. Namun, pemimpin ormas besar itu telah berganti yang mungkin akan mengambil jarak dengan kita demi mengakomodasi aspirasi AS dan sekutunya. Juga untuk memainkan peran pengimbang di antara ormas lain dalam negeri yang kritis terhadap kita. Dan, sekali lagi, kita tak dapat memperkirakan langkah apa yang akan diambil Anies. Yang jelas, kalau dia terpilih, narasi Islamofobia yang dipakai pendahulunya untuk membungkam lawan akan dihentikan. Dan landscape Islam di Indonesia juga akan berubah.

“Tentu saja dia bukan seorang Islamis yang mempromosikan politik Islam. Andai saja dia melakukan itu, pemerintahannya akan langsung kolaps,” kata ketua intelijen. Yang akan dilakukan Anies adalah mempersatukan bangsa yang terbelah. Untuk itu, kaum Muslim konservatif yang selama ini ditindas akan dikembalikan hak-haknya yang sama dengan warga negara lain. Ini konsekuensi dari komitmennya yang kuat pada pluralisme, demokrasi, dan HAM, serta demi konsolidasi sumber daya bangsa yang sangat dibutuhkan untuk melangkah maju.


Dengan demikian, mungkin saja Anies akan memadukan energi Islam dan nasionalisme sekuler, yang sesungguhnya merupakan jati diri bangsa, yang dapat dikapitalisasi untuk menjadikan Indonesia sebagai game changer di kawasan. Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Australia, India, dan AS beserta sekutunya sudah lama menginginkan Indonesia menjadi salah satu pemain utama yang mengubah permainan, paling tidak mengubah perilaku kita.

Posisi Indonesia memang unik, yang selama ini tak dapat dikapitalisasi secara maksimal oleh pemimpin Indonesia. Dengan posisi ini, kita khawatir Anies akan mendesakkan kepentingan-kepentingan bangsanya kepada kita, dengan konsesi terukur, yang akan sulit ditolak. Kita tak berharap Anies akan mengecam perlakuan kita terhadap Uighur karena dia pun ingin Indonesia mendapat manfaat dari kemajuan kita.

Tapi isu ini, yang oleh Komisi Tinggi HAM PBB dianggap sebagai pelanggaran HAM berat, akan menjadi kerikil dalam penguatan hubungan kita dengan Indonesia. Alhasil, secara keseluruhan, hubungan kita dengan Indonesia tak akan sama lagi. Indonesia di bawah Anies akan tampil bertenaga sebagai bangsa pejuang yang bangga pada dirinya.

Smith Alhadar,
Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDe)
KEUANGAN NEWS, 27/06/2022

Tuesday, June 7, 2022

Senyum Mujahid Syafii Maarif


Sepeda motor Honda CB 125 Pak Syafii Maarif memasuki kampus UII Jl Cik Di Tiro Jogja, lalu dengan langkah cepat ia menuju kantor majalah Himmah yang kecil di ujung koridor. Ia datang untuk rapat perkenalan dengan pengelola majalah mahasiswa itu. Ia tanpa banyak tanya langsung menerima permohonan untuk menjadi penasihat di sana.

Semua peserta rapat sudah siap, dan Pak Syafii berkata: "Sebelum rapat dimulai, saya ingin tahu yang mana yang namanya Hamid Basyaib." Orang-orang tersenyum. Beberapa menyahut, "Itu yang persis di sebelah Bapak." Ia kontan menoleh ke sebelah kanannya, memandangi saya dengan tajam beberapa saat, sebelum ia berkata, "Oh, Anda rupanya!" Ia tidak menyebut "kamu".

"Tulisan Anda itu tidak benar! Fazlur Rahman tidak seperti yang Anda gambarkan. Dia adalah sarjana Muslim yang sangat bertanggung jawab terhadap Islam. Maryam Jameelah itu bukan tandingannya!" Setelah diam sejenak, "Tapi bahasa Indonesia Anda cantik! Bagus."

Maryam Jameelah (Margaret Marcus) dan Fazlur Rahman.

Ia merujuk artikel tiga halaman berjudul "Fazlur Rahman" yang saya tulis di edisi terbaru majalah Himmah. Saya hanya tersenyum mendengar pembelaan Pak Syafii terhadap gurunya di Universitas Chicago itu; tidak berani menyanggah karena modal saya pas-pasan, hanya berdasarkan buku kecil Maryam Jameelah (Margaret Marcus), eks penganut Yahudi yang antara lain menyebut Fazlur Rahman adalah musuh Islam dari dalam dan karenanya lebih berbahaya daripada musuh yang terbuka.

