Saturday, January 31, 2009

’Reinventing’ Amerika


DUNIA telah menyaksikan pelantikan Barack Obama sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat. Untuk pertama kalinya negara yang didirikan pada tahun 1776 ini mempunyai presiden yang tidak berkulit putih, melainkan berkulit hitam yang berayah dari Kenya (Afrika).

Bagi dunia, realita ini merupakan fenomena yang menakjubkan, apalagi mengingat bahwa hanya 30 tahun yang lalu diskrimasi ras di Amerika masih sangat kental seperti hukum segregasi di berbagai negara bagian di negara itu. Orang kulit hitam tidak dapat menikmati pelayanan umum publik yang sama dengan orang kulit putih sehingga naik bus sekalipun harus dengan bus yang berbeda. Presiden Amerika Serikat yang pertama George Washington sebagai petani tembakau di Virginia juga menggunakan orang kulit hitam sebagai budak di ladang pertaniannya.

Adalah dua tokoh utama yang membawa perubahan signifikan dalam memperjuangkan hak asasi manusia, khususnya untuk masyarakat kulit hitam dan etnis di Amerika Serikat. Dua tokoh ini adalah Abraham Lincoln dan Lyndon B Johnson. Presiden Abraham Lincoln dari partai Republican dan Presiden Lyndon B Johnson dari partai Democrat.

Presiden Abraham Lincoln pada tahun 1861 membawa Amerika ke perang saudara demi membebaskan orang kulit hitam dari perbudakan dan Presiden Lyndon Johnson menandatangani Civil Right Act pada tahun 1964 yang memberikan orang kulit hitam dan semua etnis di Amerika Serikat hak yang sama seperti orang kulit putih.

Dua pemimpin ini membuka jalan bagi terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden Amerika. Bahkan saat ini di Amerika Serikat banyak pemimpin nasionalnya berasal dari berbagai latar belakang etnis. Contoh lainnya adalah Gubernur Negara bagian Louisiana, Gubernur Bobby Jindal yang berlatar belakang suku etnis India dan berumur 37 tahun. Louisiana dulunya negara bagian paling diskriminatif di Amerika, tapi sekarang mempunyai gubernur dari non kulit putih yang berlatar belakang keturunan India.

Pelantikan Barack Obama adalah suatu kesaksian dari kemampuan suatu bangsa seperti Amerika melakukan reinvention, yaitu membangun paradigma baru dalam berbangsanya negara ini. Sehingga brand Amerika sebagai, ‘The Land of Opportunity’, negara yang terbuka peluangnya untuk siapa saja dapat menjadi apa saja yang dicita-citakan, menjadi terbukti.

Seorang pria bernama Barack Husein Obama yang dari ayah kulit hitam berbangsa Kenya dan dari ibu kulit putih dari negara bagian Indiana dan dibesarkan di Jakarta Indonesia menjadi Presiden ke-44 negara yang -terlepas dari segala permasalahan yang ada- sampai saat ini masih dinilai sebagai satu-satunya superpower dunia.

Secara praktis Obama adalah orang paling powerfull di dunia. Dan dengan tema kampanyenya ‘change’ atau perubahan maka Obama akan menyebar virus perubahan untuk menuju perbaikan ke seluruh Amerika dan tentunya dengan pengaruh Amerika di dunia maka akan berdampak kepada membangun paradigma baru dalam bagaimana tatanan dunia ini berinteraksi.

Filsafat dasar dari pemerintahan Obama adalah membangun perubahan dengan memerintah secara pragmatis dengan dasar semangat juang pendirian Bangsa Amerika pada tahun 1776 yaitu ‘The land of the Free’ atau tanahnya orang merdeka.

Pertanyaannya adalah apa hikmah yang dapat Bangsa Indonesia petik dari fenomena ini?

Sebagai bangsa yang besar Indonesia juga dapat membuktikan di tahun 2009 bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang juga dapat melakukan perubahan. Setelah 10 tahun reformasi yang telah kita lalui dengan penuh perjuangan Bangsa Indonesia telah membuktikan bahwa kita mampu melakukan reinvention. Walaupun saat ini sebagai bangsa kita juga bertanya apakah reformasi yang kita lakukan telah sesuai dengan semangat juang para pendiri bangsa kita?

Maka di tahun 2009 Indonesia mempunyai kesempatan untuk membawa reformasi ini kembali sejalan dengan semangat juang para pahlawan kita pendiri republik tercinta ini. Sri Sultan Hamengku Buwono X menamakan proses ini ‘restorasi’. Suatu proses di mana kita sebagai bangsa kembali kepada prinsip dasar perjuangan berdirinya Republik Indonesia.

Kita terus membangun Indonesia yang modern dan membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia, tapi juga tidak meninggalkan semangat perjuangan berdirinya bangsa ini yang tertera di konsitusi UUD ‘45. Sehingga dari Sabang sampai Merauke seluruh Bangsa Indonesia dapat merasakan bahwa republik ini adalah juga Land of Opportunity.

Dengan semangat ‘Bhinneka Tunggal Ika’ mudah-mudahan kita semua dapat membawa perubahan bagi Bangsa Indonesia menjadi negara yang merdeka, berdaulat, sejahtera dan disegani dunia.

George Iwan Marantika, Rektor Ukrim Yogyakarta
Kedaulatan Rakyat, 21 Januari 2009

Thursday, January 29, 2009

Masjid Nabawi Madinah


Menuju Madinatul Munawwarah membina perdamaian seantero jagat

Jogjaku Tercinta


Ulya di atas benteng Gading kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Relief Gajah di Candi Sukuh, Karanganyar


Gajah alias Liman

Kuda Ini Bukan Kuda Troya


Nurul Anggraeni Sulistyowati dan Ulya Maharani Siraj

Pemerintahan Multimedia


”Secara historis media mengumpulkan banyak informasi dan menyajikannya kepada khalayak. (Dan kini) ada hasrat yang tumbuh dari masyarakat untuk melakukan sendiri hal itu.”
Macon Phillip, Direktur ”Media Baru” Pemerintahan Obama

Sebelum ini dari Tanah Air kita sudah cukup banyak mendengar pemanfaatan teknologi informasi (dan komunikasi, atau TIK) untuk penyelenggaraan pemerintahan. Istilah umum untuk ini adalah e-gov (electronic-government). Sejumlah pemerintah daerah, pemerintah kabupaten atau pemerintah kota, diasosiasikan dengan penerapan e-gov yang berhasil dan produktif.

Seperti pernah disampaikan oleh Budi Rahardjo (yang tahun 2001 bekerja di PPAU Mikroelektronika ITB) dalam situsnya, Bank Dunia mendefinisikan e-gov sebagai penggunaan TI (seperti wide area network, internet, dan komputasi bergerak) oleh badan-badan pemerintah yang punya kemampuan untuk mentransformasi hubungan dengan anggota masyarakat, kalangan bisnis, dan lengan-lengan pemerintah lainnya.