Lagi pula Pak Syafii belajar bertahun-tahun dari pakar Islam Pakistan yang hebat itu, maka tentu ia lebih mengenalnya (dua tahun kemudian, Agustus 1985, saya sempat menemui Fazlur Rahman, tapi dalam status sebagai pengagum beratnya, saat ia dan isterinya hadir di diskusi di kampus IAIN Sunan Kalijaga dengan moderator Prof. Mukti Ali).

Sejak "insiden" itu kami akrab. Ia, katanya, sangat senang terhadap sikap saya, yang mengritiknya tapi pada saat yang sama memintanya menjadi penasihat majalah yang saya kelola. “Begitu semestinya orang Islam dalam berbeda pendapat! Perbedaan tidak menjadi permusuhan. Kita tetap harus bisa bekerja sama.” Tema ini lalu terus ditekankannya sampai bertahun-tahun kemudian —dengan hasil yang mengecewakannya.

Kiai Hamam Dja'far (Kiri Atas), Arief Budiman (Kiri), Dawam Rahardjo dan Armahedi Mahzar (Kanan).

Kadang Pak Syafii menjemput saya di kampus dan mengajak ke Pesantren Pabelan di dekat Ambarawa (mestinya dekat Borobudur, Magelang -ass). Berboncengan di Honda CB-nya, kami bisa tiba cepat di Pabelan karena tidak melalui jalan raya. Ia hapal jalan-jalan tikus ke sana, masuk dan keluar kampung-kampung di sepanjang jalan Jogja-Pabelan. Sambil terguncang-guncang, saya tanya bagaimana ia bisa tahu jalan-jalan alternatif yang rumit itu. “Dulu saya sering lewat sini,” katanya.

Saya rasa dia enggan menjawab panjang bukan karena harus konsentrasi di tengah jalanan yang buruk. Itu mungkin karena ia enggan mengenang apa yang ia alami dulu: dari beberapa sumber saya dengar ia di masa mudanya sering berjualan kambing ke kampung-kampung untuk mendapatkan nafkah guna menghidupi keluarga kecilnya. Itu kisah yang terlalu panjang, dan pahit, untuk dituturkan oleh seorang doktor yang baru lulus dari universitas top Amerika dan sedang memegang setang motor dengan khusyuk.

Di ruang tamu rumah Kiai Hamam Dja’far di Pabelan, kadang ada Mas Dawam Rahardjo, Arief Budiman, Aldy Anwar, Armahedi Mahzar. Dua yang terakhir adalah tokoh-tokoh ITB, yang punya persambungan dengan Pabelan karena dihubungkan dengan para aktifis Yayasan Mandiri, sekumpulan aktifis mahasiswa ITB, antara lain Sugeng dan Mochtar Abbas, orang Aceh yang kemudian jadi lurah Pabelan berkat dukungan Kiai Hamam.

Aldy Anwar adalah kerabat Haji Agus Salim yang terkenal pintar sebagai mahasiswa Fisika, tapi tidak menyelesaikan studinya, namun menekuni peluang mengembangkan helio energy (sumber matahari) sebagai bagian penting dari ambisi besarnya untuk melahirkan masyarakat yang "hemat energi, kaya nilai".

Buya Syafii Maarif menyambut kedatangan Presiden Jokowi dengan kedua tangan terbuka di rumah beliau di Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

Kembali ke Jogja malam hari, Pak Syafii mengembalikan boncengannya ke tempat semula, kampus UII. Sebelum berpisah, ia memaksa saya menerima separuh honor yang didapatnya dari forum Pabelan. Saya menolak, tapi dia melesakkan uang itu ke kantong baju saya. Itu jumlah yang cukup besar untuk seorang mahasiswa miskin.

Padahal di forum itu saya cuma melongo melihat orang-orang pintar bertukar pendapat —yang saya sudah lupa apa isinya— dan tidak ada seorang pun yang mempedulikan kehadiran saya, dan sewajarnya mereka bersikap begitu. Hanya saya sendiri yang peduli terhadap tindak-tanduk setiap peserta, misalnya tentang Mas Dawam Rahardjo, yang bersarung dan menggerogoti apel sendirian, yang cuma bikin ngiler.