Ada pula definisi lain dari Legislative Analyst’s Office AS yang menyebut e-gov sebagai proses transaksi bisnis antara masyarakat dan pemerintah melalui penggunaan sistem otomatik dan jaringan internet, yang lebih umum disebut sebagai world wide web.

Dalam perkembangannya, lanjut Budi, pemanfaatan TI ini lalu menghasilkan hubungan bentuk baru, seperti G2C (government to citizen), G2B (government to business enterprises), dan G2G (inter-agency relationship/hubungan antarbadan pemerintah).

Sementara penerapan e-gov masih terkendala sejumlah faktor, TIK sendiri justru semakin banyak dimanfaatkan untuk komunikasi. Masih segar dalam ingatan bagaimana kalangan masyarakat sempat terkejut ketika menerima SMS peringatan bahaya narkoba dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kini, ketika Presiden Barack Obama mulai memimpin pemerintahan Amerika, orang pun tergelitik untuk menyimak, bagaimana ia memanfaatkan TIK untuk penyelenggaraan pemerintahan. Sekilas mengenai hal ini terkuak dari laporan Jim Rutenberg dan Adam Nagourney di New York Times, Senin (26/1/2009).

Kita tahu bahwa selama masa kampanye lalu, Barack Obama intensif—dan ekstensif—sekali memanfaatkan TIK. Para pendukungnya giat menggunakan internet dan produk TIK lainnya—SMS, Facebook, YouTube—untuk penggalangan rapat, pengumpulan dana, penyebaran pamflet, dan sebagainya.

Kini, setelah Obama terpilih, sebagian dari para pendukung tersebut menyatakan akan istirahat dulu setelah habis-habisan bekerja. Namun, para pembantu Obama sendiri tampaknya tidak ingin kehilangan momentum dalam penggunaan TIK ini. Mereka menginginkan organisasi akar rumput yang pada masa kampanye sangat berjasa dengan menggunakan teknologi mutakhir ini bisa terus menjadi instrumen pemerintah. Obama sendiri, yang memulai karier politik sebagai penggiat komunitas, juga melihat hal itu sebagai prioritas.

Kini, para pembantu, termasuk manajer kampanye, telah membentuk kelompok yang dinamai Organizing for America guna mengarahkan kembali mesin kampanye untuk penanganan perubahan besar di bidang kesehatan, lingkungan, dan kebijakan fiskal. Dengan itu, yang akan terlihat adalah banyak kelompok yang akan berbicara serta mengirim e-mail dan SMS kepada teman dan tetangga untuk menggalang dukungan publik.

Melewati media utama
Dengan cara di atas, Obama—seperti halnya pendahulunya, George W Bush—cenderung melewati media utama (mainstream) dan menyampaikan langsung pesan yang ingin ia sampaikan kepada publik. Menurut salah seorang pembantu Obama, kini ada minat di kalangan masyarakat untuk mendapatkan sendiri berita baru.

Salah satu contoh penting dari langkah ini adalah pidato mingguan Presiden. Pada masa lalu, pidato direkam untuk dan disiarkan di stasiun-stasiun radio pada Sabtu pagi. Kini, Presiden Obama merekam pidato tersebut untuk video dan pada Sabtu pagi ia kirim ke situs Gedung Putih dan YouTube. Di dalamnya tampak ia menjelaskan apa yang ingin dicapai dengan stimulus ekonomi senilai 825 miliar dollar AS. Pada Sabtu petang, video pidato tersebut telah ditonton lebih dari 600.000 kali di YouTube.

Memang ada sejumlah pembatasan dalam penggunaan TIK ini, tetapi itu terlebih dari sisi legal, bukan dari sisi teknologi. Sempat muncul kekhawatiran bahwa TIK yang digunakan ini juga dimanfaatkan melobi atau menekan anggota Kongres guna memuluskan satu kebijakan. Namun, sejauh ini isi video yang direkam oleh Presiden Obama hanya berisi penyampaian pokok pikiran pemerintah menyangkut stimulus ekonomi.

Persyaratan
Seperti diperlihatkan oleh Presiden Obama dan pemerintahannya, TIK bisa banyak membantu. Namun, agar pelaksanaannya sukses, sejumlah persyaratan harus dipenuhi.

Pertama tentu tersedianya tenaga TIK yang mengerti persoalan dan punya antusiasme terhadap masalah politik, pemerintahan, dan komitmen terhadap perbaikan. Di AS, begitu Obama dilantik, situs web Gedung Putih segera didesain ulang. Staf yang menangani situs ini rajin memutakhirkan isinya dengan perintah Presiden, juga menulis blog untuk menjelaskan kebijakan pemerintah.

Berikutnya yang perlu dikembangkan untuk mendukung aplikasi TIK tentu saja adalah tersedianya infrastruktur yang andal dan memadai. Namun, yang dianggap paling mendasar adalah kultur. Pertama, kultur dalam menangani informasi. Kedua, kultur bekerja dengan teknologi yang membawa risiko keamanan informasi. Tapi, selebihnya adalah keterbukaan dan komitmen untuk bersikap terbuka, efisien.

Kini, teknologi memungkinkan pemerintahan berfungsi secara lebih lancar, hemat, cepat, dan efektif. Namun, sekali lagi, semuanya kembali pada faktor manusianya. Namun, setidaknya apa yang diperlihatkan oleh pemerintahan baru Obama menambah keyakinan kita bahwa TIK bisa banyak membantu.

KOMPAS, 28 Januari 2009

Obama "Balikkan" Bush


Peralihan Nyata dari Pemerintahan Sebelumnya
Seperti dijanjikan saat kampanye, Presiden AS Barack Obama membuat sejumlah kebijakan yang bertolak belakang dengan kebijakan pendahulunya, mantan Presiden George W Bush. Kebijakan itu antara lain menyangkut perubahan iklim, aborsi, dan senjata luar angkasa.

Obama, Senin (26/1/2009), mulai membalikkan kebijakan Bush soal perubahan iklim dengan langkah peningkatan standar efisiensi bahan bakar. Obama juga akan memberikan wewenang bagi negara bagian untuk menentukan sendiri batas emisi gas rumah kaca dari kendaraan.

Salah seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, Obama akan mengarahkan Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) untuk mempertimbangkan kembali permintaan California untuk memberlakukan pembatasan sendiri terhadap emisi karbon dioksida. Permintaan itu ditolak oleh pemerintahan Bush.

Obama akan mengarahkan Kementerian Transportasi untuk segera menyusun draf peraturan tentang mobil hemat energi sesuai undang-undang yang dibuat pada Desember 2007. Pemerintahan Bush menunda-nunda penerapan undang-undang itu.

Perintah baru Obama juga meliputi produksi kendaraan yang lebih ramah lingkungan oleh perusahaan pembuat mobil. Kebijakan baru itu diharapkan bisa menghemat energi hingga 2 miliar dollar AS per tahun.

Beberapa hari pertama pemerintahan Obama ditandai oleh pembalikan kebijakan-kebijakan Bush. Hari Kamis pekan lalu Obama telah menandatangani perintah untuk menutup Penjara Teluk Guantanamo.

Selang sehari, Obama mencabut larangan pendanaan oleh Pemerintah AS bagi kelompok-kelompok internasional yang menyediakan pelayanan soal aborsi atau mendukung aborsi.

Obama juga telah membuka gerbang penelitian sel induk dengan melonggarkan larangan federal terhadap penelitian itu. Tahun 2001 pemerintahan Bush memberlakukan larangan penelitian sel induk.

Senjata luar angkasa
Selain soal perubahan iklim, pekan ini Obama juga berjanji untuk mengupayakan larangan senjata di luar angkasa di seluruh dunia. Kebijakan baru itu juga menjanjikan penilaian ancaman terhadap satelit AS dan langkah-langkah yang diperlukan guna melindungi pesawat luar angkasa dari serangan.

”Masih banyak celah dalam pernyataan pemerintah soal militer luar angkasa. Namun, kenyataan bahwa mereka membahasnya mencerminkan peralihan nyata dari pemerintahan Bush,” kata Victoria Samson dari Pusat Informasi Pertahanan.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan mengatakan, dengan kebijakan baru itu jelas bahwa fokus akan dialihkan pada lebih banyak inisiatif diplomasi.

KOMPAS, 27 Januari 2009

AS Rangkul Dunia Muslim


Obama berupaya tepati komitmen
Mengulangi kembali janji kampanye, Presiden AS Barack Obama mulai merangkul dunia Muslim. Dalam wawancara dengan stasiun televisi yang berbasis di Dubai, Al Arabiya, Senin (26/1/2009), Obama mengatakan bahwa AS bukan musuh dunia Muslim.

Kepada Al Arabiya, Obama menuturkan, kadang-kadang AS membuat kesalahan. Namun, pemerintahannya berjanji untuk mengadopsi lebih banyak pendekatan diplomatik.

”Tugas saya kepada dunia Muslim adalah mengomunikasikan bahwa AS bukan musuh Anda. Kami kadang-kadang berbuat keliru, kami tidak selalu sempurna,” ujar Obama.

”Akan tetapi, jika Anda melihat sejarah, Amerika tidak terlahir sebagai kekuatan kolonial. Dan, dengan rasa hormat dan kemitraan yang sama yang dimiliki AS dengan dunia Muslim dalam 20-30 tahun lalu, tidak ada alasan mengapa kita tidak bisa memperbaikinya,” katanya.

Obama menyebutkan bahwa dia pernah tinggal di Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, selama beberapa tahun saat masih kecil. Kunjungan ke negara-negara Muslim juga telah meyakinkan Obama bahwa orang memiliki harapan dan mimpi bersama, tidak peduli apa agama mereka.

Sepanjang kampanye calon presiden, Obama menyerukan akan memperbaiki hubungan AS dengan dunia Muslim. Setelah menjabat presiden, dia juga akan melakukan kunjungan ke sebuah negara Muslim besar dan menyampaikan pesan itu. Tidak dirinci kapan dan di mana Obama akan menyampaikan pidatonya.

”Kami akan menepati komitmen kami untuk melakukan kerja efektif guna merangkul, mendengarkan, dan berbicara dengan dunia Muslim,” kata Obama.

Sudah saatnya
Bersamaan dengan wawancara televisi formal pertama Obama, Utusan Khusus untuk Timur Tengah George Mitchell tengah menuju kawasan itu guna mengupayakan perdamaian. Mitchell akan bertemu Presiden Mesir Hosni Mubarak untuk membicarakan upaya perdamaian di Jalur Gaza. Dia juga akan berkunjung ke Israel, Tepi Barat, Jordania, Turki, dan Arab Saudi.

Mengenai upaya perdamaian itu, Obama mengatakan, sudah waktunya bagi Palestina dan Israel untuk memulai kembali perundingan damai. Pemerintahannya akan mulai mendengarkan dan berbicara kepada pihak-pihak yang terlibat tanpa prasangka apa-apa.

”Kami tidak bisa mengatakan, baik kepada Palestina maupun Israel, apa yang terbaik bagi mereka. Namun, saya yakin waktunya sudah matang bagi kedua pihak untuk menyadari bahwa jalan yang mereka ambil sekarang tidak akan menghasilkan kemakmuran dan keamanan bagi rakyat mereka,” ujar Obama.

KOMPAS, 28 Januari 2009

Pesona Aa Babam


Magnet pesona Barack Husein Obama menyedot perhatian dunia. Kita pun terpukau. Sosok Obama bagi orang Indonesia mempunyai kesan khusus karena dia pernah tinggal di Indonesia. Jadi, amat banyak warga Indonesia yang dalam hati kecilnya asa baraya atau serasa kerabat dekat dengannya. Mereka pun turut bangga Obama menjadi Presiden Ke-44 Amerika Serikat. Entah apa perasaan sebagian elite bangsa Indonesia yang biasanya menganggap AS sebagai majikan. Apakah mereka juga merasa kedekatan dan harapan khusus dari Obama?

Mantan Presiden AS George Walker Bush nyaris tidak diperhatikan. Mungkin dalam catatan sejarah AS George Walker Bush akan dinilai sebagai presiden yang banyak membawa kematian. Presiden yang banyak menanamkan kebencian dari bangsa lain. Dia didemo di berbagai negara dan oleh rakyatnya sendiri. Sepatu di seputar wajahnya, setelah tercatat sejarah sebagai presiden yang dilempar sepatu. Kado akhir jabatannya pun adalah mengirim krisis ke seluruh dunia.

Dari Obama diharapkan tumbuh kesan sebaliknya. Dunia berharap ada perubahan dan perdamaian dalam waktu secepatnya.

Obama dilahirkan dan ditakdirkan menjadi presiden. Anugerah besar bagi Obama menjadi Presiden AS. Saya membayangkan kalau ”anak Menteng” itu menjadi Presiden Indonesia. Dia pasti kerepotan menghadapi begitu banyak masalah yang pelik, rumit, dan yang aneh-aneh. Misalnya, begitu maraknya kasus mutilasi, tawuran antarwarga, fatwa golput haram, dan banyak kepusingan lainnya.

Untuk menjadi Presiden Indonesia, seseorang haruslah seorang manusia yang ”kuat lahir batin”. Dia harus sanggup menghadapi kasus penyimpangan perilaku yang sedang terjadi di negeri ini. Korupsi salah satu penyimpangan perilaku yang harus disembuhkan dari banyak orang di negeri ini.

Anugerah besar bagi calon presiden di Indonesia, Obama menjadi Presiden AS. Bila Obama tumbuh besar dan menjadi warga negara Indonesia, tentu akan menjadi capres. Tentu saja dia akan dan menjadi saingan berat para capres kita. Jadi, sewajarnyalah para capres di Indonesia bisa bernapas lega.