Kesibukan masing-masing membuat kami tidak bisa berjumpa sesering dulu. Tapi suatu siang Pak Syafii menjemput saya dan mengajak melihat rumah yang sedang dibangunnya di kompleks baru Nogotirto, di Godean (tepatnya di Gamping -ass). Kami pun melihat-lihat, menerobos barisan kayu yang malang melintang, dan ia menerangkan calon ruang yang ada satu per satu.

“Lumayan besar rumahnya, Pak," saya bilang tentang bangunan sekitar 120 m2 itu. “Ya, ini sebetulnya terlalu besar,” ucapnya. "Ini hanya untuk anak dan isteri saya. Kalau saya sendirian, saya cukup indekos di satu kamar saja.”

Buya Syafii pernah berkumis dan pernah pula memelihara jenggot.

Suatu sore saya mengunjunginya di kampus IKIP tempat ia mengajar. Kabarnya ada ruang baru untuk dosen. Maka saya datang untuk melihat keadaannya. Ternyata yang dimaksud "ruang dosen" itu berupa kamar-kamar 2,5 x 2,5 meter persegi (mungkin juga lebih kecil) yang berbaris seperti WC umum. Saya lihat Pak Syafii seperti terhimpit di antara timbunan buku di meja dan barisan bukunya di rak seadanya.

“Beginilah nasib dosen negeri, kalau Anda mau tahu,” katanya. “Doktor lulusan Amerika pun hanya mendapat ruang kerja begini saja.”

Saya berbasa-basi menghiburnya, meski saya sebetulnya kaget melihat kondisi yang tidak layak itu. Memang mudah disimpulkan bahwa perguruan tinggi kita umumnya tidak memuliakan ilmu meski hal itu adalah urusan utamanya. Spirit itu terlihat dari kondisi ruang dosen yang disediakan.

Universitas kita jauh lebih mementingkan aspek-aspek birokrasi pendidikan dan kepangkatan. Ruang dekan jauh lebih baik daripada ruang dosen. Gedung rektorat pasti merupakan gedung yang paling mentereng di seantero kampus —ruang laboratorium harus dipastikan berada di pojok yang sangat sulit ditemukan. Kini, 40 tahun sejak saya mengunjungi Pak Syafii Maarif di ruang kerjanya yang mini, saya tidak melihat perubahan berarti dalam piramida sosial di kampus-kampus kita.


Ahmad Syafii Maarif pulang ke Jogja dari Chicago di akhir 1983 dengan battle cry “umat Islam seribu tahun berhenti berpikir!” Inilah judul wawancaranya di majalah Prisma; dan diulanginya dalam banyak kesempatan. Simptom itu ia rujukkan pada Abu Hamid Al Ghazali, terutama pada karya monumentalnya, “Ihya Ulumuddin”.

Sudah jamak dianggap oleh kalangan pembaru Islam bahwa kemacetan berpikir di kalangan umat Islam adalah gara-gara terbitnya karya Ghazali itu, yang menekankan purifikasi mental individual. Kalangan Syiah biasanya menyanggah anggapan “kemacetan berpikir” ini dengan menyatakan bahwa itu hanya terjadi di wilayah Sunni. Sedangkan di kalangan penganut Syiah, pemikiran tetap subur; para ulama Syiah biasanya juga merangkap filosof —status yang dianggap identik dengan ketekunan berpikir.

Pengaruh Ghazali sedemikian besar, sampai seorang orientalis Inggris, Montgomery Watt, memastikan bahwa sufi Persia itu adalah orang kedua terpenting dalam Islam setelah Nabi Muhammad dalam mempengaruhi pikiran umat Islam.

Tiga Pendekar dari Chicago: Amien Rais, Nurcholis Madjid, dan Syafii Maarif.

Syafii Maarif —yang sebelumnya tidak dikenal sebagai aktifis pembaru Islam, mungkin karena berasal dari Universitas Cokroaminoto Jogja yang kurang ternama— dengan caranya sendiri ikut dalam barisan pembongkar kebekuan Ghazalian. Ia adalah bagian dari barisan sarjana baru Muslim lulusan universitas Barat, bersama dengan Saifullah Mahyudin, Sahirul Alim, Amien Rais, Kuntowijoyo, Yahya Muhaimin, Ichlasul Amal, Mochtar Mas’oed dan beberapa lainnya.

Berbeda dari mereka semua, Syafii satu-satunya yang menekuni studi Islam, bukan di Al Azhar seperti ribuan santri sebelumnya, tapi di Universitas Chicago, Amerika Serikat —meski “belajar Islam ke Barat” sudah dimulai oleh satu-dua orang dari generasi sebelumnya seperti H.M Rasjidi (Prancis dan Kanada) dan Harun Nasution (Kanada).