Obama jadi presiden, saya pun ikut ge-er. Sebagai orang Sunda saya membayangkan panggilan untuk Obama bagi rakyat Jawa Barat itu Aa Babam. Karena merasa dekat dengan AS dan tentu saya akan merasa dekat dengan komunitas artis di sana. Sebut saja Michael Jackson, Beyonce, Jenifer Lopez, Simon Cowell, si juri American Idol yang judes itu, dan banyak artis lagi. Pernah juga sih melintas wajah Don King.

Namun, pas inget si promotor tinju yang jabrik itu, saya mengusap dada. Biar Don King mah berkomunitas dengan kawan saya saja, Andy Noya. Rambut Andy yang kribo di-rebonding saja sedikit. Tetapi ge-er saya hapus seketika karena banyak SMS yang masuk ke HP saya saat Israel menyerang Palestina. Malah ada SMS bernada sangat marah sekali. ”Gempur AS! Gempur Israel!” katanya. Dunia pun berharap Obama mengambil peran dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina.

Krisis global memberi pelajaran pada dunia dan kepada kita: kita tidaklah bisa terlalu menggantungkan harapan pada negara lain. Sekalipun itu negara Adi Kuasa. Kita melihat negara Adi Kuasa pun bisa terkena krisis!

Obama, Presiden AS, tentu saja way of life dan sudut pandangnya melihat dunia pun berbeda dengan sudut pandang dan kepentingan bangsa kita. Belum tentu sikap dan keputusannya sama seperti yang kita inginkan. Di pundak Obama begitu besar harapan yang digantungkan. Begitu besar amanah yang dipikulnya yang semuanya merupakan beban. Saya kadang berpikir mana ada manusia yang sanggup memikul beban seberat itu. Lagian bukan rocker saja yang manusia, seperti kata Candil Serieus Band. Obama juga manusia!

KOMPAS, 27 Januari 2009

Saturday, January 24, 2009

Polemik Luthfie dan Abdillah Thoha


Beberapa Catatan dari Israel oleh Luthfie Asyaukanie:

Saya baru saja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang saya dapatkan dari negeri itu, dari soal Kota Tua yang kecil namun penuh memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga keramahan orang-orang Israel. Saya kira, siapapun yang menjalani pengalaman seperti saya akan mengubah pandangannya tentang Israel dan orang-orangnya.

Ketika transit di Singapore, seorang diplomat Israel mengatakan kepada saya bahwa orang-orang Israel senang informalities dan cenderung rileks dalam bergaul. Saya tak terlalu percaya dengan promosinya itu, karena yang muncul di benak saya adalah tank-tank Israel yang melindas anak-anak Palestina (seperti kerap ditayangkan oleh CNN and Aljazira). Tapi, sial, ucapan diplomat itu benar belaka. Dia bukan sedang berpromosi. Puluhan orang yang saya jumpai dari sekitar 15 lembaga yang berbeda menunjukkan bahwa orang-orang Israel memang senang dengan informalities dan cenderung bersahabat.

Saya masih ingat dalam sebuah dinner, seorang rabbi mengeluarkan joke-joke terbaiknya tentang kegilaan orang Yahudi. Dia mengaku mengoleksi beberapa joke tapi kalah jauh dibandingkan Gus Dur yang katanya "more jewish than me." Dalam jamuan lunch, seorang diplomat Israel berperilaku serupa, membuka hidangan dengan cerita jenaka tentang persaingan orang Yahudi dan orang Cina.

Tentu saja, informalities adalah satu bagian saja dari cerita tentang Israel. Pada satu sisi, manusia di negeri ini tak jauh beda dengan tetangganya yang Arab: hangat, humorous, dan bersahabat. Atau semua budaya Mediteranian memang seperti itu? Tapi, pada sisi lain, dan ini yang membedakannya dari orang-orang Arab: kecerdasan orang-orang Israel di atas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya itu tak pernah bisa menandingi Israel.

Kecerdasan itu seperti kecantikan. Ia memancar dengan sendirinya ketika kita bergaul dengan seseorang. Tidak yang laki-laki, tidak yang perempuan, semua orang Israel yang saya ajak bicara memancarkan kesan itu. Patutlah bahwa sebagian peraih nobel dan ilmuwan sosial besar adalah orang-orang Yahudi.

Yang membuat saya terkesima adalah bahwa orang-orang Israel, paling tidak para pejabat, pemikir, budayawan, diplomat, penulis, dan profesional, yang saya jumpai, semuanya lancar dan fasih berbahasa Arab. Mereka senang sekali mengetahui bahwa saya bisa berbahasa Arab. Berbahasa Arab semakin membuat kami merasa akrab. Belakangan baru saya ketahui bahwa bahasa Arab adalah bahasa formal/resmi Israel. Orang Israel boleh menggunakan dua bahasa, Ibrani dan Arab, di parlemen, ruang pengadilan, dan tempat-tempat resmi lainnya.

Kebijakan resmi pemerintah Israel ini tentu saja sangat cerdas, bukan sekadar mengakomodir 20 persen warga Arab yang bermukim di Israel. Dengan menguasai bahasa Arab, orang-orang Israel telah memecah sebuah barrier untuk menguasai orang-orang Arab. Sebaliknya, orang-orang Arab tak mengerti apa yang sedang dibicarakan di Israel, karena bahasa Ibrani adalah bahasa asing yang bukan hanya tak dipelajari, tapi juga dibenci dan dimusuhi. Orang-orang Israel bisa bebas menikmati televisi, radio, dan surat kabar dari Arab (semua informasi yang disampaikan dalam bahasa Arab), sementara tidak demikian dengan bangsa Arab.

Bahwa Israel adalah orang-orang yang serius dan keras, benar, jika kita melihatnya di airport dan kantor imigrasi. Mereka memang harus melakukan tugasnya dengan benar. Di tempat-tempat strategis seperti itu, mereka memang harus serius dan tegas, kalau tidak bagaimana jadinya negeri mereka, yang diincar dari delapan penjuru angin oleh musuh-musuhnya.

Saya sangat bisa memahami ketegasan mereka di airport dan kantor-kantor imigrasi (termasuk kedubes dan urusan visa). Israel dibangun dari sepotong tanah yang tandus. Setelah 60 tahun merdeka, negeri ini menjadi sebuah surga di Timur Tengah. Lihatlah Tel Aviv, jalan-jalannya seperti avenues di New York atau Sydney. Sepanjang pantainya mengingatkan saya pada Seattle atau Queensland. Sistem irigasi Israel adalah yang terbaik di dunia, karena mampu menyuplai jumlah air yang terbatas ke ribuan hektar taman dan pepohonan di sepanjang jalan.

Bangsa Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka, bukan karena ada memori holocaust yang membuat mereka terpacu untuk memiliki sebuah negeri yang berdaulat, tapi karena mereka betul-betul bekerja keras menyulap ciptaan Tuhan yang kasar menjadi indah dan nyaman didiami. Mereka tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka bangun dengan keringat dan darah. Setiap melihat keindahan di Israel, saya teringat sajak Iqbal:

Engkau ciptakan gulita
Aku ciptakan pelita
Engkau ciptakan tanah
Aku ciptakan gerabah

Dalam Taurat disebutkan, Jacob (Ya'kub) adalah satu-satunya Nabi yang berani menantang Tuhan untuk bergulat. Karena bergulat dengan Tuhan itulah, nama Israel (Isra-EL, orang yang bergulat dengan Tuhan) disematkan kepada Jacob. Di Tel Aviv, saya menyaksikan bahwa Israel menang telak bergulat dengan Tuhan.

Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah yang mereka sulap dari bumi yang tandus menjadi sepotong surga. Bahwa mereka punya alasan historis untuk melakukan itu, itu adalah hal lain. Pembangunan bangsa, seperti kata Benedict Anderson, tak banyak terkait dengan masa silam, ia lebih banyak terkait dengan kesadaran untuk menyatukan sebuah komunitas. Bangsa Yahudi, lewat doktrin Zionisme, telah melakukan itu dengan baik.

Melihat indahnya Tel Aviv, teman saya dari Singapore membisiki saya: "orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau ambil itu Palestina, setelah disulap jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka buat saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?"

Problem besar orang-orang Arab, sejak 1948 adalah bahwa mereka tak bisa menerima "two state solution," meski itu adalah satu-satunya pilihan yang realistik sampai sekarang. Jika saja orag-orang Palestina dulu mau menerima klausul itu, mungkin cerita Timur Tengah akan lain, mungkin tak akan ada terorisme Islam seperti kita lihat sekarang, mungkin tak akan ada 9/11, mungkin nasib umat Islam lebih baik. Bagi orang-orang Arab, Palestina adalah satu, yang tak bisa dipisah-pisah. Bagi orang-orang Israel, orang-orang Palestina tak tahu diri dan angkuh dalam kelemahan.

Sekarang saya mau cerita sedikit tentang Kota Tua Jerusalem, tentang al-Aqsa, dan pengalaman saya berada di sana. Percaya atau tidak, Kota Tua tidak seperti yang saya bayangkan. Ia hanyalah sekerat ladang yang berada persis di tengah lembah. Ukurannya tak lebih dari pasar Tanah Abang lama atau Terminal Pulo Gadung sebelum direnovasi. Tentu saja, sepanjang sejarahnya, ada perluasan-perluasan yang membentuknya seperti sekarang ini. Tapi, jangan bayangkan ia seperti Istanbul di Turki atau Muenster di Jerman yang mini namun memancarkan keindahan dari kontur tanahnya. Kota Tua Jerusalem hanyalah sebongkah tanah yang tak rata dan sama sekali buruk, dari sisi manapun ia dilihat.

Sebelum menuruni tangga ke sana, saya sempat melihat Kota Tua dari atas bukit. Heran seribu heran, mengapa tempat kecil yang sama sekali tak menarik itu begitu besar gravitasinya, menjadi ajang persaingan dan pertikaian ribuan tahun. Saya berandai-andai, jika tak ada Golgota, jika tak ada Kuil Sulaiman, dan jika tak ada Qubbah Sakhra, Kota Tua hanyalah sebuah tempat kecil yang tak menarik. Berada di atas Kota Tua, saya terbayang Musa, Yesus, Umar, Solahuddin al-Ayyubi, Richard the Lion Heart, the Templar, dan para peziarah Eropa yang berbulan-bulan menyabung nyawa hanya untuk menyaksikan makam, kuburan, dan salib-salib. Agama memang tidak masuk akal.

Oleh Guide kami, saya diberitahu bahwa Kota Tua adalah bagian dari Jerusalem Timur yang dikuasai Kerajaan Yordan sebelum perang 1967. Setelah 1967, Kota Tua menjadi bagian dari Israel. "Dulu," katanya, "ada tembok tinggi yang membelah Jerusalem Timur dan Jerusalem Barat. Persis seperti Tembok Berlin. Namun, setelah 1967, Jerusalem menjadi satu kembali."

Yang membuat saya tertegun bukan cerita itu, tapi pemandangan kontras beda antara Jerusalem Timur dan Jerusalem Barat dilihat dari ketinggian. Jerusalem Timur gersang dan kerontang, Jerusalem Barat hijau dan asri. Jerusalem Timur dihuni oleh sebagian besar Arab-Muslim, sedangkan Jerusalem Barat oleh orang-orang Yahudi.

Saya protes kepada Guide itu, "Mengapa itu bisa terjadi, mengapa pemerintah Israel membiarkan diskriminasi itu?" Dengan senyum sambil melontarkan sepatah dua patah bahasa Arab, ibu cantik itu menjelaskan: "ya akhi ya habibi, kedua neighborhood itu adalah milik privat, tak ada urusannya dengan pemerintah. Beda orang-orang Yahudi dan Arab adalah, yang pertama suka sekali menanam banyak jenis pohon di taman rumah mereka, sedang yang kedua tidak. Itulah yang bisa kita pandang dari sini, mengapa Jerusalem Barat hijau dan Jerusalem Timur gersang.." Dough! Saya jadi ingat Bernard Lewis: "What went wrong?"

Ada banyak pertanyaan "what went wrong" setiap kali saya menyusuri tempat-tempat di Kota Tua. Guess what? Kota Tua dibagi kepada empat perkampungan (quarter): Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia. Pembagian ini sudah ada sejak zaman Salahuddin al-Ayyubi. Menelusuri perkampungan Yahudi sangat asri, penuh dengan kafe dan tempat-tempat nongkrong yang cozy. Begitu juga kurang lebih dengan perkampungan Kristen dan Armenia. Tibalah saya masuk ke perkampungan Muslim. Lorong-lorong di sepanjang quarter itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk.

Jika pertokoan di quarter Kristen tertata rapi, di quarter Muslim tampak tak terurus. Ketika saya belanja di sana, saya hampir tertipu soal pengembalian uang. Saya sadar, quarter Muslim bukan hanya kotor, tapi pedagangnya juga punya hasrat menipu.

Namun, di antara pengalaman tak mengenakkan selama berada di perkampungan Islam adalah pengalaman masuk ke pekarangan al-Aqsa (mereka menyebutnya Haram al-Syarif). Ini adalah kebodohan umat Islam yang tak tertanggulangi, yang berasal dari sebuah teologi abad kegelapan. You know what? Saya dengan bebasnya bisa masuk ke sinagog, merayu Tuhan di tembok ratapan, dan keluar-masuk gereja, tanpa pertanyaan dan tak ada penjagaan sama sekali.

Tapi begitu masuk wilayah Haram al-Syarif, dua penjaga berseragam tentara Yordania dengan senjata otomatis, diapit seorang syeikh berbaju Arab, menghadang, dan mengetes setiap peziarah yang akan masuk. Pertanyaan pertama yang mereka ajukan: "enta Muslim (apakah kamu Muslim)?" Jika Anda jawab ya, ada pertanyaan kedua: "iqra al-fatihah (tolong baca al-fatihah)." Kalau hafal Anda lulus, dan bisa masuk, kalau tidak jangan harap bisa masuk.