Beberapa bulan sesudah kepulangan Syafii, kembali pula Nurcholish Madjid, juga dari Chicago, dan sama-sama dibimbing oleh Fazlur Rahman. Suatu kali Cak Nur diundang berdiskusi di kampus UII bersama Fachry Ali, dengan moderator Habib Chirzin. Acara itu benar-benar menyegarkan. Dan malam harinya diadakan diskusi terbatas di sebuah hotel —semua orang ingin memanfaatkan optimal kehadiran Cak Nur.


Saya terlalu muda untuk punya hak hadir di acara yang sangat terbatas itu. Tapi Pak Syafii mengajak saya, dan dengan itu kursi saya terjamin tersedia di acara itu. Sedikit pun tidak ada materi diskusi itu yang saya ingat. Saya hanya terpesona oleh kecemerlangan Cak Nur yang, menurut Kiai Hamam Dja’far yang pernah sekamar dengan Cak Nur di Pondok Gontor, “ayat Quran dan hadits selalu ada di ujung lidahnya”, sehingga sangat mudah bagi Cak Nur untuk mengeluarkannya setiap ia memerlukannya.

Sambil berjalan keluar dari hotel, Pak Syafii bertanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang diskusi tadi?”

“Saya jadi malas belajar, Pak,” jawab saya sekenanya.

“Lho, kenapa?”

“Sekeras apapun saya belajar, saya tidak akan bisa sepintar Nurcholish Madjid .… Orang itu hebat sekali!”

Pak Syafii menyergah, “Tidak benar sikap Anda! Keliru! Anda pasti mampu .…”

Ia bilang ia berangkat ke Amerika untuk mengambil studi S2 pada usia 42 tahun, dan dalam keadaan tidak mengerti apa-apa. “Anda baru 21 tahun sudah jauh lebih mengerti dibanding saya ketika berumur 42. Anda harus doktor di bawah 30 tahun!”

Dari ekspresinya bisa kita tebak bahwa Presiden Jokowi memiliki hubungan yang amat dekat dengan Buya Syafii Maarif.

Ketika Fazlur Rahman ke Jakarta pada 1985, ia mengatakan ia punya dua murid kesayangan di sini. “Nurcholish Madjid adalah mujaddid (pembaru), dan Syafii Maarif adalah mujahid (pejuang),” kata profesor Islamic Studies itu.

Sampai hari-hari terakhirnya, Syafii Maarif —yang dulu kumis tebalnya membuat ia mirip bintang Hollywood Burt Reynolds— menjalankan peran mujahid itu dengan caranya sendiri. Ia terus meneriakkan battle cry “Umat Islam seribu tahun berhenti berpikir”, dengan beragam elaborasi.

Sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah dan kemudian “Buya Guru Bangsa”, belakangan ia mengungkapkan kepedihan hati dan pesimismenya terhadap masa depan Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya tentang kondisi umat Islam beserta corak pemikiran keagamaannya.

Ia tak henti meratapi apa yang dipandangnya sebagai kehancuran moralitas elit dan warga dalam berbangsa dan bernegara, dengan nada pesimistik yang terasa terlalu getir dan melampaui situasi sebenarnya.


Barangkali Pak Syafii sengaja menaifkan diri dalam menyuarakan kerisauannya tentang Indonesia. Ia tentu tahu state policies, beserta dampak-dampaknya pada kehidupan sosial warganegara, adalah urusan yang jauh lebih kompleks untuk dinilai semata-mata berdasarkan patokan akhlak religius, perangkat tunggalnya dalam melontarkan kritik-kritiknya yang keras —terhadap pejabat negara, juga elit-elit ormas Islam radikal.

Tapi suara moral Syafii Maarif, yang telah ditabungnya sejak ia remaja di kampung halamannya di Sumpur Kudus, Sumatera Barat, tetaplah diperlukan, termasuk untuk urusan-urusan yang dianggap tak relevan untuk dicampuri oleh mode akhlak individual. Baginya, segala macam perkara di dunia yang sementara ini —dari soal kebersihan WC umum di terminal bis sampai hubungan-hubungan internasional yang rumit dan berdimensi luas— adalah untuk keperluan menyejahterakan Manusia —dengan M besar.