Saya ingin meledak menghadapi mereka. Saya langsung nyerocos saja dengan bahasa Arab, yang membuat mereka tersenyum, "kaffi, kaffi, ba'rif enta muslim (cukup, cukup, saya tahu Anda Muslim)." Saya ingin meledak menyaksikan ini karena untuk kesekian kalinya kaum Muslim mempertontonkan kedunguan mereka. Kota Tua adalah wilayah turisme dan bukan sekadar soal agama. Para petinggi Yahudi dan Kristen rupanya menyadari itu, dan karenanya mereka tak keberatan jika semua pengunjung, tanpa kecuali, boleh mendatangi rumah-rumah suci mereka.

Tapi para petinggi Islam rupanya tetap saja bebal dan senang dengan rasa superioritas mereka (yang sebetulnya juga tak ada gunanya). Akibat screening yang begitu keras, hanya sedikit orang yang berminat masuk Haram al-Syarif. Ketika saya shalat Maghrib di Aqsa, hanya ada dua saf, itupun tak penuh. Menyedihkan sekali, padahal ukuran Aqsa dengan seluruh latarnya termasuk Qubbat al-Shakhra sama besarnya dengan masjid Nabawi di Madinah. Rumah Tuhan ini begitu sepi dari pengunjung.

Tentu saja, alasan penjaga Aqsa itu adalah karena orang-orang non-Muslim haram masuk wilayah mesjid. Bahkan orang yang mengaku Muslim tapi tak pandai membaca al-Fatihah tak layak dianggap Muslim. Para penjaga itu menganggap non-Muslim adalah najis yang tak boleh mendekati rumah Allah.

Saya tak bisa lagi berpikir. Sore itu, ingin saya kembali ke tembok ratapan, protes kepada Tuhan, mengapa anak bontotnya begitu dimanja dengan kebodohan yang tak masuk akal.

Luthfi Assyaukani, islamlib.com, 2 Januari 2009


Jawaban Abdillah Toha atas Catatan Luthfie

Bung Luthfie yang baik,

Membaca catatan anda, saya juga terkesima. Bukan dengan Israel, tetapi dengan catatan itu. Betapa seorang yang berpendidikan tinggi seperti anda bisa membuat tulisan dan kesimpulan yang berbau propaganda setelah hanya beberapa hari (?) berkunjung ke Israel, atas undangan dan kebaikan mereka. Sampai-sampai anda meratap di tembok ratapan Yahudi. Seingat saya, saya belum pernah membaca tulisan yang begitu memuja dan memuji Israel seperti tulisan anda ini, termasuk tulisan orang Israel yang mendukung Zionisme.

Kenapa saya sebut propaganda? Karena sebuah tulisan yang memuja dan memuji ditambah mengecam lawannya, seolah-olah tak ada aspek negatif dari subyek yang dipuji dan tak ada aspek positif dari yang dikecam, adalah sebuah propaganda. Propaganda ini cukup berhasil, melihat komentar-komentar di halaman Facebook anda. Namun, menurut saya, propaganda ini kurang cerdas karena orang langsung akan dapat menilai demikian. Seharusnya, anda bisa lebih cerdas dengan "pura-pura" sedikit mengritik Israel agar lebih kelihatan obyektif.

Pertama saya harus jelaskan lebih dahulu bahwa saya dan kita semua harus membedakan antara orang Yahudi dan negara Israel. Tidak semua Yahudi mendukung Zionisme Israel dan sayapun punya cukup banyak kawan Yahudi yang sangat kritis terhadap Israel. Bahkan belum lama ini saya sempat bertemu dengan beberapa Rabbi Yahudi yang mengatakan bahwa pembentukan negara Israel itu bertentangan dengan buku suci mereka.

Kita tidak boleh memusuhi Yahudi atau ras apapun, tetapi sikap mendukung negara Israel berarti mendukung kebiadaban modern dan satu-satunya penjajah yang tersisa di abad ke-21 ini (kecuali bila kita masukkan pendudukan AS atas Iraq dan Afghanistan) . Saya tidak ingin berpanjang-panjang membahas soal ini, tapi bila anda ingin membaca tulisan-tulisan (termasuk oleh beberapa orang Yahudi seperti Dr Finkelstein dsb.) tentang pelanggaran, kebrutalan dan kekejaman Israel, dengan senang hati akan saya kirimkan.

Bung Lutfhie, anda memang tidak akan melihat tank-tank Israel di Tel Aviv atau kota lain karena tank-tank itu dikonsentrasikan di perbatasan untuk membunuh orang-orang Palestina. Anda katakan "Mereka tak akan mudah menyerahkan begitu saja sesuatu yang mereka bangun dengan keringat dan darah". Barangkali akan lebih jelas kalau anda lebih spesifik, mereka itu siapa, darah Israel atau darah Palestina.

Alangkah naifnya komentar kawan Singapore yang anda kutip: "Orang-orang Arab itu mau enaknya saja. Mereka mau ambil itu Palestina, setelah disulap jadi sorga oleh orang-orang Yahudi. Kenapa tak mereka buat saja di negeri mereka sendiri surga seperti Tel Aviv ini?" Orang ini pasti belum pernah ke Saudi, Kuwait, Dubai, Turki dll. Atau anda yang sudah pernah kesana mungkin begitu terkesima oleh Israel sehingga lupa di negara-negara Arab yang merdeka mereka juga tidak kalah bisa membangun negerinya yang berpadang pasir.

Bagaimana Palestina mau membangun kalau tiap hari dibom, diserang, digusur, dibatasi geraknya dengan ratusan chek points dan diblokade. Atau mungkin anda tidak diajak oleh pengundang anda ke kawasan-kawasan itu. Atau anda tidak berpikir perlu menyempatkan melihat kesengsaraan warga Gaza yang diblokir oleh Israel.

Anda katakan "Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya itu tak pernah bisa menandingi Israel". Saya kira anda harus lebih banyak membaca, bung Lutfhie. Perang Yom Kipur, terusirnya tentara Israel dua kali dari Lebanon (terakhir Juli 2006) adalah sebagian rentetan fakta kekalahan-kekalahan Israel.

Di luar itu, ketidakmampuan Palestina dan Arab mengusir Israel dari tanah yang didudukinya sampai sekarang bukan karena "kecerdasan" orang Israel tetapi nyata-nyata karena dukungan satu-satunya negara adi daya di dunia yang menjadikan militer Israel sebagai militer nomor tiga terkuat di dunia saat ini. Pejuang Palestina hanya bisa melawan dengan batu dan roket primitif rakitan sendiri.

Yang dihadapai bangsa Arab itu sebenarnya Amerika, bukan sekadar Israel. Saatnya akan tiba ketika semua kekuatan zalim ini akan punah. Tanda-tanda itu sudah mulai tampak dengan adanya krisis global saat ini dan gagalnya misi Amerika di Iraq dan Afghanistan.

Bung Luthfie, saya tidak menutup mata terhadap kekurangan dan kebangrutan moral banyak negara Arab yang otoriter dan korup. Inilah salah satu sebab utama "kekalahan" Arab terhadap Israel karena mereka tidak menjalankan kebijakan yang merepresentasikan kehendak rakyatnya. Karenanya, ketika Sayyid Hasan Nasrullah dengan Hizbullahnya berhasil mengusir Israel dari tanah Lebanon untuk yang kedua kalinya, beliau menjadi pahlawan dan manusia terpopuler di kalangan rakyat Arab.

Tetapi saya juga tidak akan menggambarkan orang-orang Arab (muslim) Israel yang tinggal di kampung-kampung kumuh dan membandingkannya dengan hunian orang Yahudi dengan mengatakan "Lorong-lorong di sepanjang quarter itu tampak gelap, tak ada lampu, dan jemuran berhamburan di mana-mana. Bau tak sedap terasa menusuk" tanpa mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang miskin dan terpinggirkan di sana. Bukankah lorong-lorong orang miskin selalu demikian di mana-mana?

Dan tahukah kenapa warga negara Arab muslim di Israel ini miskin dan terpinggirkan? Karena mereka adalah warga yang memang dipinggirkan dan di diskriminasi. Orang-orang Arab warga Israel harus membayar pajak lebih tinggi dari warga Yahudi karena mereka tidak boleh atau tidak qualified menjadi anggota militer dan bentuk diskriminasi lain (http://www.jfjfp.org/factsheets/arabsinisrael.htm). Mereka dilarang membeli atau menempati rumah atau flat di daerah-daerah tertentu yang dihuni warga Yahudi. (http://www.washingtonpost.com/wp-dyn... 902681_pf.html ), karyawan yang menggunakan bahasa Arab bisa dipecat (http://weekly.ahram.org.eg/2004/680/ re104.htm), dalam pendidikan mereka juga di diskriminasi (http://www.hrw.org/legacy/reports/2001/ israel2/), warga Arab Israel banyak yang dibunuh dan diperlakukan dengan semena-mena (http://files.tikkun.org/ current/arti. ..81007044518248), dan seterusnya.

Anda boleh lihat ratusan laporan berbagai organisasi Human Rights lainnya tentang hal ini. Sebagai negara yang digembar-gemborkan demokrasi di tengah-tengah otoriterianisme dunia Arab, mereka telah memperlakukan demokrasi dengan standar ganda.

Saya kira semua yang saya sampaikan ini bukanlah hal baru. Hanya saja, entah kenapa, anda memilih menutup mata dan hati bagi situasi yang demikian. Atau mungkin karena anda mempunyai agenda tertentu dalam rangka me"liberalkan" Islam? Wallahu a'lam.

Abdillah Toha, Anggota DPR-RI Komisi I

Friday, January 16, 2009

Indonesia Pascaera Eropa/AS


Tata tertib internasional sedang berubah. Makin lama makin cepat.

Hampir 100 tahun lalu bangsa-bangsa Eropa menguasai dunia. Kini mereka kehilangan hampir semua jajahannya. Alasannya, mereka terlalu rakus dan saling membenci. Kini, tidak ada lagi monopoli kekuasaan satu benua.

Di hampir semua benua, ekonomi dan politik ditentukan oleh sejumlah negara besar. Apa posisi Indonesia sebagai negara berpopulasi keempat terbesar dunia?

Perang Dunia (PD) I memerosotkan kekuatan bangsa Eropa. Negara-negara Eropa menggunakan senjata pembunuh massal untuk menghancurkan saingannya. Sekitar 10 juta sipil dan tentara mati terbunuh.

Akibat PD I, semua negara Eropa lemah sekali, kerajaan Austria-Hongaria pecah dan Inggris kehilangan posisi negara adikuasa dunia, yang beralih kepada Amerika Serikat, ”anak” paling besar Eropa. Negara tetangga Jerman tidak hanya merebutkan semua koloni kerajaan itu, tetapi juga beberapa bagian negara Jerman atau tanah yang dihuni etnis Jerman. Kaisar Jerman terpaksa mengundurkan diri.

PD II merupakan babak kedua keruntuhan bangsa-bangsa Eropa. Bangsa Jerman merasa terhina oleh perampokan tanah Jerman atau tanah yang dihuni etnis Jerman. Rasa hina dan haus balas dendam dimanfaatkan Hitler. Dengan semboyan populis dan rasialis dia membujuk bangsa Jerman untuk berperang lagi. Hitler juga bersalah memerintahkan pembantaian enam juta bangsa Yahudi. Saingannya, Stalin, bertanggung jawab atas korban lebih besar lagi. Dalam PD II, 60 juta orang mati, kebanyakan warga sipil. Banyak negara rusak. Jepang sudah membuktikan, negara Asia bisa sama brutalnya dengan Eropa.

Tahun 1945, saat perang usai, negara Eropa begitu lemah. Mereka tidak mampu mempertahankan tanah jajahan di luar benua. Beberapa tahun sesudah PD II, Eropa sudah kehilangan hampir semua koloninya. AS memanfaatkan kelemahan negara-negara Eropa dan menjadi kekuatan ”Eropa” nomor satu.

Kerakusan ekonomi AS
Babak terakhir kemerosotan orang bule adalah ledakan kemelut finansial AS yang baru terjadi. Kemelut keuangan AS adalah krisis kapitalisme, suatu jenis kapitalisme yang amat rakus. Bankir AS menciptakan ekonomi fiktif untuk memerah nasabah di negara sendiri, di Eropa, dan Asia. Mereka menipu dunia dengan derivatif dan instrumen keuangan lain, dengan modal semu triliunan dollar yang beredar secara bebas di seluruh dunia.

Namun, kali ini bankir AS terlalu rakus dan penipuan mereka terlalu berwawasan dangkal. Kemelut finansial AS segera menjadi kemelut ekonomi riil dan merembet ke seluruh dunia. Akibat kerakusan kapitalisme AS, negara itu kehilangan statusnya sebagai pemimpin pasar bebas. Dan, sebagai akibat perang-perang tidak adil (Vietnam, Irak, dan lainnya), AS kehilangan status sebagai pemimpin dunia bersusila. AS membuktikan diri sama rakus dan dungunya dengan negara-negara Eropa beberapa dasawarsa lalu.

Kini, negara Eropa dan AS kehilangan dominasi ekonomi dan politiknya. Selain itu, AS sedang berubah. Secara bertahap, populasi AS menjadi lebih Afrika-Asia-Amerika Latin ketimbang Eropa.

Seluruh dunia kini sedang mengalami transisi dari dominasi satu negara adikuasa dengan warga dari Eropa menuju situasi multipolar yang multibudaya. Tetapi, dalam situasi multipolar, hanya negara-negara yang kuat ekonomi dan militernya yang akan menentukan suasana. Tiap negara, termasuk Indonesia, harus melindungi dan membela kepentingannya sendiri. Presiden Obama yang sudah mengalami keramahtamahan Indonesia tidak akan memberi hadiah terima kasih kepada Indonesia.