Dan untuk itu semua orang yang mengenalnya cukup dekat pasti mengerti bahwa kehidupan dirinya sendiri adalah monumen yang meyakinkan tentang kebenaran apa yang disampaikannya. Ia sahih. Kerisauannya yang diungkapkan dengan sepenuh kesungguhan tercetus dari kemanusiaannya yang tulus; dari kejujurannya yang tanpa ampun; dari kesederhanaan perilakunya. Dan pasti juga dari ketidakpeduliannya pada pemilikan harta benda.

Ia, yang sampai berumur 40-an mencita-citakan terbentuknya Negara Islam di Indonesia, seakan menjalani hidup dengan kemurungan konstan. Tetapi saya kira jenis kemurungan semacam itulah yang justeru memberinya energi besar untuk mencapai usia 87 tahun.

Kini ia tak lagi murung. Sejak pukul 10 pagi tadi (27 Mei 2022), ia selalu tersenyum.

Hamid Basyaib
Aktivis dan Mantan Wartawan
Menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah-masalah sosial, dan politik internasional.

https://www.facebook.com/hamid.basyaib

Thursday, May 19, 2022

Al-Quran Turun Sekaligus, yang Bertahap itu Penyampaiannya



BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM. Al-Qurȃn yang “turun” kepada Muhammad semacam software yang di install ke komputer. Semuanya, sekaligus. Tidak berhuruf. Tidak bersuara. Sedangkan aktual penyampaiannya (pembacaan lahiriah ayatnya) baru dilakukan secara berangsur-angsur, sesuai konteks kejadian, sebab dan kebutuhan.

Al-Qurȃn yang turun itu hanya “setitik tinta” (Nun), yang mengandung semua hal. Atau juga, maaf, seperti setetes sperma yang mengandung semua informasi dan struktur tentang manusia.

Jadi, Al-Qurȃn batiniah itu sangat sederhana. But, it encompasses the whole things. The story of everything. Seluruh rahasia alam semesta ada padanya. Dengan demikian, Al-Qurȃn yang asli merupakan Tuhan itu sendiri. Sederhananya, Kalam Ilahi. Pengetahuan Dia. Ya, Dia juga.


Dengan demikian, ketika Al-Qurȃn “turun” kepada Muhammad, Muhammad berubah menjadi Al-Qurȃn. Jadi ‘Tuhan’ (wahdah al-wujud). Jadi Kalam-Nya. Maka tak heran, seluruh ucapan, gerak gerik dan diamnya Muhammad bernilai suci (maksum). Muhammad menjadi dimensi, sinyal atau frekuensi (tajalli) ketuhanan itu sendiri. Keseluruhan diri Muhammad menjadi Wahyu (hadits). “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain adalah wahyu yang diwahyukan” (QS. An-Najm: 3-4).

Jadi, malam “turunnya” Al-Qurȃn adalah malam turunnya Malaikat dan Ruh. Sebenarnya, Al-Qurȃn yang bersifat batiniah memang Malaikat dan Ruh.

Jangan selalu membayangkan malaikat itu semacam manusia yang bersayap. Jangan. Malaikat itu “sinyal ilahiah”. Kode-kode supra-kosmik yang mengandung energi dan informasi-informasi suci. Malaikat itu frekuensi, sinyal-sinyal ketuhanan. Muraqabah. Ia hidup. Ia juga disebut “cahaya”. Bahkan cahaya Tuhan itu sendiri. Sangat murni, powerful dan halus sekali.


Kalau anda “didatangi”, mampu menangkap atau tersambung dengan malaikat; anda akan mendapat sinyal (pengetahuan-pengetahuan), wahyu atau ilham dari Tuhan. Ilmu laduni itu sendiri sebenarnya adalah ilmu bagaimana cara jiwa kita dapat “naik” (ittihad) ke alam malakut. Atau cara agar kekuatan-kekuatan malakutiyah bisa hadir, turun (hulul) ke jiwa kita. Kalau terhubung dengan malaikat, berarti anda sudah mulai terhubung dengan Tuhan. Karena, malaikat itu (sinyal/pesan/wakil/utusan) Tuhan. Kalau anda sudah memperoleh sinyal (malaikat) Tuhan, ya anda jadi malaikat. Jadi pembawa pesan Tuhan. Jadi Jibril ‘alaihissalam (Ruh). Terserah anda punya sayap atau tidak.

Kemudian, ketika disebut Al-Qurȃn itu “turun” kepada Muhammad, anda harus tahu siapa itu Muhammad. Muhammad itu bukanlah sekedar Muhammad sebagai makhluk biologis, “basyar”. Melainkan Muhammad sebagai makhluk spiritual, “insan wahyu” (QS. Al-Kahfi: 110).


Dalam pengertian terakhir ini, Muhammad adalah “jiwa universal”, sosok bumi yang sudah membumbung ke alam ukhrawi. Muhammad yang sudah menempuh perjalanan spiritual (suluk/khalwat) adalah Muhammad yang jiwanya telah terhubung ke pusat server pengetahuan alam semesta (Lauh Mahfudz). Jaringan atau matriks ruhaninya sudah sampai disana. Disitulah Al-Qurȃn, Asma dan Pengetahuan Tuhan tersimpan. Tidak ada yang mampu menjangkau area rahasia qurani ini, “kecuali oleh orang-orang yang disucikan” (QS. Al-Waqiah: 79). Di sini disebut “orang-orang”. Artinya bukan Muhammad saja. Siapa saja yang bersedia menempuh jalan kesucian, akan mampu “menyentuh” alam Quran yang hakiki. Alam mukjizat. Alam malakut, alam ketuhanan itu sendiri.

Makanya para pewaris nabi, para imam dan wali-wali juga dilabeli “suci” (maksum). Karena pada kadar tertentu mampu menjangkau batin atau kekeramatan Al-Qurȃn. Lisannya sudah terkoneksi dengan alam Ruh. Sehingga, bacaan Al-Qurȃn mereka mampu mengusir jin dan setan. Mampu membelah laut dan melahirkan banyak keajaiban supra-rasional. Bahkan diri mereka sendiri sudah jadi “Al-Qurȃn”. Kullu jasad-nya karamah. Sampai bumi pun takut untuk memakan jasadnya. Disini kita paham, bahwa Al-Qurȃn adalah diri imam. Imam adalah Al-Qurȃn.


Maka jangan dikatakan syirik kalau ada orang yang mengumpulkan rambut, kuku, baju, atau sandal milik Nabi dan orang-orang suci. Semua itu berdimensi Al-Qurȃn. Ada pancaran energi ilahiahnya. Bahkan makamnya pun bernilai suci. Seperti sucinya tembok Kakbah. Padahal itu cuma tembok. Tapi ada elemen az-Dzikr yang larut dalam itu semua.

Ingat, Quran yang “asli” bukan kertas dan huruf-huruf yang dicetak oleh perusahaan Arab, Turki, China atau Jerman. Tapi yang di alam Ruh. Yang tidak berhuruf dan bersuara. Tidak ada tajwid dan lantunan. Tidak ada irama dan langgam. Maka sucikanlah ruh kita, sehingga ruh rendah kita akan tersambung dengan Ruh yang lebih tinggi (Ruhul Quddus), yakni esensi Al-Qurȃn.


Jadi, itulah sedikit uraian untuk menengahi perdebatan “turunnya” Al-Qurȃn. Apakah menyeluruh dan sekaligus, sebagaimana terindikasi dari kata “inzal” dan “hu” (anzalna”hu” -QS. Alqadar: 1, QS. Al-Baqarah: 185); atau berangsur-angsur seperti tersurat pada kata “tanzil” (QS. Al-Isra: 106) dan “tartil” (QS. Al-Furqan: 32-33). Batin Al-Qurȃn turun sekaligus ke “langit bumi” (“dada” Muhammad). Sementara lahiriah penyampaiannya kepada umatnya memerlukan waktu sampai 22 tahun, sesuai kebutuhan. Butuh kasus untuk mengaktualkan masing-masing ayat.

Sesungguhnya, Al-Qurȃn itu bukan hanya 6236-an ayat yang tercatat dalam 30 juz. His ayat is limitless. Kalam Tuhan tidak terbatas. Ia terus berbicara sepanjang zaman. Bagi yang mampu mendengar. Bagi yang mampu menemukan.

Demikian refleksi kami, yang senantiasa mengharap bimbingan Ruh Suci Kekasih-Nya, pada 29 Ramadhan 1441 H ini. Semoga amal ibadah kita diterima Allah SWT.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Said Muniruddin
Rector The Zawiyah for Spiritual Leadership
YouTube: https://www.youtube.com/c/SaidMuniruddin
Web: saidmuniruddin.com
fb: http://www.facebook.com/saidmuniruddin/
Twitter & IG: @saidmuniruddin