Indonesia tidak membutuhkan hadiah luar negeri. Negara ini kaya raya sumber daya pertanian, perikanan, dan pertambangan. Selain tanah seluas 1,9 juta kilometer persegi, Indonesia juga mempunyai 5,8 juta kilometer persegi permukaan laut, seluruh wilayah Indonesia hampir sama luas dengan Australia. Sayang, kekayaan tanah dan laut Indonesia kurang dimanfaatkan.

Jika Indonesia mau, tak lama lagi negeri ini bisa menjadi juara dunia dalam ekspor perikanan dan hasil laut. Indonesia juga bisa menjadi satu dari produsen dan pengekspor bahan baku biofuel terbesar di dunia. Dengan menyempurnakan teknologi pertambangan laut dalam, Indonesia juga bisa maju sebagai pengekspor bahan pertambangan, gas, dan minyak bumi. Tentu Indonesia harus memperkuat pertahanannya guna membela kekayaan laut yang terluas di dunia.

Memang, semua kekayaan alam saja tidak cukup. Ada unsur-unsur penting lain. Pertama, tingkat pendidikan bangsa. Jepang, Korea Selatan, dan China sudah membuktikannya. Indonesia punya sumber daya manusia luar biasa, yaitu beragam, kreatif, murah hati, ramah-tamah, dan bertanggung jawab. Di sekolah, siswa-siswi Indonesia akan berhasil dengan baik jika pemerintah memenuhi kewajiban dan menciptakan wajib belajar yang terbaik.

Unsur penting lainnya, kemampuan pemimpin negara, terutama kemampuan presiden untuk memajukan negaranya. Pada tahun perubahan strategis 2009, Indonesia membutuhkan presiden seperti apa? Jawabannya: Presiden yang akan menempatkan Indonesia dalam kelompok 10 negara utama dunia.

Peter Rosler Garcia, Ahli Politik dan Ekonomi Luar Negeri, Hamburg, Jerman
KOMPAS, 13 Januari 2009

Tuesday, January 6, 2009

Menimbang Kebiadaban Israel


Dunia kembali dibuat geger oleh Israel. Semua mata memandang kepadanya dengan pandangan negatif. Gempuran yang dilakukannya di Jalur Gaza sejak akhir Desember lalu hingga kini kian meneguhkan bahwa Israel bukan hanya kejam, tetapi juga tidak beradab.

Ukuran apa pun yang dipakai untuk memahami keangkuhan Israel tersebut, semuanya tidak ada yang bisa membenarkan, kecuali Israel sendiri, dan tentu saja, pihak-pihak yang mendukungnya.

Dari perspektif hukum internasional, sebuah negara melakukan serangan kepada pihak lawan karena ia menggunakan prinsip jus ad bellum (alasan yang membenarkan). Biasanya, negara yang menyerang itu diserang lebih awal oleh lawannya.

Namun, prinsip jus ad bellum ini tidak boleh hanya berhenti di situ saja. Ia harus diikuti oleh prinsip kedua, yakni jus in bello (bagaimana melakukan serangan). Di sini, Israel mengalami persoalan yang amat asasi. Ukuran normatif dalam hal ini ialah Konvensi Geneva 1949.

Dalam perang, apa pun alasannya, anak-anak, wanita, orang lemah, termasuk orang yang telah berusia dan sakit, harus dilindungi. Malah, lawan yang sudah menyerah dan terluka pun tidak bisa lagi disentuh, tetapi wajib hukumnya untuk dilindungi. Kata dilindungi di sini jelas berarti bahwa orang- orang yang masuk kategori di atas haruslah ditolong dalam masa perang. Israel bukannya menolong dan melindungi, tetapi malah menyerang dan mengorbankan mereka. Nah, hanyalah kata biadab yang bisa menggambarkan perilaku Israel tersebut.

Biadab
Selanjutnya ditegaskan, dalam perang, sasaran serangan tidak boleh diarahkan ke permukiman sipil, fasilitas publik, dan rumah-rumah ibadah. Israel menerjang semua larangan tersebut. Fasilitas publik dirontokkan. Penduduk sipil disapu dan dibunuh. Maka, hanyalah kata biadab yang pas untuk Israel.

Dari perspektif prinsip, hukum perang menganut dua pilar utama. Pertama, prinsip military necessity dan proportionality. Serangan balasan yang dilakukan Israel untuk memberi pelajaran kepada Hamas belum bisa dikategorikan dalam prinsip military necessity, sebab serangan-serangan Hamas tersebut bukanlah serangan masif yang membuat Israel akan musnah. Begitu juga dengan prinsip proporsionalitas, serangan Israel jauh melenceng. Masalahnya, skala yang ditimbulkan oleh serangan Israel jauh lebih dahsyat dampak negatifnya dibandingkan serangan-serangan roket Hamas. Ini bisa diibaratkan dengan seseorang yang membawa sebilah belati harus dilawan dengan serangan panser. Tidak proporsional.

Karena itu pulalah, dalih self defense (bela diri) yang dipakai Israel dalam membenarkan tindakannya, yakni prinsip reprisal (tindakan balasan) karena Hamas menyerang duluan dengan roket-roket, tidak mendapat pembenaran yuridis.

Harus memiliki batas
Masalahnya, pembenaran tindakan bela diri dalam hukum internasional hanya dibolehkan bila serangan bersenjata yang dilancarkan (armed attack occur) sebelumnya itu bersifat overwhelming (keterlaluan) dan no choice of means atau tak memberi pilihan dan alternatif (lihat kasus hukum kapal Caroline di perbatasan Kanada dan Amerika Serikat). Serangan roket demi roket yang dilakukan oleh Hamas terhadap Israel belumlah bisa dipandang sebagai serangan overwhelming dan tak memberi alternatif bagi Israel. Israel tidak harus melakukan serangan membabi buta hanya karena adanya serangan roket-roket Hamas.

Lepas dari pandangan-pandangan yuridis di atas, Pasal 51 Piagam PBB jelas menegaskan bahwa negara anggota PBB, baik secara sendiri-sendiri maupun secara kolektif, boleh saja menggunakan hak bela dirinya bila terjadi serangan bersenjata melawan negara anggota PBB. Namun, ada syaratnya, yaitu tindakan bela diri itu haruslah lebih dahulu ada ukuran dan penilaian yang diberikan oleh Dewan Keamanan PBB dan ukuran serta penilaian tersebut mesti didasarkan atas pertimbangan demi terpeliharanya perdamaian dan keamanan internasional.

Maka, saya pun teringat dengan Michael Walzer yang menulis buku Just and Unjust War. Kata Walzer, kendatipun kita mendapatkan pembenaran moral dan hukum untuk melakukan serangan, serangan tersebut tetap harus memiliki batas karena aksi serangan kita tetap harus tunduk pada sejumlah norma, yakni larangan menggunakan kekerasan terhadap orang-orang yang tak berdosa.

Hamid Awaludin Dubes RI untuk Rusia
KOMPAS, 6 Januari 2009